Ternyata sangat sulit bagi Clarissa untuk benar-benar bebas dari penjara, baru juga menghirup udara bebas kini ia kembali menjadi tahanan perang. Louis yang sejak tadi memeluknya dari belakang menggunakan kuda putih itu menyandarkan tubuhnya pada bahu Clarissa lalu berbisik.
"Tampaknya kamu kembali lagi ke pelukan saya," ujarnya menggoda Clarissa.
Tangan yang terikat kuat dengan akar-akar yang Clarissa sendiri kesulitan untuk melepas serta seolah menyerap kekuatan Clarissa itu membuatnya tak bisa berkutik dan membiarkan Pangeran Louis bertindak semaunya.
"Apa yang kamu inginkan dari saya?" marah Clarissa masih berusaha keras untuk melepas ikatan tangannya.
"Aku hanya ingin membebaskanmu dari kedustaan," terang Pangeran Louis secara misterius.
Sejenak Clarissa memikirkan perkataan Pangeran Louis yang masih belum ia mengerti, kedustaan seperti apa yang lelaki itu maksud. Jangan sampai otak Clarissa terkontaminasi oleh pikiran buruk yang Pangeran Louis tebar, ia harus berhati-hati karena sejatinya musuh adalah manusia yang paling tak bisa kita percaya.
"Kau kira aku akan percaya?" tanya Clarissa keheranan.
Pangeran Louis mengendikkan bahu, ia sendiri yakin Clarissa tak akan memercayai ucapannya tapi untuk apa juga ia susah payah menjelaskan. Satu yang pasti Clarissa sekarang sudah berada dalam pengawasannya dan hal itu sudah memberikan keuntungan besar baginya.
Perjalanan cukup jauh ditempuh, jarak berkilo-kilo meter menjadi saksi hangatnya dekap Pangeran Louis pada putri Clarissa.
Perempuan itu hanya bisa pasrah, ingin memberontak juga tak bisa. Tenaganya terlalu lemah dan sudah sangat terkuras. Entah mengapa ia merasa sangat lemah.
"Haciim!"
Suara bersin Clarissa mengejutkan Pangeran Louis, jalanan yang tadinya hanya diisi suara sepatu kuda kini tiba-tiba berhenti.
Pangeran Louis berhenti lalu melihat lebih jelas putri Clarissa, wajah putih sudah berubah kemerahan. Mungkin putri tak terbiasa dengan suasana malam di tengah hutan sehingga hal itu mengganggu kondisi tubuhnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Pangeran Louis khawatir.
"Peduli apa kamu?!"
Melihat Pangeran Louis belagak peduli membuat Putri Clarissa semakin muak, berpura-pura baik seolah ia adalah seorang penyelamat padahal Clarissa seperti ini juga karena Pangeran Louis. Benar-benar tak tahu diri pangeran ini sudah menculiknya dan membuat ia sakit tapi masih bertindak seolah tak terjadi apa-apa. Clarissa benar-benar muak melihat tingkah lakunya.
Pangeran Louis turun dari kuda kemudian mengambil kain yang diikat membentuk gulungan pada seorang prajurit. Sebuah kardigan berbahan bulu domba itu terlihat sangat cantik, entah sejak kapan atau bagaimana bisa Pangeran Louis kepikiran untuk membawanya. Sekarang benda itu akan sangat membantu untuk menghangatkan tubuh Clarissa.
Setelah mengambil kardigan tebal itu, Pangeran Louis kembali menaiki kuda dan memakaikan kardigan pada tubuh sang putri. Sebelum ia benar-benar yakin bahwa Clarissa sudah merasa nyaman, ia memeriksa tubuh Clarissa dan mendapati suhu yang cukup tinggi di dahi wanita cantik itu. Tanpa perlu bertanya, Pangeran Louis sadar bahwa Putri Clarissa tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja.
Pangeran Louis mengeratkan pelukannya pada tubuh Clarissa untuk memberikan kehangatan sembari memegang tali kendali dan menjalankan kuda. Pelukan hangat itu membuat Clarissa merasa nyaman, tapi sesuatu di dalam dirinya berteriak bahwa ini salah. Tak sepatutnya Clarissa merasa nyaman dalam pelukan seseorang yang tengah berjuang merebut tanah kelahirannya.
Malam semakin larut, Clarissa tak bisa menahan lagi kantuk yang menyerang matanya. Sedikit demi sedikit ditambah angin yang bertiup pelan menerpa wajahnya membuat Clarissa semakin kehilangan kendali pada tubuhnya dan perlahan ia mulai terlelap dalam tidurnya.
Pangeran Louis memegang erat tubuh Clarissa agar tak kehilangan kendali dan terjatuh dari kuda, sangat menggemaskan melihat wajah cantik itu tertidur pulas diterpa cahaya rembulan yang kini bersinar terang.
"Kau sangat cantik Putri Clarissa."
***
Pangeran Louis tak tega membangunkan Clarissa ketika sudah sampai di istana LOF, pada akhirnya ia sendiri yang menggotong tubuh molek itu untuk beristirahat di sangkar emas yang sudah mereka tambah sistem keamanannya.
Pangeran Louis meletakkan tubuh itu pelan di atas ranjang, ia memperlakukan Clarissa seperti wanita yang teramat berharga dalam hidupnya tak membiarkan hal apapun mengganggu tidur lelapnya. Ketika pangeran Louis hendak berdiri dan meninggalkan sangkar emas entah apa yang sedang Clarissa mimpikan ia malah memeluk lengan Pangeran Louis begitu erat. Tentu pangeran tak tega membangunkan Putri Clarissa untuk melepas tangannya, alhasil Pangeran Louis memilih tidur sambil duduk di samping ranjang Clarissa.
Malam yang tak pernah mereka bayangkan bahwa dua insan itu akan menghabiskan malam dengan sang Putri yang tertidur lelap sementara sang Pangeran memandang dengan tatapan memuja. Jika saja ia tak memikirkan harkat dan martabatnya sebagai seorang Pangeran mungkin ia tak akan menahan diri untuk tak memiliki Clarissa malam ini, tapi Pangeran Louis masih memiliki akal yang tak akan membiarkannya melakukan hal terlarang tersebut.
Clarissa memang sangatlah cantik, sulit bagi laki-laki normal hanya berdiam diri menatapnya selama semalaman tapi Pangeran Louis bisa melakukannya.
Matahari mulai terbit dan ayam mulai berkokok menyanyikan lagu untuk membangunkan para insan yang lelap dalam mimpi. Pangeran Louis tertidur tepat di depan wajah Clarissa, putri cantik itu sangat terkejut ketika matanya tebuka dan ia mulai mengumpulkan kesadaran maka wajah Pangeran Louis yang pertamakali ia lihat. Hal yang lebih mengerikan lagi adalah ia memeluk lengan lelaki itu, Clarissa tak bisa menahan dirinya untuk tak menutup wajahnya yang sudah merona malu.
Pangeran Louis mengerjapkan mata, tersadar bahwa Putri Clarissa ternyata sudah bangun dari tidurnya.
"Apa yang kamu lakukan?!" marah Clarissa.
"Saya tidak melakukan apa-apa," jawab Pangeran Louis tenang.
Dada Clarissa naik turun, wajahnya memerah marah dengan mata yang membulat seolah akan menusuk siapapun yang ada di hadapannya.
"Dasar lelaki b***t! Pergi kau!" usir Clarissa.
"Saya bersumpah, saya tak melakukan apapun terhadapmu."
Clarissa tak peduli, selain ia marah karena Pangeran Louis begitu lancang tidur di dekatnya semalaman ia juga tak bisa mengendalikan detak jantung yang berdegup menggila tak kunjung henti. Ia takut jika kegugupan yang ia rasakan bukan hanya gugup karena marah, ia takut ... Clarissa benar-benar takut. Yang ia takutkan adalah ... Ia takut jatuh cinta pada orang yang tidak tepat.
"Maafkan saya putri."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Pangeran Louis benar-benar meninggalkan sangkar emas. Ia benar-benar merasa bersalah atas tindakannya, ia samasekali tak bermaksud membuat Putri Clarissa merasa terhina. Pangeran Louis hanya takut mengganggu tidur Clarissa apalagi ia tahu bahwa Clarissa sedang tidak enak badan hal itulah yang membuatnya merelakan tangannya pegal semalaman dipeluk Clarissa.
Saat Pangeran Louis sudah dipastikan meninggalkan sangkar emas, Putri Clarissa menekan dadanya memastikan detak jantungnya apakah benar-benar berdetak terlalu cepat atau hanya perasaannya saja tapi setelah ia rasakan ternyata detak menggila itu benar-benar kentara adanya.
"Mustahil aku menyukainya."
Putri Clarissa sangat terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka kembali, ia begitu waspada pada apapun yang terjadi di ruangan ini. Untung saja tangannya sudah terlepas dari ikatan jika tidak maka Clarissa akan sangat kesulitan bergerak.
Ketukan langkah beraturan itu semakin mendekat, ternyata seorang pelayan datang membawakan sarapan untuk Clarissa. Ia cukup lega ternyata bukan Pangeran Louis yang kembali mendatanginya, Clarissa jadi berubah parnoan sendiri karena perasaannya yang campur aduk.
Tanpa berkata apapun, setelah meletakkan nampan di meja. Perempuan muda dengan rambut disanggul itu meninggalkan ruangan Clarissa. Rasanya kerajaan LOF sudah menjadi tempat untuk mengurung Clarissa, entah sampai kapan mereka akan menjadikan Clarissa tawanan. Jika dipikir-pikir mereka sepertinya sengaja ingin menculiknya apalagi ketika perang semalam Clarissa sangat yakin tak sulit bagi Pangeran Louis untuk memukul mundur pasukan kerajaan Iceland tapi yang lelaki itu lakukan malah menculiknya. Hal yang sangat tidak terduga dari pasukan perang adalah lebih peduli bagaimana cara menculik Clarissa daripada memenangkan peperangan.
"Tunggu!" panggil Clarissa.
Langkah beraturan itu terhenti mendengar interupsi Clarissa, Clarissa bangkit dari ranjang dan berjalan mendekat. Tatapan wanita itu tampaknya sangat waspada terhadap gerakan Clarissa, baru saja Clarissa mengangkat tangan dengan cepat wanita itu sudah menangkisnya. Sepertinya pelayan yang diberi tugas untuk memberinya makan saja sudah terlatih, lalu bagaimana cara Clarissa kabur dari tempat ini jika mereka memang benar-benar sudah memperketat penjagaan.
"Jangan bertindak macam-macam, semua itu hanya akan menyulitkanmu tuan putri."
Setelah mengucapkan ancaman itu pelayan berwajah cantik itu mendorong Clarissa kembali masuk lebih dalam ke sangkar emas lalu perempuan itu pergi meninggalkannya dengan menambah satu lapis pertahanan pada ruangan itu.
Clarissa terduduk di ranjang, wanita itu cukup kuat untuk ia lawan apalagi posisinya kekuatan Clarissa tak bisa digunakan di tempat ini ditambah lagi ia masih begitu lemah karena perjalanan semalam.