I know all those words, but that sentence make no sense to me.
-Matt Groening-
Four Days later
Angelina Rose Campbell POV
Selama empat hari kemarin, aku berusaha untuk mencoba melupakan tentang pembicaraanku dengan Xander, dan selama empat hari itu pula aku memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama keluargaku. Sayangnya Nicholas sedang ada business meeting di California jadi aku hanya bisa menghabiskan waktu dengan mom, dan dad. Tentu saja aku tetap berhubungan dengan Nicholas melalui vcall, tapi terkadang aku merasa seperti ada sesuatu yang kurang dengan tidak adanya Nicholas diantara kami.
Sekarang aku berada di dalam pesawat yang sedang terbang menuju London. Lucy, yang duduk di sampingku, sedang tertidur pulas dengan majalah berada di atas pangkuannya. Aku tersenyum melihat sahabatku dan meraih majalah tersebut untuk aku letakkan kembali di tempat semula.
Aku sudah menceritakan apa yang terjadi kepada Lucy mengenai pertemuanku dengan Xander ketika aku tiba empat hari yang lalu. Sesuai dengan dugaanku, reaksi Lucy adalah reaksi khasnya seperti: 'lupakan saja apa yang dikatakannya Lin' dan 'wow! He's a jerk. We need revenge', tapi dari reaksinya itu mampu membuatku menaikkan sebelah alis lalu tertawa. Aku tahu dia mengatakan hal itu untuk menghiburku semata, tapi bagiku itu sudah cukup karena dia mendukungku tanpa berpikir dua kali.
Setelah pesawat kami mendarat di bandara Internasional Heathrow, Lucy kembali memberikan ide padaku mengenai apa yang diucapkannya tentang Xander. Aku hanya menatapnya terkejut karena tidak menyangka kalau ternyata dia serius mengenai balas dendam.
Aku sempat heran saat itu dengan Lucy. Empat hari yang lalu dia menguliahiku dengan berbagai macam hal bijak dan sekarang dia malah menyuruhku untuk balas dendam yang tidak mungkin aku lakukan. Dasar aneh!
Saat kami tiba di apartemen, ponsel Lucy yang dia letakkan di atas meja berdering nyaring, membuatku yang saat itu sedang membereskan isi koper terkejut. Aku menatapnya dengan bingung sekaligus penasaran. Kemarin saat ponselnya berbunyi, kami berakhir dengan pulang ke New York, sekarang apa lagi? Aku menggelengkan kepala dan kembali membereskan isi koperku.
Sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara langkah kaki cepat menuju ke arahku dan kepala Lucy muncul di depan kamarku. "Lina!"
"Apa?" aku berhenti melakukan aktivitasku dan menatapnya dengan dahi berkerut samar.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
"What?" teriakku. "Kita baru saja sampai, dan kau bilang kita sudah harus stand by?" Lucy hanya mengangkat bahunya tak acuh dan berjalan pergi. aku melirik ponselku dan melihat 2 missed calls dari atasanku Mr. Ford. Aku meraih benda pipih tersebut dan menghubungi atasanku itu. Setelah menunggu beberapa detik, telepon diangkat dan suara yang sangat aku kenal menyambutku dengan nada santai. "hello?"
"Mr. Ford! Ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah sakit?"
Mr. Ford hanya tertawa kecil dan menjawab. "tidak ada, hanya saja ada seseorang ingin bertemu denganmu. Dia sudah menunggu di ruanganmu dari sejam yang lalu. Aku menghubungimu, tapi tidak diangkat jadi aku menguhubungi Lucy."
"Kau tahu aku baru tiba dari New York bukan? Lagipula siapa yang ingin bertemu denganku? Aku masih dalam masa cuti."
Aku mendengar Mr. Ford membuang napas dari ujung sana. "entahlah, saat aku tanya tentang identitasnya dia tidak mau memberitahuku, dan dia terus bersikukuh ingin menemuimu."
Aku hanya menggeleng dan menjawab pasrah, "Jeez baiklah aku segera kesana."
Mr. Ford menggumamkan 'ya' dan sambungan terputus. Aku menghela napas keras dan memutuskan untuk menunda untuk merapihkan koper dan akan meneruskannya nanti saat aku pulang nanti. Aku memanggil Lucy dan mengatakan tentang percakapanku dengan Mr. Ford. Setelah itu kami bersiap dan berangkat.
Tiga puluh menit kemudian, kami tiba di rumah sakit tempat kami bekerja. St. Mary London International Hospital. Salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota London. Aku dan Lucy berjalan masuk sambil sesekali menyapa teman sesama dokter atau suster yang lewat.
Aku dan Lucy berjalan ke arah tangga. Karena ruangan kami berdua di lantai dua, jadi kami berdua memutuskan untuk naik tangga daripada memakai lift. Saat kami tiba di lantai dua, aku dan Lucy berpisah. Lucy menuju ruangan khusus staff yang biasanya menjadi tempat berkumpul para dokter serta suster jika ingin beristirahat sedangkan aku menuju ruangan praktekku.
Saat aku tiba di depan pintu ruangan, aku terdiam sejenak. Aku mencoba untuk mengatur detak jantungku yang mulai berdegup cepat agar kembali normal. Entah kenapa aku merasa gugup. Aku meraih gagang pintu dan memutarnya pelan. Bunyi sepatu heels yang aku kenakan saat bersentuhan dengan lantai membaritahu seseorang yang ada di dalam ruangan tentang kehadiranku.
Aku berjalan menuju mejaku dan melihat seorang pria duduk di sofa yang terletak di ruanganku. Pria tersebut mengenakan setelan jas hitam dan rambutnya berwarna pirang.
Aku menghampirinya dan berdehem pelan untuk menarik perhatiannya. Orang tersebut sontak berbalik dan menyapa singkat dan formal. Aku tidak merespon sapaannya, mataku sibuk menatapnya dengan tatapan curiga sebelum akhirnya aku bertanya, "who are you?"
Orang tersebut tersenyum dan menjawab. "Saya Robert Miller, nona Campbell."
"Robert Miller?" namanya terdengar familiar. Aku masih menatapnya lekat lalu kembali bertanya. "Kenapa ingin bertemu denganku? Ada urusan apa hingga aku diharuskan menemuimu?"
Robert hanya menatapku datar dan sarat akan emosi. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam dipikirkannya sampai menatapku dengan intens seperti itu. "Atasanku ingin bertemu dengan anda secara pribadi."
"Atasanmu? Oke ... baiklah ... Apa dia sedang sakit?" Robert hanya menggeleng singkat dan berdiri dari kursi. Dia membetulkan jas yang dikenakannya dan berjalan menuju pintu. Ketika sadar aku tidak mengikutinya dia berbalik dan menatapku seolah berkata 'ikut denganku', dengan langkah ragu aku akhirnya mengikuti pria itu keluar ruangan dan berjalan menuju pintu keluar. Hanya satu kata yang terlintas dibenakku,
Aneh.
Aku menghembuskan napas. Telingaku seperti pernah mendengar namanya, tapi dimana? Aku menggelengkan kepala dan meraih ponsel dari dalam tas dan mengirim pesan kepada Lucy tentang apa yang terjadi dan menyuruhnya untuk tidak menungguku.
***
Aku hanya bisa menatap dengan mata lebar saat mobil yang membawaku berhenti di depan lobby sebuah hotel, dan hotel yang dimaksud bukanlah hotel sembarangan, melainkan hotel bernama,
D'Crystalite Hotel.
Salah satu hotel bintang lima yang terletak di jantung kota London. Hotel berkelas ini merupakan daya tarik para turis jika mengunjungi kota London. Dengan arsitekturnya yang elegan dan modern, membuat hotel ini salah satu tempat singgah orang-orang kalangan atas. Ditambah dengan fasilitas yang lengkap, membuat para kalangan atas berbondong-bondong untuk menginap di hotel ini. Well, lagipula hanya merekalah yang bisa menyewa salah satu kamar di dalam hotel ini.
Tidak salah jika aku berasumsi kalau orang yang ingin bertemu denganku mempunyai uang banyak, mobil yang membawaku beberapa menit lalu juga tidak bisa dibilang murah. Sebuah mobil mewah dengan merek Rolls Royce. Aku bermimpi ingin sekali menaiki mobil itu dan hari ini sepertinya impianku tercapai, tapi sekali lagi satu kata kembali muncul dibenakku.
Aneh.
Aku menatap Robert dengan heran, tapi dia hanya balas menatapku dengan datar. Dia meletakkan tangannya di punggungku dan mendorongku pelan. Mengisyaratkanku untuk berjalan terlebih dahulu tanpa berkata-kata. Dengan ragu aku kembali melangkahkan kakiku memasuki gedung hotel.
Wow!
Aku rasa saat aku menceritakan hal ini kepada Lucy saat pulang nanti, pertama yang dia lakukan adalah menuduhku berbohong, kemudian dia akan berteriak girang dan mengatakan sangat beruntungnya diriku. Aku memutar bola mata saat membayangkan akan reaksinya nanti. Jarang sekali bahkan tidak mungkin kami berdua mampu untuk menginap disini. Kami harus menabung cukup lama untuk menginap disini.
Pikiranku terbuyarkan oleh bunyi Ding. Terlalu sibuk dengan pikiranku, aku tidak sadar kalau sudah berada di dalam lift. Seketika aku merasa gugup. Ada yang tidak beres! Teriakku dalam hati, tapi semua sudah terlambat. Aku tidak mungkin kembali pulang sekarang. Bodoh kau Lin! Kenapa kau menyetujuinya begitu saja? batinku meneriaki kebodohanku.
Aku menghela napas untuk menenangkan diriku. Kembali terdengar bunyi Ding tanda kalau kami berdua telah sampai di tujuan. Robert jalan mendahuluiku menuju satu - satunya pintu yang terlihat di koridor lantai ini.
Aku berjalan mengikutinya dengan ragu dan dahiku berkerut samar. Dia mengetuk pintu tiga kali dan terdengar samar-samar suara seseorang berkata 'come in' lalu Robert meraih gagang pintu dan memutarnya pelan.
Pintu terbuka dan dia berjalan masuk. Aku ingin mengikutinya, tapi Robert menghentikan langkahku dan berkata, "tunggu sebentar disini Nona Campbell."
Huh?
Kerutan di dahiku makin dalam, namun aku tidak mengatakan apapun. Percuma aku memprotes, pasti tidak akan didengarkan, jadi aku hanya berdiri dengan tampang muka yang jelas sekali kesal. Robert berjalan masuk dan menutup pintu tepat di depan wajahku.
Aku melipat kedua tanganku di atas d**a dan mencibir sebal. Aku berjalan ke dinding koridor dan menyenderkan punggungku karena kakiku mulai terasa lelah dan sakit. Sial! Kenapa di saat seperti ini aku harus pakai heels? Oh ya, karena Tuan Ford berkata kalau yang ingin menemuiku adalah orang penting. Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku sebelum mengerang kesal. Sepuluh menit aku berdiri disini! Apa sebaiknya aku pergi saja? tanyaku dalam hati.
Setelah berdebat di dalam otak, akhirnya aku putuskan untuk pergi. Untuk apa aku menunggu? Aku berbalik dan berjalan menuju lift. Baru beberapa langkah aku berjalan, pintu di belakangku kembali terbuka dan Robert berjalan keluar.
Dia menatapku heran saat melihatku yang berdiri dengan menghadap ke arah lift. "Silahkan masuk Nona Campbell. Tuan sudah menunggu anda di dalam." Aku hanya memutar bola mata. Persetan dengan sopan santun, aku sudah menunggu di koridor sendirian selama sepuluh menit! Sama sekali tidak sopan! Gerutuku dalam hati.
Robert menuntunku menuju ruang tamu dan mempersilahkan diriku untuk duduk di atas sofa yang terlihat sangat empuk. Aku tidak peduli tentang sofa ataupun interior ruangan karena aku terlalu sibuk dengan rasa kesalku.
Robert meninggalkanku sendiri sesudah dia bertanya apa yang ingin aku minum. Dalam hati aku berteriak Darahmu!, tapi sebagai seorang tamu, aku tetap menjaga etika dan memilih menjawab tenang, "just a tea, thank you." Setelah Robert pergi, aku kembali sibuk dengan pikiranku, menebak siapa yang ingin bertemu denganku hingga harus secara private seperti ini. Apa Tuan yang Robert maksud adalah keluarga kerajaan?
Aku menggeleng kecil untuk mengusir pikiranku yang mulai berpikir aneh. Karena terlalu sibuk dengan pikiranku, aku tidak merasakan kehadiran orang lain di dalam ruangan. Suara batuk mengembalikanku ke dunia nyata dan aku mencari sumber suara. Aku hanya terpaku di tempatku duduk. Oh My Gosh!
"Senang bertemu dengan anda, nona Campbell." Oh! Suara itu. Suara yang membuatku damai lima tahun yang lalu. Suara yang aku akui, aku rindukan selama empat hari ini. "Mr. Vice?" Astaga. Bagaimana dia tahu ak--How? Apa dad yang memberitahunya? Atau dia mencari tahu tentangku? Aku berasumsi pilihan kedualah yang benar. Dad tidak mungkin memberitahu Alexander mengenai kehidupanku.
"Bagaimana perjalananmu nona Campbell? Lancar?" aku hanya menatapnya d***u. Lidahku tiba-tiba kelu melihat Xander berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri dengan penampilan andalannya. Rambutnya ditata dengan sempurna dan setelan jas mahal melekat di tubuhnya yang tegap dan kokoh.
"A-aku ..." aku tidak mampu menjawab pertanyaan Xander karena rasa terkejut yang melandaku, kemudian Aku bergerak gelisah di tempatku berdiri dan aku bisa melihat mata Xander yang menatapku dengan terhibur walaupun raut wajahnya datar. Aku berdehem pelan untuk mengusir rasa gelisahku. "Bagaimana kau---?" hanya kata itu saja yang mampu keluar dari mulutku. Sial! Kemarin kau bersikap percaya diri, dimana semua rasa percaya dirimu itu? Batinku kembali bertanya dengan nada mencemooh. Shut up! Teriakku dalam hati.
Xander hanya mengangkat bahunya tak acuh, namun tidak menjawab karena saat itu juga Robert kembali masuk dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua cangkir teh.
Dia meletakkan cangkir tersebut di atas meja dan kembali pergi meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun. Saat terdengar bunyi pintu tertutup, Xander akhirnya bersuara. "aku bisa dengan mudah mencari informasi apapun nona Campbell. apalagi informasi tersebut berkaitan dengan sesuatu yang menjadi milikku." Aku bisa melihat senyum arogan terbentuk di wajahnya yang tampan.
Wait a minute!
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan tatapan horror.
Xander membuang napasnya dan berjalan ke arahku. Dia berhenti tepat di depanku dan menunduk untuk menatap mataku. Manik birunya menatap manik cokelatku dengan tajam. "Kau mendengar dengan jelas apa yang aku katakan nona Campbell."
"Aku tahu! Aku bertanya apa maksudmu dengan 'milikmu'? Apakah kau sedang bergurau?" aku mengutip kata asing yang baru saja dia ucapkan. Xander menaikkan sebelah alisnya dan berjalan beberapa langkah lalu menghempaskan tubuhnya di sofa, persis di samping tempatku sebelumnya duduk. Dia menyeringai padaku dan menepuk area di sisinya. Aku memperhatikannya dengan penuh curiga. "Aku bertanya padamu!"
Xander meraih pergelangan tanganku dan menarikku duduk, kemudian menggeser tubuhnya hingga begitu dekat dengan tubuhku sampai aku bisa merasakan kehangatan yang terpancar darinya. Dia menatapku sangat intens lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik, "bukankah sudah jelas? Kau adalah milikku Angel." aku hanya bisa bergidik mendengar suaranya, apalagi ketika dia memanggilku dengan panggilan favoritnya.
Angel.
Perasaan yang lama aku pendam mulai kembali muncul dan aku berusaha untuk mengontrolnya agar tidak terlihat jelas. " I see ... ternyata kau masih terpengaruh oleh sentuhan dan suaraku, sampai kau bertingkah seperti itu. Jadi apa yang akan aku lakukan nanti akan jauh lebih mudah." Apa? Aku menoleh ke arah Xander dengan cepat.
Xander hanya tersenyum polos dan melingkarkan tangannya di bahuku, tapi dengan ceoat Aku menepisnya, namun sayang sekali tangannya begitu kuat sehingga aku tidak dapat melepaskan tangannya dariku. Aku menghela napas pasrah dan bertanya dengan pelan "apa yang kau inginkan dariku Tuan Vice?"
"Xander."
"Apa?"
"Panggil aku Xander. Seperti dulu."
"Baiklah. Apa yang kauu inginkan dariku Xander? Puas?" ujarku kesal.
"Sangat," jawabnya singkat. Lalu Xander melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku agar lebih dekat. Aku meringis karena merasa kalau sebagian tubuhku duduk di atas pangkuannya. Practically I sit on his lap, "I. Want. You," bisiknya s*****l. Tangan Xander yang melingkar di pinggangku menguat dan penuh akan keposesifan.
Apa aku tidak salah dengar? Aku menatap matanya dan aku bisa melihat nafsu di pancaran matanya yang bercampur dengan rindu. Tangan Xander mulai mengelus pinggangku dan tubuhku merespon sentuhannya, mengkhianati pikiranku sendiri yang berusaha untuk menolak.
Aku menarik napas saat merasakan wajah Xander mendekati leherku. Lalu Aku merasakan bibirnya mulai menyentuh dan kemudian mencium area seputar leherku yang aku tahu akan meninggalkan jejak-jejak merah basah. Namun, beberapa saat kemudian seperti air dingin ditumpahkan di atas kepalaku aku tersadar. Apa yang sedang aku lakukan? Aku bisa merasakan tangan Xander mulai melakukan eksplorasinya di tubuhku. Aku berdiri seketika dan menatap wajah Xander yang bingung, tapi terlihat jelas penuh gairah. Oh God! Tanpa pikir panjang aku berlari keluar.
Apa yang baru saja aku lakukan?