Dokter menghela nafas panjang membuat Naufal berpikir buruk. "Gimana keadaan dia, Dok?" tanya Naufal resah.
"Detak jantung Pasien terus melemah. Saya sudah berusaha semampu saya. Tapi takdir berkata lain,"
Naufal tergelak. Tidak. Kila tidak boleh tiada sekarang. Ini terlalu cepat.
Lusi berteriak kesenangan dalam hati. Ini akan menjadi kabar gembira kalau Dokter itu mengatakan Kila meninggal.
"Teman saya baik-baik saja, kan, Dok?" kali ini Arkan bicara.
Dokter itu tiba-tiba tersenyum. Dia menepuk pelan bahu tegap Naufal. "Teman kalian baik-baik saja meski jantungnya melemah, tapi dia bisa diselamatkan."
Senyum di bibir Lusi menghilang. Harapannya percuma. Menghilang bersamaan dengan pernyataan Dokter itu.
"Serius, Dok? Apa saya boleh masuk?"
"Boleh. Tapi hanya satu orang