Bima merenung di balik meja kebesarannya, seberapa keras Ia ingin mengerjakan pekerjaannya tapi kenyataannya pikirannya tak sejalan. Pikirannya terus menerus berpikir di mana sebenarnya Nila dan Anaknya berada? Bagaimana bisa tak ada perkembangan, bahkan Fanopun tak mengetahuinya atau pura-pura tak tahu. Sedikit banyak Bima curiga jika sebenarnya lelaki itu tahu di mana Nila saat ini, hanya saja tak ingin memberitahunya. Maka dari itulah yang membuat Bima tak lelah untuk bertanya pada lelaki itu, berharap Tamennya itu muak dan memberitahunya. Tapi, Fano tetap bungkam.
"Tambah nyedihin aja Lo Bim,"
Mendengar suara itu. Bima langsung mengusap air matanya kasar, kemudian Ia tatap orang yang berani masuk tanpa permisi ke dalam ruangannya. Laki-laki itu bahkan sudah duduk di sofa ruangannya dengan pongah.
"Ngapain lo ke sini?" Tanya Bima sinis, mengambil dokumen secara acak untuk menunjukan kepada temannya itu jika Ia baik-baik saja.
Dimas menatap Bima dari tempatnya duduk. Walaupun tak menunjukan kesedihan padanya, tapi melihat keadaan laki-laki itu sudah cukup memperlihatkan betapa kacau hidupnya saat ini. Bola mata yang terlihat merah, mungkin karena terlalu banyak menangis. Lingkaran hitam di bawah kantung matanya dan lihatlah jambang yang menghiasi sekitaran dagu laki-laki itu. Benar-benar tak terurus.
"Kenapa nggak Lo coba ke Fano?" Tanyanya kemudian setelah puas meneliti keadaan temannya.
Bima menghentikan gerakan tangannya, lalu Ia letakan bolpoint itu. Ia tatap kawannya yang kini nenanti jawabnya. Sebelum kemudian senyum getirnya terbit. Membuat siapa yang melihat mengetahui betapa putus asanya laki-laki itu.
"Lo tahu? Gue udah kaya pacarnya tiap hari datengin dia," ujarnya memberitahu.
"Terus dia bilang?"
"Dia bilang dia nggak tahu di mana Nila dan anak gue. Seberapa keras gue maksa dia buat ngomong, tapi selalu jawaban itu yang dia kasih."
Menghela nafas, Dimas bangkit berdiri. Berjalan ke arah Bima, sebelum kemudian duduk di hadapan laki-laki itu. Di mana saat ini Bima tengah bersandar pada kursi kebesarannya dengan mata terpejam, tangannya mengurut pelipisnya. Nafas laki-laki itu terlihat menderu kasar.
"Lo nggak mau lagi berusaha buat cari dia dan Anak lo?"
Membuka kelopak matanya. Ia jambak rambutnya sendiri frustasi. "Lo tahu! Gue udah kaya orang gila, kesana-kesini nyariin mereka. Rasanya gue bener-bener kaya udah nggak waras. Gimana mungkin Gue nyerah, sedangkan di sini sesak rasanya ingin bertemu." ujarnya frustasi menekan dadanya, pertahanannya runtuh. Akhirnya Bima menangis juga.
Hening untuk beberapa saat, hingga suara ponsel yang berdering mengalihkan perhatian mereka. Bima dengan segera mengusap kasar air matanya, saat menyadari ponselnyalah yang berbunyi.
Naura
Dimas mengkerutkan alisnya sama halnya seperti Bima yang mengkerutkan alisnya bingung, pasalnya setelah batalnya renacana pernihan mereka. Mereka tak pernah lagi berkomunikasi. Lost contact.
Merasa penasaran kenapa tiba-tiba wanita itu menghubunginya. Langsung saja Bima angkat telepon itu. Ia tak berucap, membiarkan wanita di seberang sana berbicar terlebih dahulu.
"Hal-- halo," terdengar suara ragu-ragu dari seberang sana. Yang hanya dibalas Bima dengan deheman, tak membalas sapaan itu.
"Ekhmm... bisa bertemu hari ini?" Suara itu terdengar mencicit tapi mampu tersampai dengan jelas di telinga Bima. Membuat laki-laki itu mengkerutkan alisnya bingung.
"Untuk apa?" Tanyanya masih dengan alis berkerut.
"Ah itu, nanti saja aku beritahu."
Bima tak menyahut.
"Nanti sore di kafe Royce,"
Bima berdehem dengan mengangguk pelan. Lalu sambungan terputus, membuatnya tersadar terdapat makhluk lain di ruangnya. Dan kini memandangnya memicing.
"Lo masih berhubungan sama Naura? Ingat, Dia udah punya Andre." Peringat Dimas mengancam, jangan sampai Bima merusak kebahagiaan temannya yang lain.
Malas menanggapi. Bima lebih memilih kembali memeriksa dokumennya. Membiarkan Dimas mencak-mencak karena tak Ia tanggapi.
"Daripada Lo kaya orang gila gitu, mending Lo pergideh Dim." Saran Bima akhirnya.
"Idih, situ sendiri padahal yang gila." Ujar Andre tanpa sadar, kontan ucapan itu langsung membuat Bima terdiam. "Eh, Bim. Maksud Gue--"
Bima menggeleng, "Mending Lo keluar, Dim." Perintah Bima kembali.
Merasa bersalah atas ucapannya, Dimas akhirnya setuju dengan bangkit berdiri. "Okey, Gue pergi. Sorry ,"
***
Disalah satu meja kafe terlihat tiga orang duduk dengan perasaan masing-masing. Tak ada ekspresi pada wajah lelaki yang saat ini menatap sepasang suami istri yang baru saja menikah itu, di mana seharusnya dirinyalah. Tidak, Ia tak marah. Malah Ia wajib berterimakasih kepada laki-laki itu karena sudi menggantikannya. Bima menanti hal apakah yang menyebabkan sahabatnya dan mantan calon Istrinya itu meminta untuk bertemu dengannya.
"Ada apa?" Tanya Bima saat Naura maupun Andre tak kunjung membuka suara. Membuatnya gemas sendiri karena hanya keheningan yang mengisi.
Naura menggigit bibir bawahnya, menundukan wajahnya. Tak berani menatap laki-laki yang nyatanya masih Ia cintai, kendati telah tega membatalkan pernikahan mereka. Naura benci dirinya yang kini merasa takut berhadapan dengan Bima. Harusnya Ia yang marah dan Bimalah yang merasa bersalah. Bukannya dirinya yang merasa bersalah karena mengetahui jika Bima kehilangan wanita yang Ia cintai karena dirinya.
Naura menoleh saat tangannya digenggam oleh laki-laki yang kini telah menjadi suaminya, seolah meyakinkannya. Menghembuskan nafas kasar. Akhirnya Ia beranikan diri untuk mendongak, menatap mata yang kini menyorotnya dengan tatapan terlampau biasa. Seolah tak pernah ada masalah diantara mereka.
"Kemarin.." Naura kembali mengambil oksigen. Sebelum kemudian kembali berucap. "Kemarin-- saat di Jogja aku melihatnya," Naura memejamkan matanya. Mengingat kembali saat beberapa hari yang lalu Ia pergi ke Jogja bersama Andre untuk menyegarkan pikirannya. Tapi siapa sangka, Ia malah bertemu dengan sosok yang--
"Siapa maksudmu?" Tanya Bima. Tak menutupi kebingungannya atas siapa yang wanita itu maksud.
Melihat Istrinya yang menggigit bibirnya dan membuang pandangan saat Bima bertanya padanya. Andre menghembuskan nafasnya pelan. Sebelum kemudian Ia menatap lurus sahabatnya itu. Hingga jawaban yang Ia berikan mampu membuat tubuh laki-laki itu menegang.
"Nila..."
***
"Siapkan tiket ke Jogja untuk saya besok," setelah mengucapkan itu Bima langsung memutukan sambungan teleponnya. Ia lempar handphonenya ke arah dashboar mobilnya. Senyum tipis terbit di bibirnya, untuk kali ini dia merasa lebih hidup.
"Ak--aku melihat dia berjualan di salah satu ruko di Jogja. Tepatnya di Jalan Malioboro,"
"Aku hanya ingin memberitahu itu,"
Hanya itu, hanya itu. Tapi sangat berarti untuknya. Dan untuk hidupnya. Bahkan ucapan terimakasihpun tak akan cukup untuk bayaran atas informasi itu.
Bima mencengkram pelan stir mobilnya menyalurkan luapan bahagianya. Setidaknya setitik cahaya mulai mampu Ia lihat. Ia hanya tinggal menghampirinya dan menjadikannya kenyataan.
"Kali ini aku akan menemukan kalian," ujarnya tersenyum bahagia. Ya, kali ini Bima tak akan menyia-nyiakan kesempatannya. Walaupun Ia tahu ini tak akan mudah tapi, Dia percaya Ia akan mampu membawa kembali Nila dan Buming, anaknya.
"Buming, tunggu Papa." Lirih Bima.