Hari senin.
Bagi sebagian murid, senin adalah hari yang menyeramkan. Ya, sudah rutinitas bagi mereka untuk menjalankan kehidupan sebagai seorang murid SMA.
“Bunda biarin aku sekolah hari ini,” rengek Kila sejak tadi, namun tidak digrubis oleh Sheren. Wajar, keadaan Putrinya itu belum begitu pulih. Perutnya saja masih diperban.
“Bunda kok enggak jawab?” Kila mengerucutkan bibir.
“Makan dulu. Bunda udah siapin bubur buat kamu.” Sheren meletakkan nampan di pangkuannya. Dia kemudian menyendok, bersiap-siap untuk menyuapi.
Kila memalingkan muka. “Aku enggak mau makan. Jawab pertanyaan aku dulu, Bun.”
“Pertanyaan apa? Sekolah? Kamu belum pulih total, Sa. Beberapa hari lagi. Kamu harus bersabar. Setelah perban di perut kamu dilepas, kamu boleh berangkat.”
“Beberapa hari? Berarti