“Pengkhianat,” ujar Kila lagi. Perkataannya begitu menusuk.
Shinta menegang. Tanpa sadar, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori keningnya.
“Icha!” Nenek Vanya—orang yang merawat Icha sedari kecil, datang. Semua murid memberinya jalan. Nenek tersebut seketika tersungkur di dekat tubuh Icha yang terbujur kaku.
Kila melirik tajam Shinta, kemudian beralih mengusap punggung rentan Nenek Vanya. “Sabar, Nek,”
“Tidak mungkin! Icha anak baik-baik. Dia tidak mungkin mati dengan cara konyol ini!” tangis pilu Nenek Vanya membuat semuanya terenyuh sekaligus merasa miris. Tidak ada yang bisa Kila lakukan selain mengusap-usap punggung Nenek Vanya.
Tanpa terasa, hari sudah akan menjelang siang. Icha akan dimakamkan sebentar lagi. Sebagian Mereka menuntun Nenek Vanya untuk berdiri supaya je