Yes, I understand why things had to happen this way. I understand his reason for causing me pain. But mere understanding does not chase away the hurt. It does not call upon the sun when dark clouds have loomed over me. Let the rain come then if it must come! And let it wash away the dust that hurt my eyes!
-Jocelyn Soriano-
Five days later
Angelina Rose Campbell POV
Lima hari telah berlalu setelah pertemuanku dengan Alexander. Lima hari itu pula aku merasakan kesengsaraan. Kenapa? Karena tiba-tiba Xander menjadi pengganggu di dalam kehidupanku yang sudah tenang seperti ini. Saat pagi Alexander akan menungguku di depan gedung apartemen. Dia dengan ppstur signaturenya, yaitu bersandar di badan mobil dengan tangan terlipat dan menggunakan kacamata hitam, salah satu hal yang membuat kesal karena sulit untuk membaca apa yang dia pikirkan saat melihatku keluar gedung apartemen.
Belum lagi dengan waktu makan siang. Seperti di pagi hari dia juga akan akan melakukan hal yang sama dan entah kenapa dia selalu tahu kapan jamku istirahat ataupun shiftku berakhir. Jujur itu sedikit menyeramkan, karena Lucy berkata Alexander telah resmi menjadi penguntitku. Saat aku pulang dari rumah sakit sekalipun, dia akan berada di depan gedung menunggu diriku keluar. Aku sempat heran, apa dia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri? Dia terlihat seperti patung kalau terus berada ditempat yang sama selama sehari penuh. Patung yang sangat sempurna, batinku menambahkan dengan pelan. Aku sampai tertawa sendiri karena memikirkan hal itu.
Pada saat hari keempat. Aku mulai kesal dengan tingkah laku Alexander. Bukan karena dia selalu ada saat pagi atau siang atau malam, tapi sikapnya yang membuatku tidak tahan. Dia selalu bersikap seolah aku adalah kekasihnya, bahkan saat ada seorang pria yang menghampiriku hanya untuk menanyakan arah jalan, Xander akan menatap pria itu dengan dingin dan mengatakan bahwa aku adalah miliknya, yang benar saja? Terkadang tanpa izin dariku, dia akan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggangku seolah mengatakan kalau aku adalah miliknya dan off-limit, yang otomatis membuat darahku naik, apalagi ketika aku pergi ke Starbucks, Alexander akan bertingkah seolah kami pasangan kekasih dengan mengecup pipiku di depan kasir yang aku tahu hanyalah seorang remaja.
Saat itu juga aku bertanya apa yang dia lakukan dan dia hanya menjawab dengan nada arogan, "dia menatapmu dan membayangkan seolah dia sedang menanggalkan pakaian yang kau kenakan jadi aku harus mengklaimmu di depannya" Dan responku? Responku hanya memutar bola mata kesal dengan sikapnya yang berlebihan. Aku sampai tidak bisa berkata-kata untuk membalas ucapannya yang sangat tidak masuk akal.
Lalu sekarang? Dia sedang duduk di dalam ruang praktekku sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan wajah serius. Aku menatap pria yang duduk dihadapanku tersebut dengan lekat. Dahiku berkerut samar berusaha menebak apa yang ada di dalam pikirannya, namun tidak berhasil. Di situasi seperti ini aku berharap memiliki kekuatan supernatural yang bisa membaca pikiran orang lain. "Mau sampai kapan kau berada disini Xander? Oh maaf, ralat. Mau sampai kapan kau menggangguku Xander?"
Xander mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang ada di tangannya dan menatapku dengan tatapan bingung, seolah pertanyaanku ini tidaklah penting baginya. "Tentu saja sampai kamu selesai."
"Xander, kau benar-benar menggangguku. Bagaimana kalau aku memiliki pasien? Kau mau aku mendapat teguran?" aku menaikkan sebelah alis mataku dan menatap Xander menantang. "bukankah kau seorang businessman? Bagaimana dengan perusahaanmu? Tidak mungkin bukan dia bekerja sendiri tanpa pemimpinnya? Memangnya kau tidak ada meeting? Bukankah kau selalu terbang untuk menghadiri meeting? Seharusnya—"
"Stop it Angel!" Xander memotong uacapanku tajam. "Aku akan selalu mengganggu sampai kau menjelaskan apa yang terjadi dan mau kembali bersamaku dengan sukarela."
"Really? Xander?" Tanyaku dengan sarkastik.
Xander meletakkan ponsel yang ada di tangannya ke dalam saku jas. "Angel, beritahu apa yang terjadi sampai kau mengatakan kalau aku selingkuh. Aku tidak tahu apa yang kau katakan, Please ..."
"Harusnya kau tahu Xander, seharusnya kau mengerti."
"kalau begitu jelaskan padaku Angel. Buat aku mengerti," ujar pria itu dengan nada sedikit memaksa. Aku mengerang pelan dan mengusap wajahku kasar karena sikapnya yang keras kepala.
"tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi," gumamku dengan nada yang begitu sedih dan terluka.
"Angel."
"Baiklah. Kau ingin tahu bukan? Apa yang terjadi ketika kau keluar dari hotel bersama wanita lain? Apa yang terjadi ketika kau mencium wanita lain selain diriku? Apa kau tidak tahu bahwa aku selalu percaya padamu kalau kau akan berubah, tapi tidak! Kau tetap saja melakukan hal itu? Apa yang kurang dariku hah? Apa kau benar-benar mencintaiku? Atau aku hanya sekedar mainanmu? Kau tidak tahu apa yang aku rasakan ketika aku menunggumu di apartemen sendiri setiap malam, berharap kau akan pulang dengan kehangatanmu sepertti dulu. Berharap kau akan mengatakan permintaan maaf dan berjanji tidak akan mengecewakanku lagi. Tapi tidak! Kau hanya mengecupku pelan seolah tidak terjadi apapun dan langsung berjalan ke kamar meninggalkan aku duduk termangu di sofa ruang tamu. Apa kau pikir aku bisa dibodohi?
"Aku yang selalu memungut pakaianmu dari lantai setiap pagi dan selalu mencium aroma parfum wanita yang pasti bukan milikku atau bercak lipstik di bajumu. Jadi apa yang salah dariku? Lalu jelaskan apa yang terjadi ketika di pesta malam itu." aku bisa melihat mata Xander melebar saat aku mengungkit soal pesta lima tahun yang lalu. "Ya! Malam itu! Ketika kau sibuk berciuman dengan sepupuku Xander! Kau pikir aku tidak melihat itu?" aku tertawa hambar lalu meraih tasku yang berada di atas meja dan berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat, meninggalkan Alexander yang terduduk lesu di kursi.
Aku berjalan dengan air mata mengalir di pipiku. Namun, dengan mudah aku hapus air mataku itu yang jatuh dengan lengan pakaianku.
Tidak peduli lagi dengan make-up yang sudah pasti hancur berantakan karena tujuanku hanya satu, yaitu pulang dan menangis sepuasnya. Aku berjalan menuju taksi yang berhenti tepat di depan pintu lobby rumah sakit. Dengan terburu-buru, aku langsung masuk ke dalam taksi dan memerintahkan sang supir untuk melajukan mobilnya dengan cepat.
Saat itu juga air mataku mengalir deras. Aku terisak dan tidak mampu lagi membendung rasa sakitku yang sudah aku simpan selama ini. Aku bisa melihat dari kaca spion kalau supir taksi sedang menatapku iba.
Saat tangisanku mulai reda, aku meraih ponsel dan mengirim pesan pada Lucy kalau aku tidak akan pulang malam ini. "Baru putus dengan kekasihnya ya nona?"
Aku tertegun mendengar pertanyaan sang supir taksi. Aku tersenyum sedih dan menjawab, "tidak sir, aku hanya bertengkar dengan rekan kerjaku." Kebohongan meluncur dengan mulus dari mulutku.
"Aku tahu kalau kau sedang tidak jujur nona. Aku bisa melihatnya jelas di wajahmu."
Aku meneguk ludah dengan susah payah, lalu tersenyum tulus kali ini."Begitu ya? Jujur dia bukan kekasihku Tuan, melainkan mantan tunanganku."
Sang supir hanya diam mendengar pengakuanku. Dia melirikku lagi dari kaca spion dan tersenyum. "aku bukan ingin ikut campur, tapi apa sebaiknya kau dengarkan dulu penjelasannya? Karena apa yang kau lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada. Kau setuju denganku nona?"
Aku mengangguk pelan. Aku juga berpikir kalau yang dikatakan oleh supir tersebut ada benarnya, tapi aku belum siap untuk mendengarkan penjelasan dari mulut Xander. Aku tidak tahu harus percaya atau tidak padanya.
Akhirnya aku mengaku dengan suara pelan. "Aku tidak tahu harus percaya padanya atau tidak." Sang supir taksi kembali melirikku dari kaca spion. Dia menggelengkan pelan dan mengatakan tiga kata yang membuatku tertegun.
"Follow your heart."
***
Taksi yang aku tumpangi berhenti di sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota London. Aku beranjak turun dari mobil dan membayar sang supir dengan beberapa lembar uang seraya mengucapkan terima kasih kepada supir tersebut.
Aku meninggalkan taksi dan berjalan ke pintu. Aku mencari kunci yang selalu aku sembunyikan di bawah pot samping pintu. Kemudian membuka pintu dengan kunci tersebut dan berjalan masuk. Aku menuju ke arah sofa, lalu langsung menghempaskan diri di atasnya. Aku menutup mata dan merilekskan semua ototku yang tegang.
Rumah ini adalah tempat ketika aku ingin sendiri, karena hawanya yang sejuk dan bebas dari sibuknya kota London. Lucy tahu tentang tempat ini, jadi dia tidak heran kalau aku bilang tidak akan pulang. Pikiran pertama yang akan muncul di benaknya adalah rumah ini.
Aku tahu, melarikan diri dari sebuah masalah adalah tindakan seorang pengecut, tapi aku memang seorang pengecut. Sama seperti lima tahun yang lalu. Aku adalah seorang pengecut, walaupun begitu aku tidak peduli. Aku butuh ketenangan dan menenangkan pikiranku yang terpenting. Aku harus menata kembali perasaanku, ketika sudah siap, baru aku mampu muncul di hadapan Xander untuk meminta penjelasan.
Aku membuka mataku saat mendengar dering ponselku yang ada di dalam tas. Aku meraih tas dan merogoh isinya. Saat aku menemukan benda yang aku cari, aku melihat layar yang ternyata balasan dari Lucy.
Don't worry beb. btw Xander waiting for u, In front of the apartement building.
-Lucy
Aku hanya menghela napas pelan dan mengetikkan jawaban.
Tell him anything u want, but don't tell him about my hiding place.
-Lina
Saat pesan sudah terkirim, aku beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur, kemudian membuka kulkas dan mencari makanan yang ada disana.
Untung saja setiap minggu aku menyuruh seseorang untuk merawat rumah ini. jadi setiap minggu pula kulkas ini diisi dengan stok makanan. Aku mengeluarkan beberapa bahan makanan dan bersiap untuk memasak.