Jingga berkelanjutan sang keponakan yang sedang berjalan merambatdi tembok teras rumah saat ini, sangat aktif bayi itu bergerak. Mungkin sebentar lagi sudah lancar bayi laki-laki itu berjalan. Saat ini total sedang berada di teras rumah, sedangkan Nila dan Budhenya sedang memasak di dapur. Setelah Ia mandikan, Jingga langsung mengajak bermain keponakan tampannya itu.
Sadari orang itu, sosok sosok laki-laki dewasa yang mendambakan mereka. Lebih tepatnya memandang bayi yang sedang asik merambat itu dengan pandangan sendu. Tersedia kerinduan dalam bola mata yang kini menatap dengan mata berembun.
"Jingga!"
Jingga melongok saat kakaknya meneriakan namanya. Ia bangkit berdiri, "Iya mbak!" Sahut Jingga berteriak pelan. Gadis itu kepada keponakannya yang kini terduduk di lantani, memegang kedua bahu kecil itu agar balik menatapnya. Hingga membuat bayi tampam itu meracau tak terima.
"Denger! Jangan macem-macem. Tante ke dalem dulu, Ibukmu manggil." Ujar Jingga memperingati bernyanyi keponakan. Jingga tidak perlu takut meninggalkan keponakannya karena sisi setiap teras dipagari sebatas pinggang.
Bayi itu hanya menatap polos sang tante dengan bola mata hitam pekatnya. Menggumam kesal agar sang tante segera pergi. Terlihat sangat lucu saat bibir basah bayi itu bergerak-gerak menggerutu.
Setelah melihat gadis yang diketahui adik dari wanita yang melahirkan bayi mungil itu berlalu masuk ke dalam rumah. Laki-laki dengan pakaian kasual itu keluar dari persembunyiannya. Belum berani mendekat, hanya menatap mungil Anaknya.
Seolah merasakan keberadaannya, bayi itu menoleh. Sedetik kemudian tersenyum seolah mengenal siapa dirinya. Senyum yang langsung mengundang senyum haru Bima. Bahkan kini bayi itu dengan cepat merangkak ke arahnya yang berada di ujung teras.
Sampai pada ujung teras yang dipagar, dengan segera Buming merambat berdiri dengan berpegangan pagar. Bayi itu menatap laki-laki di hadapannya dengan wajah cerah dan menggumam senang. Salah satu daerah kemudian terulur ke atas, ke arah Bima. Meminta untuk di gendong.
Bima tidak dapat menahan cairan bening di pelupuk matanya untuk tak menetes, saat berhasil menggendong anaknya untuk yang pertama kalinya. Ia dekap erat tubuh mungil itu, menghirup aroma bedak bercampur minyak bayi pada tubuh Anaknya. Air mata semakin deras mengalir di pipi laki-laki itu.
"Kamu juga kangen Papa ya sayang? Iya?" Tanya Bima haru menciumi kedua pipi gembul anaknya. Membuat bayi itu tak nyaman karena geli pada jambang kecil milik Bima. Terlihat dari tangan mungil bayi itu yang berusaha mencari wajah laki-laki itu dari wajahnya, tapi juga terdengar suara gemlitik tawa bayi itu.
"Anda ..."
Bima wujud pandangannya pada gadis yang tadi menemani anaknya. Gadis itu memandang tak percaya ke arahnya, sebelum kemudian disusul teriakan lain yang membuat Bima menegang dan cemas.
"Jingga!"
Jingga menoleh ke arah pintu. Lalu kembali pada laki-laki yang kini menggeleng pelan ke arahnya seolah mengatakan untuk diam. Jingga yang memahami situasipun hanya mampu mengangguk pelan. Asumsi dari gendongan laki-laki itu, yang tentu saja mengundang tangis bayi itu karena tak terima kembali dengan Ayahnya.
Hua ... Hua ...
Bayi itu menangis dengan telunjuk mungilnya yang menunjuk ke arah di mana Bima berlalu melayu di balik pohon besar. Membuat Jingga ikut meneteskan air mata, merasakan haru yang menyelusup.
Kenapa kok nangis? Tanya Nila meletakan barang bawaannya, beralih menggendong putranya.
"Nggak papa mbak," jawab Jingga cepat.
"Cangkir, cangkir. Anak Mama kenapa, Heum? Kok nangis." Tanya Nila mencium wajah anaknya yang sudah basah air mata.
Pandangan Nila mengikuti telunjuk anaknya yang menunjuk pada pohon besar yang ditanam lima meteran dari rumah budhenya. Tak ada apa-apa, batinnya. Walaupun Ia masih bingung apa yang diinginkan putranya.
"Ayo Nihil!" Nila menoleh kepada Budhenya yang baru keluar dari rumah.
"Loh, tole ngopo kok nanges?" (Loh, anak lanang kenapa kok nangis?) Tanyanya kepada Nila.
Nila hanya tersenyum. "Boten retos budhe, mungken laper." (Nggak tahu Budhe, mungkin lapar.) Ujar Nila.
"Oalah ..." Budhe Ngatmi mengangguk mengerti.
"Yoempob ayo budhe, mangkat sakniki mawon." (Yaudah ayo budhe, berangkat sekarang saja.) Ujar Nila.
Jingga yang melihat itupun segera mengambil Buming yang masih setia menangis. Ia tepuk pelan p****t keponakannya agar sedikit tenang. "Iya, biar Buming aku yang jaga. Mbak Nila sama Budhe berangkat aja," ujarnya.
Budhe Ngatmi mengangguk. Setelah mencium anak dari keponakannya yang sudah Ia anggap cucu, wanita tambun itu lalu berlalu pergi mengikuti Nila.
“Hati-hati di rumah,” ujar Nila memberikan kecupan pada anaknya.
Jingga hanya mengangguk mendengar ucapan kakaknya. Gadis itu mengangkat tangan Buming dan melambaikannya. "Da da Mama, Da da ..." ucap Jingga menirukan suara anak kecil. Pemilik lengan masih menangis histeris.
***
"Terimakasih tidak memberi tahu Nila." Ujar Bima yang kini sudah duduk lesehan di teras rumah Jingga. Dimana Buming sedang asyik bermain dengan mainan yang baru Bima bawakan.
Jingga mengangguk dengan senyum tipis. Iya, ”katanya ikut memainkan robot-robotan yang di pegang Keponakannya.
"Kakak ada apa kemari?" Walaupun sudah tahu jawabannya. Nyatanya Jingga masih ingin tahu dari mulut laki-laki yang sudah menyakiti kakak juga keponakannya. Bukannya Jingga berkhianat pada kakaknya dengan mengijinka Bima bertemu Buming. Hanya saja gadis itu tak tega saat melihat kerinduan di bola mata keponakannya. Nyatanya masih terlihat muda. Bayi itu sudah mengerti arti kerinduan.
Bima terperangah. Laki-laki itu diam sewaktu-waktu. "Aku-- Aku ingin meminta maaf pada Nila, Buming dan Kalian semua yang sudah Aku sakiti." Ujar Bima menitikan air matanya ketika ingatan dirinya yang menyakiti kakak dari wanita di hadapannya berputar.
Jingga menatap bagaimana laki-laki di hadapannya menangis menyesal. Tapi ia tak mampu bertahan apa-apa, karena semuanya tetap berada di tangan kakaknya. Hanya kakaknya yang berhak menentukan untuk memaafkan laki-laki di hadapnnya atau tidak. Karena memang kakaknyalah yang paling tersakiti.
***
Bima memandang langit-langit kamarnya. Ingatannya kembali berputar tentang kejadian tadi siang. Saat Ia akhirnya dapat menggendong anaknya untuk yang pertama kali. Sebelum kemudian Ia harus pergi karena Nila yang sudah kembali bersama wanita tua yang Ia tahu Budhe dari Nila dan Jingga.
Selain soal tentang dirinya yang akhirnya mampu bertemu dengan anaknya bahkan bermain bersama. Bima juga mengukur ucapan dari gadis yang merupakan adik Nila.
"Kakak tahu, kalau nggak akan mudah untuk mbak Nila memaafkan kakak."
Yah, Bima tahu!
"Kakak Ingat bagaimana kakak dulu menyakiti mbak Nila?"
Bima memajamkan matanya dalam hati menjawab pertanyaan yang tak Ia jawab saat di sana tadi.
Yah, Ingat! Sangat ingat malah.
"Aku harap kakak nanti dapat menerima apa yang mbak Nila putuskan."
Tidak! Ia mungkin tidak dapat menerima jika akhirnya Nila menolak permintaan maafnya. Lalu Ia akan dijauhkan dari anaknya. Itu terdengar sangat buruk untuk Bima.