Naufal sedang duduk di pinggir lapangan. Dia mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Melelahkan, namun terasa lebih sehat. Mendadak sebuah tangan menyodorkan botol dan kain untuk lap keringat.
Cowok itu mendongak, rautnya berubah jadi datar usai menyadari Lusi tengah berdiri di depannya.
“Minum,” titah Lusi.
“Pergi.” Naufal memalingkan wajah. Menatap wajah Gadis itu saja, dia tidak sudi. Naufal terlalu membencinya.
Lusi merapatkan bibir. Dia meletakkan botol serta kain yang dia bawa di sebelah Naufal. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia pergi begitu saja.
Cowok itu tersenyum samar. Sampai kapan pun, dia tidak akan memiliki hubungan dengan Lusi walaupun hanya untuk pura-pura. Catat itu.
***
“Loh, Ar, kamu enggak sekolah?” tanya Kila terkejut. Sedari tadi, dia tidak melihat Cowo