Pukul 07.30 Ana keluar dari rumahsakit, akhirnya ia setuju untuk menginap di rumahsakit.
"Kamu bener udah enakan, An?"
Ana kembali tersenyum, "Sehat mas, saya sudah sehat. Perut saya juga udah gak sakit lagi."
"Pokoknya saya mau kamu lapor saya setiap jam, saya gak mau kecolongan lagi."
Tangan Ana terangkat kemudian mengelus kepala Eza pelan, "Iya, mas. Kalau ada apa-apa, Mas Eza yang akan pertama saya hubungi. Saya janji."
Meski harus berdebat semalaman selama di rumahsakit, nyatanya Eza sedetikpun tidak meninggalkan Ana. Ia menemani Ana, melayani semua yang Ana butuhkan. Di saat seperti itu, Ana merasa tidak tega harus membohongi Eza soal pertemuannya dengan Kacir beberapa hari kemarin.
"Mas," Ana memanggil Eza pelan.
Setelah otak dan hatinya berperang, Ana mencoba untuk tidak