Tubuh Serena langsung menegang kuat.
Ruang makan mendadak hening.
Beberapa pelayan saling bertukar pandangan secara refleks.
Bahkan senyum hangat yang tadi masih menghiasi wajah Bibi Claire perlahan membeku.
Suhu ruangan seakan turun hingga titik beku.
Tatapan yang datang dari sekeliling terasa semakin suram dan menekan.
“Tidak kok.”
Serena membuka mata bulatnya lebar-lebar lalu segara menjelaskan, “Aku cuma ingin jalan-jalan sebentar untuk menggerakkan badan saja.”
Bibi Claire terdiam beberapa detik.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Baru setelah melihat ekspresi polos di wajah Serena, rautnya perlahan melunak kembali.
“Jadi begitu.”
Bibi Claire menoleh ke arah Julian yang masih duduk di kursinya, lalu mengalihkan pandangan kepada Teresa yang berdiri tenang di samping.
“Kalau begitu, Teresa, temani Nona Serena untuk berkeliling.”
“Sekalian perkenalkan tata letak manor ini.”
“Baik.”
Teresa menundukkan kepala dengan hormat.
Julian kembali mengambil sepotong iga dan mengamatinya sejenak.
“Bibi Claire, sepertinya iga hari ini tidak sesegar biasanya.”
“Benarkah?”
Bibi Claire segara mengambil sumpit bersih dan mencicipinya.
“Mungkin pemasoknya sudah ganti ke yang lebih jauh ya?”
“Es yang digunakan untuk memastikan kesegaran sepertinya kurang banyak, mungkin tadi sudah meleleh di tengah perjalanan. Besok suruh orangnya tambah lebih banyak.”
Serena menangkap tatapan yang dilemparkan Julian kepadanya.
Ia membalasnya dengan senyum tipis sebelum bangkit dan meninggalkan ruang makan.
“Nona Serena.”
Teresa yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
“Area mana yang ingin Anda lihat?”
Serena berjalan di depan sambil memperhatikan dekorasi di sekitarnya.
Seluruh manor mengusung desain Prancis minimalis yang elegan.
“Apakah Tuan Drake selalu sibuk?”
Teresa mengangguk.
“Ya. Tuan biasanya pulang pada saat larut malam.”
“Kalau begitu, dia selalu makan di luar?”
“Sebagian besar sih seharusnya gitu.”
Teresa terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tuan sering menghadiri jamuan bisnis pada malam hari. Ada beberapa hari tertentu ketika beliau bahkan tidak kembali ke manor.”
Serena berjalan hingga tiba di ruang keluarga.
Ia menatap ruangan luas yang dikelilingi dinding dan dekorasi megah.
“Manor ini punya dua ruang keluarga?”
Teresa tersenyum lembut.
“Iya.”
Serena langsung berbalik.
“Seriusan?”
Senyum Teresa semakin lebar.
Ia mempercepat langkah dan berjalan ke depan Serena.
“Silakan ikut saya, Nona Serena.”
Ruang Tamu Utama.
Serena mengikuti Teresa melewati lorong demi lorong.
Mereka melewati ruang gym.
Melewati perpustakaan dengan satu dinding penuh rak buku dari lantai hingga langit-langit.
Lalu melewati kolam renang dalam ruangan.
Akhirnya—
Saat tenaganya hampir habis—
Pemandangan yang pertama kali dilihatnya saat tiba di manor kembali muncul di hadapannya.
“Astaga...”
“Waktu pertama datang kemarin rasanya tidak sejauh ini dari kamar...”
Teresa tersenyum canggung.
“Mohon maklum ya Nona. Dari ruang keluarga kedua ke ruang tamu utama memang cukup jauh.”
“Tuan tidak terlalu suka orang luar melewati area utama manor.”
“Jadi sejak awal pembangunan, ruang tamu untuk tamu dan area utama dibuat terpisah.”
Semakin menjelaskan, suara Teresa justru semakin pelan.
Ia menatap Serena dengan senyum penuh rasa bersalah.
“Nona Serena, apakah Anda baik-baik saja?”
Wajah Serena sudah pucat.
Tubuhnya lemas bersandar pada dinding.
“Menurutmu?”
Teresa menahan tawa sebelum membantu Serena menuju sofa.
Begitu duduk, Serena langsung terkulai lemah.
Ia menoleh ke arah Teresa.
“Apakah pernah ada orang tersesat di dalam manor ini?”
Teresa berkedip bingung.
“Tersesat?”
Serena merebahkan diri di sofa tanpa tenaga.
“Dari kamarku... maksudku ruang keluarga kedua sampai ke sini.”
“Rasanya aku sudah berjalan sejauh dua kompleks perumahan.”
Teresa akhirnya gagal menahan tawanya.
“Pernah.”
“Seriusan?”
Serena langsung duduk tegak.
Teresa mengangguk serius.
“Pelayan baru sering tersesat.”
“Pernah ada yang berputar-putar hampir dua puluh menit, lalu kembali ke tempat awal.”
Serena: “...”
“Jadi kalian tidak pernah terpikir memasang peta?”
Teresa mengedipkan mata.
“Sudah pernah.”
“Lalu?”
“Tuan bilang itu merusak pemandangan.”
“Jadi beliau menyuruh orang melepasnya.”
Serena terdiam dua detik.
“Baiklah.”
“Penyakit khas orang kaya.”
Setelah mengucapkan itu, pandangannya perlahan jatuh ke arah pintu utama yang tertutup rapat.
Pintu kayu cokelat raksasa itu berdiri tepat di hadapannya.
Begitu dekat.
Namun terasa begitu jauh.
Serena hanya menatapnya dalam diam.
“Nona Serena.”
Suara Teresa tiba-tiba terdengar jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
“Apakah masih ada area lain yang ingin Anda lihat?”
Serena mengangkat pandangan.
“Tidak perlu.”
Lalu ia tersenyum tipis.
“Kamu pergi selesaian pekerjaan kamu dulu saja.”
Ekspresi Teresa menunjukkan sedikit keraguan.
Bzztt—
Ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar.
Ia menunduk memeriksa pesan yang masuk, lalu kembali tersenyum.
“Baik, Nona.”
Setelah itu, Teresa berbalik dan meninggalkan ruang tamu utama.