"Tadi Buming nangis, jadi aku belikan mbak." Ujar Jingga meyakinkan sang kakak yang kini memandangnya memicing, tak percaya.
"Uang dari mana kamu? Bisa beli mainan mahal kaya gini,"
Jingga menghela nafas. Hanya karena mainan yang ayah Buming bawakan membuatnya dihakimi Sang Kakak. Ia merutuk dalam hati, kenapa Kakaknya harus secerewet ini.
"Jingga masih punya tabungan, lagian Jingga kadang juga dikasih uang sama Budhe. Ya kalau cuma beli mainan kaya gini bisa kalau cuma satu." Ujar Jingga kembali berusaha meyakinkan Kakaknya.
Masih memandang adiknya memicing, Nila akhirnya menghela nafas. "Harusnya kamu nggak usah nurutin kalau Buming minta yang macem-macem Jingga. Kita di sini numpang, nggak enak sama Budhe Ngatmi kalau kita boros-boros." Ujarnya kemudian.
Memahami maksud dari kakaknya. Jingga menggeser tubuhnya agar mampu memeluk wanita dari Ibu Buming itu. Setelah berhasil Ia pejamkan matanya dan berujar. "Jingga janji nggak akan boros-boros. Cuma kali ini aja," lirihnya.
Nila hanya tersenyum. Sebelum pandangannya kemudian beralih pada pintu yang dibuka, terlihat Budhenya masuk dengan membawa Buming dalam gendongannya. Pasti Budhenya habis ke rumah tetangga sebelah, kebiasaan wanita paru baya itu. Jika ada sisa makanan akan wanita itu berikan pada tetangga sekitar.
"Nil, tete ana anakmu sek. Wes ngantuk ki bocah, kat dek mau nggor ongap-angop wae." (Nil, susuin anakmu sana. Sudah Ngantuk ini anak, dari tadi sudah menguap saja.)
Benar saja, tak lama kemudian bayi itu menguap dengan tangan mungilnya mengucek mata. Lalu beralih memandang Ibunya yang bangkit berdiri. Dengan mata sayu mengantuk, bayi itu mengulurkan kedua tangan mungilnya. Meminta digendong Ibunya.
"Enggeh Budhe," (Iya Budhe,) Ia ambil anaknya dari wanita itu. Lalu mengajak bayi itu masuk ke dalam kamarnya dan anaknya.
Jingga hanya tersenyum tipis kepada Budhenya. "Saking pundi to Budhe?" (Dari mana Budhe?" Tanya Jingga mencari topik.
Wanita tambun itu duduk di sebelah Jingga, lesehan di atas tikar. Melirik sekilas tayangan televisi yang menayangkan film anak muda. "Soko omah sebelah, dolan." (Dari rumah sebelah, main.) Ujarnya.
Jingga hanya mengangguk. Tinggal di desa ini hampir dua bulan membuat wanita muda itu tahu. Jika di desa ini, hampir setiap saat ramai. Entah pagi, siang, sore maupun malam. Apalagi di sini banyak anak-anak.
***
Bima menemani anaknya yang terlihat lincah merambat kesana kemari. Bayi itu terlihat sangat aktif. Membuat Bima tak mampu menutupi rasa haru yang menyelusup.
Sudah hampir seminggu lebih Ia selalu menemui anaknya. Tentunya saat Nila dan budhe wanita itu pergi ke warung mereka. Bima masih takut untuk menampakan diri di hadapan Nila, setelah apa yang Ia lakukan. Hingga membuatnya menjadi pengecut dengan menemui anaknya secara diam-diam. Tapi Ia pasti akan segera menemui Nila. Memohon maaf atas apa yang Ia perbuat. Atau jika Ia beruntung, Ia dapat membawa anak dan Ibunya ikut bersamanya untuk kembali ke Jakarta.
"Emm... Sebaiknya kakak nggak perlu bawa-bawain Buming mainan lagi. Mbak Nila udah mulai curiga," ujar Jingga ragu yang hanya duduk diam. Melihat bagaimana ayah dan anak itu bermain bersama.
Mengusap kepala anaknya yang baru saja menjatuhkan pantatnya dan mulai fokus memainkan mobil-mobilan elektrik yang Ia bawakan. Bima memandang Jingga dengan mata sayu, merasa bersalah. "Baiklah, maaf merepotkan kamu."
Jingga hanya mengangguk. Gadis itu tahu, jika laki-laki dewasa di hadapannya juga sama bingungnya. Tapi, mau bagaimana? Laki-laki itu sudah banyak membuat salah kepada kakaknya. Wajar jika dia harus menerima ini semua, penyesalan dan rasa takut akan penolakan kakaknya.
"Oh ya kak, gimana kabar di Jakarta?" Tanya Jingga akhirnya berusaha mencari topik pembicaraan yang lain.
Bima tersenyum lirih mendengar pertanyaan itu. "Tidak begitu baik," ujarnya melirik Jingga yang langsung menunduk mendengar itu. Bima bangkit duduk di hadapan gadis muda yang duduk di kursi teras.
"Semuanya kacau. Nggak cuman Aku yang menyesal Orang tuakupun juga demikian. Semuanya kena imbas atas kesalahanku. Dan Bintang--" Bima menjeda kalimatnya melihat reaksi gadis di hadapannya yang mengkerutkan alisnya bingung. Pasalnya Bima cukup tahu jika adiknya menyimpan rasa pada gadis ini.
"Kak Bintang kenapa Kak?" Tanya Jingga bingung meminta agar laki-laki itu melanjutkan ucapannya.
"Bintang lebih kacau dari Saya," ujarnya akhirnya.
Jingga tak memahami itu. Gadis itu hanya mengangguk berpikir jika laki-laki yang dimaksud Bima lebih kacau adalah karena harus dipisahkan dari keponakannya. Mengingat betapa sayangnya Bintang dulu kepada Buming.
Jingga menggigit bibir bawahnya. Ingin menanyakan sesuatu tapi Ia ragu. "Emm..." Ia lirik ragu laki-laki di hadapannya. "Kal-kalau Kak Fano apa kabar?" Tanyanya lirih.
Walau lirih, nyatanya Bima dapat mendengarnya dengan jelas. "Fano..." Bima mengawang. Seolah mengingat-ingat seperti apa kawannya itu saat terakhir kali Ia jumpai, untuk menanyakan keberadaan Nila dan anaknya. "Dia baik. Lagian Dia sudah menikah," jawab Bima.
Seperti ada yang meremas hatinya. Entah apa Jingga tak tahu, yang pasti Ia hanya mampu mengangguk paham dengan hujaman rasa sesak di dadanya.
Memang sedari awal laki-laki itu bukan untukmu Jingga!
Rutuknya mengingatkan agar dirinya tak menangis. Nyatanya pelupuk matanya sudah basah, siap menumpahkan cairan bening.
***
"Papa... Papa..."
Nila menahan nafas saat mendengar Anaknya yang baru Ia ganti celananya karena basah terkena ompol bergumam. Di tangan bayi itu sebuah botol bedak bayi dipegang digerakan tak beraturan. Mulut bayi itu sesekali bergumam tak jelas.
Setelah selesai memakaikan celana untuk anaknya, Nila memandang Anaknya yang kini duduk diam masih memainkan botol bedak. Apa yang Ia dengar tadi tidak salah? Papa? Benarkah Buming, Anaknya sudah mulai mengerti arti Papa. Kenapa rasanya sesak sekali, saat Anaknya memanggil Papa padahal Ayah bayi itu tak mengakuinya.
"Papa? Memang siapa Papa kamu? Kamu tidak punya Papa, Kamu cuman punya Mama." Ujar Nila pelan yang tak didengar oleh anaknya.
"Kamu itu nggak punya Papa, jadi jangan bilang Papa lagi." Lanjut Nila pelan, kini cairan bening sudah merembas dari pelupuk matanya.
Nila menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. Isakan wanita itu semakin keras terdengar. Ternyata sakit, kenapa sesakit ini.
"Mbak," Jingga membuka pintu kamar Nila dengan pelan. Melongok, sebelum kemudian memutuskan untuk masuk. Gadis itu tadi bangun untuk minum, sebelum kemudian dikejutkan ketika mendengar suara isakan dari dalam kamar Kakaknya. Ia mulai berpikir ada apa dengan Kakaknya hingga malam-malam menangis. Jadi, gadis itu memilih untuk menghampiri Kakaknya.
"Mbak Nila kenapa nangis?" Tanya Jingga kembali saat melihat Kakaknya menangis, sedangkan keponakannya bermain sendiri.
Nila menggeleng, masih menutup wajahnya. "Mbak sakit," lirih Nila.
Jingga tentu terkejut mendengar itu, "Mbak sakit apa?" Tanya gadis itu langsung.
"Sesak, kenapa sesak d**a Mbak." Ujar Nila kembali.
Jingga mengambil duduk di sebelah Kakaknya. "Kita ke rumah sakit ya Mbak, takutnya bahaya." Usulnya pelan.
Nila menggeleng, mendongak. Menatap Jingga dengan mata basahnya. "tadi Buming bilang Papa, itu bikin Mbak sakit. Apa Buming udah mulai ngerti tentang Papa?" Tanya Nila tersendat-sendat.
Jingga terperangah, terdiam untuk beberapa saat. Bayi itu memang tidak dapat diajak ketja sama. Kenapa malah memanggil Papa kepada Kakaknya? Kenapa tidak menunggu sampai Bima menampakan diri terlebih dahulu kepada Ibunya.
"Buming mungkin nggak sengaja Mbak," lirih Jingga pelan.
Hua... hua...
Suara tangisan Buming mengalihkan perhatian Kakak beradik itu. Sepertinya bayi itu menangis karena merasa tak ada yang menemaninya bermain. Terlihat dari tangan mungilnya yang melempar botol bedak bayi di tangannya.
Jingga kembali melihat Kakaknya yang kembali menangis, tak mengambil Anaknya yang juga menjerit. Maka, dengan inisiatifnya Jingga bangkit menggendong keponakannya. Menepuk p****t bayi itu.
"Kenapa Sayang? Cup... cup... cicaknya mana? Cari cicak yuk," ujar Jingga mengajak bicara Buming.
"Eh, itu ada cicak. Tu cicak, itu cicak!" Jingga menunjuk sisi tembok, menunjukan kepada keponakannya tentang binatang kecil merayap itu.
Buming terlihat terpengaruh, kepala bayi itu mendongak. Mata basahnya memandang lekat binatang yang ditunjuk Tantenya. Sebelum kemudian gumaman terdengar dari bibir basah bayi itu.
"Cak!" Telunjuk mungil Buming ikut menunjuk binatang kecil itu.
Jingga mengangguk, "iya, itu namanya cicak!" Jelas Jingga.
Bayi itu terus memandang penuh kekaguman pada binatang di atas sana. Sesekali gumaman dan telunjuknya masih menunjuk di mana Cicak itu berada.
Jingga menghembuskan nafasnya lega saat berhasil menghentikan tangisan keponakannya. Gadis itu kemudian menoleh, memandang Kakaknya. Ternyata Kakaknya masih terdiam dengan air mata yang masih mengalir.
Jingga mulai berpikir, mungkinkah Kakaknya akan memaafkan Bima jika laki-laki itu memohon ampun. Melihat bagaimana tersiksa dan sakitnya Kakaknya, Jingga mulai ragu.
Lalu, bagaimana jika kakaknya tahu jika Ia membiarkan beberapa hari ini Bima menemui Buming. Bagaimana reaksi Ibu dari keponakannya itu? Marahkah? Atau hanya akan diam.
Nb.
Bantu rekomendasikan cerita ini jika menurut kalian, cerita ini bagus dan wajib dibaca.
Adakah yang punya f*******:. Add facebooku ya namanya:
? CucokStory
Terimakasih, sudah sabar menanti cerita ini?