Arkan membelah jalanan yang begitu ramai. Terang benderang dari gemerlapnya lampu malam menemani perjalanan Arkan. Kini dia sedang mengikuti bus yang dinaiki oleh Kila.
Beberapa belasan menit, mobil itu berhenti di suatu halte yang begitu sepi. Arkan melambatkan mobilnya, tapi tetap mengikuti Kila. Ia tidak habis pikir. Kila begitu berani jalan sendirian padahal sekitarnya sepi.
Sampai pada akhirnya, Kila berhenti di depan suatu rumah bercat putih. Arkan menepi. Ia menghentikan mobilnya.
Kila menghela nafas dalam-dalam. Ia mengetuk pintu rumah Naufal. Tak lama, Reni muncul.
"Kak Kila? Ya ampun. Tumben banget. Sini masuk." wajah Reni berubah sumringah.
"Enggak dulu, Ren. Lain waktu, ya."
"Oke deh. Terus ada apa Kakak ke rumah ini?"
"Naufal mana?"
"Kak Naufal?" Reni berta