"That's the funny thing about old hurts-- they just wait for new heartache to come along and then show up, just as sharp and horrible as the first day you woke up with the world changed all around you."
-Lilith Saintcrow, Strange Angels (Strange Angels, #1)
Angelina Rose Campbell POV
Malam yang ditunggu akhirnya telah tiba. Tentu itu menurut Lucy, yang sudah lama tidak datang ke acara pesta seperti acara Gala malam ini, tapi tidak menurutku. Aku justru ingin malam ini tidak ada dan sama sekali terlewat, karena bagaimanapun juga, aku hanya menghadiri pesta ini dengan alasan pertemanan, sama sekali bukan keinginanku.
Ditambah lagi dengan firasat burukku yang semakin bertambah seiring waktu, dan saat bersiap-siap, aku ingin sekali meraih ponselku yang terletak di atas meja dan menghubungi Lucas kalau aku berubah pikiran dan tidak jadi datang ke pesta.
Namun semua pikiran yang berkecamuk di kepalaku pupus begitu saja saat melihat bayanganku di cermin. Wanita yang berada di cermin sangat berbeda. Dia terlihat seperti seorang putri yang begitu cantik dan siap untuk menyambut sang pangeran, dan aku tidak menyangka bahwa wanita itu adalah aku. Ya, aku.
Terdengar seperti memuji diri sendiri, tapi kalian juga akan memberikan reaksi yang sama jika berada di posisiku. Rasanya seperti seorang Cinderella. Apakah ini perasaan yang dirasakan Cinderella saat ibu peri mengubahnya menjadi seorang putri?
Seperti diskusi sebelumnya, malam ini aku menggunakan gaun malam pemberian Xander yang dipadu padankan dengan heels lima inci, thanks to Anastasia yang dengan berbaik hati mau meminjamkan sepatu heels berharganya padaku. Rambut serta make-up dibuat sesederhana mungkin agar semua tamu terfokus pada gaun yang kukenakan, namun masih terlihat elegan dan melengkapi penampilanku. Selain itu, aku hanya mengenakan sebuah aksesoris gelang pemberian Mom di hari ulang tahunku dan jam tangan.
Aku masih tidak percaya dan merasa kalau wanita itu bukanlah diriku sendiri. Walaupun saat aku masih mempunyai hubungan dengan Xander dan selalu berdandan seperti ini jika ada acara serupa, tapi tetap saja ini bukanlah gayaku. Semua ini terlalu mewah dan aku tipe wanita yang selalu berpakaian sederhana dan tidak berlebihan baik saat bekerja ataupun saat di situasi lainnya.
Aku membuang napas keras dan menoleh ke arah Lucy yang duduk di depan cermin dan sedang serius menggunakan eyeshadow. Lalu berbeda denganku, Lucy terlihat cantik dan cocok sekali. Dia menggunakan mini dress berwarna hitam dengan heels berwarna gold. Lucy memang lebih cocok bekerja di agensi model dibandingkan bekerja di rumah sakit. Bahkan terkadang aku iri dengan sahabatku yang begitu percaya diri.
Aku sering mengeksperisikan perasaanku itu padanya, dan justru dia bilang kalau diriku sangat cantik dengan penampilanku ini, tapi tentu di dalam hati aku sama sekali tidak setuju. Dia yang lebih cantik dibandingkan diriku. Mungkin itu salaj satu alasan Xander untuk selingkuh. "Apa yang sedang kau pikirkan Lina?" Lucy menatapku melalui pantulan cermin.
"Entahlah, aku merasa kalau aku tidak pantas dengan semua ini." Aku menyapukan tangan pada penampilanku di depannya untuk mwnegaskan ucapan. "Aku tidak nyaman juga merasa tidak percaya diri, dan aku berpikir kalau Xander melakukan semua yang terjadi di masa lalu karena aku memang tidak cantik."
Kali ini Lucy memutar tubuhnya dan menatapku dengan begitu lekat serta ekspresi datar. Dia menghela napas dan meletakkan alat make-up yang ada di tangannya dan bangkit berdiri, lalu berjalan ke arahku. "Please aku tidak mau topik ini kembali muncul setelah sekian lama Lina. Kau itu wanita yang cantik, pintar, berpendidikan, baik, dan kau pantas dengan penampilan seperti ini. aku selalu mengingatkanmu dari dulu kalau kecantikan bukan berasal dari penampilan, tapi berasal dari sini." Lucy meletakkan telapak tangannya tepat di tempat jantungku berdetak.
"Jadi kau tidak boleh berpikir kalau kau tidak pantas dengan semua ini. Buat apa Lucas memintamu menjadi pasangannya kalau kau tidak pantas? Bukan berarti Xander melakukan hal itu karena kau tidak cantik. Percaya atau tidak, kau itu sangat cantik Lina." Lucy tersenyum dan memegang bahuku pelan. "Lihat matamu, mata cokelatmu yang selalu memancarkan kehangatan, rambut cokelat gelapmu yang lembut dan sempurna, Lina kau harus percaya diri dengan dirimu sendiri. Jangan hanya karena satu orang pria, kau berkata kalau kau tidak pantas."
"Tapi---"
"Xander bodoh karena melepaskanmu Lina." Lucy memotong perkataanku. "Jadi jangan pikirkan tentang dia atau apapun yang berhubungan dengan masa lalu. Nikmati malam ini. Lagipula kau harus memberikan dukunganmu untuk Lucas. Aku tahu kalau dia sangat membutuhkannya. Kau paham?" Aku hanya mengangguk paham.
Setelah itu Lucy kembali melakukan aktivitasnya dan aku memutuskan untuk menonton tv dan menunggu Lucy selesai berdandan.
***
Pestanya bisa terbilang sangat mewah dan begitu elegan. Setiap desain diperhitungkan dengan matang, sebuah pesta yang memang ditujukan untuk kalangan atas.
Aku memutuskan untuk menemui Lucas di gedung acara dan pergi bersama Lucy juga pendampingnya, Chris. Dahiku mengerut samar saat menatap Chris. Entah kenapa aku tidak suka pada pria itu, baik saat sebelum maupun sesudah hubungan pria itu dengan Lucy. Untung saja aku bertemu dengan pria itu hanya malam ini. Lucy mau tidak mau mengajak Chris karena Lucy sedang tidak bersama siapapun sekarang.
Talk about a single woman.
"Lina!" suara yang sangat kukenal memanggilku dan benar saja saat aku melihat, Lucas berjalan ke arahku dengan senyum lebarnya. Malam ini Lucas terlihat sangat tampan. Dengan setelan jas mahal yang dibuat khusus untuknya serta rambut yang ditata dengan rapih membuat pria itu dilirik oleh banyak wanita saat dia berjalan menghampiriku.
Senyumku seketika mengembang cerah dan aku berjalan ke arahnya. Saat kami berdua sudah dekat, tanpa pikir panjang Lucas memelukku dan berbisik di telingaku. "Kau sangat cantik sekali malam ini." Pipiku seketika merona merah dan membisikkan kata 'terima kasih' dengan sangat pelan.
Lucas hanya terkekeh pelan lalu menyapa Lucy beserta Chris. Aku kembali mengerutkan kening mengingat Chris, tapi seketika berubah jadi senyum saat Lucy menatapku. Aku tidak mau kalau dia tahu mengenai perasaanku mengenai Chris. Lagipula mereka berdua masih berteman.
Tangan Lucas melingkar di pinggangku dan menuntunku ke dalam ballroom dan membawaku menuju meja yang sudah tersusun dengan rapih. Aku duduk di meja utama bersama dengan Lucas juga keluarganya dan tamu kehormatan.
Saat aku duduk dan Lucas duduk setelahku, aku mencondongkan badan ke arahnya dan berbisik, "selamat atas pencapaianmu, Lucas." Lalu aku mengecup pipinya singkat. Lucas tersenyum lebar padaku dan kemudian mengenalkanku kepada keluarganya.
Malam berjalan dengan nyaman karena keluarga Lucas yang begitu baik dan humoris seperti Lucas, apalagi ibunya---Maria, yang tidak henti bercerita padaku mengenai Lucas di masa sekolah.
Aku tertawa mendengar kisahnya dan aku bisa melihat pipi Lucas sedikit memerah sambil mengerutkan kening dalam berusaha untuk menghilangkan rasa malunya yang disebabkan oleh ibunya sendiri. Aku melihat beberapa kursi di meja ini masih kosong dan bertanya pada Lucas, "kenapa masih ada kursi yang kosong Lucas?"
Lucas menoleh ke arah bangku yang kosong dan mengangkat bahunya tak acuh. "Mungkin mereka telat. Itu khusus untuk teman bisnis ayah dari New York. Anaknya akan datang untuk mewakili keluarga. Mungkin sebentar lagi mereka tiba," ujar Lucas sambil melirik jam tangan klasik yang melingkar di pergelangan tangan pria itu.
Responku hanya mengangguk pelan. Namun di dalam hati mulai merasakan perasaan kalut. New York? Firasat burukku kembali hadir. Setelah itu aku hanya diam dan sesekali menimpali perkataan Maria atau Lucas.
Saat makan malam mulai disajikan, tiba-tiba seluruh tamu yang hadir di dalam ballroom terdiam. Ruangan berubah menjadi sunyi dan sontak aku menatap ke arah Lucas dengan bingung. Sedangkan pria itu menatap ke arah pintu masuk dengan senyum lebar tersungging di bibirnya. Lalu dia berdiri dan menghampiri orang yang datang tersebut.
Aku bisa melihat seorang pria berjalan didampingi wanita tinggi di sisinya, namun aku tidak bisa melihat siapa mereka karena punggung Lucas yang menutupi pandanganku. Saat Lucas menyebutkan namanya aku baru tahu siapa pria itu dan firasat burukku selama ini berubah menjadi kenyataan.
"Alexander."
Seluruh tubuhku membeku seketika, ditambah lagi dengan Lucy yang duduk di meja berbeda dengan diriku membuat situasi semakin bertambah rumit.
Aku tidak bisa melihat siapa wanita yang bersamanya, tapi aku sudah bisa menebaknya siapa. "Ayo silahkan duduk dan bergabung bersama kami. Sepertinya kau lebih suka terlambat daripada datang tepat waktu Alex." aku hanya bisa mendengar tawa Xander dan tidak bisa mendengar responnya.
"Oh aku hampir saja lupa. Perkenalkan pendampingku malam ini." Oh tidak! aku berharap saat ini, di detik ini juga aku bisa menghilang seketika atau tanah menelanku bulat-bulat agar aku tidak berada di situasi seperti ini. Lucas menghampiriku dan menyuruhku untuk berdiri dan ikut bersamanya. Dengan setengah hati, Aku menerima uluran tangan Lucas dan mencengkeramnya kuat.
Tanganku yang dingin kontras dengan tangan Lucas yang hangat. Lalu ketika aku bertatapan muka dengan dua orang yang baru saja datang, aku bisa mendengar tarikan napas dari wanita yang berada di samping Xander.
"Alex perkenalkan wanita cantik yang menjadi pendampingku, Angelina." aku hanya tersenyum sopan dan semakin mengeratkan peganganku di tangan Lucas. "Lina, perkenalkan dia adalah Alexander Vice dan wanita yang berada di sampingnya adalah Catherine." Aku bisa melihat mata Catherine yang mulai berkaca-kaca karena melihatku untuk pertama kali.
Setelah kejadian malam itu, aku langsung memutuskan hubungan dengan Catherine. Catherine adalah sepupu terdekatku, tapi semenjak itu hubungan kami berubah drastis. Catherine yang tidak tahu kalau aku memergokinya berselingkuh dengan Xander merasa bingung karena aku menjauhinya dan tidak lagi berbicara padanya.
Saat kami kembali ke meja, aku bisa merasakan mata Xander menatapku tajam dan tubuhku semakin terasa kaku. Aku bergidik karena tatapan mata pria itu yang bagaikan laser. Selama sesaat, aku menoleh ke arah Lucy dan mendapati temanku itu sedang menatapku dengan khawatir. Aku memberikannya senyum kecil dan menenangkan padanya lalu kembali duduk.
Selama acara makan malam dan pembukaan juga penobatan Lucas sebagai CEO baru perusahaan keluarganya, aku bisa merasakan mata Xander menatapku lekat dan tidak teralih sedikitpun, hanya sesekali dia mengalihkan tatapan matanya jika seseorang mengajaknya untuk bicara. Namun setelah itu matanya akan kembali terfokus padaku.
Aku mulai duduk dengan gelisah dan berdoa dalam hati agar acara ini cepat selesai. Entah perasaan atau insting, aku bisa merasakan mata Xander memperhatikan gaun yang aku kenakan. Sudah kubilang, memakai gaun ini adalah keputusan bodoh! Teriakku dalam hati.
Saat waktu dansa dimulai, aku berbisik ke arah Lucas untuk menemui Lucy. Aku berdiri dan semua pria yang duduk di bersamaku juga berdiri, etika ujarku mengingatkan diri sendiri, aku tersenyum singkat serta sopan lalu pamit.
Aku berjalan mencari Lucy dan menemukannya sedang berbicara dengan seorang wanita dan Chris yang berdiri di dekatnya. "Lucy!" Lucy menoleh dan mengatakan sesuatu kepada si wanita lalu berjalan ke arahku diikuti oleh Chris.
"Astaga Lina! Kau tidak apa-apa?" aku menggeleng pelan lalu memeluknya erat. "Aku ingin pulang. Rasanya aku ingin menangis saat melihat mereka berdua."
Lucy hanya mengusap punggungku dan berkata pelan, "kita akan segera pulang kau tenang saja." Belum sempat aku menjawab Chris membuka mulutnya. "Memangnya ada apa?"
"Bukan urusanmu Chris," ujarku dengan ketus.
Chris hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Hei aku hanya bertanya, tidak usah bersikap jutek seperti itu." Aku hanya menggumamkan 'go to hell' sebagau balasan, yang langsung disambut dengan tawaan oleh Lucy dan kerutan kening oleh Chris. "Sepertinya kau sedang datang bulan ya?" Chris menatapku dengan polos.
Kerutan di dahiku semakin dalam dan tawa Lucy semakin lepas sampai suara batuk terdengar. Aku menoleh dan melihat Lucas juga Xander berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri.
Lucas menatap kami dengan senyuman lebar dan Xander dengan tatapan dingin serta ekspresi datar yang menjadi andalannya. Aku tidak menghiraukan Xander dan memilih tersenyum kecil pada Lucas.
Mereka berjalan mendekati dan Lucas bertanya, "ada apa? Kenapa Lucy sampai tertawa seperti itu? aku bisa melihat tamu lain menatap Lucy seperti dia sudah .. ya kalian tahu lah."
"Maksudmu aku gila?" timpal Lucy. Lucas hanya mengangkat bahunya tak acuh. "Entahlah melihat Lina dan Chris bertengkar sangat lucu," ujar Lucy sambil menatapku dan Chris bergantian.
Aku menatap Lucy tidak setuju, tapi tidak berkomentar apapun. "baiklah aku ingin berkeliling lagi, ayo Chris nanti saja lanjutkan lagi menggoda Linanya." Setelah itu Lucy dan Chris pergi dan aku hanya memelototi punggung meraka.
"Percuma kau pelototi, mereka tidak akan menghilang begitu saja Lina." aku memalingkan pandanganku ke arah Lucas.
"Itu tidak lucu."
"Siapa bilang lucu? Kau memang mudah dikerjai bukan? Ingat tidak---"
"Lucas," potongku dengan tatapan sebal. Lucas hanya tersenyum jail dan tertawa melihat tatapanku.
"Kau tidak pantas kalau marah Lina." Aku hanya mendengus sebal, tapi sedetik kemudian aku ingat dengan kehadiran Xander.
Seketika saja tubuhku terasa kaku dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba Xander berbicara, "Lucas, bisa aku berbicara dengan Angelina sebentar?" tubuhku langsung merinding mendengar Xander menyebut namaku, sedangkan Lucas hanya menatap Xander bingung.
"Memangnya ada apa?" Tanya Lucas polos. Xander tidak menjawab apapun dan Lucas menghela pelan, lalu dia berjalan ke arahku dan mengecup pipiku lembut. "Aku akan berbicara dengan tamu lainnya Lina. Jangan terlalu lama, oke?" aku tersenyum kecil seraya menganggukkan kepala.
Setelah itu Lucas berjalan pergi aku bisa melihat punggung Lucas yang menjauh dan mulai menghilang di kerumunan tamu undangan. Setelah Lucas menghilang, aku bisa merasakan tangan Xander mencengkeram lenganku dan menarikku menjauh dari kerumunan. Dia menuntunku ke lorong yang terletak disudut ruangan.
Dan aku tahu berdua saja dengan Xander berarti pertanda buruk.