"Sometimes you can be touched by God, but not healed. Often when this happens, he is using your pain for a greater purpose."
-Shannon L. Alder-
Angelina Rose Campbell POV
Ketika aku pulang pada malam harinya, aku sedang berjalan menuju halte bis dan merasakan seperti seseorang mengikutiku. Aku mencoba menoleh ke belakang untuk memastikan apakah firasatku benar atau tidak, namun ternyata aku tidak melihat ada siapapun disana. Hanya ada satu mobil SUV berwarna hitam yang terlihat sedang terparkir tidak jauh dari halte. Aku memperhatikan kaca mobil yang gelap dan setelah melihat penuh seksama, aku juga tidak melihat ada siapapun disana.
Aku mengedikkan bahu tak acuh dan kembali berjalan. Saat sampai di halte, aku menunggu bis sekitar sepuluh menit. Beberapa teman kerjaku juga sebagian menggunakan transportasi umum jadi saat aku menunggu aku tidak sendirian.
Saat bis yang aku tunggu tiba, tanpa berpikir dua kali aku naik dan duduk di salah satu kursi yang terletak di bagian belakang bis.
Sesampainya di apartemen, aku langsung berjalan menuju dapur dan memeriksa isi kulkas. "kenapa tidak ada makanan?" gumamku pelan saat melihat isi kulkas yang kosong. "Lucy?" Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaannya, namun hasilnya nihil. "Mungkin dia belum pulang." Aku meraih tasku dan mengeluarkan dompet beserta ponselku, berniat untuk pergi ke supermarket untuk berbelanja.
Setelah memastikan apa saja yang perlu aku beli, aku melangkah keluar apartemen, mengunci pintu itu dan berjalan menuju lift. Sesampainya di lantai dasar, aku berjalan melewati meja resepsionis, menyapa beberapa tetanggaku yang kebetulan berpapasan denganku dan kemudian keluar gedung apartemen menuju supermarket yang letaknya tidak jauh dari gedung apartemen. Kenapa di setiap malam, hanya malam ini isi kulkas habis? Gumamku dalam hati.
Selama perjalanan aku berpikir apa yang terjadi nantinya jika ucapan Xander benar. "Kita akan menikah." begitu mudahnya kah dia memutuskan hal besar seperti itu? mungkin aku masih bisa memaafkannya suatu saat nanti, tapi melupakan apa yang dia lakukan padaku sangatlah tidak mungkin.
Dia menyakitiku.
Menghancurkan kepercayaanku.
Walaupun begitu, hatiku masih menginginkan Xander untuk mencintaiku. Apa itu salah? Setelah apa yang dia lakukan padaku? Apa aku harus mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu? Demi hubungan yang sudah hancur, dan pertanyaan selanjutnya adalah apa aku mau mendengarkan penjelasannya lalu memperbaiki hubungan yang sudah rusak itu?
Semua pertanyaan itu terlintas di benakku tiada henti. Belum sempat aku menjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain muncul dan terus seperti itu.
Aku masih mencintainya. Itu fakta yang tidak bisa aku lupakan. walaupun dia sudah menyakitiku---baik itu hati, jiwa, dan ragaku. Aku masih tetap mencintainya. Bagaimanapun juga dia pernah membuatku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia, memperlakukan seperti aku adalah satu-satunya bagi pria itu. Aku ingin tahu isi hatinya. Apa yang ada di dalam pikirannya. Aku ingin mengenalnya dengan baik seperti dulu kala. Xander bagiku sudah seperti orang asing. Aku sama sekali tidak bisa mengenalnya. Aku hanya mampu membaca emosinya karena aku tahu Xander tidak pernah bisa menyembunyikan emosinya padaku.
Manik birunya sudah dapat menjelaskan semua emosi yang dirasakan, tapi apa yang ada dipikirannya aku sama sekali tidak tahu. Aku ingin Xander dan diriku duduk dan membicarakannya dengan hati yang dingin tanpa rasa amarah, tapi bayangan mengenai apa yang dilakukannya padaku terus menerus muncul di kepalaku seolah mengingatkanku apa yang sudah dilakukannya, yaitu menyakitiku.
Aku menggeleng pelan dan menyadari kalau supermarket yang aku tuju sudah berada beberapa meter di depanku. Aku kembali merasakan seseorang sedang mengikutiku. Aku menoleh dan tidak ada siapapun. Aku mulai kesal dengan perasaanku yang mulai paranoid. Aku menggerutu sebal dan dengan labgkah yang dipercepat, aku menuju supermarket dan masuk ke dalam.
Penjaga toko tersenyum dan menyapaku. Aku menyapa balik dan kami berbincang sebentar sampai akhirnya aku memutuskan untuk mulai berbelanja. Aku meraih makanan ringan yang ada disana sampai ramenpun aku raih. Aku memutuskan untuk membuat ramen malam ini karena aku sedang tidak berniat untuk memasak.
Setelah membayar belanjaanku, berjalan keluar toko. Angin dingin langsung menyambutku dan aku melihat seorang pria berdiri di sebrang jalan mengenakan jaket dan kupluk berwarna abu-abu. Aku tidak bisa melihat seluruh wajahnya karena tertutup kupluk, namun itu sukses membuatku bergidik ngeri. Aku mengerutkan kening karena tidak mengenalnya, tapi dari gelagatnya, sepertinya pria itu mengenal diriku. Baru saja aku ingin menghampirinya, dia berbalik dan berjalan pergi.
Aku bisa melihat dia menoleh ke arahku sekali lagi sebelum akhirnya dia menghilang dibalik kerumunan orang dan aku hanya bisa menatap nanar.
I'm officialy have a stalker.
Aku baru berbalik ingin pulang saat mobil SUV yang tadi aku kenali terparkir tidak jauh dari halte rumah sakit berhenti disampingku. Seseorang keluar dan aku menatap kaget. "Dean?" Dean hanya mengangguk sekali, namun tidak menyapaku. Dean adalah personal bodyguard yang diperkerjakan Xander untuk menjagaku dulu. Sebelum Dean menjadi bodyguardku, dia adalah salah satu tim elite keamanan milik Xander, maksudnya yang berada langsung dari arahan Xander bukan Robert.
Ya, sekarang aku ingat Robert siapa. Aku hanya bertemu dengannya sekali dulu saat aku memutuskan untuk mengunjungi Xander di kantornya. Dia dan ayahnya sedang mengadakan project dan aku, sebagai tunangan yang baik---ups! Jangan lupa tambahkan sarkasme dalam kalimatku barusan, menemuinya dan melihat Robert sedang berdiskusi dengan Xander.
Robert hanya tiga tahun lebih tua dari Xander dan tujuh tahun lebih tua dariku. Robert adalah tangan kanan Mr. Vice, ayah Xander dan sekarang adalah tangan kanan Xander. Dia juga sebagai head security untuk keluarga Vice. Aku menggeleng, dasar orang kaya!
Kembali ke Dean---ya saat Dean menjadi bodyguardku, aku merasa Dean bisa menjadi teman. Dia mempunyai sifat yang sama dengan Lucas. Humoris, baik, perhatian, namun jika sudah berhubungan dengan pekerjaan dia bisa sangat serius.
Dia yang selalu membuatku tetap waaras ketika aku ditinggal sendiri oleh Xander di apartemen. Dia yang menemaniku nonton dan masih banyak lagi. Bisa dibilang kami bersahabat. Dean sangat tahu betul diriku dan begitupun sebaliknya. Namun, semua hubungan itu berubah ketika Xander tahu mengenai Dean dan aku.
Xander yang merasa kalau aku adalah miliknya membuat Dean dipecat. Setelah kami bertengkar hebat, aku membela Dean dan Xander tetap dengan pendiriannya, akhirnya Dean tidak jadi dipecat dan dipindah tugaskan oleh Xander. Setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar Dean lagi. Lalu sekarang aku bertemu dengannya dan yang membuatku terkejut adalah Dean sudah berubah, dia bukanlah orang yang aku kenal lagi.
Dia begitu kaku di depanku dan kata-kata jailnya yang sering dia ucapkan ketika kami bertemu tidak muncul dari bibirnya. Dean masih terdiam dan barulah aku sadar kalau ada satu lagi orang yang berdiri mengenakan seragam yang sama seperti Dean, setelan jas hitam. "umm ..." ujarku canggung.
"Victor ma'am."
Aku hanya mengangguk tak tahu harus berbicara apa.
Dean yang melihat raut wajah bingungku akhirnya menjelaskan kehadiran mereka berdua. "Kami ditugaskan Mr. Vice untuk menjaga anda sampai tuan kembali dan menjemput anda." Aku kembali merasa terkejut. Aku memiliki tiga penguntit sekarang, simpulku dalam hati. Walaupun pria berjaket abu-abu itu belum tentu benar dan mungkin saja sebuah kebetulan, tapi firasatku mengatakan kalau dia juga menguntitku.
Aku memijat kepalaku yang mulai berdenyut. Aku menatap mereka berdua tidak setuju dan tanpa berbasa-basi langsung meninggalkan mereka di trotoar.
Sifat Xander yang suka mengontrol seseorang sama sekali tidak berubah. Kalau suatu saat aku berbaikan dengannya hal pertama yang akan aku lakukan. Singkirkan pengawalnya, Eh! Maksudnya pengawalku.
Selama perjalanan menuju ke apartemen, aku bisa merasakan Dean berjalan di belakangku mengikuti, sedangkan Victor berada di dalam mobil dan menyetir dengan pelan. Aku mulai merasa kesal dan berjalan lebih cepat. Berarti instingku benar selama seharian tadi. Kalau ada orang yang memperhatikan dan mengikutiku.
Mereka berdua penyebabnya. Barulah saat di dalam apartemen aku mulai merasa lega. Aku melihat Lucy sedang memakan yoghurt sambil menonton acara sitcom di televisi. Dia belum berganti pakaian dan kakinya dia letakkan di atas meja.
Aku langsung mengerutkan kening dan memelototinya. Lucy yang tahu maksudku hanya tersenyum malu dan mengangkat kakinya dari atas meja. "Kau dari mana Lina?"
"Belanja."
"Malam-malam begini?"
"Yup."
"Kenapa?" aku tidak menjawab. Aku berjalan ke dapur dan memulai ritual untuk membuat ramen. Memasak air, menyiapkan mangkok, membuka bungkus ramen, dan melakukan hal biasa ketika membuat ramen. Lucy menatapku bingung. "Ramen?"
"Aku sedang malas untuk memasak."
"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba seperti orang yang kehilangan anjing kesayangannya?" Lucy duduk di kursi berkaki tinggi dan menatapku dengan tatapan penuh tanya. Di menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di meja counter. "Jadi kenapa marah-marah?"
Aku menghela napas. "Aku ingin sekali membunuh Xander saat ini."
Lucy terkejut. "Kau serius?"
"Tentu saja tidak. kalau aku melakukan hal itu namanya suicide mission. Aku hanya kesal padanya karena memberikanku dua orang bodyguard yang aku tidak perlukan." Tidak lupa dengan pria berjaket abu-abu itu, tambahku dalam hati. "Ukh! Hidupku sudah jadi seperti drama. Sepertinya lima tahun hidupku yang dulu tidak terjadi apa-apa, dan saat aku bertemu dengan Xander lagi, BAM! Hidupku berubah menjadi drama lagi seketika." Aku terus menerus mengomel sambil memasak ramen di tanganku.
"Tunggu bodyguard? Kau bercanda Lina?" Aku menatap Lucy datar. Lucy yang menyadari kalau aku serius, langsung diam dan tidak berkomentar apa-apa. Dia tahu kalau aku sedang marah dan tidak bisa diganggu sampai aku tenang.
***
Dua hari kemudian. Aku sedang menonton acara televisi saat Lucy datang dengan jas lab berada di lengannya. Aku bisa melihat raut wajahnya yang gugup. "Malam ini kau jadi berkencan dengan Lucas?"
"Tentu saja." Setelah itu Lucy langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap tidak lupa mencuri beberapa biscuit yang sedang aku makan. Aku hanya bisa menatap sebal mendengar tawa Lucy dari arah kamarnya.
Aku terlalu serius menonton acara televisi sampai tidak menyadari dua jam telah berlalu. Lucy keluar dari kamar dan bergabung denganku sambil menunggu Lucas menjemput. Sepuluh menit kemudian, Lucas membunyikan bel dan wajahnya muncul di layar intercom.
Aku memutuskan untuk menemani Lucy sampai ke lobby karena aku juga harus ke suoermarket untuk membeli cokelat. Entah kenapa aku ingin sekali makan cokelat malam ini. Lucy yang mendengar penjelasanku hanya menatapku dengan tatapan aneh.
Saat kami berdua tiba di lobby, dan melihat Lucas menunggu di pintu depan dengan sabar, tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintu yang Lucas senderi. Dia terjatuh dan aku tertawa lepas. Lucy yang juga melihat kejadian itu juga ikut tertawa.
Lucas menatap kami berdua sebal, tapi tidak berkomentar apapun. Aku tidak sadar mobil berhenti di depan gedung apartemen. Lucas yang sadar mobil lain berhenti dan melihat siapa yang turun hanya bisa berdehem berusaha menghentikan tawaku juga Lucy, tapi kami terlalu sibuk tertawa hingga paru-paruku terasa sesak. Lalu setelah tawa kami mereda, aku mengatur napas dengan perlahan. "Tadi itu kerja bagus Lina." Puji Lucy sambil menghapus air matanya yang keluar.
"Hah! Lagipula siapa juga yang mau bersender di pintu masuk. Hanya orang bodoh yang melakukannya." Lalu kami kembali tertawa.
Lucas kembali berdehem berusaha menghentikan tawa kami. Sampai akhirnya dia berkata, "puas?" aku menoleh ke arahnya dan mengangguk dan saat itulah aku tersadar ada orang lain disana.
Xander dan Robert.
Xander menatapku terhibur dan berusaha menyembunyikan senyumnya, sedangkan Robert hanya memasang wajah datar, tapi ada pancaran terhibur di kedua matanya. Tentu saja terhibur, melihat dua wanita tertawa lebar seperti hyena karena seorang pria bodoh.
"Sangat puas," jawab Lucy dan tawanya langsung berhenti melihat siapa yang berdiri di belakang Lucas. "Kenapa kau tidak bilang?" desis Lucy kepada Lucas.
"Aku sudah mencoba mengatakannya pada kalian dengan berdehem, tapi kalian terlalu asik tertawa."
"Apa? Tapi itu memang lucu," timpalku. Lucas hanya memberikan pelototan tajam padaku. Aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Lagipula itu salah siapa?"
"Kau bisa mengetuk kacanya pelan, untuk memberikan tanda padaku." desis Lucas.
"Kenapa jadi salahku?" aku menatap Lucas. Harusnya kau masuk saja ke dalam dan tunggu di sofa sebelah sana---" aku menujuk ke sofa-sofa yang ada di lobby. "---atau masuk ke dalam apartemenku, toh kau tahu kodenya bukan? Hah! Jangan berlagak jadi sok keren," tunjukku pada Lucas.
Lucas hanya mendelik sebal.
"Yang dikatakan Lina benar." Lucy mengangguk setuju. "Lagipula kenapa jadi sok keren karena hanya mengajakku kencan? Biasanya juga kau langsung masuk ke dalam apartemen kita tanpa permisi."
Lucas mengangguk setuju. "Susah kalau berdebat dengan kalian berdua."
"Itu benar sekali," Aku dan Lucy berteriak bersamaan dan high-five.
Lucas mengerang kesal dan bergumam pelan, "Bisa kita kencan sekarang? Hampir sepuluh menit aku mendengar ocehan dan tawa kalian itu."
"Terima kasih atas pujiannya," ujarku sarkatis.
"Baiklah ayo kita pergi." Lucy akhirnya meraih tangan Lucas dan melambaikan tangan padaku. Sebelum mereka pergi, aku bisa melihat Lucy menatap tajam ke arah Xander.
Dia tahu tidak bisa mengusir Xander begitu saja jadi hanya bisa menatap tajam ke arah pria itu. Setelah mobil Lucas menghilang, akhirnya Xander berbicara
"Mau kemana kau Angel?"
Aku balik bertanya, "kenapa kau ada disini Xander?"
Xander mengerutkan keningnya. "Kau ingat apa yang aku katakan? Aku kesini untuk menjemputmu."
"Aku belum menyetujui apapun Xander! Lagipula aku tidak bisa meninggalkan London begitu saja. Lucy ada disini begitu juga dengan karirku. Aku tidak bisa meninggalkannya," ujarku dan menatap Xander dengan tatapan tajam.
Xander menatapku beberapa detik dan menoleh ke arah Robert. Dia mengangguk sekali dan Robert balas mengangguk lalu berbalik dan menuju mobil. Setelah mobil hilang dari pandangan, Xander kembali menatapku. "Terima kasih," gumamku pelan dan berjalan keluar gedung.
"Kau mau kemana Angel?" Tanya Xander sekali lagi.
"Aku mau ke suoermarket yang ada di ujung jalan" jawabku dengan pelan. Aku menoleh ke arahnya dan bertanya dengan pelan. "Kau mau ikut?" tanpa berkata apapun, Xander berjalan kearahku dan kami berdua mulai berjalan menuju minimarket. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mungkin ini pertanda bagus. Pikirku sarkastis.