There's nothing better than a friend, unless it is a friend with chocolate.
-Linda Grayson-
Angelina Rose Campbell POV
"ughh .. punggungku terasa sakit sekali setelah berjam-jam duduk di dalam pesawat," keluh Lucy keras saat kami sedang berjalan menuju pintu keluar bandara Internasional JFK. Sedangkan aku, yang sibuk membuka ponsel, hanya memutar bola mata jengkel mendengar ocehan wanita itu yang tidak akan berhenti sampai aku mencekokinya dengan segelas kopi.
Udara New York kembali menerpa kami ketika kaki kami melangkah keluar dari pintu keluar, untung saja tidak lama setelah kami keluar dari bandara, taksi langsung berhenti tepat di depan tempat kami berdiri. Jika aku harus menunggu lagi sambil mendengar Lucy mengeluh terus menerus, well, aku tidak tahu harus berbuat apa kepada temanku yang satu itu untuk menutup mulutnya.
Sang supir taksi langsung berjalan keluar dari dalam mobil dan membantu kami memasukkan semua koper ke dalam bagasi. Setelah akhirnya selesai, aku dan Lucy bisa memasuki taksi dengan lega.
"Oh ya Lina," ujar Lucy tiba-tiba. Aku hanya menatapnya dengan sebelah alis terangkat karena terlalu jengkel untuk merespon ucapannya. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Lucy bertanya ketika melihat raut wajahku. Dia mengerutkan dahinya dan menambahkan. "Hei! Bukan salahku kalau aku cerewet seperti ini! lagipula memangnya punggungmu tidak sakit karena duduk berjam-jam di pesawat Lin?"
Aku mendecakkan lidah mendengar pertanyaannya, kemudian menghela napas kesal. "baiklah. Aku minta maaf. oke?" kali ini Lucy menatapku dengan tatapan menyesal yang tentu saja tidak tulus. Aku sudah berteman sangat lama dengannya, jadi aku tahu gelagatnya seperti apa.
Aku memberikannya senyum masam. "Kenapa aku setuju pulang denganmu kalau begini jadinya? Aku lupa kalau kamu itu teman perjalanan yang sangat buruk Luc." Lucy hanya tertawa mendengar ocehanku yang menurutnya sangat lucu. See? Dia memang teman yang sangat unik. Bisa membuatku terhibur sekaligus jengkel disaat bersamaan.
"oh well. Aku senang bisa membuatmu jengkel Lin. Setidaknya kejengkelanmu itu membuatku bahagia. Amat sangat bahagia," gumam Lucy sarkastik kemudian mengedipkan matanya dengan genit kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepala tidak percaya sebelum terkekeh pelan karena tingkahnya. Lucy memang benar-benar sesuatu.
"kemana kita pergi ma'am?" pertanyaan dari supir taksi yang tiba-tiba, membuat kami berdua tersadar dari dunia kecil yang kami ciptakan dan terdiam sejenak.
Aku berpikir selama sesaat sebelum menoleh ke arah Lucy dan memberikan Lucy tatapan lekat. "Sebaiknya kita pergi ke kediamanmu terlebih dahulu, Luc." Aku berujar dengan senyum kecil yang menghiasi wajahku, sedangkan Lucy memilih menatapku dengan skeptis.
"Kau yakin?" Tanyanya berusaha meyakinkanku.
"Seratus persen yakin, Lucy. Sekarang, beritahukan alamatmu padanya! Sebelum aku berubah pikiran!" Setelah aku berkata seperti itu, tanpa berpikir dua kali Lucy segera memberitahukan alamat rumahnya kepada supir taksi.
Satu jam kemudian, setelah melewati jalan New York yang macet, lampu merah, dan hal lainnya. Akhirnya taksi yang kami tumpangi sampai di rumah Lucy. "Sampai bertemu empat hari lagi Lina," ujar Lucy senang. "Jangan lupa untuk mengirimiku pesan setibanya kau dirumah, oke?" lanjutnya dengan nada khawatir. Dia terlihat bergerak gelisah karena tidak sabar menunggu kopernya dikeluarkan dari bagasi oleh si supir taksi.
Aku tertawa pelan dan mengangguk singkat sebagai jawaban. Setelah itu aku mengecup pipi kiri dan kanan Lucy sebelum memeluknya dengan erat. "Baiklah, sampai bertemu denganmu lagi Lina." Lalu Lucy keluar dalam mobil dan mengambil kopernya yang sekarang sudah selesai dikeluarkan dari bagasi mobil.
Setelah supir kembali naik ke dalam mobil dan melihat Lucy memasuki rumah, aku langsung menyebutkan alamat rumahku dan mobil kembali berjalan.
Here we go.
Empat puluh menit kemudian, mobil taksi yang aku tumpangi mulai memasuki area jalan yang sudah sangat aku kenali. Rasa takjub sekaligus tidak percaya masih mendominasiku, bagaimana tidak? Seelah empat tahun aku lewati dengan menghindari untuk pulang ke rumah, sekarang aku berada di dalam taksi yang sedang berjalan menuju rumah keluargaku. Aku masih sungguh tidak percaya kalau aku setuju untuk kembali pulang.
Beberapa menit kemudian, akhirnya taksi berhenti di depan rumah yang sangat aku kenali. Rumah yang menjadi saksi semua kehidupanku. Rumah yabg penuh akan kenangan. Guys I'm home, gumamku dalam hati dengan haru. Aku memberikan beberapa dollar kepada supir taksi sebelum membuka pintu mobil.
Perlahan aku beranjak keluar dan melihat dengan seksama keadaan rumahku yang tidak berubah sedikitpun. Setelah supir taksi mengeluarkan koperku dari bagasi, kakiku melangkah perlahan munuju rumah yang aku akui sangat aku rindukan.
Rumahku sangat sederhana. Tipikal rumah untuk keluarga kelas biasa. Rumah tingkat dua dengan sedikit sentuhan modern. Mobil terparkir rapi di depan garasi rumah. Halaman depan ditanami oleh bunga-bunga yang aku yakin dirawat oleh mom setiap hari dengan penuh kasih sayang. Aku meraih gerbang dan membukanya. Lalu kembali berjalan dengan koper yang aku tarik. Saat aku tiba di depan pintu, aku mulai menyadari ada yang aneh. Aku kembali melihat area parkir dan benar saja, aku melihat sebuah mobil yang terasa familiar bagiku terparkir di samping mobil dad.
Aku mengerutkan kening mencoba mengingat milik siapa mobil itu, tapi aku lupa sama sekali dan intinya mobil itu bukanlah mobil milik keluargaku. Aku menggelengkan kepala dan mencoba untuk mengatur napas.
Tarik napas lalu buang ...
Tarik napas lalu buang ...
Aku mengangkat tanganku dan membunyikan bel. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul wanita paruh baya yang memiliki fitur sama sepertiku. Ekspresi terkejut sekaligus terharu menghiasi wajahnya dan matanya terlihat berkaca-kaca saat menyadariku berdiri di teras rumah.
Mom.
Mom menarik napas terkejut saat melihatku berdiri di depannya. Aku bisa melihat air mata perlahan mulai menggenang di sudut matanya yang indah. "Angelina, you're back! Oh my God it's really you! My baby girl!" Bisiknya pelan dan serak kemudian memelukku dengan erat. "I'm so happy! I miss you so much my baby girl!" Ujarnya lembut sebelum terisak pelan. Sedangkan aku hanya bisa menangis dalam diam di pundaknya karena rasa rindu setelah lima tahun tidak bertemu dengannya.
Saat kami berdua selesai berpelukan untuk melepas rindu, mom memastikam keadaanku sebelum meraih koperku di tangan kirinya dan meraih tanganku di tangan kanannya. Dia menarikku masuk ke dalam rumah dengan penuh semangat. Mom terus menerus berkata kalau dad dan Nicholas akan senang melihatku berada dirumah, kembali bergabung dengan mereka.
"Mom, apa kita sedang ada tamu dirumah?" tanyaku pelan. "Aku melihat mobil lain terparkir di depan garasi." Mendengar ucapanku, seketika mom terdiam kaku. Tangannya meremas tanganku lebih erat sebelum membalikkan badan menghadapku. Dia hanya tersenyum hambar dan memberikanku jawaban berupa anggukan yang terkesan ragu.
Mom menepuk bahuku lembut dan berkata, "pergilah ke kamarmu dulu, pasti kau lelah berjam-jam duduk di pesawat, benar bukan? Beristirahatlah, aku akan membangunkanmu saat makan malam tiba." Tanpa mendengar jawaban dariku, mom langsung menarik tanganku dan membawa diriku menuju kamar yang dulunya menjadi milikku ketika masih tinggal disini.
Saat kami melewati ruang makan, telingaku mendengar bunyi denting piring dan suara orang berbicara yang menurutku sangat serius. "Mom?" panggilku dengan ragu. Rasanya tidak sopan jika dad sedang ada tamu dan aku tidak menyapa tamu itu, lagipula mom juga yang mengajarkanku tata krama, tapi kenapa kali ini mom seperti menutupi sesuatu dan dia terlihat berusaha untuk menghindariku dari ruang makan?
Mom hanya diam dan terus berjalan tanpa berhenti. "Hanya rekan bisnis ayahmu yang datang untuk membicarakan bisnis, tidak perlu khawatir," ujarnya dengan nada tegang sekaligus misterius.
Aku menatap punggung mom dengan bingung. Baru saja kami beberapa langkah melewati ruang makan ketika dad memanggil mom dengan suara khasnya, seolah-olah dad tahu akan kehadiran kami yang melewati ruang makan. "Diana? Siapa yang datang?"
Mom terdiam.
Aku bergumam, "mom biarkan aku bertemu dengan dad. Lagipula ini waktunya untuk makan siang, perutku lapar dan aku merindukan masakanmu." mom hanya menghela napas lalu menatapku dengan tatapan sedih. Dia mengangguk dan meletakkan koperku di sudut ruangan kemudian kami berjalan memasuki ruang makan.
Saat kami masuk ke ruang makan, aku bisa melihat seorang pria yang saat ini sedang duduk membelakangi pintu masuk. Aku hanya bisa melihat punggungnya dan rambut hitamnya yang aku yakin ditata dengan rapih. Aku merasa sangat familiar dengan punggung pria itu, namun aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Lima tahun di London sepertinya memengaruhi pikiranku.
Dad menatapku kaget dan berdiri, kemudian bergumam pelan, "Angelina." seketika itu juga pria yang duduk membelakangiku berbalik dan aku hanya bisa menatap horror.
Xander.