Julian terkekeh pelan.
“Jangan sampai Tuan Drake mendengar kalimat itu.”
Ia membetulkan kacamatanya, lalu melirik hamparan mawar Juliet di depan mereka.
“Harga satu batang bunnga itu saja cukup untuk membeli setengah peralatan dapur yang tadi kamu kagumi.”
Serena langsung menoleh ke arah pemadangan di balik taman.
Di ujung taman berdiri sebuah pohon beringin raksasa.
Cabang-cabangnya menjulur lebar hingga seolah menutupi separuh langit.
Julian menyilangkan kedua tangannya di depan d**a lalu berdiri di samping Serena.
Mereka sama-sama memandang pohon besar itu.
“Ada apa dengan pohon itu?”
Serena memiringkan kepala dan bertanya.
Julian mengikuti arah pandangannya.
Sinar matahari sore menembus sela-sela daun, meninggalkan bercak cahaya yang menari di atas rumput.
Pohon beringin itu jauh lebih besar daripada bunga mana pun di manor.
Tenang, diam.
Julian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata.
“Dulu Tuan Drake sangat suka berada di sana.”
Serena sedikit tertegun.
“Dulu?”
Julian tersenyum tipis.
“Sekarang juga masih suka, kurasa.”
“Hanya saja dia sudah tidak punya banyak waktu lagi.”
Angin berembus perlahan, mengibaskan ujung pakaian mereka.
Serena kembali memandang pohon itu.
Entah kenapa, ia sulit membayangkan Drake duduk diam di bawah pohon.
Pria itu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang menikmati ketenangan semacam itu.
“Dia benar-benar suka tempat seperti itu?”
Tanyanya tanpa bisa menahan rasa penasaran.
Julian membetulkan kacamatanya sekali lagi.
Nada suaranya tetap tenang.
“Beberapa tahun pertama setelah mendirikan grup perusahaan, kondisinya sangat butuk.”
“Sudah sering dia tidak tidur selama berhari-hari.”
“Kadang-kadang dia pulang menjelang subuh, lalu duduk di sana sendirian sampai matahari terbit.”
Gerakan Serena sedikit terhenti.
Tatapannya tanpa sadar kembali jatuh ke pohon beringin itu.
Julian juga memandang ke arah yang sama.
“Pernah suatu kali hujan badai turun sangat deras.”
“Axel dan aku mencarinya sepanjang malam.”
“Dan akhirnya kami menemukan dia duduk di bawah pohon itu dengan pakaian basah kuyup.”
Seolah mengingat sesuatu yang lucu, Julian tertawa pelan.
“Waktu itu aku bahkan sempat berpikir dia sudah gila.”
Serena terdiam.
Tiba-tiba ia menyadari—
Selam aini kesannya terhadap Drake selalu sama.
Berbahaya, Dominan, Tidak masuk akal.
Namun sekarang…
Pria yang berdiri di puncak kekuasaan dan ditakuti begitu banyak orang itu…
Ternyata juga pernah mengalami masa-masa sulit.
“Lalu setelah itu?”
tanyanya pelan.
Julian menoleh kepadanya.
“Setelah grup perusahaan stabil...”
“Tuan Drake jarang pergi ke sana lagi.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu senyum penuh arti muncul di bibirnya.
“Tapi kami juga jarang mendekati tempat itu.”
Serena langsung mengernyit.
“Maksudmu?”
Namun Julian tidak memberi penjelasan lebih lanjut.
Ia hanya berbalik santai dan berjalan kembali menuju manor.
“Anginnya cukup kencang.”
“Kalau kamu masuk angin lagi, kurasa Tuan Drake bakal kehilangan akal sehatnya malam ini.”
“...”
Serena berdiri mematung.
Entah kenapa ujung telinganya terasa panas.
Ia kembali mengangkat kepala dan memandang pohon beringin itu.
Sinar matahari jatuh di bawah bayangannya.
Tenang.
Seolah menyimpan rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
Kamar
Serena duduk di tepi ranjang sambil melihat kedua kakinya yang baru saja dibersihkan.
Tak lama kemudian, rasa lelah menyerangnya.
Ia langsung menjatuhkan tubuh ke atas kasur dan menatap lampu kristal yang menetap di atap kamar.
“Capek banget...”
Tiba-tiba ia bangkit lagi.
Tatapannya menyapu seluruh kamar.
Dengan penuh semangat, ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan.
Laci.
Lemari.
Meja.
Rak.
Semuanya ia periksa satu per satu.
Namun selain pakaian dan kebutuhan sehari-hari yang sudah disiapkan, kamar itu nyaris kosong.
Bahkan tidak ada setitik debu pun.
“Benar-benar nggak ada apa-apanya...”
Serena kembali menjatuhkan dirinya ke atas kasur.
Matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di sampingnya.
Ia mengambil ponsel itu.
Lalu membuka daftar kontak.
Jari-jarinya berhenti tepat di atas satu nama.
Drake.
Namun cukup lama ia tidak menekan apa pun.
Beberapa detik kemudian, Serena mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi.
“Arghhh... menyebalkan sekali!”
Ponsel itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas kasur.
Tok tok—
Suara ketukan pintu membuatnya langsung duduk tegak.
Ia buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Julian masuk sambil membawa beberapa botol obat.
Tatapannya sempat melirik ranjang yang berantakan di belakang Serena.
Lalu ia meletakkan obat-obatan itu di meja samping tempat tidur.
“Makan obat ini setelah makan.”
“Satu kapsul pagi dan satu kapsul malam.”
ucapnya datar.