We are all travelers in the wilderness of this world, and the best we can find in our travels is an honest friend.
-Robert Louis Stevenson-
Angelina Rose Campbell POV
"Iya aku mengerti, tenang saja Lucas ... please jangan terlalu berlebihan mengenai itu ... Bye." Aku melemparkan ponsel kembali ke atas meja dan kemudian merebahkan diri di atas kasur. Gaun, aku harus mencari gaun malam untuk acara formal yang keluarga Lucas adakan. Acara yang mengharuskan diriku untuk memakai pakaian sesuai dress code, dress code seperti yang dikatakan pria itu, tapi ...
Aku menoleh ke arah lemari pakaian dan menimbang-nimbang. Kebingungan melandaku. Apakah aku harus menggunakan gaun pemberian Xander atau tidak untuk acara pesta. Sebenarnya, aku tidak mau membuat pilihan dengan menggunakan gaun itu sesuka hatiku, apalagi aku menolak gaun itu sebelumnya, tapi ini keadaan mendesak dan aku tidak ingin Lucas membelikanku gaun, dengan mengundang saja sudah sangat berarti bagiku.
Aku menghembuskan napas keras dan berjalan ke arah ruang tamu, dengusan keluar dari mulutku ketika melihat Lucy dan Anastasia sedang sibuk menonton acara di televisi dengan ekspresi serius serta mata yang tidak berkedip. Bahkan ketika aku memanggil mereka, tidak ada respon yang dibrrikan. Tanpa banyak bicara aku memutuskan bergabung dengan mereka untuk menonton, tapi bukan berarti aku sama seperti kedua temanku. Aku sama sekali tidak fokus menonton dan pikiranku memilih untuk lari entah kemana.
Aku bingung antar membeli gaun, menerima tawaran Lucas untuk membelikanku gaun, atau memakai gaun pemberian dari Xander. Gaun pemberian Xander sangat cantik dan ada perasaan tidak tega kalau tidak menggunakannya. Kalau aku membeli yang baru-
"Lina apa yang sedang kau pikirkan?" suara Lucy yang keras, membuatku tersadar dari pikiranku sendiri dan sukses membuat diriku kaget, segera aku menatapnya dengan tatapan tajam sebelum menggeleng pelan.
"Darimana kau tahu aku sedang berpikir?" Tanyaku dengan asal.
Lucy menghela napas. Tangannya meraih remote dan mengecilkan suara tv, dan itu membuat Anastasia juga terfokus padaku. "aku sudah memanggil namamu beberapa kali, tapi kau tidak bereaksi sedikitpun. Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu dirimu?" Tentu saja aku menjawab dengan gelengan pelan. Aku menghembuskan napas keras dan mengusap wajahku menggunakan kedua telapak tangan dengan gusar. "Lina-"
Akhirnya aku memutuskan untuk menyuarakan pikiran yang sedari tadi menggangguku. "Sebenarnya, aku tidak tahu Lucy," ucapku dengan pelan. "Terdengar masalah yang sepele jika dijelaskan, tapi bagiku tidak." Jeda sejenak. Aku menggigit bibir bawah dan menambahkan, "aku sedang dilema."
"Apa maksudmu? Dilema kenapa?" Tanya Anastasia tiba-tiba. Wanita itu sudah bangkit berdiri dari sofa dan merenggangkan seluruh otot tubuhnya, kemudian berjalan ke arahku dan duduk di lantai, tepat di dekat kakiku. Punggungnya menyender di sofa dan kakinya diluruskan. Posisi nyaman yang selalu Anastasia lakukan jika kami ingin melakukan sesi curahan hati.
Aku menggeleng pelan dan berdiri dari sofa, kemudian berjalan menuju jendela untuk melihat pemandangan sekeliling gedung apartemen. Aku bersyukur karena apartemen yang aku tempati bersama Lucy berada di lokasi strategis dengan harga yang terjangkau. Pemandangan taman kota, jauh dari kebisingan jalan raya, dan juga lokasi yang dekat dengan rumah sakit tempatku bekerja. Walaupun memasuki apartemen harus memasuki gang, tapi bagiku sama sekali tidak masalah.
"Aku ... " aku berhenti sebentar untuk mencari kata yang tepat dalam menjelaskan pikiranku saat ini. "Lucas , dia bilang acara itu bersifat formal, dan karena aku adalah pasangannya untuk malam itu, jadi aku harus ... umm ..."
"Cantik?" ujar Lucy.
"Menawan?" timpal Anastasia.
Lalu mereka berdua saling bertatapan. "sexy!" teriak mereka berdua secara bersamaan, kemudian melakukan tos sambil tersenyum lebar.
Melihat tingkah kedua teman yang sama sekali tidak membantu, aku hanya memutar bola mata dan mengangkat bahuku tak acuh. Tebakan mereka tidak buruk munurutku, tapi ... "lalu apa yang jadi masalah?" Tanya Lucy dengan bingung. Dahinya mengerut dan bibirnya mengerucut. Ekspresi bingung yang bagi kaum pria adalah ekspresi menggemaskan, dan itu adalah salah satu daya tarik seorang Lucy. Ditambah dengan wajah Lucy yang memiliki wajah baby face, Lucy membuat semua orang terkadang salah menilai umur dan wataknya.
"Aku tidak punya gaun malam." gumamku pelan, akhirnya mengakui kegundahanku yang sedari tadi mengisi kepalaku. Aku tidak akan menyinggung soal gaun pemberian Xander dan berharap kedua temanku melupakan akan eksistenti gaun tersebut. Lucy menatapku dengan tatapan aneh seolah kalimatku baru saja adalah kalimat terbodoh yang di dengarnya keluar dari mulutku.
"Kau memiliki gaun malam, Lina. Gaun malam mewah, pemberian Xander. Jadi kenapa kau berkata seperti itu?" Lucy menatapku dengan tatapan polos, namun aku dapat melihat pancaran misterius dari kedua bola mata wanita itu.
Aku menghela napas pelan seraya menggelengkan kepala tidak setuju, lalu aku menghampiri kedua temanku yang berada di sofa dan berdiri di depan mereka dengan kedua tangan yang terlipat di atas d**a. "aku tidak bisa menggunakannya," gumamku dengan sedih. Mataku tidak beralih sedikitpun dari gaun pemberian Xander. Aku ingin sekali menggunakan gaun itu---gaun yang begitu indah, tapi aku tahu Xander seperti apa. Dia tidak akan suka jika aku menggunakan pemberiannya untuk orang lain.
"oh ayolah Lina ... itu gaun khusus untukmu. Daripada sayang hanya kau simpan hingga berdebu, lebih baik kau gunakan nanti saat acara pesta. Tidak ada ruginya bukan?" aku kembali menggelengkan kepala tidak setuju. Sebenarnya ucapan Anastasia benar, tapi entah kenapa aku ragu untuk menggunakannya.
"Anastasia benar. Gaun itu diberikan padamu untuk dipakai. Jadi apa masalahnya? Lagipula pria itu memberikan gaun itu untukmu, jadi daripada sayang, lebih baik kau pakai. Lebih irit juga."
Aku sungguh ingin menggunakan gaun itu, tapi aku tidak bisa menggunakan gaun itu untuk orang lain. Aku yakin Xander memberikan gaun itu padaku untuk aku gunakan di depannya bukan di depan pria lain.
"Kita belanja kalau begitu." usul Anastasia dengan mata yang berkibar penuh semangat. Si Ratu belanja akhirnya muncul dan siap untuk berperang. Aku memutar bola mata melihat Anastasia yang seperti anak kecil kegirangan.
"Aku tidak bisa, uangku sudah aku gunakan untuk pulang ke New York," jawabku dengan tatapan memelas.
"Kartu kredit?" aku menggeleng pelan. Aku menggunakan kartu kredit hanya untuk keadaan emergency, bukan untuk keadaan seperti ini. "Sudahlah apa yang dikatakanku memang benar. Pakai saja gaun pemberian pangeranmu itu" Anastasia berkata dengan nada sarkatis di kalimat terakhirnya, sebelum bangkit dari posisinya dan berjalan dengan santai ke kamarku.
"Apa yang ingin kau lakukan? Dan dia bukan pangeranku Anna!" Ujarku sambil berjalan menyusulnya. Anastasia hanya meresponku dengan mengibaskan tangan tidak peduli sambil meneruskan langkahnya menuju lemari pakaian. Dia membukanya seolah lemari itu adalah miliknya dan mencari barang yang dia cari, yaitu gaun pemberian Xander.
Setelah menemukan barang yang dicari, Anastasia memperlihatkan gaun itu padaku. "Ini gaun yang sangat indah, Lina. Kalau gaun ini diberikan padaku. Aku akan dengan senang hati menggunakannya."
Aku mencoba meraihnya dari tangan Anastasia, "Berikan padaku!" aku terus menerus meraihnya, tapi Anastasia terus menjauhkan gaun itu dari jangkauanku.
"Aku akan memberikannya kalau kau setuju untuk menggunakannya di acara yang kau bilang itu. Acara pesta formal bersama Lucas." Dengan penuh kekalahan, akhirnya aku menganggukkan kepala dan menggumamkan kalimat persetujuan, lalu ketika Anastasia menurunkan tangannya, dengan cepat aku menarik gaun itu kembali dari tangan temanku itu, lalu meletakkannya di tempat semula. Terkadang aku kesal dengan tinggi Anastasia yang seperti model, sama sekali tidak menguntungkanku. Dengan gerutuan pelan, aku kembali memasukkan kotak gaun ke dalam lemari dan menutup serta mengunci lemari. Pelajaran yang dapat diambil hari ini adalah mengunci lemari agar tidak ada yang berani membuka dengan seenaknya.
Anastasia tentu melihat upayaku dan hanya tertawa. Dia berkata kalau usahaku adalah percuma sebelum berjalan keluar kamar. Wajahku berubah cemberut karena sebal selalu saja menjadi bahan ledekan, sebelum ekspresiku berubah menjadi kesedihan.
Entah kenapa, tapi aku punya firasat buruk mengenai pesta nanti.