I have not broken your heart - you have broken it; and in breaking it, you have broken mine.
-Emily Brontë, Wuthering Heights-
Angelina Rose Campbell POV
"Lina sudah tiga hari kau berada disana, apa kau tidak merasa bosan? Bagaimana dengan semua pekerjaanmu yang tertunda? Mau sampai kapan kau abaikan pasien-pasienmu? Lina ..." aku mendengus pelan dan hanya memutar bola mata jengkel mendengar ocehan Lucy dari ujung telepon.
Kuubah posisi yang semula berbaring diatas tempat tidur menjadi duduk dengan bersender ke sandaran kepala. "Aku tahu Lucy, nanti sore aku kembali dari masa persembunyianku, jadi kau tenang saja," ujarku dengan nada menenangkan.
"Kau yakin?"
"Ya, tentu saja Lucy," jawabku dengan mantap.
"baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik." Aku tidak menjawab lagi dan langsung memutuskan sambungan telepon. Aku menghela napas panjang dan berjalan ke arah dapur, kemudian mengambil sebotol air mineral karena tenggorokanku yang terasa sangat kering. Selama tiga hari aku mencoba menenangkan pikiranku dengan menyendiri di rumah ini, tapi selama tiga hari itu juga pikiranku mengenai Xander terus muncul dan tidak dapat dihapuskan.
Masa lalu anta diriku dengannya terus berputar tiada henti. Saat kami masih berteman, atau disaat kami masih sering bertengkar, lalu saat menjadi sepasang kekasih, atau ketika semua kesenangan itu berubah menjadi malapetaka.
Kemudian, setelah masa lalu berputar, sekarang satu persatu pertanyaan, menguasai pikiranku. Kenapa Alexander harus muncul kembali di dalam hidupku? Belum puaskah pria itu menyakitiku? Aku sudah berusaha semampuku untuk menghilang dari dalam kehidupannya, tapi kenapa dia berusaha kembali ke dalam kehidupanku? Disaat aku mulai mencoba untuk bangkit kembali dan melupakan masa lalu.
Jika apa yang aku alami ini adalah sebuah cerita novel romansa yang sering aku baca, mungkin saat aku membacanya, aku akan berteriak kesal dan berkomentar, "berikan kesempatan padanya bodoh!" atau "balas dendam saja!" dan masih banyak kata makian lainnya, tapi ini bukanlah sebuah cerita fiksi yang dibuat oleh sebuah penulis, melainkan kisah kehidupanku sendiri.
Aku merasa lelah dan ingin rasanya ku menyerah. Tidak tahu apa yang menurutku benar atau salah. Hatiku selalu berteriak untuk pergi menemuinya dan memeluknya erat, memberikan kesempatan padanya. Di sisi lain otakku berkata hal yang sebaliknya.
Aku menghempaskan tubuh di atas sofa panjang dan menyenderkan bahuku di lengan sofa. Entah kenapa tubuhku tiba-tiba terasa berat. Aku menatap langit-langit dan kembali membayangkan masa lalu. Seandainya aku tidak jatuh cinta kepada Xander atau bertemu dengannya, mungkin saat ini aku sedang melakukan apa yang menjadi keinginanku dengan bahagia tanpa adanya rasa beban. Bukan meratapi nasib seperti ini, tapi semua ini adalah takdir, yang berlalu biarlah berlalu. Aku tidak mungkin selalu memikirkan semua kemungkinan jika sedang mengalami masalah.
Aku menatap ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja dan meraihnya. Kulirik jam yang tertempel di dinding dan melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Aku berdiri lesu dan berjalan dengan gontai ke arah kamar tidur.
Percuma aku terus memikirkan tentang Xander, semua tidak akan berubah. Aku tidak bisa bekerja dan menjalani hariku dengan tenang kalau terus menerus memikirkannya. Get a grip Lina! You're an adult for goodness sake! Forget him! Batinku berkomentar dengan sinis. Aku berbaring di atas ranjang dan menutup mata, dan sialnya bayangan Xander yang muncul pertama kali di pikiranku.
Aku mengerang kesal dan mengganti posisi agar pikiranku berubah, tapi selalu saja Xander yang muncul. Bagaimana bisa aku move on jika bayangannya yang selalu hadir setiap aku memejamkan mata? Aku membuka mata dan terduduk di atas ranjang. Lalu mengusapkan wajahku kasar dengan kedua telapak tangan, kemudian bangkit berdiri. Aku berjalan ke arah kamar mandi dan saat itulah aku mendengar bel berbunyi.
Siapa yang mengunjungiku? Tanyaku dalam hati. Sepertinya aku tidak mengatakan pada siapapun kalau aku disini---kecuali Lucy, batinku menambahkan singkat. Aku berjalan menuju pintu dan mengintip melalui peephole siapa yang membunyikan bel pintu. "kurir?" gumamku pelan pada diri sendiri. Aku membuka pintu dan bertanya, "ada yang bisa saya bantu?"
Kurir itu masih muda. Tidak sampai 20 tahun umurnya. Mungkin sekitar 18 tahun. Rambutnya pirang dengan manik mata cokelat gelap. Bisa dibilang dia lumayan tampan untuk pria seumurannya, dan aku bisa menebak kalau dia adalah tipe playboy di sekolahnya, karena saat melihatku dia mengedipkan mata genit. Aku mengerutkan kening tidak suka dan bertanya sekali lagi, "ada yang bisa saya bantu?" kali ini dengan nada kesal karena aku harus mengulang pertanyaan.
Seolah dia tahu kalau aku tidak terpengaruh dengan pesonanya, dia mengubah postur tubuh menjadi lebih tegak dan berdehem pelan. " apa benar anda bernama Ms. Angelina Campbell?"
"Ya benar," jawabku singkat.
Dia memberikan sebuah paket yang baru kusadari ada di tangannya padaku. "Ada kiriman untuk anda. Tolong tanda tangan disini." Dia menunjukkan letak dimana aku harus membubuhkan tanda tanganku. Dengan perasaan bingung, aku menandatangani kertas yang ditunjuknya. Dia tersenyum sopan dan berujar, "terima kasih Miss. Have a nice day." lalu setelah itu dia berbalik pergi. aku semakin menatap pria muda itu bingung, lalu menatap paket yang sekarang berada ditanganku. Siapa yang mengirimnya? Hmm ...
Aku kembali masuk ke dalam dan duduk di atas sofa. Aku membuka pembungkus paketnya dan sebuah kotak cantik menyambutku. Rasa gugup melandaku ketika aku membuka penutupnya juga membuka kertas tissue yang membungkus isi kotak tersebut, dan terkesiap kaget saat melihat apa isinya.
Sebuah gaun terlipat dengan rapih di dalam kotak ini. Aku mengeluarkan gaun tersebut dan kembali terkejut saat melihat bentuk gaunnya. Gaunnya sangat indah dan aku yakin pasti gaun ini sangat mahal karena saat aku sentuh bahannya, terasa begitu lembut. Aku berlari menuju kaca yang terletak di dalam kamar tidur. Aku mencoba gaun itu dan hanya bisa menatap kagum dengan gaun yang aku kenakan. Gaun ini berwarna gading dan tidak mempunyai lengan, membuat bagian bahuku terekspos. Di bagian punggung juga memiliki desain terbuka. Gaun ini sedikit ketat sampai ke pinggang membentuk lekukan tubuh dan setelah itu longgar hingga menyentuh lantai, gaun ini juga dihiasi payet yang bertebaran di bagian d**a hingga pinggang. Gaun ini sangat elegan dan tidak terlalu terbuka. Karena hanya bahu, lengan, dan punggungku yang terbuka.
Gaun ini mambuatku terlihat menawan dan cantik. Aku seperti cinderella saat mengenakan gaun ini. Siapa yang mengirim gaun indah ini? Di dalam hati, aku sudah dapat menebak siapa yang mengirimkan gaun ini, namun aku membantah pemikiran itu dan berharap bahwa Lucy atau rekan kerjaku yang mengirimnya, walaupun kemungkinannya kecil sekali karena saat aku melihat merek dari gaun ini, aku hampir terkena serangan jantung.
Aku berjalan menuju kotak yang aku letakkan di atas tempat tidur sambil melipat gaunnya dengan hati-hati. Setelah itu aku letakkan kembali gaun ini ke dalam kotak dan mencari kartu pegirim gaun ini di dalam kotak. Aku menemukan kartu tersebut tergeletak di paling bawah kotak dan dengan ragu membukanya. Aku menahan napas saat membaca tulisan yang ada di kartu itu.
This is for you, my Angel.
Alexander.
Astaga! Ternyata benar, tapi darimana dia tahu aku alamat rumah ini? Aku menggeleng pelan lalu dengan cepat merapikan gaun ini seperti semula di dalam kotak dan menutupnya. Setelah selesai aku bersiap-siap dan sepuluh menit kemudian aku sudah duduk di dalam taksi menuju apartemenku.
***
"APA? Kau bilang ini dari siapa Lina?" Lucy memekik sambil menatapku dengan tatapan tidak percaya. Aku menghembuskan napas gusar dan menganggukkan kepala sebagai konfirmasi. "Oh God! Darimana dia tahu alamat rumah kecilmu itu?"
"Hey! Itu tidak kecil!"
Lucy mengabaikan protesku. Dia mengerutkan dahinya sambil memperhatikan gaun yang ada di tangannya, kemudian menolehkan kepalanya dengan cepat sampai aku sedikit meringis ngeri karena takut lehernya akan patah karena gerakan itu. "Jika kau berpikir aku yang memberitahunya, tidak. Aku tidak memberitahunya Lin. Sungguh."
"I know."
Lucy menatapku dengan tatapan yang aneh. Seolah aku adalah seorang alien. "Kau yang memberitahunya?"
"Hey!"
"Berarti bukan kau yang memberitahunya," gumam Lucy pelan saat melihat tatapan galakku.
Aku menghela napas pelan dan menggelengkan kepala dengan kesal. kadang-kadang Lucy bisa sangat lambat dalam berpikir. "Lucy, kau tahukan Xander orang berkuasa? Jangan lupakan kalau dia punya banyak uang."
"Umm ... yeah ..."
Astaga! Aku seperti ingin menarik rambutnya agar dia paham. "Jadi Lucy, pasti dia menyewa orang untuk mencari lokasiku. Itu sangat mudah baginya. Paham?" aku menjelaskan hal tersebut pada Lucy dengan pelan-pelan, seolah aku sedang menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.
Ketika sadar dengan nadaku, kali ini Lucy yang protes. "Hey!" aku memutar bola mata jengkel dan berjalan ke kamarku untuk mengganti baju yang belum sempat aku lakukan saat tiba disini. Aku tertawa kecil karena mendengar Lucy yang menggerutu sebal, setelah itu aku menutup pintu kamar.
Aku menarik napas dan melirik kartu pengirim gaun yang tergeletak di atas tempat tidur. Bagaimana caraku untuk mengembalikan pemberian pria itu? aku tidak mau bertatap muka dengan Xander untuk yang kedua kalinya sejak aku tiba di London. Aku tidak bisa melakukannya. Aku menghembuskan napas gusar dan berjalan keluar kamar untuk mengambil kembali kotak berisikan gaun tersebut, mengabaikan tatapan tajam Lucy dan kembali ke kamar. Aku langsung menyimpan kotak tersebut di lemari yang paling dalam, dan memutuskan untuk mengembalikan gaun itu pada Alexander di waktu yang tepat. Tentu saja ketika aku mampu untuk menemuinya dengan sukarela.
Saat aku menutup pintu lemari, ponsel yang aku letakkan di atas nakas tempat tidur berdering nyaring. Aku melirik di layar siapa yang menghubungiku.
Unknown number.
Aku mengerutkan kening heran, dan tentunya sedikit ragu untuk mengangkat panggilan tersebut, tapi pada akhirnya aku tetap mengangkat telepon tersebut. "Hello?" kerutan keningku semakin dalam karena tidak ada jawaban atau suara sedikitpun dari seberang telepon.
Aku sempat melirik apakah sambungan telepon terputus, tapi ternyata telepon belum terputus sama sekali. Aku kembali mendekatkan ponsel ke dekat telinga dan tetap tidak ada suara yang terdengar. Beberapa detik terdiam, akhirnya kali ini aku mendengar suara napas seseorang di ujung telepon.
"Hello?" Gumamku sekali lagi. Aku merindinf saat mendengar suara tarikan napas dan mulai merasa takut. "Siapa ini?" tidak ada jawaban. "Apa kau bisu?" masih tidak ada jawaban. "Baiklah jika tidak mau berbicara." Lalu aku menyentuh tombol merah yang ada di layar.
Aku menggeleng pelan dan meletakkan kembali ponsel ke tempat semula, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tapi sebelum aku sempat masuk ke dalam kamar mandi, ponselku kembali berbunyi. Perasaanku mulai tidak enak dengan panggilan ini.
Sama seperti sebelumnya, layar yang muncul adalah nomor tidak dikenal. Aku merinding ngeri dan dengan tarikan napas, memberanikan diri untuk mengangkat telepon tersebut. "Ini siapa?"
"Angel"
Aku menarik napas saat mendengar suara yang sangat aku kenal. "Xander?" tanyaku tidak percaya. "bagaimana kau tahu nomor ponselku?"
"itu tidak penting. Apa kau sudah menerima kirimanku?"
Aku tidak langsung menjawab. "Ya. Aku sudah menerimanya. Terima kasih itu gaun yang sangat indah, tapi aku tidak berhak menerimanya."
"Kenapa?"
Aku menghembuskan napas dengan pelan. "Xander please ...aku sudah mengatakannya padamu. Jadi aku mohon jangan ganggu aku lagi. Oke? Aku akan datang ke apartemenmu dan mengembalikan gaun itu."
"Angel terima pemberianku ... aku khusus memesan gaun itu hanya untukmu."
"Xander ..."
"Angel dengarkan aku baik-baik, terima saja pemberian dariku. Lagipula itu tidak berguna untukku jika kau kembalikan. Kalau kau mengembalikannya, maka aku akan membuangnya. Jadi tolong ... aku tidak meminta kesempatan kedua, tapi terima gaun itu"
Aku memijat kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit. "Baiklah. Aku akan menerimanya." Aku bisa mendengar hembusan napas lega dari ujung telepon. "Kapan kau kembali ke New York?" tanyaku asal.
"Lusa. urusanku sudah hampir selesai, jadi setelah memastikan semuanya berjalan baik, aku akan terbang kembali ke New York. Aku ingin meminta satu hal padamu Angel"
"apa itu Xander?"
"aku ingin kita bertemu untuk yang terakhir kalinya. Kali ini sebagai teman, bagaimana?"
Aku menimbang-nimbang tawaran Alexander, tapi aku belum sanggup bertemu dengannya. Jika aku bertatapan muka dengannya lagi, maka lukaku akan semakin lebar dan dinding pertahananku yang selama ini sudah aku bangun dengan susah payah akan hancur. Aku tidak mau sampai itu terjadi, sudah cukup aku memperlihatkan kelemahanku di depan Xander beberapa hari yang lalu, aku tidak mengulanginya lagi. "Maafkan aku Xander. Aku belum sanggup bertemu denganmu."
Sunyi.
Aku kembali berkata. "Kau harus mengerti keputusanku Xander."
"Aku tahu, tapi dengarkan penjelasanku. Kau tidak memberikan waktu bagiku untuk menjelaskan semuanya. Aku mohon Angel."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jarang sekali seorang Alexander memohon, lalu aku teringat apa yang dikatakan supir taksi waktu itu.
follow your heart
Hati dan pikiranku mempunyai pendapat yang berbeda. Apa aku harus mengikuti kata hatiku dan menjawab ya? Atau apa aku harus mengikuti pikiranku dan berkata tidak? Aku menghela napas dan menggeleng pelan. "Maaf Xander. Aku belum sanggup. Kau sudah menorehkan luka yang besar di hatiku. Aku takut lukaku akan semakin besar saat mendengarkan penjelasanmu. I'm sorry. goodbye Xander." Lalu aku memutuskan sambungan.
Malam itu aku menangis sampai tertidur.