Wina mengernyitkan keningnya, saat memasuki kamar putra sulungnya. Ia melihat Bima yang sibuk memasukan pakaian ke dalam koper. Mau kemana Anaknya? Apakah ada perjalanan bisnis?
"Bima," panggilan lembut milik Ibunya, membuat Bima mendongakan wajahnya. Lelaki itu memandang Ibunya yang kini berjalan ke arahnya, tapi tak menghentikan kegiatannya.
Wina duduk di sebelah koper milik Bima, memandang wajah serius anaknya. "Kamu mau ke mana?" Tanyanya dengan kening berkerut.
Bima tersenyum, menutup kopernya. Selesai dengan kopernya, Bima berdiri di hadapan Ibunya. Ia pegang kedua telapak tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Aku akan menemui Anakku Ma," ujarnya memberitahu.
"Apa?" Tanya Wina tak percaya. "Apa maksud Kamu Buming, Cucu Mama?" Kini mata wanita itu sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Bima mengangguk, membenarkan ucapan Ibunya. Membuat wanita paru baya itu langsung memeluk perutnya dan terdengar isakan dari bibir Ibunya. Bima mati-matian menahan nyeri di dadanya, menahan diri agar tak ikut menangis.
"Di-- di mana Mereka? Mama juga mau ikut," ujar Wina terbata mengurai pelukannya, mendongak menatap wajah Bima.
"Mereka ada di Jogja Ma, tapi Mama nggak bisa ikut." Jawab Bima, mengucapkan dengan ragu kalimat diakhirnya.
"Ke--napa Mama nggak bisa ikut?" Tanya Wina tak terima.
Bima mengambil duduk di sebelah Ibunya, meremas pelan kedua telapak tangan Ibunya. "Nila pergi dalam keadaan marah dengan kita. Bima janji setelah Nila memaafkan Bima, Bima bakal bawa Mama ketemu dia. Tapi, untuk saat ini. Biarin Bima dulu yang nemuin Nila ya Ma," bujuk lelaki itu menjelaskan. Sejujurnya Bima ingin mengajak Mamanya juga, tapi siapa yang akan tahu reaksi Nila nantinya. Ia hanya tak ingin Mamanya terluka jika sampai Nila masih menolak mereka.
Wina hanya menangis, mengangguk pelan. "Kalau begitu cepat kamu lakukan..." ujarnya dengan air mata berlinan.
Bima mengangguk, "secepatnya Ma."
***
Bima tersenyum sesaat, setelah keluar dari Bandara Yogyakarta International Airport. Lelaki itu menghirup udara panjang yang seolah memang lebih menyejukan, dengan mata terpejam. Sebelum kemudian senyum cerah tersungging di bibirnya, saat membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan bertemu dengan wanita yang nyatanya masih bertahta di hatinya dan buah hatinya.
"Pak Bima sudah sampai? Mari Pak, di sana mobil jemputannya."
Bima mengikuti arah tangan dari laki-laki yang akan menjadi supirnya selama Ia Yogyakarta. Tanpa menjawab, Bima langsung berjalan menuju di mana mobinya berada diikuti sang sopir. Ia masuk ke dalam kursi penumpang, menyandarkan tubuhnya yang lelah. Tapi sedetik kemudian senyum kembali terbit di bibirnya.
"Langsung ke Paviliun," ujar Bima cepat setelah mendengar pintu ditutup.
Pak Nuryo--- hanya mengangguk. Menuruti perintah dari bosnya. Setelah itu hanya hening yang menghiasi di dalam mobil itu.
"Buming Papa datang Sayang..." lirih Bima sebelum kemudian Ia pejamkan matanya.
***
Nila turun dari becak yang membawanya dan budhenya pulang. Setelah meletakan bawaanya di tanah, Ia membantu Budhenya turun dari becak.
"Ati-ati budhe," (hati-hati budhe) ujar Nila memegangi Budhenya.
"Iyo,,," (iya) dengan di bantu sang keponakan Ia turun. Wanita itu menghela nafas lega saat berhasil turun dari becak.
"Niki nggeh pak," (Ini ya Pak,) Nila memberikan selembar uang sepuluh ribuan. Yang langsung di terima oleh tukang becak itu dengan berterimakasih.
"Matur suwun," (makasih) ujarnya kemudian membalikan becaknya lalu berlalu pergi.
Hari sudah petang saat Nila dan Budhenya kembali ke rumah milik wanita tua itu. Dapat Nila lihat dari tempatnya, Jingga yang tengah menemani anaknya bermain di teras rumah. Dimana memang di sekitaran teras dipagari sebatas pinggang.
Melihat kakaknya dan sang budhe Jingga langsung bangkit berdiri menyambut kepulangan dua wanita itu. Ia ambil tangan budhenya lalu kakaknya.
"Aduhhh... putu lanang wes baguse..." (aduhhh... cucuku sudah ganteng) Budhe Ngatmi menggendong Buming yang tengah asik memukul-mukulkan mobil-mobilannya di lantai. Sebelum kemudian bayi itu masukan ke dalam mulutnya.
"Kabeh-kabeh kok dipangani to le..." (semua kok dimakan to,) ujarnya melepaskan mainan itu dalam mulut bayi itu, tapi tetap saja. Bayi gembul itu malah melihat dengan alis memicing kepada wanita yang menggendongnya, mengerang pelan tak terima karena di ganggu. Sebelum kembali memasukan mobil-mobilan itu ke dalam mulut mungilnya.
"Ayo, ndo mlebu! Rak ilok bengi-bengi jek neng jobo," (ayo, mlebu kabeh! Gak baik malam-malam masih di luar) perintahnya memandang Nila dan Jingga. Masuk terlebih dahulu membawa Buming dalam gendongannya.
"Iyo budhe," (Iya budhe) sahut Nila dan Jingga bersamaan, mengikuti langkah wanita tua itu.
"Nila adus disik ya Budhe?" (Nila mandi duluan ya Budhe?) Tanya Nila saat melihat Budhenya yang duduk di tikar, sibuk memberikan kue kepada Anaknya yang tadi dibelinya di jalan.
Budhe Ngatmi mengangguk, "yho sik o," (iya, duluan saja.) Setelah mengucapkan itu. Wanita tua itu kemudian mulai membukakan bungkusan kue untuk Cucunya.
Buming yang memang sudah tak sabar, menggapai makanan di tangan wanita tua itu. Memakan menggunakan tangan mungilnya, hingga banyak rempahan kue itu jatuh. Membuat Budhe Ngatmi menggeleng gemas.
"Tole emang tadi durung maem Ngga?" (Buming tadi memang belum makan Ngga?) Tanya Budhe Ngatmi saat melihat betapa tak sabarannya bayi itu mengacak-acak bungkus roti lainnya.
"Sampun Budhe. Cuman Jingga kasih sitik, takutnya muntah kalo banyak-banyak." (Sudah Budhe. Cuman Jingga kasih sedikit, takut muntah kalau banyak-banyak.) Jawab gadis itu.
Budhe Ngatmi mengangguk, terus menatap bagaimana aktifnya anak dari keponakannya. Bagaimana bayi itu yang sudah tak berminat dengan makanannya dan kini merangkak. Sebelum kemudian mulai berdiri dengan berpegangan tembok, lalu mulai merambat berjalan.
"Baguse putuku," (gantengnya Cucuku,) gumam Budhe Ngatmi berdecak bangga.
Jingga hanye tersenyum tipis.
"Tapi yen dipikir-pikir Bumingki rak enek rupa-rupane Nila ya Ngga?" (Tapi kalau dipikir-pikir Buming nggak ada muka-mukanya Nila ya Ngga?) Tanya Budhe Ngatmi menoleh, memandang Jingga.
Jingga terperangah, memandang Budhenya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebelum kemudian Jingga mengangguk pelan, "iya."
"Bapak e mesti bagus, jane Budheki yo pengen reti. Tapi Budhe rak wani tekok karo Mbakmu, wedi ndak kesinggung." (Ayahnya pasti ganteng, sebenatnya Budhe ya mau tahu. Tapi Budhe nggak berani tanya sama Kakakmu, takut tersinggung.)
Jingga hanya diam tak menyahuti ucapan Budhenya.
"Jane piye to masalahe Nila karo Mantan bojo sirine?" (Sebenarnya gimanasih masalah Nila sama mantan suami sirinya?) Tanya Budhe Ngatmi, sebenarnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu wanita itu ingin tanyakan.
Jingga belum sempat menjawab, saat Nila datang. Kakaknya itu langsung menghampiri Buming dan membawa bayi itu dalam gendongannya.
Budhe Ngatmi bangkit berdiri, "aku tak adus ganti yo," (aku mau gantian mandi ya,)