The pain started years ago, but i'd lived with it for so long at that point that I'd accepted it as an inevitable part of me.
-Ashley D. Wallis, Leaping-
Angelina Rose Campbell POV
Ketika aku membuka kedua mata setelah kegelapan yang datang menghampiriku, aku melihat Lucy sedang duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari tempatku berbaring. Dia terlihat sedang menonton acara komedi di televisi dengan tatapan kosong dan ekspresi yang sedih. Kemudian aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati diriku sudah kembali ke apartemen milikku yang nyaman, bukan pesta terkutuk itu. Lalu satu persatu potongan adegan yang terjadi padaku kembali hadir. Pesta! Xander! Semua ingatan tentang kejadian itu kembali mengalir di dalam otakku.
Perlahan aku bangkit dan memposisikan diriku dengan duduk tegak, dan saat itulah aku menyadari kehadiran Lucas. Pria itu sedang duduk di lantai yang juga serius sedang menonton acara komedi tersebut.
Gerakanku yang tiba-tiba membuat mereka berdua sontak menoleh ke arahku dan langsung mengabaikan acara komedia tersebut dengan bangkit menghampiri diriku. "Syukurlah akhirnya kau sadar. Bagaimana keadaanmu Lina?" Tanya Lucy khawatir sambil meraih segelas air bening dan menyodorkannya padaku.
Aku mengeluarkan suara erangan pelan karena merasakan kepalaku yang terasa begitu pusing. Dengan senyum kecil penuh terima kasih, aku meraih gelas yang disodorkan oleh Lucy dan meneguk isinya hingga tandas. Tenggorokanku yang terasa begitu kering seperti gurun sahara, akhirnya kembali terasa segar. "Entahlah," jawabku dengan suara yang serak.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Lucas menatapku dengan wajah panik.
"Bagaimana dengan pestanya? Lucas kau tidak boleh berada disini. Pesta itu acara keluargamu, dan kau bintang utamanya," balasku dengan bingung, karena masih skeptis melihat kehadiran Lucas di apartemenku disaat banyak orang yang menantikan ingin berbicara dan bertemu dengan Lucas di pesta. Lagipula aku masih belum bisa mengatakan kejadian itu kepada Lucas, mungkin kalau Lucy itu perkara lain, karena wanita itu mengenal betul apa yang aku rasakan dan dia juga sahabatku. Aku tidak bisa menyembunyikan satu rahasiapun darinya.
"Aku tidak peduli, bahkan ibuku menyuruhku untuk menemanimu saat tahu kau sakit. Dia yang mengatur dan memberi alasan kepada para tamu tentang ketidakhadiranku di pesta." Aku memberikan respon dengan menganggukkan kepala mendengar penjelasan Lucas dan kemudian kembali berbaring diatas sofa.
"Lina ada apa? Di awal pesta kau tidak apa-apa, tapi semenjak dia ..."
Lucas menatap Lucy bingung. "dia siapa?" Lucy hanya menggeleng pelan dan tidak berkata apapun, dan hal itu membuat Lucas semakin bertambah bingung. Pria itu terus menerus menatap Lucy serta diriku secara bergantian. "Kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku," simpulnya pada akhirnya.
"Lucas bagaimana kalau kau pulang? Besok kau bisa kembali dan aku berjanji, aku akan ceritakan semuanya padamu," ujarku dengan nada memohon.
"kau yakin? Janji?" aku mengangguk cepat dan Lucas akhirnya menyerah. Dia mengecup keningku lembut lalu beranjak pergi. setelah pintu depan tertutup pelan, Lucy menatapku. Aku tahu arti dari tatapan itu. Dia menyuruhku untuk mengatakan semuanya. Tanpa pikir panjang aku menceritakan kejadian di pesta itu.
Dua puluh menit kemudian, aku selesai mengatakan apa yang terjadi di sela-sela tangisanku. Lucy terlihat sangat marah dan tiba-tiba melempar majalah yang berada di atas meja. "Kenapa ini bisa terjadi? Seharusnya aku berada di sampingmu, bukannya pergi meninggalkanmu. Aku pikir ... aku pikir..." lalu Lucy melempar gelas yang sebelumnya untuk aku minum ke lantai dan menjadi jutaan pecahan yang tak lagi berbentuk.
Aku melihatnya dengan tatapan datar. Jika aku menjadi Lucy, maka reaksiku juga akan sama sepertinya sekarang. Mendengar sahabatnya tersakiti bukanlah hal yang sepele dan aku yakin Lucy akan menghabisi Alexander jika pria itu berada disini. Lalu tanpa diduga Lucy membanting vas kaca, membuatku berjengit takut. Kuakui kalau Lucy sedang mengamuk memang begitu menakutkan, dan aku hanya melihatnya mengamuk seperti ini dua kali termasuk sekarang.
Pertama kali terjadi karena seseorang dengan sengaja menghancurkan mobil kesayangannya. Usut punya usut orang yang menghancurkan mobil itu ingin balas dendam karena Lucy sudah merebut kekasihnya. Padahal Lucy tidak punya hubungan apapun dengan pria yang dimaksud. Lucy langsung mengamuk karena mobil kesayangan dan hasil jerih payahnya menabung selama bertahun-tahun hancur begitu saja. Pikiranku terbuyarkan saat Lucy tiba-tiba memelukku dengan erat. "Oh Lina ... aku sungguh minta maaf."
Aku mengelus punggungnya dan berkata, "ini bukan salahmu Lucy. Jadi jangan meminta maaf." Lucy hanya menggeleng dan memelukku dengan semakin erat. Air mataku menetes dan kami berdua menangisi takdirku yang rumit.
Saat kami berdua mulai tenang dan berhenti menangis, aku berkata "ayo kita bersihkan semua ini, aku lupa kalau kau mengamuk, kau bisa seperti seperti monster dan menghancurkan apa saja yang ada di depanmu." Lucy hanya tertawa mendengar komentarku sambil menghapus air matanya. Setelah itu kami membersihkan kaca yang ada di lantai.
Saat selesai, aku mengganti baju dan ketika kembali ke ruang tamu, aku melihat Lucy sedang duduk dan menatap kosong ke dinding. Langsung saja aku berjalan menghampiri dan menyapanya pelan, "hi."
Lucy menoleh lantas memberikan senyum kecil padaku. "hi." lalu kami berdua diam. Aku yang tidak tahu harus berkata apa dan Lucy yang menatapku dengan pandangan khawatir membuat situasi sedikit terasa canggung, "jadi?" Tanya Lucy.
Aku menatapnya heran. Lucy menghela napas dan melanjutkan, "jadi apa kau mau melaporkannya ke polisi? Atau mengatakannya pada orang tuamu?"
"Aku tidak akan mengatakan apapun pada polisi ataupun orang tuaku."
"tapi Lina-"
"Xander bisa dengan mudah berkata 'tidak' dan menuduhku balik. Lagipula dia bilang kita akan segera menikah." Lucy menatapku tidak setuju. "Dengar ... walaupun dia melakukannya, dia juga yang sudah merebut kesucianku dahulu. Aku memberikannya dengan sukarela. Jadi anggap saja kejadian di pesta sama seperti di masa lalu, aku memberikannya dengan sukarela."
"tapi kenyataan tidak Lina!" teriak Lucy. "Dia memaksamu Lina! Dia ... dia menyakitimu Lina! Dia pria egois yang tidak memikirkan perasaan orang lain! Aku juga tidak terima sahabatku diperlakukan seperti itu!"
Air mataku kembali mengalir di pipi. "lalu apa yang harus aku lakukan?" balasku berteriak. "Walaupun aku mengatakannya kepada polisi, dia punya uang dan kekuasaan sedangkan aku hanya seorang dokter!" Tiba-tiba kepalaku terasa pening dan aku langsung memijat kening untuk menghilangkan rasa sakit kepala yang tiba-tiba muncul itu. "sebaiknya kita bicarakan besok saja, sekarang kita istirahat dulu bagaimana?" Lucy hanya mengangguk dan berjalan cepat ke kamarnya.
Dia membanting pintunya dan aku hanya menatap sedih ke langit-langit ruang tamu. Kenapa hidupku jadi penuh drama seperti ini?
***
Dua hari kemudian, dan akhirnya semua berjalan kembali normal. Ucapan Xander tentang kembali ke New York tidak aku hiraukan karena keesokan harinya setelah pesta dia tidak kunjung datang.
Topik tentang kejadian malam itu dan tentang Xander seolah menghilang dari mulut Lucy maupun diriku. Kami memutuskan untuk tidak membicarakannya.
Tadi pagi saat aku sarapan dengan Lucy sambil menonton acara entertainmet, dan kami berdua sama-sama terkejut ketika melihat isi acara yang semua didominasi dengan topik mengenai seorang Alexander, tapi bukan itu yabg membuat kami terkejut, melainkan pembahasan kalau Xander kembali ke New York secara tiba-tiba tanpa Catherine. Mukanya terlihat kesal namun ada sedikit rasa khawatir disana. Aku tidak tahu apa itu. saat aku selesai melihat acara itu, ada rasa kecewa dan marah di dalam hatiku.
Dia dengan mudah memanfaatkanku untuk keuntungannya sendiri, lalu pergi begitu saja! Kurasa Lucy juga berpikiran sama karena setelah itu dia mengucapkan kata ehm---kasar dan Xander dalam satu kalimat. Aku hanya menatapnya terhibur dan melanjutkan sarapan.
Itu kejadian tadi pagi dan saat ini aku sedang memeriksa salah satu pasien ketika salah seorang suster datang ke ruanganku dan mengatakan kalau seseorang ingin bertemu denganku.
Aku hanya mengangguk dan setelah selesai memberikan pasienku resep obat, aku mengatakan pada suster yang menjaga kalau aku akan menemui orang tersebut. Aku berjalan ke ruang pertemuan dan melihat Lucas duduk disana dengan tatapan datar.
Aku tersenyum kecil dan duduk di depannya. Aku menyapanya yang dibalas dengan pria itu hanya anggukan singkat. Setelah Lucas mengetahui hubunganku dan kejadian malam itu dengan Xander, pria itu marah dan merasa bersalah karena membiarkan aku berdua dengan Xander, dan karena itu aku harus membuatnya berjanji untuk tidak melakukan hal yang bodoh kepada Xander.
Terlebih lagi Xander masih jauh lebih berkuasa dibandingkan Lucas. Jadi Lucas hanya bisa mengoceh di depanku dan Lucy. Kami berdua menatapnya lucu, karena Lucas mengatakan apapun yang ada di kepalanya sambil berjalan bolak balik dengan gesture tangan di setiap kalimatnya. Karena aku dan Lucy tidak tahan, kami tertawa lebar dan Lucas hanya menatap kami berdua sebal. "Aku ingin bertanya bagaimana keadaanmu hari ini?" pertanyaan Lucas menyadarkanku kembali dari pikiran.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Lucas."
"Kau tahu kalau Xander kembali ke New York?" aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Dia menitipkan Catherine di kediamanku. Entahlah berpura-pura baik padanya sangat memberatkan hatiku. Kau tahu, Aku ingin sekali menghajarnya dan menghancurkan hidupnya karena sudah menyakiti temanku. Lalu dia berani sekali menitipkan mistressnya di rumahku." Aku tertawa geli mendengar perkataan Lucas serta ekspresi yang pria itu tunjukan padaku.
"Kau tahu kenapa dia kembali ke New York?" Tanyaku dengan setitik rasa penasaran.
Lucas mengangguk singkat. "The Vice Inc. HQ semalam di hack oleh seseorang. Sistemnya tidak bisa dibuka atau diakses oleh karyawan, karena takut ada dokumen penting hilang, jadi pria itu memutuskan untuk mengecek sendiri dan kembali ke New York. Dia menjelaskannya begitu padaku." Aku berpikir siapa yang berani menyusup sistem TVI yang keamanannya begitu tinggi. Lucas mendengus dan berkata, "itu balasan karena sudah menyakitimu." Aku tidak menghiraukan Lucas karena masih sibuk berpikir kalau orang tersebut begitu pintar hingga mampu menembus keamanan TVI begitu mudah. "Aku ingin bertanya padamu."
"Apa itu Lucas?"
"Apa kau akan mendukungku jika aku memiliki hubungan dengan Lucy?" Semula aku tersedak mendengar pertanyaan Lucas, tapi kemudian aku mengangguk penuh semangat dan tersenyum lebar. Setelah ocehan Lucas berakhir dan kami tertawa sebelum berpisah, aku kembali ke ruanganku, tapi saat menyadari kalau ponselku tertinggal, akhirnya aku memutuskan kembali ke ruangan dimana Lucas berada untuk mengambil ponselku yang tertinggal, tapi langkahku terhenti ketika aku melihat Lucy dan Lucas sedang berbicara santai.
Aku bisa melihat mereka berdua saling tertarik satu sama lain. Karena ingat dengan misiku dulu, aku meninggalkan mereka berdua dan pergi ke staff room untuk mengambil segelas air. Ternyata usahaku tidak sia-sia, ujarku dalam hati.
Lucas tersenyum lebar saat melihatku keluar dari staff room. Dia mengucapkan perpisahan pada Lucy dan berjalan keluar ruangan. Aku menunggu di depan pintu dan tidak lama kemudian Lucas berdiri di depanku dan memelukku erat sebelum berjalan pergi. Aku tersenyum padanya dan melihat punggungnya yang semakin menjauh. Setelah Lucas akhirnya menghilang dari pandangan, aku masuk ke dalam ruangan, memberikan ledekan singkat pada Lucy yang masih terlihat shock---hingga dia tidak menggubrisku karena masih sibuk menatap dinding dengan ekspresi terkejut, mengambil ponselku dan memutuskan untuk pergi keluar.
Sesampainya di ruang praktekku, aku melihat kalau jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Jadi aku memutuskan untuk pergi sebentar, membeli makanan. Setelah melepaskan jas putih yang melekat di tubuhku, aku meraih tas dan berjalan keluar ruangan.
Ketika aku melangkah keluar dari gedung rumah sakit, aku merasakan seseorang seperti sedang memperhatikanku, tapi saat aku menoleh ke kanan dan kiri, aku tidak melihat siapapun yang mencurigakan ataupun seseorang memperhatikanku, karena itu aku mengabaikan instingku dan berjalan menuju restoran italia tidak jauh dari rumah sakit. Aku sedang ingin makan lasagna, hmm ...
Saat kembali ke rumah sakit, aku disambut teriakan dan pelukan dari Lucy. Entah ada apa aku juga tidak tahu. Aku balas memeluknya sedikit canggung karena banyak pasien dan keluarganya atau suster yang lalu lalang di lobby rumah sakit. Ditambah lagi Lucy yang masih mengenakan jas lab sedangkan aku tidak. salah seorang suster yang dekat denganku hanya menatap heran padaku. Aku menggelengkan kepala dan berkata tanpa suara 'aku tidak tahu'. Si suster mengangguk singkat dan tertawa pelan. "Kenapa Lucy? Kau tahu kita jadi hiburan disini."
Lucy melepaskan pelukannya dan menatapku dengan sorotan mata yang berbinar-binar. "Lucas mengajakku berkencan." Sepertinya rasa shocknya sudah berakhir, pikirku dengan geli.
"Sungguh?" tanyaku tidak percaya.
Lucy mengangguk cepat dan aku tersenyum senang. Lucy juga melakukan hal yang sama. Aku dan Lucy tersenyum satu sama lain. "Aku turut senang untukmu, akhirnya keinginanku terwijud!" Lucy mengangguk penuh semangat dan pura-pura menghapus air matanya. Aku memutar bola mata dan menarik lengan Lucy menuju tempat yang lebih sepi.
Mission complete. "jadi kapan kalian akan berkencan?"
"Lusa. Setelah Lucas selesai menjaga Catherine-" Lucy memutar bola mata "---dan Xander membawanya pulang ke New York." Mendengar kata Xander rasa senangku hilang seketika, tapi aku tidak menunjukkannya takut Lucy khawatir.
"Akhirnya, tidak sia-sia aku memperjuangkan kalian berdua."
"Kau yakin kami pantas bersama, Lina?" Aku hanya mengangguk. "Tapi belum tentu kami berhasil dan menjadi sepasang kekasih," ujar Lucy sedikit muram.
"Kita lihat saja nanti." Setelah itu aku berlalu mennggalkan Lucy yang melongo mendengar ucapanku. Setelah sadar kalau aku pergi, dia langsung mengejarku dan memukul bahuku sebelum pergi menuju ruangannya.
Aku menggosokkan bahuku yang sakit karena pukulan Lucy sambil menggeleng tidak percaya.