Sabtu pagi, sesudah semalam nyaris tidak tidur memikirkan bisikan Langga, Revan menyeduh teh hijau untuk kedua kalinya dalam hidup, dan untuk kedua kalinya ia hampir menumpahkannya.
Kali ini ia ingat: air jangan mendidih. Ia meniup permukaannya, menaruh mug di depan kursi Fina, lalu mundur satu langkah seperti murid yang menunggu nilai. Fina hanya mengangkat alis, menyesap sedikit, dan berkata, "Lumayan, Mas." Cuma itu. Tetapi bahu Revan turun setengah jengkal.
Dari kursi seberang, Langga memperhatikan. Sendoknya berhenti di atas bubur ayam. Matanya bergerak dari mug ke tangan ayahnya, lalu ke wajah ibunya, seperti anak yang sedang menyimpan sesuatu untuk digambar nanti.
Hasna tidak turun sarapan. Menurut Mbak Marni, Bu Hasna makan di kamar saja. Bima mengunyah rotinya dengan cepat, lalu pamit mencari kartun di ruang tengah.
Begitu langkah Bima menjauh, Revan menarik kursi dan duduk di sebelah Langga.
"Langga."
"Iya, Pa?"
"Papa mau tanya, dan Papa janji nggak marah."
Langga meletakkan sendoknya. Bahunya menegang. "Janji?"
"Janji." Revan menahan suaranya supaya tetap rendah. "Papa dengar, tulisan di papan tulis kelihatan burem buat kamu. Betul?"
Hening panjang. Langga menunduk menatap buburnya, lalu mengangguk sangat pelan.
"Dari kapan?"
"Udah lama. Dari kelas satu." Suaranya kecil. "Tulisan kecil juga. Langga takut bilang. Nanti Papa bilang Langga bodoh lagi."
Revan merasa seperti ditampar tanpa suara. Rahangnya mengeras, dan untuk sesaat ia ingin berteriak. Bukan pada Langga. Pada dirinya sendiri, pada angka empat puluh itu, pada sore ketika ia menuding anak ini tidak mau berusaha.
"Papa nggak akan bilang itu lagi," katanya. "Senin Papa antar kamu periksa mata. Dokter yang akan bilang kamu kenapa."
"Beneran?"
"Beneran." Revan ragu sejenak. "Boleh Papa peluk kamu?"
Langga menatapnya curiga, seperti sedang memeriksa apakah ini jebakan. Lalu ia turun dari kursi dan berdiri kaku di depan ayahnya. Revan memeluknya dengan hati-hati. Tubuh anak itu masih tegang, tapi ia tidak menepis. Kepalanya yang licin menempel di dada Revan, hangat dan kecil.
"Pa," bisik Langga. "Papa bau teh."
"Papa baru belajar bikin."
"Jelek, ya?"
"Kata Ibu lumayan."
Langga mendengus pendek. Hampir tertawa. Hampir.
"Sudah lama aku bilang, Mas."
Fina berdiri di sisi meja, tangannya memegang mug. Suaranya tidak keras. Ia tidak menuduh, hanya menyebutkan.
"Aku tahu," jawab Revan. "Aku tahu, Fin."
•||•
Fina memaksa membuka toko. Revan menawar dengan tiga alasan, tapi tiap alasan dijawab dengan satu kalimat: "Ini hari kopi, Mas. Orang sudah antre sejak pagi." Akhirnya ia menyerah dan mengantar. Fina duduk di kursi dekat pantry, ditemani selimut kecil yang diam-diam Revan bawa dari mobil.
"Bos Revan?!"
Pita yang sedang menata kue di etalase hampir menjatuhkan nampan. Matanya membulat. "Mbak Fin, itu bener Bos Revan? Bukan orang yang mirip?"
"Bener, Ta," kata Fina.
"Ngapain, Bos?"
"Bantu-bantu," jawab Revan. Ia menggulung lengan kemejanya. "Kasih tahu saya harus ngapain."
Pita menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu mengangkat bahu seakan menerima kenyataan bahwa dunia memang sudah terbalik. Dalam sepuluh menit Revan sudah memakai celemek hitam. Pita mengajarinya mengelap meja, membaca daftar pesanan, dan membawa baki. Ia salah antar dua kali. Satu pelanggan bahkan tertawa kecil.
Dari bangku antre terdengar bisik-bisik. "Itu suaminya Bu Fina? Yang katanya punya istri dua?" "Hush. Orangnya kelihatan lagi belajar." Revan pura-pura tidak mendengar. Ia membawa kopi ke meja pojok dengan dua tangan, hati-hati, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah.
"Bu Fina kok pakai kerudung begitu hari ini, Mas?" tanya seorang pelanggan tetap, perempuan paruh baya dengan tas anyaman. "Biasanya cuma jilbab biasa. Lagi nggak enak badan, ya?"
Revan membuka mulut. Ia sempat ingin berbohong, mengatakan Fina hanya kedinginan. Tetapi kata-kata Hasna malam itu masih menempel di telinganya: jadi aku yang paling terakhir tahu, demi kebaikanku sendiri.
"Istri saya sedang berobat, Bu," katanya. "Doakan, ya."
"Aduh." Perempuan itu menutup mulut, lalu menepuk lengan Revan dengan kasar yang hangat. "Pasti saya doakan. Dan kopinya, Mas, tolong tambah gula satu sendok. Buat Bu Fina, gratis kuenya."
"Jangan, Bu, nanti saya dimarahi."
"Dimarahi siapa?"
"Pita."
Pita yang mendengar dari balik etalase tertawa terbahak. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, pundak Revan terasa ringan.
•||•
Menjelang siang, Fina berdiri untuk mengambil gelas dari rak di pantry dan dunia miring ke kiri.
Lututnya lemas. Gelas di tangannya terlepas. Sebelum menyentuh lantai, sepasang lengan sudah menangkap tubuhnya dari belakang.
"Fin! Pegangan."
Revan menahannya sampai ia bisa berdiri sendiri. Kopi dari cangkir yang tadi dibawa Pita tumpah ke blus Fina, hangat dan lengket, merambat sampai ke pinggang.
"Aku nggak apa-apa," kata Fina. "Cuma pusing."
"Kamu pucat."
"Aku ganti baju dulu. Ada blus cadangan di lemari kecil."
Revan melepaskannya tepat saat Fina berdiri tegak, lalu mundur dua langkah ke pintu pantry. "Aku tunggu di luar."
Fina masuk ke ruang kecil di balik pintu, mengambil blus dari lemari, dan membuka kancing yang lengket. Tangannya gemetar. Ia menarik blus yang basah itu ke atas, buru-buru, dan baru sadar pintu kayu itu tidak tertutup rapat. Engselnya sudah lama longgar. Ada celah sebesar jari di tepi daun pintu.
Fina membeku. Dari celah itu ia melihat punggung Revan yang berdiri di luar, tetapi sedikit miring, dan tahu apa yang mungkin ia lihat. Tangannya refleks menarik blus bersih menutupi pinggang kiri.
Terlambat.
Revan tersentak. Wajahnya langsung berpaling ke sisi lain, tegang. "Maaf," katanya cepat. "Aku nggak sengaja lihat. Maaf, Fin."
Fina memakai blus itu dengan tergesa, memasang kembali bergonya di depan kaca kecil yang retak di dinding, dan menarik napas tiga kali sebelum membuka pintu. Hampir sembilan tahun ia berganti pakaian dalam gelap, dan selama itu tidak ada yang bertanya mengapa. Hari ini cukup satu celah selebar jari.
Ketika ia keluar, Revan masih berdiri membelakangi pintu, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Pundaknya naik turun.
"Bekas lama, Mas," katanya. "Jangan tanya sekarang."
Revan menelan pertanyaan yang jelas-jelas sudah sampai di ujung lidahnya. Siapa, kapan, ia ingin tahu semuanya. Tapi Fina masih gemetar. Tangan Revan yang terkepal perlahan terbuka.
"Oke," katanya. "Aku nggak tanya."
Fina menatapnya sebentar. Ia terbiasa pada Revan yang memaksa, yang mengira jawaban adalah haknya. Revan yang berhenti ini membuatnya bingung, dan sedikit takut karena ia tahu dirinya mudah luluh pada kebaikan yang datang terlambat. Ia mengalihkan pandang ke rak, pura-pura menghitung toples.
Ponsel di saku celemek Revan bergetar.
Hasna
USG besok jam 10. Kamu ikut, kan?
Revan membaca pesan itu. Ia merasakan tatapan Fina di wajahnya.
"Balas saja, Mas," kata Fina. "Mbak Hasna menunggu."