Pertanyaan itu menggantung di kamar.
Hasna tidak menunggu jawaban. Ia melangkah masuk, menjatuhkan kantong belanjanya di lantai, dan menarik lengan Bima dari pangkuan Fina. "Turun, Sayang. Sini sama Mama."
"Tapi Mama..."
"Sini, Bima."
Bima turun dengan bibir mengerucut. Hasna menangkup kepalanya yang licin itu dengan kedua tangan, mengusapnya berkali-kali, seakan rambut yang hilang bisa ia tarik kembali dari udara. Napasnya pendek-pendek. Seharian ia sudah lelah. Punggungnya nyeri, pergelangan kakinya bengkak, dan satu-satunya yang ia mau sepulang belanja tadi hanyalah rumah yang tenang.
"Siapa?" ulang Hasna. Suaranya naik. "Anak umur segini, di sekolah mau bilang apa ke teman-temannya? Mereka bakal ngeledek. Bima bakal dikira kena penyakit!"
"Mama, Bima yang mau," kata Bima.
"Kamu diam dulu." Hasna menatap Langga. "Kamu yang ngajak, kan? Mama Hasna tahu kamu, Langga. Kamu selalu bikin adikmu ikut-ikutan."
"Iya," jawab Langga datar. "Langga yang minta."
"Na," sela Revan dari ambang pintu. "Tenang dulu."
"Tenang?" Hasna berbalik, matanya berkaca-kaca karena marah. "Anakku botak, Van, dan kamu minta aku tenang? Kamu lihat sendiri dia." Ia menunjuk Fina tanpa melihatnya. "Dia pasang topi bergo itu, pura-pura sakit, terus anak-anak ikut menderita demi dia. Ini caranya cari simpati?"
"Mbak Hasna."
Suara Fina pelan, nyaris tak terdengar, tapi kamar itu mendadak sepi. Fina sudah bangkit dari ranjang. Kepalanya yang gundul tidak lagi ia sembunyikan. Wajahnya pucat, matanya cekung, tetapi punggungnya lurus.
"Ini bukan salah Langga, dan bukan salah Bima," katanya. "Mereka melakukannya karena aku. Dan aku tidak pura-pura sakit, Mbak."
Hasna menelan ludah. "Sakit apa?"
Fina melirik Revan sekilas, lalu kembali pada Hasna. Ia tidak bergetar saat mengucapkannya. "Kanker ginjal. Stadium tiga. Tadi siang kemo yang ketiga."
Kamar itu sunyi. Dari lantai bawah terdengar denting piring yang disusun Mbak Marni.
Hasna menunggu seseorang tertawa, atau berkata bahwa ini lelucon yang buruk. Tak seorang pun melakukannya. Langga memandangnya lurus, tanpa marah, tanpa takut, dan itu yang paling mengerikan. Anak itu sudah tahu. Anak sembilan tahun itu sudah tahu lebih dulu daripada dirinya.
"Kanker," ulang Hasna dengan suara kecil. "Fin, kamu... kamu nggak pernah bilang."
"Aku belum sanggup bilang, Mbak. Maaf."
Maaf. Dari mulut perempuan yang baru saja ia tuduh mencari simpati.
Tangan Hasna turun perlahan ke perutnya dan berhenti di sana. Ia menatap kepala Fina, lalu lengan kirinya yang berplester kecil, lalu wajah Revan. Revan tidak menatap balik. Ia memandang lantai.
"Kamu..." Hasna tidak melanjutkan.
•||•
Di lorong lantai dua, Hasna menyandarkan punggung ke dinding. Lututnya terasa seperti dibuat dari agar-agar. Bima sudah dibawa Mbak Marni turun untuk mandi, dan Langga ikut tanpa suara.
"Sejak kapan?" tanyanya.
"Na..."
"Sejak kapan kamu tahu, Revan?" Kali ini ia memakai nama lengkap, dan ia tahu Revan memahami artinya.
Revan menarik napas. Ia tidak mencari-cari jawaban lain. "Sejak malam di balkon. Sebelum kita ke Bandung, sebelum tasyakuran Om Adi."
Hasna tertawa pendek, tawa yang tidak punya bunyi gembira sedikit pun. "Sebelum Bandung. Jadi waktu kamu bawa aku ke makam Papa Arga, kamu sudah tahu. Waktu kamu peluk dia di depan aku, pura-pura baik-baik saja, kamu sudah tahu."
"Aku nggak pura-pura."
"Lalu apa namanya?"
"Dia minta aku merahasiakannya." Revan menggosok wajah dengan kedua telapak tangan. "Dia belum siap. Dia nggak mau kamu stres, apalagi kamu lagi hamil."
"Jadi aku yang paling terakhir tahu, demi kebaikanku sendiri." Suara Hasna pecah. "Enam bulan aku hidup serumah sama orang yang lagi sekarat, Van, dan aku nggak tahu. Aku sempat kesal waktu dia nggak ikut makan malam. Aku sempat bilang ke Mama dia sengaja menghindar!"
Revan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak ada pembelaan yang layak diucapkan.
Hasna merogoh ponsel dari saku roknya. Jarinya gemetar sampai ia harus dua kali mengetuk layar. Nada sambung berbunyi sekali, lalu suara Reffa terdengar di seberang.
"Sayang? Kenapa jam segini?"
"Ma..." Hasna merosot hingga duduk bersandar ke dinding, dan tangisnya tumpah. "Ma, Fina sakit. Kankernya parah. Aku baru tahu sekarang. Revan sudah tahu dari dulu dan nggak bilang apa-apa."
Hening sebentar di ujung sana. Revan mendengar napas Reffa memburu lewat pengeras suara.
"Kamu tenang dulu, Nak. Tarik napas. Ingat bayinya." Reffa berhenti. "Mana Revan? Kasih ponselnya."
Hasna menyodorkan ponsel itu tanpa menatap. Revan menerimanya.
"Ya, Ma."
"Kabari mamamu, Van," kata Reffa. Suaranya bukan lagi suara ibu yang marah. Lebih tua dan lebih letih. "Orang tuamu harus tahu. Ini bukan urusan yang bisa disimpan di dalam rumah kalian sendiri. Aku sudah terlalu lama diam soal banyak hal, tapi yang ini tidak."
"Besok aku kabari."
"Bukan besok. Malam ini juga kalau bisa."
"Iya, Ma. Malam ini."
Telepon ditutup. Hasna memeluk lututnya sendiri. Revan berjongkok di depannya, ragu, lalu mengulurkan tangan. Hasna menepisnya, tidak keras, hanya cukup untuk menjelaskan.
"Jangan sentuh aku dulu," katanya. "Aku mau sendiri."
"Aku antar ke kamar."
"Aku bisa jalan."
Hasna bangkit berpegangan pada dinding, lalu berjalan ke kamarnya dengan satu tangan menopang perut. Pintu kamar menutup. Bunyi kuncinya terdengar jelas di lorong yang sepi.
•||•
Jarum jam di kamar Fina menunjuk lewat pukul sebelas ketika Revan mengetuk. Kali ini ia mengetuk.
"Masuk."
Fina sudah berbaring dengan selimut sampai dada, bergo baru terpasang menutup kepalanya. Erlangga tertidur di sisi kanan, satu kakinya menimpa pinggang ibunya. Bima sudah dipindahkan ke kamarnya sendiri atas permintaan Hasna.
"Aku boleh duduk di sini?" tanya Revan pelan. "Di kursi saja. Aku nggak akan ganggu."
Fina memandangnya lama. "Terserah Mas."
Revan menarik kursi rias dan duduk. Lampu tidur memberi cahaya kuning yang membuat wajah Fina tampak lebih tirus.
"Aku sudah telepon Mama," katanya akhirnya. "Papa juga. Mereka mau datang. Aku belum tahu kapan."
"Mas cerita semuanya?"
"Yang aku tahu saja. Soal sakitmu."
Fina menatap langit-langit. "Mbak Hasna?"
"Pintunya dikunci."
"Dia berhak marah, Mas." Suaranya serak karena letih. "Kalau aku di posisinya, aku juga marah. Yang paling terakhir tahu itu selalu yang paling sakit."
Revan ingin menjawab bahwa Fina sendiri yang menyuruhnya diam, bahwa ia terjepit di antara dua permintaan yang tak mungkin dipenuhi bersamaan. Tapi kalimat itu terdengar seperti pembelaan, dan malam ini ia sudah kehabisan hak untuk membela diri. Ia hanya berkata, "Tidurlah."
"Mas nggak tidur?"
"Aku jaga sebentar."
Fina tidak menyuruhnya pergi. Itu saja, dan itu sudah lebih dari yang Revan kira akan ia dapat.
Sesekali Fina menggeliat dan meringis, lalu diam lagi. Revan menghitung tarikan napasnya seperti orang menjaga lilin di ruangan berangin.
Satu jam. Dua jam. Lewat tengah malam, matanya mulai perih, tetapi ia tidak beranjak.
Pukul dua dini hari, Fina membuka mata dengan gerakan mendadak. Ia menyibak selimut, memindahkan kaki Langga dengan hati-hati, dan setengah berlari ke kamar mandi. Pintunya menutup. Dari balik pintu terdengar suara orang yang muntah, kering dan berulang.
Revan berdiri. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu kamar mandi.