When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching -- they are your family.
-Jim Butcher-
Angelina Rose Campbell POV
Xander.
Siapa yang tidak mengenal Xander? Alexander Domenico Vice merupakan seorang Billionaire dan menduduki jabatan sebagai CEO dari perusahaan keluarga Vice yang bernama The Vice Group. Sebuah perusahaan Multinasional yang menaungi berbagai macam sektor usaha baik itu teknologi, kesehatan, bahkan sektor keuangan. Alexander juga anak tunggal dari pasangan tersohor Vice dan telah hidup dalam bergelimang harta sejak pria itu lahir, dan karena ketampanan serta kedudukannya itu, Alexander menjadi incaran banyak wanita, namun di sebuah kesempatan, kami bertemu dan dari kesempatan itulah kami mulai menjalin hubungan. Sosok pria yang telah berusia 30 tahun itu telah memiliki berbagai macam pencapaian. Sebelum aku mengenalnya secara dalam, aku melihat Alexander sebagai pria yang berkarakter dingin, arogan, kaku dan tegas, namun yang tidak banyak orang ketahui, Xander bisa bersikap lembut serta santai, dan kehadirannya disini disaat aku kembali setelah sekian tahun membuatku panik. Bagaimanapun juga pertunangan kami berakhir akibat kesalahannya, pengkhianatannya, yang membuatku terluka.
Kenapa? oh kenapa? kenapa dari semua orang, pria itu yang datang menemui dad? ujarku di dalam hati dengan panik. Selama beberapa menit aku hanya bisa menatapnya tanpa berkata apapun, lidahku begitu kelu dan rasanya tenggorokanku seperti dicekik oleh sesuatu yang membuatku tidak dapat bernapas. Jantungku berdegup dengan begitu cepat dan hingga telingaku sendiri dapat mendengar suara detak jantungku sendiri.
Mataku memperhatikan penampilan pria itu. Xander tidak berubah sama sekali. Manik matanya yang berwarna biru dengan tatapan dingin sedingin es, rambut cokelat gelapnya, hidung mancung aristrokatnya, serta struktur wajah sempurnanya. Semua tidak ada yang berubah. Dia masih memiliki aura misterius serta d******i yang pasti membuat banyak wanita jatuh cinta, pesona yang hanya dimiliki oleh Alexander seorang. Wajahnya yang dulu bersih, sekarang ditumbuhi oleh janbang tipis, membuatnya terlihat semakin dewasa.
Aku menegukkan ludah dan mencoba untuk mengalihkan tatapan mataku darinya, tapi aku tidak bisa lepas dari sepasang manik biru kuakui sangat aku rindukan. Dapat diakui Xander memang pria tampan, mungkin itu salah satu kelebihan dari gen keluarga Vice. Wajar saja jika banyak wanita yang pernah diberitakan bersamanya. Apalagi Xander bukan tipikal orang yang suka dengan hubungan serius.
Bahkan dulu aku mendengar kalau dia memperlakukan wanita seperti baju. Setelah pakai, lalu dibuang saat sudah bosan. Itu yang membuatku terkejut saat dia menginginkanku menjadi kekasihnya apalagi menjadi tunangannya, karena itu merupakan suatu komitmen yang besar untuk pria seperti Alexander.
Pikiranku terbuyarkan saat aku merasakan pelukan erat seseorang yang aku sadari adalah dad. Dengan sekuat tenaga dan penuh paksaan, aku mengalihkan pandangan dari manik biru Xander dan menatap dad yang sekarang sedang bertanya tanpa henti mengenai keadaanku. Aku terkekeh pelan, kemudiam berkata. "I'm fine dad. Aku sudah besar, bukan anak kecil lagi," ujarku sambil mengerutkan kening sebelum tersenyum menenangkan. Aku mencoba untuk tidak menghiraukan jantungku yang terus berdegup dengan kencang karena kehadiran Xander dan manik birunya mengawasiku dengan begitu intens.
Dad meraih tanganku dan menarikku menuju meja makan. Seolah dia lupa kalau ada tamu lain yang duduk di meja makan yang sama saat ini. "kenapa kau baru pulang sekarang? Kau tidak tahu kami semua disini merindukanmu? Ibumu selalu menangis mengkhawatirkanmu yang jarang menghubungi rumah. Setidaknya pulang saat Christmas atau thanksgiving Lina. Kalau kau tidak pulang tahun ini, dad yang datang ke London."
Aku bisa melihat dari sudut mataku kalau Xander terkejut mendengar ucapan dad mengenaiku dan London. Aku hanya tersenyum kecil dan menjawab. "dad I'm so sorry, tapi aku selalu saja sibuk. Jadi aku belum punya waktu yang tepat untuk pulang. Baru sekarang ini aku memiliki waktu untuk berlibur. Lagipula aku sangat dibutuhkan disana."
"Kau bisa datang saat libur musim panas, ketika kau masih berada di sekolah."
"Dad, belajar di kedokteran itu sangat sulit. Selalu saja tugas, praktek, dan ujian," ujarku memberi alasan, walaupun aku yakin kedua orang tuaku mengetahui alasan utamaku tidak mau pulang. Aku bisa melihat raut wajah mom langsung berubah dan dugaanku benar, mom sama sekali tidak percaya dengan alasan klasik yang aku berikan, tapi tidak bertanya apapun.
"bagaimana pekerjaanmu disana Lina?" Tanya mom tiba-tiba.
Aku hanya mengangkat bahu tak acuh. "Baik. Sama seperti dokter pada umumnya." mom mengangguk paham dan kembali diam.
"Lucy?"
Aku tersenyum. "Dia juga baik. Kami pulang bersama."
"Berapa lama kau akan ada di New York?" kali ini dad yang kembali bertanya.
"Empat hari," gumamku pelan.
Kedua orang tuaku mengangguk. Mom meletakkan piring di depanku berisi makan siang untukku. Dad kembali diam dan seolah baru ingat ada orang lain di meja makan dia berkata "Maafkan aku Tuan Vice. bagaimana bisa aku tidak sopan seperti ini, tapi aku tidak bisa menahan diri, setelah sekian lama, akhirnya putriku pulang ke rumah." aku meringis mendengar ucapan dad, kemudian mencoba memberanikan diri menoleh ke arah Xander. Seketika aku melihat ekspresi Xander yang sepertinya tidak suka dengan perlakuan dad padanya.
Xander hanya mengangguk singkat sebagai respon. Lalu ruang makan kembali diam. Kami berempat sibuk dengan makanan masing-masing. Aku bisa merasakan kecanggungan di dalam ruangan ini. hanya sesekali dad dan Xander berbicara, itu juga mengenai hal ringan.
Mom dan aku memutuskan untuk diam. Saat makanan penutup dihidangkan, mom bertanya padaku "Lina, apa kau sudah memiliki kekasih sekarang?" aku langsung tersedak mendengar mom yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Mom!" protesku.
"what? I'm just asking you Lina." Ujar mom datar.
Tidak di depan Xander! Teriakku dalam hati. Aku menghela napas. "Aku ... "
"bukankah waktu itu kau bilang sedang dekat dengan seorang pria? Siapa namanya? Ah! Michael. Bagaimana dengannya?" pipiku mulai merona merah dengan ucapan mom. Aku sadar dengan niat mom, trik murahan seperti itu sudah sering dilakukan, tapi bukan berarti aku tidak merasa malu saat mendengarnya. Apalagi mom tahu kalau Michael sudah memiliki tunangan dan aku menceritakan Michael karena temanku itu pernah muncul saat aku melakukan Video call dengan mom.
Aku melirik sekilas ke arah Xander dan melihat postur yang ditampilkan oleh pria itu adalah tegang. Rahangnya mengeras. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Seperti saat dia cemburu ketika mendengarku dekat dengan pria lain, tapi tidak mungkin dia cemburu bukan? Hello! Dia bukan siapa-siapa lagi di dalam kehidupanku.
Kau berbohong, Hatiku berujar dengan nada menuduh. Aku langsung memberikan mom tatapan tajam, tapi mom malah memberikanku tatapan polos. Ukh! Aku yakin mom sengaja bertanya seperti itu di depan Xander. Dengan pemikiran itu, aku terkekeh pelan. "Dia hanya rekan kerja. Lagipula dia sedang ada tugas di Canada. Jadi mom, jangan tanya mengenai Michael lagi oke?"
"kenapa tiba-tiba Diana?" Tanya dad angkat suara.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya bertanya saja," jawab mom sambil mengangkat bahunya tak acuh. Dad menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan tingkah laku istrinya.
"Bagaimana dengan restaurant dad?" aku bertanya pada dad, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, dan tentu saja usahaku itu berhasil. Dad meletakkan garpu serta pisau yang dia pegang dan menatapku lelah. Aku tidak tahu apa yang sedang ada dipikiran dad saat sedang menatapku, tapi aku mempunyai firasat tidak enak soal ini. aku mengganti posisi duduk agar lebih nyaman dan menunggu jawaban dad.
"Baik. Semua baik."
Aku tahu apabila dad menjawab dengan singkat berarti ada sesuatu yang tidak beres. Aku menaikkan sebelah alis mataku. Dad mendesah keras dan akhirnya mengalah. "Aku akan menjual restaurant." Seketika aku terkejut mendengar pengakuan dad. Aku tahu kalau dad sangat bangga dengan restaurantnya. Restaurant yang dia miliki adalah hasil kerja kerasnya selama belasan tahun, dan sekarang dia mau menjual kebanggaannya itu? Dia memulai semua dari bawah hingga menjadi restaurant bintang lima. Lalu ada apa? Dad kembali melanjutkan, "aku ingin memberikan restaurantku pada Nicholas, tapi dia sudah memiliki bisnis sendiri dan kau juga sudah menjadi seorang dokter di London. Umurku sudah tidak muda lagi dan aku lelah Lina. Lagipula, kalau aku tawarkan padamu pasti kau juga akan menolaknya bukan?"
Aku tidak tahu, restaurant itu adalah hasil jerih payah dad, tapi menjadi seorang dokter adalah impianku dan dad tahu itu. Aku memberikan anggukan walaupun ragu.
Dad meraih tangan mom dan menggenggamnya lembut. Melihat momen itu, membuatku tersenyum karena kemesraan mereka berdua. "jadi aku dan ibumu memutuskan untuk menjualnya." Sejenak aku terdiam. Berusaha untuk menyerapi semua informasi yang dikatakannya padaku.
"jadi siapa yang membelinya dad?"
Dan menghela napasnya pelan dan menjawab dengan pelan. "Mr. Vice. Right sir?" dad kali ini menatap Xander dengan tajam.
"yes."
Astaga! Aku menatap kedua pria yang duduk di meja makan dengan tidak percaya. Aku ingin bertanya mengenai Xander pada dad, namun aku tidak bisa menanyakannya sekarang, tidak disaat orang itu berada satu meja dengan mereka. Lagipula aku tidak mau membuat 'the great Alexander Vice' tersinggung. Jadi aku memutuskan untuk mengangguk kecil. Dad kembali menjelaskan. "awalnya aku tidak mau menjual restaurantku pada dia-" dad menatap Xander "-karena dia orang yang menyakiti putriku, tapi setelah berdiskusi dengan ibumu dan juga pengacaraku. Aku memutuskan untuk menerimanya. Mereka berdua mengatakan untuk tidak mencampuri urusan pribadi dengan bisnis." Aku tidak mengatakan apapun. Ucapan Dad yang begitu terus terang menyinggung masa lalu membuat suasana hatiku seketika berubah kacau.
Aku berdiri dan berjalan ke arah dapur sambil membawa piring kotorku ke bak cuci piring. Setelah selesai mencuci piring, aku berjalan kembali ke ruang makan dan pamit untuk pergi ke kamar.
Baru saja aku melangkahkan kaki keluar, aku mendengar Xander bertanya kepada dad "Sir, may I have a word with your daughter?" aku tidak bisa mendengar jawaban dad, tapi yang pasti adalah ya karena tidak lama kemudian tangan besar yang sangat aku kenali menggenggam lenganku dengan erat. "Angel," gumam Xander pelan.
Aku menarik napas perlahan untuk menghilangkan rasa amarahku, kemudian membalikkan badan dan tersenyum sopan. "Ya Mr. Vice?" aku bisa melihat raut wajah Xander seketika berubah dalam sekejap, yang awalnya terlihat menunjukkan kelembutan menjadi datar tanpa emosi.
Manik birunya yang awalnya hangat menjadi dingin membekukan. Seolah melalui matanya, tapi bukan berarti aku tidak merasa risih. Ditatap oleh mata milik Alexander, membuatku terasa seperti telanjang, karena aku merasa dia bisa melihat jiwaku serta pikiran terdalamku dengan jelas. Xander pandai membacaku, dia pernah berkata kalau aku seperti buku baginya, dia sangat mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri. Itu mungkin yang menjadi salah satu alasannya untuk mengkhianatiku.
Jujur, ini pertama kalinya Xander menatapku dengan tatapan seperti itu. Selama ini dia selalu menatapku dengan lembut atau dengan tatapan jail, tidak pernah sekalipun dia menatapku seperti itu padaku. Dia melepaskan genggaman tangannya dari lenganku dan memasukkan tangannya ke saku celana.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku kalau kau pergi ke London?" Tanyanya dengan tenang atau terkesan santai.
Aku menatapnya heran dan menjawab. "Kenapa?" sebelum Xander menjawab, aku kembali berkata, "that's none of your Business Sir." aku melihat keterkejutan di wajah Xander walaupun hanya beberapa detik. Dia pintar dalam mengontrol ekspresinya kembali menjadi datar dan tidak terbaca.
Alexander tersenyum miring, lalu menjawab dengan dua kata, "you're right." Aku kembali tersenyum sopan dan berbalik. Saat kakiku sudah menginjak anak tangga, Xander berkata dengan suara baritonenya, "Aku hanya ingin bertanya padamu Ms. Campbell." Seketika aku terhenti dan berbalik menghadapnya. Aku bisa mendengar penekan pada namaku di kalimatnya tersebut. Xander menatapku dengan dingin namun aku bisa mendeteksi rasa marah dan kecewa di tatapan matanya. "Kenapa kau pergi meninggalkanku?"
Aku tertegun. Kenapa dia bertanya seperti itu padaku? Seharusnya aku yang bertanya 'kenapa kau selingkuh? Kenapa kau mengkhianati kepercayaanku? Kenapa kau berpikir semua akan baik-baik saja? "kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan itu? Aku rasa kau tahu akan jawabannya," jawabku diiringi dengan senyum pahit.
Xander seketika membisu. Entah dia sadar atau tidak dengan jawabanku, aku tidak peduli. Aku berbalik dan kembali menaiki anak tangga. Namun, sebelumnya aku berkata "if you didn't cheat on me, maybe something like this will never happen Xander." Aku rasa Xander mendengar apa yang aku ucapkan karena dia terus memanggil namaku, tapi tidak aku hiraukan.
Aku mengangkat kepalaku dan berjalan dengan percaya diri. Puas dengan apa yang aku ucapkan. Hatiku terasa lega karena sudah mengatakannya.
Now it's time to move on.