Revan mengetuk pintu kamar mandi dua kali. Pelan, seperti takut suaranya sendiri akan melukai.
"Fin. Boleh aku masuk?"
Tidak ada jawaban, hanya bunyi napas yang tersengal dan air keran yang menyala. Lalu, lemah, "Nggak dikunci."
Ia mendorong pintu. Fina berlutut di lantai keramik dengan tangan mencengkeram tepi kloset, bergonya miring, punggungnya naik turun. Piyama Ben 10 itu kebesaran di tubuhnya. Revan pernah menertawakan piyama itu, dulu sekali, dan sekarang ia menyesal sampai ke tulang.
"Boleh aku pegang pundakmu?"
Fina menoleh sedikit. Matanya basah dan merah. "Boleh."
Revan berlutut dan meletakkan telapak tangannya di pundak yang tulangnya terasa jelas lewat kain tipis. Ia menahan beban tubuh Fina setiap kali perutnya mengejang. Tidak ada kata-kata bagus yang keluar dari mulutnya, hanya "Sudah, sudah" yang berulang. Setelah semuanya reda, ia mengambil gelas, mengisinya di wastafel, dan menyodorkannya.
"Pelan-pelan minumnya."
Fina berkumur, meludah, lalu bersandar lemas ke dinding. "Maaf, Mas. Bangunin Mas."
"Aku nggak tidur."
Fina menatapnya sebentar, lalu menunduk.
Beberapa menit kemudian Revan sudah berdiri di dapur yang gelap, menatap kotak teh hijau. Hell, ia bahkan tidak tahu berapa kantung yang pantas. Ia merobek kemasan kantung teh, menjatuhkan satu ke mug, lalu menuang air dari termos. Air itu tumpah sedikit ke meja. Ia mengumpat pelan, mengelap dengan lengan bajunya.
"Airnya jangan yang mendidih."
Fina berdiri di ambang dapur dengan selimut tipis di bahu. Revan terlonjak.
"Kenapa turun? Kamu harus istirahat."
"Mual lebih parah kalau tiduran." Fina duduk di kursi makan. "Teh hijau jangan diseduh air mendidih, Mas. Pahit."
Revan menuang separuh air itu kembali ke gelas lain, menambahkan air dingin, dan menyodorkan mug ke depan Fina. Ia ikut duduk. Uap tipis naik di antara mereka.
"Fin," katanya, "teh hijau dan kentang goreng malam itu. Di kolam renang, waktu Hasna bilang dia hamil. Itu kamu, kan?"
Fina memegang mug dengan dua tangan. Lama ia tidak menjawab.
"Aku bawa nampannya ke belakang," katanya akhirnya. "Terus aku dengar Mbak Hasna bilang itu. Aku mundur, Mas. Aku taruh nampan di meja dapur, terus aku naik tidur."
"Mug beruang itu mug Hasna."
"Iya. Dari dulu yang ada di lemari memang itu."
Revan memejamkan mata. Ia ingat malam itu. Hasna turun beberapa menit kemudian, mengambil mug dari nampan, dan membawanya ke kolam sambil tersenyum. Revan meminum tehnya dan berkata, manis sekali, kamu tahu aku suka yang hangat. Hasna hanya tertawa. Dan selama ini Revan percaya itu buatan istrinya.
Berapa kali dalam hampir sembilan tahun ia mengira cangkir hangat di tangannya datang dari tempat yang salah? Ia tidak berani menghitung.
"Aku nggak pernah bilang terima kasih," katanya. Suaranya hampir tak terdengar.
"Nggak apa-apa."
"Itu bukan jawaban, Fin."
Fina meniup tehnya. "Berarti sekarang Mas sudah bilang."
•||•
Menjelang subuh, ruang tengah masih temaram. Revan menggelar dua sajadah, lalu berdiri di depannya dengan kikuk.
"Boleh aku imami?"
Fina menatap sajadah itu, lalu wajah Revan. "Boleh."
Ia memilih kursi karena kakinya tidak kuat lagi berdiri lama. Revan membaca surat pendek dengan suara yang bergetar di rakaat pertama dan mantap di rakaat kedua. Di belakangnya, Fina mengikuti dari kursi, bergo putih menutup kepalanya, dan Revan tidak menoleh karena ia tahu perempuan itu menangis. Ia hanya tahu dari napasnya.
Usai salam, tidak ada yang bicara. Dari balik tirai jendela langit mulai pucat. Revan berdoa lebih lama dari biasanya, dan ia tidak tahu harus meminta apa. Selamat? Sembuh? Ampun? Akhirnya ia hanya mengucapkan satu kata berulang-ulang dalam hati. Tolong.
Ketika ia berbalik, Fina sedang melipat mukena dengan jemari yang lamban.
"Terima kasih sudah mengimami," katanya. "Sudah lama aku nggak sholat di belakang Mas."
"Sebelum ini aku yang jarang ada."
"Iya," kata Fina. Bukan untuk menyakiti, hanya membenarkan. "Tapi pagi ini Mas ada."
Revan ingin menjawab sesuatu yang panjang. Ia memilih kalimat pendek. "Aku akan ada terus, Fin."
Fina tidak menjawab janji itu. Ia hanya meletakkan mukena di sandaran kursi, lalu berjalan naik ke kamar dengan satu tangan berpegangan pada pagar tangga. Revan menghitung anak tangga yang ia lewati sampai pintu kamarnya menutup.
•||•
Telepon dari sekolah masuk pukul sepuluh. Suara perempuan yang ramah dan teliti memperkenalkan diri sebagai Bu Laila, wali kelas Erlangga dan Sabima. Bukan kabar buruk, katanya, hanya sebaiknya ayah mereka datang.
Revan berangkat sendirian. Fina masih tidur dan Hasna belum keluar kamar. Di depan pintu kamar Hasna ia sempat berdiri, mengangkat tangan, lalu mengurungkan niat. Dari dalam hanya terdengar suara televisi yang sengaja dikeraskan.
Selama perjalanan ia membayangkan yang terburuk: ada anak yang menangis, ada yang berkelahi, ada guru yang menyalahkan. Ia bahkan sudah menyiapkan kalimat pembelaan untuk Langga.
Di ruang guru yang berbau spidol dan kopi sachet, Bu Laila menyodorkan secangkir teh dan langsung bicara. "Pak Revan, sebelumnya saya tegaskan: tidak ada hukuman. Sekolah kami tidak melarang kepala plontos. Saya hanya perlu memastikan orang tua tahu."
"Mereka sendiri yang minta, Bu. Dua-duanya."
"Saya tahu." Bu Laila tersenyum kecil. "Tadi pagi saya tanya kenapa. Erlangga bilang kepalanya panas. Tapi Sabima menjawab jujur." Ia berhenti sebentar. "Katanya, ibunya Erlangga botak karena sakit, dan botak itu bikin orang malu. Jadi kalau semua botak, tidak ada yang malu."
Revan memandang cangkirnya. Teh itu bergoyang sedikit.
"Ada satu lagi, Pak." Bu Laila menurunkan suaranya. "Sabima bilang, 'Papa lebih sayang aku, jadi aku yang harus jaga Mas Langga.' Saya tidak tahu konteksnya, dan itu bukan wilayah saya. Tapi anak sekecil itu tidak akan mengucapkannya kalau tidak merasakannya tiap hari."
Revan terdiam. Dadanya seperti diremas oleh tangan tak kelihatan.
"Terima kasih, Bu," katanya parau.
"Ada hal kecil juga tentang Erlangga. Dia selalu minta duduk paling depan, tapi masih menyipit tiap melihat papan. Beberapa kali saya lihat dia mendekatkan buku ke wajahnya. Mungkin hanya kebiasaan. Tapi kalau saya orang tuanya, saya akan periksakan."
Revan mengangguk. Ia tidak bisa menjawab lebih dari itu.
Di lorong menuju gerbang, ia melewati pintu kelas yang terbuka sedikit. Istirahat belum lama dimulai. Di ujung lorong dekat kamar mandi anak-anak, dua kepala licin berdiri berdekatan dan tidak melihat dirinya.
"Mas, tadi di papan tulis ada tulisan apa? Bima nggak sempat lihat."
"Nggak tahu, Bim." Suara Langga rendah, hampir berbisik. "Mas juga nggak bisa baca. Burem. Dari kelas satu juga burem."
"Mas bilang Papa dong."
"Jangan!" Langga menggenggam lengan adiknya. "Jangan bilang Papa kalau Mas nggak bisa baca tulisan di papan. Nanti Papa bilang Mas bodoh lagi."