I would rather walk with a friend in the the dark, than alone in the light.
-Helen Keller-
Angelina Rose Campbell POV
"Jadi?" tanyaku pada Lucy ketika Lucas sudah pergi dari apartemen kami. Alisk bergerak naik turun menggodanya. Jika saja kalau bukan karena aku takut apabila sahabatku yang satu ini merajuk, aku pasti sudah tergelak dan meledeknya seharian penuh.
Lucy hanya manatapku aneh sebelum kembali memfokuskan matanya ke layar televisi yang sempat kami abaikan saat Lucas datang. "ayolah Lucy, aku tahu kau tertarik dengan Lucas benar bukan? Buktinya kau sekarang bersikap sangat aneh. Tidak biasanya kau seperti ini tahu." Lucy menghembuskan napas dan memencet tombol mute di remote lalu berbalik menghadapku, memusatkan perhatiannya hanya untukku saja.
"Kenapa tiba-tiba kau bilang seperti itu? jangan bilang ..." Lucy menggantung kalimatnya di udara. Ada tatapan menuduh begitu jelas terlihat di kedua bola mata Lucy.
Aku memilih menatapnya dengan tatapan polos yang sengaja kubuat dan menggelengkan kepala cepat. "Jujur saja Lina, kau mau menjodohkan aku dengan teman barumu itu bukan? Lina, sudah kubilang ini kesempatanmu untuk move on dari Xander, tapi kenapa kau justru melakukan hal yang berbeda?"
Aku tertunduk dan bergumam pelan, "aku tidak bisa begitu saja dengan mudah berkata 'ya' jika dia menginginkan sebuah hubungan serius." Lalu aku mendongak menatap mata Lucy dengan penuh semangat. "Lagipula aku rasa Lucas juga tertarik padamu." Kemudian aku menggenggam tangan Lucy dan kembali berkata, "ayolah Lucy, kau juga sudah putus dengan Chris, setidaknya apa yang kau ucapkan padaku, bisa untuk dirimu sendiri."
Aku melepaskan genggaman tangan dan bersandar di sandaran kursi. Mataku memperhatikan layar televisi dengan tatapan sedih. "Jika seandainya Lucas menyukai diriku, aku hanya akan menyakiti perasaan pria itu pada akhirnya nanti. Lucy walaupun aku ingin move on dari Xander aku tidak bisa dengan mudah melupakan dan membuang semua perasaanku begitu saja. Aku tidak sepertimu yang sering memiliki hubungan." Aku mengusapkan telapak tangan ke wajah dan melanjutkan, "aku akan merasa bersalah kalau Lucas terluka karena diriku. Tidak sekarang Lucy .. mungkin di masa depan. Aku mencoba selangkah demi selangkah untuk move on, tapi jujur di sudut hati kecilku yang paling dalam, aku ingin kembali bersama dengan Xander." Walaupun aku kubur semua harapan itu dengan begitu cepat, tambahku dalam hati.
Lucy hanya menatapku sedih dan mengganti topik pembicaraan agar aku tidak lagi merasa sedih. Aku tersenyum kecil merasa berterima kasih dengan sahabatku yang sangat mengerti diriku. Kau yang terbaik, Lucy. Terima kasih banyak sudah mau berada disisiku, gumamku dalam hati.
***
Keesokan harinya ketika aku sedang membuat sarapan dan Lucy sedang membaca majalah gossip selebrity Hollywood, typical seorang Lucy tiba-tiba suara bel apartemen kami berbunyi.
Aku yang hampir selesai dengan kegiatanku memutuskan untuk menawarkan diri memembuka pintu depan karena Lucy terlalu sibuk membaca majalah dan akan marah jika diganggu.
Aku memutar bola mata melihat sahabatku begitu serius dengan dahi berkerut duduk di breakfast bar sambil membolak balik halaman majalah. Tanganku sibuk meletakkan menu sarapan yang telah selesai kubuat, lalu mencuci tangan.
Kemudian aku berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang datang melalui cctv. Anastasia? Aku berkerut samar dan membuka pintu. "Anastasia! Hei! Apa yang kau inginkan sampai datang kesini di pagi hari? " Tanyaku seraya membuka pintu lebar dan mempersilahkan temanku untuk masuk.
Dahi Anastasia berkerut samar dan menjawab, "memangnya tidak boleh aku datang di pagi hari?" Tentu aku menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban dan mempersilahkannya untuk duduk di sofa.
Anastasia adalah salah satu temanku di London. Kami pertama kali bertemu di Universitas karena memiliki passion yang sama, yaitu bermain music. Saat di Universitas dulu aku sempat mengikuti klub music, sedangkan Lucy ikut klub karate---Itu sebabnya aku tidak mau sahabatku marah---Lalu, di dalam pertemuan klub itu aku bertemu dengan Anastasia yang saat itu masih menjadi seniorku.
Dia adalah anak jurusan business Management dan sudah memasuki semester lima sedangkan aku baru memasuki semester tiga. Aku baru saja pindah dari New York saat itu, jadi sedikit canggung dengan lingkungan yang berbeda, belum lagi dengan aksen serta kebudayaannya.
Di dalam klub musik, Anastasia adalah pemain cello sedangkan aku bermain piano, dan karena bantuan Anastasia, perlahan rasa canggungku di dalam pertemuan klub music hilang dan akhirnya bisa berbaur dengan mudah.
Saat kami bertemu dan berbicara, aku merasakan perasaan klik dengannya. Sifatnya hampir sama dengan Lucy, mungkin yang membedakan keduanya kalau Anastasia merasa berada situasi serius, dia akan bersikap serius. Mungkin itu dipengaruhi oleh umurnya yang lebih tua, jadi bisa bersikap dewasa diantara kita bertiga. Sedangkan Lucy sama sekali tidak bisa melihat situasi serius. Dia tipe orang telat membaca situasi. Walaupun begitu, sama seperti aku dengan Anastasia, Lucy dan Anastasia juga memiliki kedekatan satu sama lain. Itu yang membuat kami menjadi tidak terpisahkan.
"Aku baru saja kembali dari perjalanan bisnis ke New York, lalu aku ingat kalau kau dan Lucy mengancamku untuk membawakan oleh-oleh. Jadi aku kesini untuk memberikan oleh-oleh kalian berdua." Anastasia berujar seraya memberikan dua tas belanja dengan merk ternama terpampang besar di depan tas tersebut.
"Apa yang kau beli Anna? Kau tidak perlu repot-repot membeli yang mahal untuk kami," ujarku sambil meraih tas belanja tersebut dan meletakkannya di atas sofa. Setelah itu aku menarik Anastasia ke dapur dimana Lucy berada. "Pasti kau belum sarapan bukan? Karena datang kesini pagi." Anastasia menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaanku. "Ayo sarapan bersama. Untung saja kami belum memulai sara---"
"ASTAGA!"
Teriakan Lucy yang membahana seketika mengagetkan kami berdua dan kami langsung bergegas menuju ke arahnya. "Lucy ada apa?" tanyaku dengan penasaran sekaligus khawatir. Lucy yang sadar dengan kehadiran Anastasia menyapa wanita itu sebentar sebelum menatapku dengan sedih. "Lucy?"
Lucy menggaruk kepalanya sebentar dan meletakkan majalah yang dibacanya di depanku. Aku mengerutkan kening dan berkata bingung, "kau tidak menyuruhku untuk membaca majalah gossip itu bukan? Aku bukan tipe membaca hal-hal seperti itu Lucy."
"Sudah baca saja."
Aku meraih majalah dengan ragu dan duduk di samping Lucy, sedangkan Anastasia duduk tepat di sebelahku. Dia juga penasaran dengan isi majalah yang mengagetkan Lucy. Aku melihat judul yang terpampang di majalah dan wajahku seketika memucat. Anastasia juga menarik napas terkejut saat membaca judul artikel yang ada di majalah. Aku menatap Lucy tidak percaya dan Lucy mengisyaratkan aku untuk kembali membaca artikel di majalah tersebut. Entah kenapa aku merasa perutku tiba-tiba mulas.
ALEXANDER VICE, MULTI-BILLIONAIRE DAN CEO DARI VICE INC. TERLIHAT BERSAMA SUPERMODEL CATHERINE CLARKE DI RESTAURANT BINTANG LIMA SEMALAM!
Jantungku berdegup dengan kencang saat mulai membaca isi artikel tersebut.
Semalam, eligible bachelor Alexander Vice terlihat makan malam berdua dengan model internasional Catherine Clarke di salah satu restoran bintang lima New York.
Sumber informasi mengatakan bahwa pasangan itu terlihat datang ke restoran tersebut bersama, lalu kemudian pergi dari restoran masih bersama. Mereka menuju salah satu bar terkenal di New York. Selama bersama, mereka terlihat selalu bergandengan tangan atau tangan Alexander melingkar di pinggang model cantik tersebut.
Catherine, si model cantik ini terlihat senang dan mencium pipi Alexander saat pria tersebut mengantar wanita itu kembali ke kediamannya di salah satu gedung apartemen mewah di Manhattan.
Setelah sekian lama apakah akhirnya sang multi-billionaire memutuskan untuk memiliki hubungan serius setelah menjadi lajang yang suka berganti wanita disampingnya. Apakah akan ada berita baik mengenai pasangan ini? apakah akan segera terdengar lonceng bel berbunyi?
Aku langsung menutup majalah terkutuk ini tanpa menyelesaikan artikel tersebut. Hatiku terasa dicabik-cabik dan aku tidak sadar kalau air mataku mengalir di pipi. "Lina jangan menangis. Lupakan pria itu," ujar Lucy sambil mengusap punggungku pelan.
Aku mendengar Anastasia berkata, "aku ke New York untuk business meeting dengan The Vice Inc. Dan aku bertemu dengan Alexander. Saat itu dia terlihat begitu dingin dan menakutkan. Untung saja hanya beberapa jam berurusan dengannya, kalau aku bekerja di bawah arahannya aku tidak tahu apa jadinya nanti." Aku menatap Anastasia aneh dan menggeleng pelan.
"Apa maksudmu Anna?" aku bertanya sambil menghapus air mata yang membasahi pipi dengan lengan baju.
"Ekspresinya Lina. Sangat dingin dan tatapannya itu menyeramkan. Aku rasa saat itu dia sedang bad mood atau entahlah, tapi saat aku bertanya ke salah satu karyawan disana mereka bilang memang atasannya seperti itu, sangat menakutkan." lalu Anastasia membuka majalahnya kembali dan menunjuk foto Xander. "Ekspresinya saat rapat sama seperti ini. datar, dingin, arogan. Aku heran kenapa kau bisa punya masa lalu dengannya Lina. Walaupun dia tampan dan kaya aku tetap ingin jauh-jauh darinya."
Aku tertawa pelan.
Setelah itu Lucy dan Anastasia mulai membicarakan tentang gossip yang ada di majalah tersebut sedangkan aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Aku menatap pantulan diriku di cermin dan menghela napas. Kenapa Catherine lagi? Aku pikir ... aku menggeleng dan mencipratkan air ke mukaku dan mengganti pakaianku.
Aku mendengar dering ponselku berbunyi dan meraihnya dari atas nakas. Nama atasanku muncul di layar lalu aku mengangkatnya dengan enggan. "Halo?"