When you lose someone, you get used to living day to day without them. But you'll never get used to the "10 second heartbreak." That's the time it takes to wake to full consciousness each day and remember...
-Nina Guilbeau-
Angelina Rose Campbell POV
Tiga bulan berlalu setelah pertemuanku dengan Xander. Tiga bulan itu juga aku berusaha untuk melupakan pria itu, menghapusnya dari dalam benakku, dan akupun mulai merasa kembali seperti diriku yang dulu. Aku harus kembali bertahan, melupakan, dan mengobati semua luka di dalam hatiku. Kepalaku mendongak dan menatap langit kemudian bertanya di dalam hati, apakah ini semua telah berakhir? Kemudian aku akan langsung menjawab, tentu saja.
Aku menghembuskan napas keras dan mengedipkan mataku beberapa kali untuk menghalang air mata yang ingin keluar, kemudian melangkahkan kakiku dengan perlahan di area taman yang terletak tidak jauh dari gedung apartemen. Taman ini adalah tempat dimana aku selalu menenangkan pikiranku di sela-sela kesibukanku sebagai seorang dokter.
Ingin sekali rasanya aku kembali ke rumah sederhanaku di pinggiran kota London, tapi karena pekerjaanku yang menumpuk dan bertambahnya pasien di rumah sakit, membuatku harus mengurungkan niat untuk pergi. Aku berjalan sambil memperhatikan suasana taman. Beberapa anak kecil sedang bermain tidak jauh dari jalan setapak tempat aku berjalan.
Ibu mereka duduk di atas rumput sambil berbincang dan sesekali tertawa, lalu ada sepasang kekasih sedang duduk di kursi taman sambil memakan ice cream yang ada di genggaman mereka. Aku menghela pelan, kemudian pikiranku mulai kembali memutar masa lalu.
Lupakan itu Lina! Batinku berteriak mengingatkan diri. Aku menarik napas dan mulai kembali berjalan, karena terlalu sibuk dengan pikiran, aku tidak memperhatikan sekitar hingga dengan tidak sengaja menubrok seseorang yang berdiri di depanku hingga kami terjatuh ke atas rerumputan taman.
Erangan sakit menyadarkanku dari rasa terkejut. "Maafkan aku," ujarku berulang kali sambil membantu pria tersebut bangun. Aku melihat siapa yang aku tabrak dan keterkejutan melandaku untuk yang kedua kalinya. Astaga! Dia sangat tampan! Pekikku dalam hati.
Aku menabrak seorang pria yang diperkirakan berumur dua puluh lima keatas, mungkin seumuran kakakku. Pria itu dibalut setelan jas yang memperlihatkan tubuh kekarnya. Matanya berwarna biru seperti Xander, namun warna mata orang itu sedikit lebih terang dan rambutnya pirang. Rahangnya tajam.
Tapi dia tidak setampan Xander batinku kembali berkata.
Shut up! Teriakku dalam hati, terkadang aku kesal dengan batinku sendiri.
Pria itu berdiri dan Astaga! Dia tinggi, tapi Xander tinggi beberapa sentimeter dari pria ini. aku menggelengkan kepala dan kembali memfokuskan diriku ke pria yang aku tabrak.
"Áku minta maaf .. sungguh aku tidak sengaja." aku berujar sambil membantunya membersihkan pakaiannya yang kotor. Dia hanya tertawa kecil dan menatapku dengan pandangan terhibur.
"Tidak apa-apa. Aku juga salah karena berdiri di tengah jalan." Dia menghentikan gerak tanganku dengan menggenggamnya. "Apa yang sedang dilakukan wanita secantik dirimu sendirian di taman?"
Aku menaikkan sebelah alis mataku seolah bertanya 'really?', kemudian tertawa dan menjawab, "apa yang sedang dilakukan pria setampan dirimu berdiri ditengah jalan?" astaga! Sejak kapan aku berani seperti ini?
Pria itu tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Oke .. oke .. kau benar tidak apa-apa?" tanyaku kali ini dengan nada serius.
Dia kembali menggeleng dan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Lucas," gumamnya dengan cengiran lebar yang menambah ketampanan pria itu.
Aku menatap tangannya sebentar lalu meraihnya. "Angelina."
"Kau memiliki nama yang sangat indah." Lucas memujiku dengan sungguh-sungguh. Aku merasa pipiku mulai merona. Aku tersenyum dan hanya menggumamkan terima kasih lalu meraih smartphoneku yang bergetar di dalam saku celanaku.
Aku meminta izin untuk mengangkat telepon dan berjalan menjauh. "Ya Lucy?"
"Dimana kau Lina?"
"Aku sedang berada di taman." Aku bisa mendengar suara gesekan kertas, karena aku merasa penasaran, akhirnya aku bertanya, "apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang membaca majalah. Oh iya, saat kau pulang nanti jangan lupa untuk mampir ke supermarket ya. Aku ingin makan ice cream."
Aku memutar bola mata dan menyetujui permintaan Lucy. Setelah itu aku memutus sambungan dan kembali menghampiri Lucas. "Aku minta maaf Lucas."
Lucas hanya menggeleng pelan dan berkata, "baiklah aku akan menerima permintaan maafmu jika kau mau memberikan nomor ponselmu padaku."
Aku tertawa dan bertanya, "sungguh? Lucas? Apa kau sedang menggodaku sekarang?" Lucas hanya mengangkat bahunya tak acuh. Aku tertawa dan menyetujui permintaannya. Setelah kami bertukar nomor telepon, kami berpisah sesudah berjanji untuk saling menghubungi satu sama lain.
Phew!
***
"Jadi? Bagaimana dengan kelanjutan hubunganmu dengan Lucas?" Tanya Lucy tiba-tiba saat kami berdua sedang asyik menonton sebuah film di televisi.
Aku hanya menatapnya heran dan hanya menjawab pertanyaannya dengan mengedikkan bahu tidak acuh.
"Ayolah Lina ... kenapa kau tidak ceritakan padaku? Ini sudah berapa minggu? Satu? Dua? Kau hanya sekali menceritakan tentang pria itu padaku, dan itu saat pertama kali kalian saling bertemu. Sebagai sahabatmu aku juga merasa penasaran." Aku menghela napas dan meletakkan mangkuk berisi popcorn yang ada di tanganku kembali ke atas meja. Ucapan Lucy memang benar. Sudah dua minggu aku mengenal Lucas, namun aku belum menceritakan secara rinci mengenai pria itu pada sahabatku. Dia hanya tahu kalau aku berhubungan dengan seorang pria bernama Lucas serta pertemuan tidak terduga kami, namun hanya itu dan tidak lebih.
"Apa yang ingin kau tahu Lucy?"
"Semua."
"semua?!" ulangku dengan pekikan kaget.
Lucy hanya mengangguk dan memberikan gesture padaku untuk memulai berbicara. Aku berpikir sebentar untuk mencari kata yang tepat dalam memulai ceritaku. "Oke, jadi namanya adalah Lucas Reginald, dan umurnya sekarang dua puluh sembilan tahun. Kau tahu keluarga Reginald, bukan?" Lucy mengangguk dan aku melanjutkan. "Lucas sudah ditunjuk menjadi penerus dari keluarga itu ketika dia berumur dua puluh tahun, dan asal kau tahu, Lucas adalah seorang pengacara yang cukup dikenal di London." Aku jeda sejenak sambil memanikan ujung helai rambutku. kemudian kembali berkata, "pantas saja saat aku perhatikan, wajahnya terasa tidak asing, karena dia selalu menangani masalah besar. Jadi wajar dia sering muncul di televisi." sekilas aku memperhatikan wajah Lucy dan melihat matanya berbinar. "Lucas orang yang seru kalau diajak bicara dan dia juga punya selera humor yang bagus. Kalau aku sedang bersamanya, aku bisa tertawa lepas yang jujur jarang aku lakukan, dan setiap aku bersamanya, pikiranku mengenai Alexander bisa dilupakan walaupun hanya sementara. Aku bisa merasa tenang tanpa ada rasa beban sedikitpun."
Lucy menatapku dengan senyum lebar dan berkata, "syukurlah kalau begitu. Itu tandanya kau mulai move on dari masa lalu. Lagipula aku rasa, orang yang bernama Lucas itu tidak buruk. Dia pria tampan dan dari penjelasanmu, sepertinya dia pintar juga humoris. Hei! Kalau kau tidak bersamanya, kenalkan dia padaku!" Aku hanya memutar bola mata mendengar ocehan Lucy namun senyumku tetap tersungging diwajah.
Aku rasa apa yang dikatakan Lucy ada benarnya. Mungkin ini adalah langkah awalku untuk melupakan masa lalu dan berjalan kedepan. Aku mulai mencoba untuk move on. Memang tidak mudah, tapi aku harus mencobanya.
"Lucy," panggilku memotong ocehan Lucy yang sudah aku tidak aku hiraukan karena melamun."Kalau seandainya Lucas sama seperti Xander pada akhirnya bagaimana?"
Lucy langsung berhenti berbicara dan menatapku datar. Aku tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Lucy terus menatapku lalu menghembuskan napas.
Dia meremas pundakku pelan."Lina, kalau kau terus berpikiran negatif seperti itu terus, sangat tidak baik. Kau tahu, tidak semua pria seperti Xander. Aku tidak memaksamu untuk bersama Lucas, tapi jika menurutmu Lucas bisa membantumu melupakan Xander kenapa tidak? Jangan pikirkan masa depan.
Pikirkan saja apa yang ada sekarang. Soal nanti itu masalah belakangan. Take a risk. Karena kalau selalu memikirkan apa yang akan terjadi nanti, maka kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan dan dambakan. Paham?" aku hanya mengangguk mengerti dan menyerap semua apa yang dikatakan Lucy ke dalam otakku. Mencernanya dengan baik.
"Ya, kau benar Lucy, terima kasih. Kau memang yang terbaik." Kemudian aku memeluknya dengan erat. Tanda terima kasihku kepada sahabatku ini yang selalu berada disisiku setiap saat.
Setelah itu, obrolan kami berdua beralih dari yang serius menjadi lebih ringan dan kembali melanjutkan menonton film yang sempat kami abaikan.
Saat kami berdua sedang berargumen mengenai tokoh film yang kami tonton terdengar suara bel dibunyikan.
Aku dan Lucy saling tatap seolah bertanya melalui telepati 'apa kau mengundang seseorang?' lucunya, kami berdua bergelengan disaat bersamaan dan tertawa. Aku memutuskan untuk membuka pintu apartemen sedangkan Lucy pergi ke dapur untuk mengambil makanan pengganti yang mulai habis.
Aku melangkah menuju pintu apartemen dan melihat siapa yang datang melalui layar monitor LCD yang terhubung dengan kamera pintu. Lucas? Tanyaku dalam hati. Heran karena kedatangannya yang tiba-tiba. Aku segera membuka pintu dan menyapanya.
Hari ini dia tidak memakai setelan jas, melainkan baju santai, yaitu kaos putih lengan pendek dengan jaket kulit hitam. Dia mengenakan celana jeans dan juga sepatu sneakers. Kacamata hitam bertengger dikepalanya dan aku bisa melihat raut wajahnya yang senang karena melihatku.
"Jadi apa yang kau lakukan disini? Sekarang hari minggu, dan harusnya kau habiskan untuk berkencan atau apalah itu," ujarku asal sambil mempersilahkannya masuk.
Saat Lucy keluar dari dapur dan bertanya siapa yang datang, aku hanya bisa diam dan tersenyum malu lalu memanggil Lucy untuk datang menghampiriku.
Saat dia tiba di ruang tamu, aku bisa melihat ekspresi terkejutnya yang begitu kentara di wajah cantiknya itu. "Ohhh ... ternyata ini yang namanya Lucas, perkenalkan aku Lucy, sahabat wanita ini," celetuk Lucy dan berdiri disampingku. Sahabatku itu langsung mengulurkan tangannya yang disambut dengan antusias oleh Lucas.
"Lucas." Saat tangan mereka terlepas, aku bisa melihat mata Lucas menatap Lucy dengan pandangan ingin tahu, sedangkan Lucy yang seolah terkena sambaran petir seketika diam. Aku bisa melihat gelagat sahabatku ini yang mencurigakan.
Baiklah, sekarang terasa mulai canggung bagiku. Pikirku dengan getir. Aku berdehem pelan dan berkata, "kenapa kita berdiri saja disini? Ada sofa disana." Aku menunjuk ke arah sofa tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Lucy langsung berbalik badan dan aku bisa melihat sekilas wajah Lucy yang memerah. Lucy merasa malu? Wow! Ini pertama kalinya aku melihat sahabatku ini malu karena orang lain.
Biasanya aku yang merasa malu karena tingkah laku sahabatku itu yang memalukan. Aku menggeleng pelan dan tertawa. This is a history!
"Kenapa kau tertawa sendiri?" suara Lucas menyadarkanku dari pikiranku yang mulai tidak karuan.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan menjawab asal. "Tidak ada, hanya mengingat kejadian lucu." Aku tahu Lucas tidak percaya dengan jawabanku karena dia menatapku dengan tatapan skeptisnya, tapi aku hanya mengangkat bahu tak acuh. "Jadi ... kenapa tiba-tiba datang Lucas?" tanyaku langsung to the point.
Lucas menyeringai jail dan menjawab. "Seperti biasa langsung to the point." Dia tertawa dan langsung berhenti saat melihat diriku yang memberikannya pelototan tajam.
"Baiklah ... tapi setidaknya basa-basi dahulu Lina. Aku jadi sakit hati karena kau tidak mengkhawatirkan diriku sama sekali." Lucas memasang raut wajah sedih sambil menyentuh dadanya seolah hatinya benar-benar sakit.
Aku memutar bola mata. "Lupakan saja, tidak ada yang serius kalau berbicara denganmu." Aku terdiam sebentar dan kembali bertanya, "jadi buat apa kau kesini?"
"Dimana sahabatmu itu? siapa namanya? Ah! Lucy! Kok tiba-tiba menghilang? Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya sahabat yang cantik Lina?" aku tertegun dengan pertanyaan Lucas.
Sepertinya Lucas tertarik dengan Lucy. Syukurlah ... karena kalau Lucas menyukaiku lebih dari teman sekarang, aku rasa aku tidak bisa menerimanaya. Walaupun Lucy sudah menasehatiku soal move on. Untuk sekarang ini, aku hanya bisa menganggap Lucas sebagai teman dekat, tidak lebih.
"Kenapa? Kau suka padanya?" ledekku.
Lucas menatapku dengan mata melebar dan aku bisa melihat pipinya mulai memerah. Astaga! Lucas tersipu malu! Wow! "Lucas? Pipimu merona ... " ujarku tidak yakin.
"WHAT?" aku mengangguk cepat dan langsung tertawa puas melihat Lucas yang mulai panik. Kali ini gantian aku yang berhenti tertawa karena Lucas memelototiku seolah dia ingin membunuhku.
Aku kembali tertawa puas dan menggumamkan kata maaf berulang kali ketika akhirnya tawaku berhenti.
"Baiklah, berhenti main-mainnya. Kau belum jawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana?" Lucas menatapku dengan muka polos.
"Ukh! Ini tidak akan ada habisnya. Lucas! Aku serius kali ini." Lucas memandangku dengan tatapan terhibur dan menegakkan punggungnya seolah sedang berbicara dengan Ratu Inggris.
Aku hanya memutar bola mata karena jengkel. Aku heran kenapa pria seperti Lucas bisa menjadi seorang pengacara? "Lucas!" teriakku mulai kesal.
"Lina kau tidak seru!" ujar Lucas melebih-lebihkan.
"Dasar drama queen. Lucas ayolah!" aku mulai merasa makin kesal dan memutuskan untuk memanggil Lucy. "Lucy! Kemari! Lucas ingin memberitahu kita sesuatu!" teriakku dan tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah dapur.
"Apa?" Tanya Lucy bingung.
"Iya apa? Aku ingin bicara denganmu, bukan Lucy," ujar Lucas dengan datar. Aku hanya menatapnya tidak setuju dengan dahi yang berkerut. Lucas menghela napas pasrah. "Baiklah. Lucy kau bisa duduk?" Tanya Lucas serius.
Lucy menatapnya heran, tapi tidak bertanya apa-apa dan memutuskan untuk duduk. "jadi, ayahku adalah pemegang salah satu perusahaan di bidang real-estate. Lalu, karena aku adalah anak pertama dari ayahku jadi aku yang akan meneruskan usahanya---"
"tapi kau pengacara, backgroundnya jauh sekali," potongku dengan cepat.
Lucas hanya menatapku sebal karena penjelasannya dipotong olehku."---dan aku akan diperkenalkan sebagai CEO baru menggantikan ayah bulan depan sekaligus memperingati ulang tahun perusahaan. Jadi aku ingin kalian hadir. Soal background yang berbeda, ayahku sudah mengajarkan aku soal bisnis dari kecil, karena aku adalah penerusnya.
"Bukan berarti aku yang seorang pengacara, tidak bisa menjadi seorang businessman. Apalagi kalau aku sudah dicekoki ilmu soal bisnis dari kecil, dipersiapkan untuk menggantikan ayah. Dia sengaja membiarkan aku masuk jurusan hukum dan menjadi seorang pengacara karena ingin aku mencapai impianku dulu dengan menjadi seorang pengacara, tapi jika waktunya sudah tiba aku harus menggantikan ayahku. Paham?"
Aku mengangguk paham, tapi kali ini Lucy yang bersuara. "kenapa kau mengundangku? Kita baru saja saling mengenal emm ... satu jam yang lalu?" Lucas kembali menatapku dengan sebal, namun tetap menjawab, "karena kau sahabat Lina. Lina adalah temanku. Jadi teman Lina adalah temanku juga." mendengar jawaban Lucas aku tersenyum lebar sambil mengangkat kedua alisku, menggoda Lucas yang mulai resah dengan tingkah lakuku.
First mission : menjadi seorang cupid untuk Lucas dan Lucy.
Pasti akan sangat menyenangkan mencomblangkan mereka berdua. Aku tidak sabar apa yang akan terjadi nanti dan bagaimana kedepannya. "Apa yang sedang kau pikirkan Lina?" Lucy tiba-tiba berkata sambil menatapku curiga.
"Tidak ada." Lalu aku kembali bertanya pada Lucas. "Apa kami harus membawa pasangan?" Lucas hanya mengangguk. "Baiklah kalau begitu ... aku harus mengajak siapa?" tanyaku lebih kepada diri sendiri.
"Kau tidak perlu mencari siapa. Aku baru mau bertanya, apa kau mau menjadi pasanganku nanti?" Sekarang dahiku berkerut samar mendengar pertanyaan Lucas.
Lucas yang membaca ekspresiku kembali berkata, "kau satu-satunya wanita yang mau bersamaku dengan tulus. Lagipula kau juga satu-satunya wanita yang menjadi teman baikku. Jadi apakah kau mau?"
Aku menimbang tawaran Lucas. Tunggu! Kalau aku jadi pasangannya nanti, misiku untuk mencomblangkan Lucas dengan Lucy akan gagal? Geez ... kenapa menjadi sulit? Aha! "Kenapa kau tidak ajak saja Lucy sebagai wanita yang mendampingimu? Aku bisa mengajak rekan kerjaku nanti."
Lucy langsung menoleh ke arahku dengan cepat, aku sampai meringis takut lehernya keseleo karena gerakan itu. Dia menatapku seolah aku memiliki dua kepala. "Lina kau sedang bercanda bukan?" aku menggeleng cepat. Lucy menghela napas keras. "Lina, biar kau saja, aku akan mengajak Chris."
Chris? "kalian kembali bersama?" tanyaku penasaran.
"Tidak juga." Lucy hanya mengangkat bahunya tak acuh. Kali ini aku yang menghela napas dan memutuskan untuk mengalah. "Baiklah aku terima tawarannya Lucas." aku tidak bisa memaksa mereka berdua, tapi bukan berarti misiku gagal.
Lihat saja nanti!