Pagi ini, Ana mengalami kontraksi awal. Eza yang sudah hdndak berangkat kerja akhirnybatal untuk pergi ke kantor. Eza segera membawa Ana ke rumahsakit.
"Ini masih kontraksi awal, belum ada pembukaan."
Begitu ujar dokter, namun Eza tetap saja memaksa Ana untuk menginap di rumahsakit.
"Mas, kita pulang, ya?"
Dengan tangan yang masih diinfus, Ana merengek memijta pulang.
"Tunggu sampai besok pagi, dokter juga gak larang kamu buat dirawat."
Eza berucap dengan pelan, ia kemudin mengecup punggung tangan Ana.
Meski kemarin Eza sempat marah pada Ana karena pergi tanpa sepengatahuannya, namun Eza tak pernah membiarkan kemarahan itu membuat hubungan di antara dirinya dan Ana merenggang.
Eza menahan emosinya, mencoba untuk tidak mengikuti arus keadaan yang mungkin bisa membawa mereka p