Emosiku semakin tinggi saat melihat Steven sedang menipu orang lain di kedainya. Rupanya dia memang penipu ulung, ia tak hanya menipu Frans tapi dia juga menipu orang orang yang berkunjung ke kedainya. Memang tak semua pelanggan ditipu olehnya, ia hanya menipu orang orang dengan level sihir terendah. Bagi orang yang tidak percaya diri dengan sihir yang mereka punya mereka akan lebih memilih menggunakan alat-alat ajaib yang dijual oleh Steven.
Steven memang tampan tapi senyum liciknya itu membuatku semakin geram. Tak tahan rasanya untuk memberi peringatan pada penipu itu, tetapi suasana di kedai terlalu ramai, jadi aku putuskan untuk menunggu sebentar hingga kerumunan itu bubar.
Perlahan tapi pasti para pelanggan kedai Steven mulai membubarkan diri dan inilah saatnya aku memberi peringatan pada penipu yang telah menipu sahabatku.
"Mau berapa kali lagi kau menipu Frans?" tanyaku dengan nada tinggi pada Steven.
Ia tersenyum seolah tak punya dosa karena telah menipu para pelanggannya termasuk Frans. Steven tak menjawab pertanyaanku dan kembali melanjutkan kegiatan beres-beresnya. Sungguh sifatnya itu membuatku tambah emosi.
"Aku tanya mau berapa kali lagi kau menipu orang-orang dengan barang rongsokan yang kau jual dengan harga tinggi itu?"
"Apa yang aku lakukan bukan penipuan, ini hanya jual beli biasa. Lagipula selama ini tidak ada yang merasa ditipu olehku."
"Kau menipu Frans berulang kali. Kau tahu keping emas siapa yang digunakan untuk membeli barang rongsokanmu? Keping emas hasil dari penjualan bunga Loot milikku."
"Itu bukan urusanku!" ucap steven seraya meninggalkanku yang masih berdiri di depan kedainya.
Sungguh pria itu sangat menyebalkan. Aku berdoa semoga tidak akan pernah berurusan dengan Steven lagi.
Aku pulang dengan keadaan sedikit emosi pada Steven, ia benar-benar pria yang sangat menyebalkan. Aku harus benar-benar memperingatkan Frans untuk tidak membeli barang rongsokan lagi pada pria menyebalkan itu.
Saat sampai di rumah aku berbaring di atas ranjang. Hari ini sungguh melelahkan, setelah memanen bunga-bunga Loot dan mengantarkan nya pada para pelanggan, aku juga mengantri untuk undangan Savana, dan aku juga harus terlibat perdebatan dengan Steven, semua hal itu membuatku lelah.
Rasanya ingin langsung terlelap tetapi aku belum mandi. Di tengah rasa letih, aku melihat cahaya kilat berasal dari meja riasku. Akupun turun dari ranjang untuk memastikan apa yang terjadi.
Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Cermin indah yang aku lihat di rumah paman Rodrigo benar-benar ada di mejaku. Siapa yang membawanya kemari?
Saat aku pulang pintu rumah masih terkunci dengan mantra buatanku. Lagipula tak ada yang tahu tentang mantra buatanku kecuali Frans, akan tetapi dia sudah pulang lebih dulu ke rumahnya.
Aku harus segera mengembalikan cermin ini pada paman Rodrigo. Aku khawatir kalau dia merasa cermin ini telah dicuri padahal tidak ada satu pun yang membawa cermin itu keluar dari rumahnya.
Aku mengayuh sepeda menuju rumah paman Rodrigo untuk mengembalikan cermin itu. Semoga saja paman Rodrigo tidak menuduhku mencuri cermin itu.
"Paman Rodrigo. Paman," panggil ku pada pria tua itu saat sampai di rumahnya
"Ada apa, Eliza? Kau terlihat cemas."
"Paman, cermin indah itu tiba-tiba ada di rumahku. Tunggu, aku akan mengambilnya."
Saat kubuka keranjang bunga, cermin itu tidak ada lagi, benda indah itu telah hilang. Kemana perginya benda itu? Aku benar-benar yakin kalau telah menaruhnya di keranjang bunga.
"Paman, cerminnya hilang benda itu tidak ada di keranjang, tapi sungguh aku telah menaruhnya di keranjang bunga entah bagaimana sekarang tidak ada lagi.
Paman Rodrigo malah tersenyum padaku, ia tak terlihat marah.
"Cermin itu telah memilih pemiliknya, jadi benda itu takkan pernah mau kembali padaku kecuali jika pemiliknya telah tiada."
Mendengar ucapan paman Rodrigo, aku makin tak mengerti. Sebuah cermin bisa memilih pemiliknya? Apa mungkin seperti itu? Lalu, kenapa cermin itu memilihku?
"Paman, jika cermin itu memilihku, kemana perginya benda itu sekarang?" tanyaku pada paman Rodrigo.
"Benda itu kembali ke rumahmu. Jagalah cermin itu, suatu saat nanti kau akan tahu apa alasan cermin sakti itu memilihmu."
Aku mencoba mengerti ucapan paman Rodrigo walau sebenarnya masih ada yang membuatku bingung. Aku tetap merasa lega, setidaknya paman Rodrigo tahu kalau cermin itu ada padaku.
Untuk memastikan ucapan paman Rodrigo, aku bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ucapan paman Rodrigo soal cermin sakti yang memilih sendiri pemiliknya. Jika itu benar, apa istimewanya aku?
Ternyata, apa yang paman Rodrigo katakan benar. Cermin sakti ini ada di meja riasku. Benda itu mengeluarkan cahaya yang membuat kamarku jadi terang.
Ada yang aneh saat aku bercermin di benda sakti itu. Pantulan wajahku di cermin sangat berbeda dengan wajah asliku. Dalam cermin itu, aku terlihat mengenakan pakaian berwarna merah dan sebuah mahkota menghiasi rambutku, padahal saat ini aku memakai baju berwarna hijau dan rambutku tidak dihiasi apapun.
Apa artinya ini? Ini cermin sakti atau cermin penipu? Kenapa pantulannya berbeda? Paman Rodrigo juga tak mengatakan tentang kesaktian cermin karyanya ini.
Di tengah kesibukanku mengamati cermin, suara pintu di ketuk terdengar. Aku beranjak dari kursi untuk melihat tamuku.
Saat membuka pintu, aku dikejutkan dengan kedatangan Frans yang terluka. Sahabatku ini tiba-tiba jatuh tersungkur saat aku mencoba membawanya masuk ke dalam.
"Frans, apa yang terjadi. Kenapa kau bisa terluka di perut?" tanyaku seraya mencari serbuk penyembuh luka milikku.
"A-aku, minta serbuk ajaib penyembuh luka."
"Aku sedang mencarinya."
Aku makin panik saat melihat wajah Frans yang mulai membiru sedangkan serbuk ajaibku belum ketemu. Aku benar-benar benci pada diri sendiri setiap kali pikun datang. Entah apa yang membuatku jadi pelupa, padahal aku masih muda.
Setelah berpacu dengan racun yang mulai menyebar di tubuh Frans, akhirnya aku menemukan serbuk ajaib nya. Aku benar-benar benci pada diri sendiri setiap kali pikun datang. Entah apa yang membuatku jadi pelupa.
Aku menaburkan serbuk itu dibagian perut yang terluka. Tak ada respon yang ditunjukkan Frans. Wajahnya biru dan napasnya terdengar mulai habis. Racun yang ada di tubuh Frans adalah racun bunga Loot. Aku sudah memastikan kalau bunga Loot milikku telah bebas dari racun. Lalu, bagaimana bisa Frans terkena racun bunga yang menjadi lambang Lootopia itu.
Apa mungkin pisau yang digunakan untuk melukai Frans sudah diolesi racun bunga Loot? Siapa kiranya yang melukai Frans? Aku rasa, pria sebaik Frans tak mungkin punya musuh.
Frans tak kunjung merespon serbuk ajaib, akhirnya aku menaburkan serbuk itu lagi di luka Frans. Lukanya cukup parah dan racunnya juga sudah menyebar. Aku hanya berharap temanku ini bisa selamat.