"One by one, drops fell from her eyes like they were on an assembly line - gather, fall, slide...gather, fall, slide...each one commemorating something she had lost. Hope. Faith. Confidence. Pride. Security. Trust. Independence. Joy. Beauty. Freedom. Innocence."
-Lisi Harrison, Monster High (Monster High, #1)-
Angelina Rose Campbell POV
Setelah lima menit berjalan dan dua kali belokan di lorong hotel, Xander mendorongku ke salah satu ruangan yang merupakan area lounge VIP, dikarenakan aku yang terus menarik tangan agar terlepas dari cengkraman pria b******k itu selama berjalan tadi, jadi ketika Xander melepaskan tangannya dariku, aku bisa melihat lingkaran merah membekas di seputar area pergelangan tanganku dan dapat menebak kalau lingkaran merah itu akan membekas kemudian berubah menjadi biru nanti.
Desisan keluar dari bibirku diikuti dengan gerutuan kesal, namun semua itu hilang ketika aku mendengar bunyi suara click tanda pintu terkunci.
Seketika aku membalikkan badan dengan begitu cepat dan memberikan tatapan tajam pada Xander, yang saat ini sedang menatapku intens, tapi karena merasa tidak nyaman mendapat tatapan tajam pria itu, aku memutuskan untuk mengalihkan pandangan dengan mengedarkan mata ke seluruh area lounge. Mengamati setiap sudut ruangan dan mencari jalan keluar lain, yang tentu saja jawabannya adalah tidak ada.
Area lounge ini kuakui begitu mewah, karena memiliki tema yang sama seperti seluruh ruangan lain di hotel ini, mewah. Dengan beberapa sofa empuk serta meja kaca yang terletak di tengah ruangan. Kemudian ada bar kecil yang terletak di sisi kanan ruangan, lampu duduk beserta meja kecil klasik yang harganya selangit, dan karpet import mahal serta lukisan indah yang terpajang di dinding, oh tentu saja jangan lupakan mengenai dinding kaca yang membentang besar di salah satu sisi ruangan lounge, memperlihatkan pemandangan malam luar hotel yang luar biasa menakjubkan. Siapapun yang mendesain hotel ini, pasti memiliki selera yang sangat hebat hingga dapat menciptakan tempat seindah ini.
Aku tersadar dari kekaguman akan sekeliling ruangan ketika mendengar langkah kaki Xander yang dengan santai berjalan mendekatiku. Tubuhku seketika berubah menjadi kaku hingga aku tidak sanggup bergerak. Aku begitu tegang dan mataku kali ini bergerak liar, kembali mencari jalan keluar untuk melarikan diri, tapi satu-satunya jalan kebebasanku hanyalah pintu yang sudah dikunci oleh Xander.
Akhirnya pria itu berhenti tepat di depanku, membuatku secara otomatis menundukkan kepala karena tidak mau melihat wajahnya. Bagiku lantai matmer beralaskan karpet tebal lebih menarik bagiku dibandingkan pria yang sedang berdiri di depanku.
Aku bisa merasakan tatapan Xander yang masih menatapku dengan intens. Setelah beberapa menit dalam keheningan yang terasa seperti beberapa jam, akhirnya Xander membuka mulut dan berkata, "tatap mataku, Angel." Tentu saja aku mengabaikan ucapannya dan tetap menundukkan kepala, sedangkan tanganku sibuk memelintir kain gaunku, menandakan bahwa aku gugup atau sedang berada di dalam situasi yang tidak nyaman. "Aku bilang tatap mataku! Kau tahu aku paling tidak suka jika harus mengulang kalimatku."
Badanku langsung gemetar ketika mendengar nada dingin Xander. Walaupun begitu aku tetap kukuh pada pendirianku dengan menundukkan kepala. Detik itu aku sedang menundukkan kepalaku dan di detik berikutnya Xander mencengkeram daguku dengan erat ditangannya, kemudian memaksa kepalaku untuk mendongak, yang otomatis membuat mataku langsung menatap matanya.
Saat manik hijauku bertemu dengam manik biru milik Xander, napasku tercekat. Manik biru milik Xander sedang menatapku dengan dingin serta menusuk. Seolah dengan matanya itu, dia bisa melihat diriku sampai ke dalam jiwaku. Aku menatapnya tanpa berkedip. Mulutku membentuk huruf 'O' dengan sempurna karena terkejut dan tubuhku semakin gemetar, karena ini pertama kalinya pria itu menatapku seolah aku adalah musuhnya yang sangat dia benci dan entah kenapa hatiku terasa seperti diremas oleh ribuan tangan saat menyadari itu, tapi walaupun begitu, tatapan pria itu hanya sementata, beberapa saat kemudian aku melihat perubahan di mata Xander, yang awalnya begitu dingin, seketika berubah menjadi lembut dan ada sedikit pancaran nafsu disana.
Samar aku mencium aroma alkohol menguar darinya dan seketika menelan liurku saat Xander dengan santainya melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggangku, kemudian menarik tubuhku sampai setiap inci tubuhku menempel dengan tubuhnya yang memancarkan kehangatan. "Kau tahu apa yang ada di dalam pikiranku saat melihatmu berdiri di hadapanku dan mengenakan gaun itu, Angel?" aku menggeleng pelan tanpa mengalihkan tatapan dari matanya yang sukses menghipnotisku. Respon terburuk yang membuatku terkadang membenci diriku sendiri karena begitu menyukai manik biru Xander.
Kemudian pancaran kelembutan itu perlahan berubah menjadi tidak terbaca. Dia mengalihkan tatapan matanya dari mataku ke bibirku selama sesaat, sebelum akhirnya kembali terfokus pada kedua mataku. "Aku ingin sekali membawamu ke kamarku dan menikmati malam denganmu, lalu kau mau tahu selanjutnya? Oh tentu saja." Xander berujar dengan suara yang berat nan menggoda, namun aku dapat mendeteksi nada ejekan di dalamnya. "Hal pertama yang akan aku lakukan adalah merobek gaun itu dari tubuhmu." Seketika napasku kembali tercekat saat Xander mendorongku ke dinding dan meraih kedua pergelangan tanganku, lalu mengangkat kedua tanganku ke atas kepala dengan satu tangannya, memgunciku agar tidak dapat berkutik ataupun memberontak darinya.
Setelah itu dia kembali menempelkan tubuhnya ke tubuhku, mengurungku di antara dinding dan tubuhnya yang besar dan kekar. Kemudian Xander melingkarkan satu tangannya yang bebas ke pinggangku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku lantas berbisik, "tapi karena kau mengenakan gaun pemberianku itu untuk orang lain, membuatku mengurungkan niat. Kau telah membuatku gila akan kecemburuan ini, Angel. Apa kau tahu itu?" Xander mengulum daun telingaku singkat yang sukses menimbulkan tarikan napas terkejut berasal dari mulutku.
Aku ingin sekali keluar dari situasi menggelikan ini, namun dia lebih kuat dariku, hingga aku tidak bisa melakukan apapun. Aku mulai meronta agar terlepas dari cengkramannya dan berkata, "aku tidak tahu kalau kau akan datang ke acara ini. Jika saja aku tahu, maka aku akan menolak tawaran Lucas. Aku tidak mau berada satu ruangan denganmu apalagi wanita itu." Desisku tajam sambil terus berusaha melepaskan kedua tanganku dari genggamannya.
Respon Xander hanyalah tertawa getir, kemudian wajahnya berubah menjadi gelap dan mengeratkan genggamannya di kedua tanganku. "Jangan bergerak!" seketika aku berhenti bergerak, karena entah kenapa tubuhku menuruti perintahnya. Xander menatap mataku kembali dengan tatapan dingin.
"Aku mohon, lepaskan aku," pintaku dengan bisikan pelan. Aku akan terus berusaha, tapi jika Xander tidak melepaskanku juga, maka aku akan melakukan cara lain. Cara klasik yang digunakan oleh wanita lainnya.
Menyerang titik lemah para pria.
Xander hanya menatapku lalu tersenyum dingin. "Kau pikir aku akan dengan mudah melepaskanmu dengan mudah begitu saja, hmm?" air mataku mulai menggenang di sudut mata dan siap jatuh kapan saja.
"Aku mohon, lepaskan aku..." Sekali lagi aku meminta secara baik-baik padanya. Aku menebak Xander dalam keadaan setengah mabuk, karena pria itu seperti kehilangan sedikit kendali dan kontrolnya.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU! APA KAU DENGAR ITU, ANGELINA? KAU MILIKKU!" Teriak Xander murka dengan manik biru yang memancarkan kemarahan begitu besar. "Jadi jangan pernah meminta hal itu lagi dariku. Aku tidak peduli jika kau membenciku. Aku sama sekali tidak peduli. Kau adalah milikku dan aku tidak suka orang lain menyentuh apa yang menjadi milikku. Kau adalah milikku selamanya. Tanamkan itu di dalam otakmu." Seketika air mataku memilih untuk bebas dan mengalir dengan cepat di pipiku sebelum akhirnya jatuh ke lantai. "Apa kau mengerti Lina?" aku mengatupkan rapat. Memilih untuk dan diam tidak menjawab apapun. "Apa kau mengerti?" Tanya Xander sekali lagi dengan nada tegas.
Aku mengengguk pelan. "bagus. Kau harus tahu posisimu Lina. KAU. MILIKKU. APA KAU DENGAR ITU? MILIKKU." Tanpa menunggu respon dariku, Xander mendekatkan wajahnya dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Menciumku dengan ciuman yang kasar dan menghukum.
Ciuman itu penuh dengan rasa amarah, posesif, dan juga kepemilikan. Namun ada sedikit kelembutan di balik semua itu seolah meyakinkan kalau aku bukanlah mimpi dan nyata. Setelah beberapa saat, bibir kami akhirnya terlepas dan Xander mulai mencium dagu, pipi, lalu turun ke area leherku yang aku yakin akan meninggalkan jejak merah basah, meninggalkan kissmark yang dapat dilihat oleh banyak orang. Aku menarik napas panjang dan tubuhku semakin gemetar hebat, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Ketika Xander sibuk melakukan eksplorasi ditubuhku, dengan perlahan aku memejamkan mata, kemudian aku mengayunkan kaki sekuat tenaga dan menendang selangkangannya.
Seketika suara erangan terdengar dari bibir Xander dan pria itu perlahan berlutut di lantai sambil memegang area privatnya. Tanpa memikirkan apapun lagi ataupun melihat keadaan Xander, aku berlari ke arah pintu keluar dan berusaha untuk membuka pintu, tapi tidak berhasil karena pintu yang terkunci. Aku menarik gagang pintu dan mengepalkan tangan seraya menggedor pintu, berteriak meminta tolong pada siapapun yang ada di luar sana. Aku berharap ada yang mendengar, tapi harapanku semakin menipis ketika tidak mendengar respon.
Aku kembali berusaha membuka kunci. Menarik, mendobrak, bahkan menendang, tapi tetap tidak berhasil. Ketika akhirnya aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, sukses membuatku terdiam. "Xander," lirihku penuh teror. Satu tangan pria itu melingkari pinggangku. Dagunya diletakkan di bahuku sedangkan tangannya yang bebas berada di depanku, menunjukkan sebuah kunci yang merupakan kunci dari pintu ruangan ini.
"Apa kau membutuhkan ini?" Xander terkekeh pelan. Dia menggenggam kunci tersebut dan seketika kunci kebebasanku hilang begitu saja. "Apa kau tahu kesalahanmu, sayang?"
"Xander, aku mohon lepaskan aku ... kau mabuk ..."
Dia berdecak pelan dan mengeratkan rangkulannya di pinggangku. Wajahnya dibenamkan di leherku dan aku bisa mendengarnya menghirup aroma tubuhku. "Jika saja kau tidak melakukan itu, mungkin aku akan mengampunimu."
"Xander ..."
"Shh! Kita buat malam ini penuh dengan kenangan. Bagaimana menurutmu?" Setelah menanyakan pertanyaan itu, Xander mengangkat tubuhku dan membawaku ke arah sofa. Satu tangannya yang bebas mengunci kedua tanganku. Aku berusaha menendang dengan kedua kakiku, tapi tentu saja usahaku sama sekali tidak berhasil.
Hingga akhirnya Xander melepaskan tangannya dari kedua tanganku dan pinggangku lalu melempar tubuhku ke atas sofa. Aku hanya bisa menatapnya penuh kebencian saat Xander berjalan menghampiriku dengan langkah pelan penuh perhituangan, seperti seekor predator yang sedang menatap mangsanya penuh lapar.
Xander meraih dasinya dan menarik benda itu dari leher lalu melempar benda tersebut dengan asal. Dia juga melepaskan jasnya yang letakkan ke atas meja. Aku mulai merasa takut dengan niat pria itu. Ketika aku berusaha untuk bangun, Xander akan kembali mendorongku ke sofa dan membuatku tetap berbaring disana. Dia menyeringai dan memperhatikan tiap lekuk tubuhku. Sambil mengulung lengan kemejanya, Xander bergumam pelan, "kita lihat apakah kau masih mengingatku? Dan anggap saja ini adalah hukumanmu karena bersama dengan pria lain dihadapanku." Setelah itu Xander mencengkeram kakiku dan menarikku. Lalu dia melepaskan sepatuku disusul gaun yang aku kenakan, sebelum menindih tubuhku dengan bobot tubuhnya yang berat.
Saat itu juga aku merutuki nasibku yang begitu sial.
***
Setelah Xander selesai dengan tubuhku, dia kembali mengenakan pakaiannya sedangkan aku hanya bisa menangis dalam diam sambil berbaring dengan lemas di atas sofa. Seluruh ruangan dipenuhi oleh aroma seks dan keringat, membuatku jijik dengan diriku sendiri yang tidak bisa melawan. "apa yang sudah kau lakukan Xander?" bisikku pelan dan penuh luka.
Xander berhenti mengancingkan pakaiannya dan termangu di tempat, seolah dia sedang menyadari akan perbuatannya. Aku terisak pelan dan mengangkat kepalaku untuk menatap Xander, memberikannya tatapan penuh benci yang begitu nyata.
Dia balas menatapku dengan tatapan terkejut dan ada sedikit pancaran takut yang mengiringi. Namun, seketika itu semua hilang dan berganti menjadi tatapan datar serta dingin. Dia berjalan ka arahku dan mencengkeram pundakku.
"Apa kau tidak mau bersamaku Angel?" tanyanya dengan tajam menusuk.
Air mataku terus menetes dengan deras. "Aku---" Xander terus menatapku tajam, menunggu jawaban keluar dari mulutku. "---Xander bukan seperti ini caranya."
"F*CK! AKU TIDAK PEDULI!" Xander mengacak rambutnya dengan kasar. Dia menatapku sambil berkata dengan tajam. "aku tidak peduli apa yang kau katakan Angel. Aku akan mendapatkan sesuatu dengan caraku sendiri. Seperti kau. Sudah cukup aku memohon dan berlutut. Aku tidak bisa melepaskanmu lagi setelah lima tahun kau pergi meninggalkanku. Kau tahu? aku hampir gila Angel! Tidak sekarang tidak juga selamanya. Kau selamanya adalah milikku! Hatimu, tubuhmu, jiwamu, seluruh dirimu adalah milikku. Ini adalah caraku untuk memgklaimmu, memgingatkanmu lagi siapa yang memilikimu. Aku. Kau milikku. Apa sekarang kau mengerti Angel?" aku hanya terisak pelan dan memilih menganggukkan kepala. Semua sudah terjadi, tapi bukan berarti aku akan menerima perkataan pria itu.
Aku bukan milik siapapun, selain diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan kejadian ini terulang dan membuat Xander mengontrol hidupku. Aku akan buktikan kalau perkataannya adalah salah. Aku memang tidak tahu sisi lain Xander akan seperti ini. aku hanya mengenal sisi Xander yang perhatian, sabar, walaupun terkadang bisa sangat menyebalkan dengan tingkah lakunya yang bodoh, serta keposesifan dan sifat mengontrolnya, tapi akhirnya sekarang aku tahu, dan aku bisa mengantisipasi semua itu di masa depan.
Pantas saja dia juga tidak pernah mau menunjukkan sisi buruknya padaku, ketika dia marah dia akan menjauh dariku. Dia bilang aku terlalu berharga untuk melihat 'sisi monster' yang ada pada dirinya. "Cepat pakai bajumu, kita harus kembali ke pesta, atau semua orang akan bertanya-tanya." Aku memilih menuruti perintahnya dan mulai bangkit kemudian meraih gaunku. Ucapan Xander benar, semua orang akan bertanya-tanya dan aku tidak mau mengulang kembali kejadian di tempat ini.
Perlahan aku kembali mengenakan gaun sambil terisak pelan. Lalu aku meraih sepatu heels dan mengenakan benda itu di kakiku, setelah selesai Xander mengulurkan tangannya dan aku meraihnya tanpa protes.
Kemudian kami berdua berjalan ke arah pintu. Xander membuka kunci pintu dam pintu terbuka, kami berjalan keluar menuju ke aula dimana pesta berlangsung, aku bisa mendeteksi kepuasan dari wajah Xander. Seolah dia memenangkan hadiah spektakuler.
Tangannya melingkar ringan di pinggangku. Sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepala. Sebelum kami kembali ke dalam pesta, Xander berbisik pelan, "jangan katakan apapun tentang apa yang terjadi di lounge dan setelah acara ini selesai, pulang dan tunggu aku. Aku akan menjemputmu di apartemen. Saat aku datang aku ingin kau sudah merapihkan semua barang-barangmu."
aku langsung menatapnya bingung. "Kenapa?"
Xander tidak mengatakan apapun selama beberapa saat, tapi kemudian Xander menjawab. "kau kembali bersamaku ke New York. Kita akan melangsungkan pernikahan. Hal yang seharusnya kita lakukan lima tahun yang lalu." Setelah mengatakan kalimat bom itu, Xander meninggalkanku berdiri terpaku di tempat.
Air mataku perlahan menetes kembali, karena aku tidak mau semua orang terlebih lagi Lucas melihat keadaanku yang hancur berantakan, aku memutuskan untuk pergu ke toilet dan merapikan penampilan serta make-up. Saat akhirnya aku kembali bergabung ke pesta, aku mencari Lucy dan Lucas. Sepuluh menit aku mencari dan tidak menemukan Lucy, tapi aku bernapas lega karena menemukan Lucas.
Setiap langkah yang kuambil, aku meringis pelan karena merasakan rasa nyeri di area bawahku, dan juga rasa tidak nyaman. Mengingatkanku kembali bahwa kejadian itu adalah mimpi buruk yang nyata.
Aku melihat Lucas sedang berbicara dengan beberapa orang---termasuk Catherine dan Xander. Astaga apa yang harus aku lakukan? Tanyaku dalam hati. Setelah mengumpulkan keberanian dan tekad, aku berjalan pelan dengan postur yang kaku ke arah Lucas.
Setelah aku dekat dengan mereka, aku bisa merasakan Xander menatapku sangat lekat, tapi aku berusaha tidak mengacuhkannya dan memanggil Lucas. Lucas menoleh dan tersenyum hangat padaku. "Disitu kau rupanya Lina, aku mencarimu kemana-mana. Kau habis dari mana? Cukup lama kau menghilang." Lucas menarikku dalam rangkulannya dan tubuhku semakin tegang karena merasakan tatapan Xander yang semakin tajam.
"A...a-aku ... aku menghirup udara segar diluar." Lucas hanya mengangguk mengerti dan percaya begitu saja dengan kebohonganku.
Dia mengecup pipiku pelan dan meminta izin untuk pergi kepada para tamunya lalu menarikku ke arah balkon. Saat berada balkon, Lucas menatapku khawatir. "Ada apa denganmu Lina? Apa kau baik-baik saja?"
Aku menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya lelah Lucas."
"Kau yakin?"
Aku mengangguk. Air mataku mulai kembali menetes karena perhatian Lucas padaku. Kenapa Xander yang dulunya adalah pangeranku berubah menjadi seperti itu, menjadi monster. Aku juga tidak tahu.
Aku rindu dengan perhatian Xander padaku. Saat melihat Lucas seperti ini padaku aku jadi ingat masa lalu, saat Xander yang begitu perhatian padaku. Kenapa aku tidak bertemu dengan Lucas lebih awal? Dengan begitu, mungkin saja aku sudah hidup bahagia sekarang. Kenapa? Kenapa? Jika aku bertemu dengan Lucas lebih awal, jika aku mencintai Lucas ... semuanya hanya ada kata kenapa dan jika. Aku tidak sadar air mataku mengalir dan akhirnya aku terisak pelan.
Lucas yang sadar dengan kondisiku langsung menatapku sedih dan penuh akan kekhawatiran. Dia memelukku dengan erat, membisikkan kata-kata yang menenangkan di telinga dan hatiku yang rapuh. Lucas membiarkan aku menangis di dalam pelukannya. Memberikan kehangatannya padaku di udara malam yang begitu dingin. Saat aku mulai tenang, Lucas meninggalkan aku sebentar untuk mencari Lucy. Dan tidak lama kemudian, Lucas kembali dengan Lucy dan Chris.
Lucy langsung berlari menghampiriku dan memelukku erat. Dia tidak berkata apapun karena tahu kenapa aku menangis, sedangkan Chris hanya diam di dekat pintu. Lucas juga menghampiriku.
Punggung Lucas, Lucy, dan Chris yang membelakangi pintu balkon, sedangkan aku yang menghadap pintu balkon tidak menyadari apa yang sekarang sedang aku lihat.
Aku melihat Xander sedang memperhatikankanku dari dalam ruangan dengan tatapan datar dan dingin. Catherine berdiri disampingnya dan sedang sibuk berbicara dengan seseorang.
Xander memegang segelas wine yang sesekali diteguknya. Sedangkan, tangannya yang lain merangkul pinggang Catherine, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil penuh arogan.
Tubuhku menggigil dan aku menutup mata. Berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Setelah itu hanya ada kegelapan yang menyelimutiku.