Perlahan wajah Frans yang tadi membiru, kini kembali normal. Ia masih terlihat lemas. Namun, aku rasa dia merasa lebih baik.
"Bagaimana, Frans? Apa masih sakit, atau ada hal lain yang kau rasakan?" Frans menggeleng sebagai jawaban pertanyaanku.
"Eliza, cepat bawa semua serbuk ajaib ini," suruhnya padaku.
"Untuk apa? Kau sudah sembuh, kan?"
"Masih banyak pria muda yang terluka. Ini semua ulah ratu Samara! Dia mencari pria untuk putrinya, tapi saat sang putri tak menginginkan pria itu, maka ratu Samara memerintahkan untuk membunuh para pria dengan menusukkan pisau yang telah diolesi racun bunga Loot."
"Coba jelaskan lebih rinci kejadiannya," pintaku pada Frans.
"Aku tidak ingat hal lain lagi yang terjadi di istana selain itu."
Aku tak menyangka ratu kami begitu kejam. Ia bisa membunuh siapapun hanya karena masalah sepele. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi, akan tetapi aku tak bisa lakukan apapun. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah membebaskan mereka dari racun bunga Loot.
Aku mengemasi semua persediaan serbuk ajaib untuk dibawa. Semoga saja persedian serbuk ini cukup untuk semuanya.
Frans mengajakku ke hutan larangan, ia bilang para pria itu ditaruh di sana dan dibiarkan mati. Frans juga mengatakan kalau keluarga para pria itu hanya bisa menangisi kematian anak mereka.
Setibanya aku dan Frans di hutan larangan, perasaan sedih berkecamuk dalam hati. Seorang ibu sedang menangisi anaknya yang telah meninggal. Wanita itu terus menggoyang-goyangkan tubuh sang anak dan terus memohon agar putranya hidup kembali. Namun, hal itu hanya sia-sia.
Aku melihat jasad anak wanita itu telah menghitam dan itu artinya, racun bunga Loot telah masuk ke jantungnya. Kematian sudah bisa dipastikan karena racun bunga loot telah merusak jantung pemuda itu.
Ingin aku menghentikan langkah, akan tetapi masih banyak pemuda lain yang mungkin masih hidup dan mereka membutuhkan serbuk ajaibku untuk tetap bisa hidup.
"Frans, mana yang lain?" tanyaku karena tak melihat pemuda lain yang di buang ke hutan larangan.
"Entahlah, tadi ada beberapa pria di sini. Tapi, kemana mereka? Jangan-jangan para Roughus memangsa jasad para pria itu."
"Itu tidak mungkin, Roughus adalah serigala mistis, mereka adalah penjaga Lootopia, tidak mungkin mereka memangsa rakyat Lootopia."
"Itu benar. Tapi tahukah kau? Mereka berubah menjadi serigala pemangsa saat penobatan ratu Samara. Mereka membunuh para panglima yang mengawal penobatan itu."
Apa yang dikatakan Frans ada benarnya. Memang rumor yang beredar selama ini membuat Roughus terdengar mengerikan. Mereka telah berubah dari sang penjaga menjadi pemangsa.
Aku terus melangkah seraya memikirkan kemungkinan tentang para Roughus. Sepanjang jalan masuk, tak ada orang lain selain aku dan Frans, hal itu sangat aneh.
Keanehan juga terjadi saat aku melihat Steven berlari seperti sedang melakukan hal yang sangat penting. Apa kiranya yang dia lakukan di sini?
"Steven," panggil Frans pada pria itu.
Steven menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan Frans. Ia tersenyum sebentar. Namun, senyum itu tiba-tiba hilang dan berubah menjadi ekspresi cemas.
"Eliza, cepat bantu pria itu," ucapnya seraya menarik tanganku.
Tak ada celah untuk menolak, aku mengikuti langkah pria yang sebenarnya aku benci ini.
Betapa terkejut aku saat melihat enam orang pria sedang terduduk lemas dan satu pria yang masih tak sadarkan diri.
Apa mungkin Steven yang membantu mereka? Dia yang memberikan serbuk ajaib penyembuh luka? Tetapi dari mana dia tahu?
Hanya orang dengan level sihir tiga yang mampu membuat serbuk itu. Orang-orang di level sihir tiga adalah orang-orang yang bekerja sebagai penyembuh, karena itu mereka bisa membuat obat-obatan termasuk serbuk ajaib penyembuh luka.
Kalau aku memang diajarkan cara membuat obat-obatan oleh bibiku, karena itu aku memiliki level sihir tiga.
"Steven, apa kau yang menyembuhkan mereka?" tanyaku karena penasaran.
"Jangan tanya apa-apa dulu. Cepat sembuhkan pria itu. Racunnya hampir masuk ke jantungnya."
Aku bergegas menaburkan serbuk ajaibku di luka pemuda yang sedang sekarat ini.
Perlahan keajaiban serbukku terlihat. Wajah pria itu yang tadi mulai menghitam, perlahan kembali normal itu artinya racun bunga Loot berangsur menghilang.
Rasa lega aku rasakan, serbuk ajaibku telah menyelamatkan nyawa orang lain lagi.
Kembali aku fokus pada Steven yang sedang membagikan air minum untuk para pria yang terduduk lemas. Dengan hati-hati, ia membantu mereka meminum air itu.
"Steven, bisa kita bicara?" Aku mencoba tak menunujukkan amarah seperti sebelumnya.
"Ada apa?"
"Apa kau yang menyembuhkan mereka?"
Steven terdiam, ia berjalan ke arah batu besar di bawah pohon. Ia duduk di sana tanpa kata. Aku mengikuti dan duduk di sampingnya.
"Ayah dan ibuku adalah penyembuh. Namun, saat aku berumur lima tahun, mereka ditangkap oleh ratu Samara. Entah apa yang membuat kedua orang tuaku ditangkap. Sampai saat ini aku tidak tahu alasan ratu kejam itu memenjarakan orang tuaku di istana."
"Jadi, sihirmu level tiga sejak lahir?"
Steven mengangguk sebagai jawaban. Aku merasakan kesedihan Steven. Ia tumbuh tanpa orang tua. Sama sepertiku hanya saja aku lebih beruntung karena hidup bersama bibiku yang juga seorang penyembuh.
Jika diingat lagi, hutan inilah yang membuat orang tuaku tak pernah kembali ke sisiku. Bibi mengatakan, orang tuaku datang ke hutan ini dan tak pernah kembali. Entah apa yang terjadi pada mereka.
"Eliza." Panggilan Steven memecah lamunanku.
"M-maaf, Steven. Aku minta maaf karena sikap aroganku kemarin. Aku malu atas sikapku kemarin."
Steven tersenyum begitu manis di depanku. Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang karenanya. Ada apa dengan perasaanku ini?
"Tidak apa-apa. Wajar jika kau marah, tapi harusnya kau marah pada Frans bukan padaku karena dia yang selalu menggunakan uangmu."
Benar juga, harusnya aku marah pada Frans, tetapi batang hidungnya tak terlihat di tempat ini lagi. Kemana dia?
Dia pasti sudah tahu kalau aku akan memarahinya, jadi dia pergi tanpa memberitahuku. Padahal, aku tak akan marah padanya, dia temanku dan sampai kapanpun aku tak akan marah atau membencinya walau terkadang aku sedikit cerewet padanya.
"Oh ya, Steven. Apa kau tahu alasan sang ratu melakukan ini semua? Hanya karena sang putri, ia mampu membunuh orang lain."
"Aku juga tidak tahu alasannya. Saat aku bertanya pada mereka, tak ada jawaban berarti. Mereka seolah lupa kejadian di istana."
Aku sangat penasaran dengan alasan sang ratu. Apa yang harus disenyembunyikan hingga harus menutup rapat mulut para pria itu selamanya.
"Aku mengerti bagaimana bisa mereka tak ingat apapun. Racun bunga loot telah merusak ingatan mereka dan racun itu juga membuat situasi yang membingungkan bagi mereka. Ingatan mereka teracak dan mereka sendiri tidak tahu urutan ingatan mereka sendiri," jelasku panjang.
"Sang ratu pasti sengaja menggunakan racun bunga Loot untuk menghilangkan ingatan para pemuda itu jika mereka terselamatkan oleh para penyembuh."
"Ya, itu pasti. Aku jadi penasaran, apa kiranya yang disembunyikan sang ratu mengenai sang putri. Selama ini kita semua, bahkan tak pernah melihat wajah sang putri, kan?"
"Benar, sang putri sangat misterius hingga tak ada yang tahu, sebenarnya dia hidup atau mati, cantik atau buruk."
***
Pagi sudah datang, tapi aku masih mengantuk. Maklum saja, semalaman aku terus memikirkan alasan yang tepat atas tindakan ratu Samara yang begitu mengerikan.
Belum sempat aku beranjak dari ranjang. Aku mendengar keributan diluar, entah apa yang terjadi di sana.
Rasa penasaran datang menghampiri, aku bergegas memeriksa keadaan luar walau belum mandi. Aku berharap orang-orang di luar tak memperhatikan diriku yang belum mandi.
Saat aku membuka pintu, terlihat begitu jelas pemandangan tak biasa. Seorang wanita tua sedang berbicara seolah mengajak masyarakat untuk menuntut sang ratu menunjukkan wajah sang putri.
Wanita tua itu juga mengatakan kalau sang putri tak menunjukkan wajahnya, maka sang putri harus turun dari tahtanya.
Wanita tua itu terus mengatakan kalau ratu Samara adalah ratu yang jahat dan sang putri juga adalah wanita jahat. Ucapannya seolah mengadung dendam.