Naluri Clarissa tak bisa membuatnya pergi begitu saja sementara orang yang telah menyelamatkannya sekarang tengah berjuang mati-matian untuk membebaskan diri. Ia ingin membantu hanya saja jika ia keluar dari persembunyian bukan membantu malah ia yang akan menyulitkan Nakula.
"Serang dia!" titah salah seorang prajurit sembari mengayunkan pedangnya.
Nakula berusaha menghindar, awalnya ia tak ingin memberikan serangan balik namun jika ia hanya menghindar dan tak memberikan serangan balasan tentu nyawanya sendiri yang akan terancam.
"Saya mohon tuan, saya hanya membutuhkan makan."
Nakula menangkupkan kedua tangan berusaha keluar dengan cara damai, prajurit yang memang sudah terlatih untuk tak memercayai orang asing tentu tak akan mudah memberi rasa percaya pada Nakula yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Terlalu aneh ketika orang lapar datang dengan cara seperti maling atau penyusup seperti yang Nakula lakukan.
"Bagaimana kami bisa percaya padamu?"
Seorang prajurit mengacungkan pedang pada Nakula, lelaki itu mulai terdesak. Clarissa menekan tangan untuk menutup mulutnya takut mengeluarkan suara, bagaimana jika pemuda itu tak selamat? Clarissa pasti akan merasa sangat bersalah jika pemuda itu tak mampu menyelamatkan diri.
Sembari kebingungan, Clarissa melihat adanya air yang memancar di sekitar dinding. Perlahan ia menampung air tersebut dari tangannya, Clarissa merasa jiwanya tertarik pada cairan yang mengalir itu. Seolah tersihir Clarissa menatap air itu dan matanya yang berwarna hijau bercahaya. Tak lama air yang ada di tangannya bergerak, Clarissa terkejut lalu menumpahkannya. Air tersebut berubah menjadi es.
Tampaknya Clarissa sekarang sudah tahu kunci dari kekuatannya, air.
Kembali Clarissa memainkan air yang ada di sana, tampaknya ia menyerap energi dari air yang ada. Clarissa mengarahkan air tersebut ke tembok yang tinggi dan melihat danau yang ada di dekatnya membuat kekuatan Clarissa semakin kuat, dengan gerakan cepat akhirnya tembok di hadapannya runtuh.
Wajah terkejut dari semua mata yang ada di hadapan Clarissa, seolah tersadar bahwa mereka tak memiliki banyak waktu. Nakula menampis pedang yang mengarah padanya ketika prajurit tersebut sedang teralih perhatiannya. Saat Nakula sudah menjauh dari para prajurit kerajaan LOF, Clarissa mengarahkan air tersebut ke para penjaga dan membuat tembok dari air. Setelah itu mereka bisa leluasa melarikan diri tepat ketika pangeran Louis baru keluar dari istana.
"Ayo pergi!"
Clarissa mengajak Nakula berlari sebelum es yang menjadi tembok mencair.
***
Clarissa merasa kini ia bisa bernapas lega, tak ada sangkar emas tak ada istana LOF tak ada juga panger— ah mengapa rasanya aneh ketika tak ada pangeran Louis.
"Apa yang sedang putri pikirkan?" tanya Nakula melihat Clarissa melamun.
"Ah itu, tidak ada Nakula. Terimakasih banyak atas bantuanmu," ujar Clarissa mengalihkan topik pembicaraan.
"Sepertinya bukan saya yang membantu putri tapi putri yang sudah menolong saja," canda Nakula menarik senyum.
Clarissa membalas senyum Nakula.
Berbeda dengan Clarissa yang merasa bebas dari penjara Louis, lelaki itu saat ini tengah kebingungan mencari Clarissa ditambah lagi beberapa bagian kerajaan sudah berhasil diambil alih oleh musuh. Tampaknya kerajaan Iceland tak boleh ia remehkan, kekuatan mengatur strategi yang matang dari mereka membuat kerajaan LOF kalah.
Louis menarik napas berat, tak selamanya yang kuat akan menang karena akan ada strategi yang mampu mengalahkan kekuatan. Terkadang cerdas akan mengalahkan meski kekuatan berbeda jauh ditambah kelicikan yang kerajaan Iceland miliki tentu akan membuat kerajaan LOF tertinggal.
Kepergian Clarissa menyulut amarah pangeran Louis, tak akan ia biarkan Clarissa berkeliaran di luar sana. Apa Clarissa pikir semudah itu kabur dari pengawasannya? Sayangnya Clarissa belum terlalu mengenal Louis jadi ia tak tahu seperti apa karakter sebenarnya pangeran tampan ini.
Pangeran Louis mengumpulkan semua pasukan akan ia bagi menjadi dua yang satu sebagai pengalih perhatian dan yang satu lagi akan ia tugaskan untuk menculik keluarga kerajaan termasuk Clarissa. Menyerang memang perlu tapi ketika raja dan ratu sudah berhasil menjadi sandera tentu akan berbeda ketika mereka berkeliaran bebas bersama pasukan, mereka pasti akan merasa sebagian besar kekuatan mereka telah jatuh dan hal itu akan dengan sendirinya membuat pasukan melemah hingga pangeran Louis tak perlu bersusah payah untuk mengalahkan mereka.
Pangeran Louis sendiri bergabung dengan sedikit pasukan yang bertugas menculik keluarga kerajaan, misinya kali ini bukan untuk menang tapi untuk melemahkan pertahanan kerajaan Iceland.
Ketika Louis sibuk dengan strateginya, Clarissa dan Nakula sudah berjalan jauh sampai ke bagian timur laut tempat utama markas kerajaan Iceland. Ratu Anne sangat senang mengetahui Clarissa sudah terbebas dari penjara musuh apalagi sekarang anaknya sudah berdiri tegak di hadapannya. Lain Anne, lain pula Charles tak sedikitpun ditemukan wajah antusias darinya padahal yang selamat ini adalah putri dan sudah sepatutnya ia memberi penghargaan pada Nakula karena sudah dengan berani menyelamatkan Clarissa. Masuk ke sarang musuh bukanlah hal yang mudah apalagi masuk ke istana LOF tentu bukanlah hal yang mudah, mungkin ia bisa dengan mudah masuk ke sana tapi apakah ada jaminan ia akan dengan mudah keluar lagi dari sana?
"Syukurlah kau bisa selamat, ibunda sangat senang."
Ratu Anne memeluk Clarissa dengan erat, kerinduan dan kecemasannya kini terbayar sudah dengan kepulangan Clarissa dalam keadaan sehat.
Clarissa tak pernah menghilangkan kesopanannya, dengan santun ia menjawab sembari menunduk.
"Iya ibunda, Clarissa juga sangat senang. Kita harus bisa merebut kembali tanah kelahiran kita," ujar Clarissa menunduk santun tapi mempertegas suaranya.
Charles cukup terkejut kini Clarissa sudah berani membahas masalah tanah kelahiran apalagi berbicara tegas, sangat-sangat berbeda dengan Clarissa yang ia didik hanya bisa mengangguk santun tanpa memikirkan kerajaan. Jika seperti ini maka rakyat akan semakin memercayai Clarissa jika dijadikan ratu, Charles tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Anne terdiam, ia sangat takut jika Charles marah ketika Clarissa mulai membahas masalah kerajaan apalagi di tempat ini masih banyak rakyat dan tetua adat yang berkumpul. Jangan sampai Clarissa mendapat amukan dari Raja Charles hanya karena terlalu ikut campur masalau kerajaan.
"Benar putri kita harus merebut kembali kerajaan Iceland," sahut seorang pemuda yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan dari Clarissa.
Pesona kecantikan Clarissa memang tak ada bandingannya, semua mata tertuju padanya seolah tersihir dan terpikat kecantikan yang Clarissa miliki.
"Baiklah, lebih baik kalian beristirahat besok adalah hari penting bagi kita semua dan jangan sampai lengah tetap perketat penjagaan."
Setelah mendengar instruksi dari Raja Charles, semua yang berkumpul mulai membubarkan diri hingga hanya tersisa Raja Charles, Ratu Anne dan Clarissa.
"Sudah berapakali saya pertegas jangan terlalu ikut campur masalah laki-laki," peringat Raja Charles.
Clarissa menelan ludah dengan susah payah, selalu seperti ini yang akan terjadi padahal ia juga ingin ikut terlibat mengenai kerajaan Iceland. Iceland adalah bagian dari dirinya, bagi Clarissa ketika kerajaan terpuruk maka ia juga turut merasakan hal yang sama. Jiwa mereka sudah menyatu dan bagaimana bisa Raja Charles memintanya untuk tak acuh terhadap kerajaan?
"Tapi—"
"Siapa yang mengajarimu hingga menjadi pembangkang seperti ini? Kamu?" tanya Raja Charles menatap tajam Ratu Anne.
Seketika suara Charles membuat Ratu ketakutan, ia menunduk dalam-dalam. Trauma di dalam dirinya belum sembuh, melihat Charles saja ia merasa takut apalagi jika lelaki itu marah tentu akan membuat Anne semakin takut.
"Maafkan saya, Raja."
Charles kembali menatap Clarissa, tangannya terkepal erat. Jika saja Clarissa bukan keturunan Iceland mungkin Charles akan melenyapkannya dengan mudah.
"Dan kamu!" Charles mengangkat tangannya dan menunjuk tepat di wajah Clarissa. "Berhenti menggunakan kekuatan itu! Sudah berapakali saya katakan kekuatan itu adalah kutukan!"
"Tapi—"
Ketika Clarissa baru ingin menjawab ucapan Raja Charles, Ratu Anne segera menghentikannya. Ia takut bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah ketika Clarissa sudah terlalu berani melawan perintah.
Clarissa terdiam, ibunya selalu saja menghentikannya padahal Clarissa merasa kekuatan ini jika digunakan dengan cara yang benar tentu akan sangat bermanfaat bagi kerajaan Iceland tapi bagaimana cara ia menjelaskan jika berbicara saja ia tak bisa.
"Ajari anakmu sopan santun!" bentak Charles lalu meninggalkan keduanya.
***
Hari yang ditakutkan itu tiba, p*********n untuk mengambil kembali kerajaan Iceland sudah didepan mata. Pasukan yang dipimpin oleh panglima Robert kini sudah mulai memasuki area utama kerajaan Iceland, mereka dengan beringas berusaha merebut kembali kerajaan.
Pangeran Louis tersenyum sinis meski ia memiliki kekuatan yang besar untuk mengalahkan pasukan kerajaan Iceland tapi ada hal lain yang lebih ia usahakan yakni menculik Clarissa dan petinggi kerajaan lain.
Ia tak terlalu peduli ketika pasukan kerajaan Iceland sudah mulai menduduki kembali kerajaan utama yang sudah berhasil mereka rebut, ada misi lain yang perlu ia tuntaskan. Jika misi ini berhasil maka peperangan juga akan berhenti dengan sendirinya. Raja Henry sudah memberitahu kunci utama untuk memenangkan pertarungan bukan dengan menumpahkan ribuan darah melainkan dengan ketenangan dan mampu mengambil alih pasukan inti kerajaan.
Setelah Louis tahu bahwa Clarissa mampu menjadi pemersatu dua kerajaan, pada akhirnya ia mencari alternatif lain selain peperangan untuk menundukkan kerajaan Iceland. Satu hal yang luput dari perhatian pangeran Louis, bukankah Clarissa adalah satu-satunya penerus kerajaan Iceland maka dengan menjadikannya ratu kerjaan LOF akan dengan sendirinya menghentikan peperangan dua kerajaan. Semoga saja asumsi dari raja Henry ini tak salah.
Clarissa hanya bisa terdiam tanpa melawan ketika pasukan kerajaan LOF membawanya pergi, ia tak bisa menggunakan kekuatan es yang ia miliki apalagi menggunakan kekuatan pedangnya. Dua kekuatan itu sama saja akan membuat Raja Charles marah besar padanya, mungkin memang ini sudah menjadi takdir bagi Clarissa untuk menjadi wanita lemah yang tak bisa berbuat apa-apa.
Pangeran Louis sedikit terkejut karena Clarissa samasekali tak melawan apalagi menghantamnya dengan kekuatan es yang putri miliki, terlihat sangat aneh ketika Clarissa hanya menunduk dan mengikuti mereka yang sudah menculik Clarissa. Untuk saat ini pangeran Louis mungkin akan mengatakan bahwa yang di hadapannya ini benar-benar sosok seorang putri yang lemah lembut tak bisa berbuat apa-apa apalagi yang berkaitan dengan kekerasan.
"Kita bertemu lagi," bisik Pangeran Louis.
Ingin sekali Clarissa menghantam kepala Louis dengan batu besar atau dengan pedang tajam tapi ia kembali mengingat bahwa di tempat ini bukan hanya ada dirinya melainkan ada keluarga kerajaan dan juga para rakyat. Mungkin ketika mereka menyadari Clarissa memiliki kutukan es mereka akan berubah membenci Clarissa seperti yang Raja Charles lakukan. Tapi bagaimana dengan Nakula yang sudah mengetahui hal tersebut apakah Nakula akan membocorkannya dan membuat Clarissa tak memiliki tempat lagi di hati para rakyat? Tak ada jawaban untuk itu, Clarissa hanya bisa memasrahkan diri dalam kukungan kebencian yang Raja Charles berikan padanya.
"Di mana kekuatan esmu?" tanya Pangeran Louis dengan nada mengejek.
"Berhenti, atau kau ku bunuh!" ancam Clarissa masih menunduk.
Tak ada siapapun yang mendengar percakapan keduanya kecuali Pangeran Louis, mereka seperti dua insan yang ditakdirkan untuk selalu bertemu meski dalam ikatan permusuhan.
"Apa kau akan membiarkan pasukanku untuk menghabiskan prajurit kerajaan Iceland?" sambung Pangeran Louis berusaha memancing emosi putri Clarissa.
Sayangnya, Clarissa lebih takut ketika ia menggunakan kekuatannya maka rakyat akan membencinya ditambah hukuman yang akan Raja Charles berikan. Mungkin ia akan ditahan jika tak berusaha membebaskan diri tapi Clarissa juga tak bisa melakukannya sekarang, ia kini tengah berada di posisi yang sangat sulit.
Wajah Clarissa semakin memerah menahan amarah, bagaimana bisa Raja Charles memberikan aturan seperti ini padanya? Clarissa sangat ingin membantu tapi ia juga tak ingin jika bantuannya malah akan membawa bencana nantinya.
"Kau terlihat sangat cantik ketika marah seperti ini," goda Pangeran Louis.
Clarissa mengangkat kepalanya tak terima mendengar ocehan yang berasal dari pangeran Louis, seketika ia merasa jengkel dan terhina karena hal itu.
Bukan Pangeran Louis namanya jika berhenti begitu saja, ia menggunakan Clarissa dan memeluk pinggang ramping itu sembari menyerang pasukan Iceland. Otomatis orang yang ingin menyerangnya akan merasa ragu dan takut melukai putri karena tubuh dua orang tersebut sangat dekat ditambah Pangeran Louis menggerakan dengan lincah dan mengecoh mereka.
"Apa yang kamu lakukan!" protes Clarissa.
"Hanya meminta perlindungan dari calon ratu," jawab Pangeran Louis begitu percaya diri.
Clarissa mencengkram kuat bahu Pangeran Louis, ia takut keseimbangannya terganggu dan membuatnya terjatuh. Ia juga sangat takut ketika pedang berhasil mengenai bahu Pangeran Louis sehingga membuat darah mulai membasahi pakaiannya.
"Darah ini sudah menyatu, ingatlah ucapanku kau akan menjadi ratu kerajaan LOF."
Setelah mengucap janji tersebut, pangeran Louis memberi isyarat pada pasukannya untuk mundur. Mereka sudah mendapat apa yang mereka inginkan yakni Putri Clarissa jadi biarkan saja pasukan kerajaan Iceland menguasai tanah kelahiran mereka.
Ratu Anne tak bisa berbuat apa-apa, tangisan yang keluar menjadi bukti betapa takutnya ia akan keselamatan putri. Lagi-lagi putri dibawa oleh musuh, belum juga lama ia bisa menatap wajah anaknya tapi kini sudah kembali direnggut.
Entah mengapa tetua adat merasa akan lebih aman ketika Putri Clarissa berdama Pangeran Louis daripada ketika putri bersama mereka dan seperti yang ia dengar bahwa Raja berencana menikahkan Clarissa dengan Robert yang tetua adat sendiri tahu siapa sebenarnya Robert itu.
"Tolonglah putriku paduka Raja, tolong."
Ratu Anne sampai berlutut memohon pada Raja Charles namun lelaki itu malah meninggalkan Ratu Anne dan memilih masuk ke kerajaan yang berhasil mereka dapatkan kembali.
Nakula mendekat dan membantu Ratu untuk bangun.
"Tenanglah Ratu, kami akan berusaha membebaskan Putri Clarissa."
Tetua adat berjalan mendekat kemudian menepuk pundak Nakula memberi isyarat pada anaknya jika ia ingin berbicara dengan Ratu Anne. Nakula yang mengerti isyarat ayahnya pada akhirnya memilih mundur dan membiarkan keduanya berbincang.
Perbincangan panjang itu membuat Ratu Anne, bisa mengembuskan napas lega. Entah apa yang keduanya bicarakan tapi melihat dari raut wajah Anne yang mengangguk mengerti tentu disadari ada sesuatu yang penting tengah mereka bicarakan dan hal itu tampaknya berkaitan dengan Putri Clarissa.
Ratu Anne sangat mengenal tetua adat yang pernah menjadi orang kepercayaan kerajaan, penjelasan tetua adat mampu memberi ketenangan pada Ratu Anne.
"Semoga apa yang kamu ucapkan itu benar."