Arkan tertoleh ke samping. Ia mendengus setelah mendapat tamparan mendadak itu. Tetapi, ia tetap berani menatap Kila.
"Oh, jadi gak mau? Oke, gue tunggu di mobil. Lima jam lo enggak ke mobil, siap-siap aja Ayah lo bakal ke sini." Arkan melenggang pergi.
Kila merasa bersalah. Tadi, ia refleks bukan disengaja. Ia juga tidak tahu mengapa dirinya se sensitif itu saat Arkan menyebut kata 'sekarat'.
Usai punggung Arkan tidak kelihatan lagi, Kila kembali duduk ke tempat semula. Ia masih syok atas perbuatannya sendiri. Ini... baru pertama kalinya dia menampar Arkan.
Nggak usah merasa bersalah. Kamu tadi cuma refleks doang, kan?
Naufal menunjukkan kertas yang barusan ia tulis. Kila langsung meraih kertas itu. Ia tersenyum lega setelah membacanya.
***
Gerbang ditutup oleh Penjaga. Lus