Serena menatap dua botol obat yang terletak di depannya dengan ekspresi serius. Matanya menyapu teliti daftar kandungan yang tertera pada label.
“Tenanglah. Untuk sementara ini, aku masih punya etika profesi yang kuat.”
Julian mengambil salah satu botol obat dan mengangkatnya sedikit.
“Yang ini untuk menurunkan demam tinggi. Yang satunya lagi untuk membantu memulihkan kondisi tubuhmu.”
Serena mengangguk pelan, masih setengah percaya.
“Baiklah. Nanti aku akan makan.”
Julian tampak tidak menyangka Serena akan setuju secepat ini.
Ia mengangkat alis sambil menatap mata Serena.
“Kamu nggak takut kalua aku tarok racun di dalam obat?”
“Bukannya tadi kamu bilang masih punya sedikit kesadaran etika?”
Serena bersandar pada bantal lalu menatapnya santai.
“Lagipula, Tuan Drake tidak akan membiarkanku mati.”
Tatapannya jatuh pada telapak tangannya sendiri.
“Atau lebih tepatnya…kalaupun aku harus mati, jelas bukan sekarang.”
“Kamu seyakin ini padaku?”
Suara Julian merendah saat ia sedikit mendekat.
Sudut bibir Serena terangkat.
“Tentu saja.”
Julian menahan napas sesaat sebelum mundur kembali ke posisi semula.
Ia memalingkan wajah.
“Nanti turun sendiri untuk makan malam.”
Serena memperhatikan punggung Julian yang menjauh hingga keluar kamar.
Barulah ia diam-diam menghela napas lega.
Telapak tangannya yang sejak tadi terkepal di belakang tubuh perlahan menghangat kembali.
Saat itulah Serena sadar punggungnya sudah dipenuhi keringat dingin.
Ia kembali mengambil ponselnya.
Kali ini ia mengunduh beberapa aplikasi pencarian dan peta online.
Melihat ikon unduhan yang terus berputar di layar, Serena bergumam pelan,
“Manor sebesar ini pasti pernah muncul di internet.”
“Aku harus cari tahu lokasi tepatnya dulu.”
Tok tok—
“Nona Serena.”
Suara perempuan muda terdengar dari balik pintu.
Serena mengernyit.
“Siapa?”
“Nona Serena, saya Teresa, keponakan Bibi Claire. Saya juga bekerja di manor ini.”
Serena berjalan ke pintu lalu membuka celah kecil untuk mengintip.
Di luar berdiri seorang gadis muda dengan dua kepang pita yang manis.
Wajahnya memang tidak bisa disebut luar biasa cantik, tetapi terlihat lembut dan menyenangkan.
Sepasang matanya yang besar membuat wajahnya tampak semakin manis.
“Nona Serena.”
Teresa membungkuk sopan.
“Bibi Claire meminta saya menjemput Anda untuk makan malam.”
Serena terdiam sejenak sebelum mengangguk.
“Baik. Tunggu sebentar.”
Ia tidak langsung menutup pintu.
Serena mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur dan melihat proses unduhan yang masih berjalan.
Setelah berpikir sejenak, ia menekan tombol keluar lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku.
Ruang makan.
Kali ini Teresa membawanya ke ruang makan yang lebih kecil dibanding ruang makan sebelumnya.
Di dalam hanya terletak satu meja panjang yang cukup untuk sekitar sepuluh orang.
Di tengah meja tersagi berbagai hidangan yang masih mengepul hangat.
Iga asam manis, Ayam cabai kering...
Aroma masakan terus menggoda indra penciuman Serena.
Teresa membawa Serena ke arah kursi di tengah meja.
Dan tepat di sampingnya duduk Julian yang tampaknya sudah menunggu cukup lama.
Pria itu mengenakan kacamata berbingkai emas khasnya.
Ia hanya melirik Serena sekilas sebelum kembali fokus pada layar ponselnya.
Claire datang menghampiri dengan senyum hangat.
“Nona Serena, Anda datang.”
Serena memaksakan senyum tipis lalu duduk di kursi yang telah disiapkan.
Tak lama kemudian, Claire membawa sebuah panci tanah liat kecil.
Serena langsung mengernyit.
Uap panas mengepul begitu tutupnya dibuka.
Ia refleks mundur sedikit lalu menatap isi panci itu tanpa ekspresi.
Dan benar saja.
Bubur putih polos yang sama seperti pagi tadi.
Nafsu makannya langsung merosot.
Tatapannya bergeser ke hidangan lezat penuh bumbu di atas meja.
Tanpa sadar tenggorokannya bergerak menelan ludah.
“Perutmu masih belum kuat menerima makanan berminyak.”
Julian dengan santai mengambil sepotong Iga asam manis dari hadapan Serena.
Potongan daging itu kini tergeletak tenang di mangkuk Julian.
Kilauan minyaknya terasa begitu menyiksa di mata Serena.
Ia menunduk menatap bubur putih polos di depannya.
Bibirnya mengerucut.
“Siapa yang bisa berselera makan kalau makanannya cuma begini...”
gumamnya pelan.
Telinga Julian bergerak sedikit.
Ia memasukkan potongan daging itu ke mulutnya lalu menoleh ke arah Serena.
“Bibi Claire mulai merebus bubur itu sejak pagi.”
Potongan daging itu kini tergeletak tenang di mangkuk Julian.
Kilauan minyaknya terasa begitu menyiksa di mata Serena.
Ia menunduk menatap bubur putih polos di depannya.
Bibirnya mengerucut.
“Siapa yang bisa berselera makan kalau makanannya cuma begini...”
gumamnya pelan.
Telinga Julian bergerak sedikit.
Ia memasukkan potongan daging itu ke mulutnya lalu menoleh ke arah Serena.
Suara lembut Claire terdengar dari arah dapur.
Dengan senyum hangat, wanita itu berjalan mendekati Serena.
Serena mengangkat wajah.
“Lumayan.”
“Dari cerita Tuan Drake, Anda juga berasal dari Ibu kota, ya?”
Ekspresi Serena sedikit berubah.
Jarinya diam-diam menggenggam sendok lebih erat.
“Ya.”
“Kalau begitu selera makanan Anda pasti cenderung ringan dan sederhana?”
Serena tersenyum kecil.
“Tidak sampai seketat itu.”
Suara lembut bubur yang mendidih terdengar dari dalam panci.
Melihat mangkuk buburnya yang hampir kosong, mata Serena mulai berbinar.
“Aku sudah selesai.”
Ia mengambil tisu dan menyeka sudut bibirnya.
Lalu menatap Claire.
“Bolehkah aku berkeliling di sekitar manor?”
Julian langsung mengangkat pandangan ke arahnya.
“Kenapa?”
Pria itu menyipitkan mata, “Mau cari kesempatan untuk kabur?”