Revan tidak bergerak. Cangkir teh hijau di depannya sudah dingin sejak tadi, dan ia baru sadar jemarinya mencengkeram tepi meja terlalu kuat.
"Lo bercanda," katanya.
"Muka gue kelihatan bercanda?" Dimas menyandarkan punggung ke kursi. Suaranya turun, jauh lebih pelan daripada bentakan tadi, dan justru itu yang membuat Revan merinding. "Sejak SMA, Van. Sejak kelas dua, waktu dia nangis di tangga belakang kantin dan lo cuma lewat. Gue lihat dia pura-pura nggak nangis, dan selesai. Gue kalah sebelum mulai."
"Lo nggak pernah bilang."
"Buat apa? Dia milih lo. Dia selalu milih lo." Dimas tersenyum tipis dan pahit. "Gue sahabat lo, bukan maling. Gue nggak akan ngerebut istri orang, apalagi istri sahabat gue sendiri. Gue ngomong begini bukan buat minta apa-apa."
"Terus buat apa?"
"Buat lo dengar." Dimas menunjuk dada Revan dengan ujung telunjuknya. "Hasna lagi hamil enam bulan. Dia nggak boleh tahu lo udah nggak cinta dia dari mulut orang lain. Dari mulut gue pun jangan. Lo yang bilang, lo bilang jujur, dan lo bilang sebelum bayi itu lahir. Cuma itu yang gue minta."
Revan menatap sahabatnya seperti baru pertama kali melihatnya. Sepanjang itu mereka berbagi bangku, bekal, dan rahasia kecil yang tidak penting, dan ternyata ada satu rahasia yang sangat penting duduk persis di kursi sebelahnya. Revan menunduk. Rahangnya mengeras, lalu mengendur. "Dim, jangan bilang ke Hasna. Gue mohon. Belum sekarang. Gue yang akan bilang, tapi gue belum tahu caranya."
"Jangan kelamaan."
"Gue janji."
"Janji lo," kata Dimas sambil berdiri dan menyambar kunci mobilnya, "udah terlalu sering gue dengar, Van."
"Dim."
"Apa lagi?"
"Kenapa lo diam selama itu? Lo lihat gue nikah sama Hasna. Lo berdiri di samping gue waktu akad."
Dimas berhenti. Bahunya naik turun sekali. "Karena Hasna kelihatan bahagia," katanya tanpa berbalik. "Gue pikir lo bakal jaga dia. Gue salah soal itu, dan gue nggak mau salah dua kali."
Pintu kafe berdenting. Dimas pergi tanpa menoleh. Revan duduk sendirian di depan teh yang tak ia minum, memandangi kursi kosong di seberangnya. Sahabatnya sejak SMA mendadak terasa seperti orang asing. Dan yang lebih buruk, Revan tidak bisa membantah satu kata pun.
•||•
Sekarang suara Dimas masih berdengung di kepalanya, sementara tangannya sudah menyentuh gagang pintu kayu cokelat tua itu.
Tinggal ketuk. Hanya itu.
Tapi Revan tidak mengetuk. Ia berjanji mengantar Fina kemo, lalu semalam membatalkannya dengan alasan jadwal Hasna. Fina bilang tidak apa-apa. Fina selalu bilang tidak apa-apa, dan justru itu yang paling menusuk.
Tadi, di lantai bawah, Mbak Marni melapor pelan: Bu Fina sudah pulang satu jam lalu, naik taksi, langsung masuk kamar dan belum keluar. Mbak Marni sempat membawakan air hangat, tapi hanya diterima di depan pintu. Revan menyuruhnya kembali ke dapur. Ia sendiri naik tangga dengan langkah yang makin lambat di tiap anak tangga.
Apa yang bisa ia katakan sekarang? Maaf? Fina sudah mendengar kata itu terlalu sering dari mulutnya. Mas menyesal, Mas tidak sengaja, Mas janji lain kali. Semua kalimat itu sudah usang sebelum sempat ia ucapkan.
Dari bawah terdengar suara televisi dan tawa Marni yang ditahan, bunyi rumah yang masih berjalan seperti biasa, tidak peduli seseorang berdiri kaku di depan sebuah pintu.
Ia menarik napas, mengangkat tangan yang lain untuk mengetuk, dan menurunkannya lagi.
Dari ujung lorong terdengar langkah kecil berlari.
"Papa! Papa! Lihat!"
Revan menoleh. Sabima melesat ke arahnya dengan kepala licin dan mengilap di bawah lampu lorong. Di belakangnya Erlangga berjalan lebih tenang, topi di tangan, kepala yang sama plontosnya. Pak Ucup menyusul sambil terengah-engah.
"Maaf, Pak Revan," kata Pak Ucup. "Den Langga minta dipotong habis. Tukangnya sampai tanya tiga kali, tapi den Langga tetap bilang habis."
"Keren, kan, Pa?" Bima mengusap kepalanya sendiri sambil nyengir. "Kata tukangnya kayak pemain bola!"
Revan membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia menatap Langga. Anak itu balas menatapnya sebentar, datar, lalu menggeser tangan Revan dari gagang pintu dengan satu dorongan kecil.
"Permisi, Pa."
Ceklek.
Pintu terbuka, dan kedua anak itu menyerbu masuk.
•||•
Fina sedang duduk di tepi ranjang, belum sempat melepas sepatu. Tenaganya habis sejak infus tadi siang. Lengan kirinya masih ngilu bekas jarum, dan di perutnya ada rasa mual yang datang dan pergi seperti ombak kecil.
Di meja samping ranjang ada kantong obat dari rumah sakit, belum dibuka, dengan jadwal minum yang ditulis perawat memakai spidol merah.
Ia mendengar langkah di lorong tadi, lalu hening. Ia tahu siapa yang berdiri di balik pintu itu. Bayangan sepatu terlihat di celah bawah pintu, diam terlalu lama. Fina tidak memanggil. Ia hanya ingin diam sebentar, lima menit saja, sebelum berpura-pura kuat lagi di depan semua orang.
"Ibu!"
Dua kepala licin muncul di depannya. Fina terpaku.
"Ya Allah. Kalian..."
"Bima botak, Mama Ibu!" Bima melompat ke pangkuannya. "Mas Langga yang minta duluan, Bima ikut. Kata Mas, kalau Ibu nggak punya rambut, kita juga nggak usah punya."
Fina menatap Langga. Anak sembilan tahun itu berdiri di depannya dengan bahu tegak, seperti sedang menunggu hukuman. Matanya merah.
"Langga lihat tadi," katanya pelan. "Kepala Ibu yang botak. Langga pura-pura nggak lihat, soalnya Langga nggak tahu mau ngomong apa." Ia menelan ludah. "Sekarang Ibu nggak sendirian."
Dada Fina sesak. Tangannya yang gemetar naik ke kepala, menarik bergo itu pelan-pelan dan membiarkannya jatuh di pangkuan. Kulit kepalanya terasa dingin tertimpa udara. Selama berminggu-minggu ia menyembunyikan ini dari semua orang.
Bima menatapnya dengan mata bulat, lalu mengulurkan tangan dan mengusap kepala Fina dengan telapak mungilnya.
"Halus," katanya takjub. "Kita kembar, Mama Ibu."
Fina tertawa. Tawanya pecah di tengah isak yang tak bisa ia tahan. Ia merentangkan kedua tangan, dan Langga akhirnya melangkah maju, menyembunyikan wajah di bahunya. Bahu kecil itu bergetar tanpa suara.
"Makasih, Mas," bisik Fina di telinganya. "Makasih. Ibu cantik nggak, begini?"
"Cantik," jawab Langga serak. "Tapi Ibu tetap harus sembuh."
"Iya, Sayang. Ibu usahakan."
Di atas kepala kedua anaknya, Fina melihat bayangan di ambang pintu. Revan berdiri di sana dengan mata merah, rahangnya kaku, tangannya terkepal di sisi tubuh. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Fina, seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang selama ini ia pilih untuk tidak lihat.
Lalu Fina melihat orang kedua.
Hasna berdiri persis di belakang Revan. Blusnya kusut, dua kantong belanja bergambar bayi menggantung di satu tangannya, dan tangan yang lain menekan perutnya yang besar. Matanya bergerak dari kepala Fina yang gundul ke kepala Langga, lalu ke kepala Bima yang masih bertengger di pangkuan Fina.
Wajahnya memucat, lalu mengeras.
"Siapa yang nyuruh Bima botak?"