Hasna sudah menyiapkan dirinya sejak bangun tidur. Blus krem, rok panjang longgar, riasan tipis yang cukup untuk menutupi lingkar hitam di bawah mata. Ia tidak ingin tampak seperti perempuan yang semalaman menangis. Ia ingin tampak seperti perempuan yang baik-baik saja.
Revan menunggu di bawah dengan kunci mobil di tangan. Ia bahkan sudah membukakan pintu penumpang.
"Pak Ucup libur," katanya. "Aku yang nyetir."
"Aku tahu."
Hasna masuk tanpa menoleh. Dalam hati ia menghitung. Revan menawarkan lengannya satu kali, ia tolak. Revan menanyakan apakah AC terlalu dingin, ia jawab tidak. Hanya itu sampai klinik.
Ruang tunggu penuh pasangan muda. Perempuan-perempuan dengan perut sebesar bola, laki-laki yang memegangi tas dan botol minum dengan wajah bangga. Hasna duduk di kursi pojok dan memperhatikan mereka seperti orang menonton film di negeri lain. Dulu, ketika ia hamil Bima, Revan juga menemaninya ke tempat seperti ini. Revan memegang tangannya sepanjang pemeriksaan. Ia tertawa terlalu keras hingga disuruh pelan oleh perawat.
Hari ini Revan duduk tegak di sebelahnya dan membuka ponsel, lalu menutupnya lagi.
"Kenapa?" tanya Hasna.
"Nggak apa-apa."
"Kamu cek pesan dari dia?"
"Dari Pita. Soal pesanan kue." Revan menatapnya langsung. "Kamu bisa lihat kalau mau."
Hasna tidak mau. Terlalu menakutkan kalau Revan benar-benar menyerahkan ponselnya dan isinya ternyata kosong. Terlalu mengerikan juga kalau isinya tidak kosong.
"Ibu Hasna?" panggil perawat.
Di ruang periksa, dokter kandungan tersenyum ramah, menggerakkan alat itu di atas perutnya yang licin oleh gel. Layar hitam putih menampilkan bayangan yang berdenyut. Hasna menahan napas.
"Itu kepalanya," kata dokter. "Itu tulang punggung. Dan itu..." Ia memutar layar sedikit. "Perempuan. Sehat. Ukurannya sesuai usia."
Hasna terpaku. Perempuan. Ia sudah menduganya, tetapi mendengarnya dari mulut orang lain membuat dadanya hangat dan nyeri sekaligus.
"Lihat, Pak." Dokter menunjuk satu sudut layar. "Jari-jarinya."
Revan mencondongkan tubuh. Hasna melihatnya diam-diam dari ujung mata. Ada bayangan kecil yang bergerak di layar, lima garis tipis yang membuka dan menutup. Dan wajah Revan berubah. Rahangnya melunak, matanya mengkilat, bibirnya terbuka sedikit seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang selama ini ia lupa pernah ia punya.
"Dia melambai," bisik Revan.
"Dia lagi nyari tangan kamu," jawab Hasna sebelum sempat menahan diri.
Revan menoleh. Mereka bertatapan, hanya sedetik, tetapi cukup bagi Hasna untuk melihat sesuatu yang membuatnya ingin percaya lagi: kelembutan yang tidak dibuat-buat. Hanya saja, kelembutan itu ditujukan pada bayi, bukan padanya.
"Sudah ada nama, Bu?" tanya dokter sambil mengelap gel dari perutnya.
"Sudah," kata Hasna.
"Siapa?" tanya Revan.
"Nanti." Hasna menurunkan bajunya. "Belum waktunya."
Revan tidak memaksa. Ia hanya mengangguk dan memandangi layar yang sekarang sudah gelap.
•||•
Di jalan pulang, hujan gerimis mulai turun. Wiper bergerak monoton. Hasna memegang lembar hasil USG di pangkuan dan menatap fotonya yang buram: kepala kecil, hidung kecil, tangan terangkat.
"Van."
"Ya?"
"Kamu masih cinta aku?"
Revan tidak langsung menjawab. Tangannya mengetuk setir sekali, lalu berhenti. Hasna menunggu dengan jantung berdetak dalam rongga dada yang terasa terlalu sempit.
"Aku suamimu," kata Revan pelan. "Dan ayah anak ini. Aku akan ada. Untuk kamu dan untuk dia."
"Itu bukan jawaban."
"Hasna."
"Itu bukan jawaban, Van." Suaranya tidak naik. Justru turun, dan itu lebih berbahaya. "Aku tanya cinta atau nggak. Kamu jawab tugas."
Revan menarik napas. "Aku nggak mau bohong sama kamu."
"Jadi itu jawabannya."
"Bukan. Aku..." Ia menelan ludah. "Aku mau jawab dengan benar, Na. Bukan di mobil, bukan sambil nyetir, bukan setelah kamu baru dengar kabar sebesar itu tiga hari lalu. Kasih aku waktu."
Hasna tertawa kecil, kering. Ia tahu persis maksudnya. Tidak ada orang yang butuh waktu untuk mengatakan ya.
Hasna memalingkan wajah ke jendela. Gerimis menggaris kaca, dan tak seorang pun bicara lagi sampai pagar rumah terbuka.
•||•
Di teras depan, Fina duduk di kursi rotan dengan bergo abu-abu dan selimut kecil di lutut. Langga bersila di lantai dengan buku gambar, pensilnya bergerak cepat. Bima bersandar di kaki Fina sambil menghitung semut.
"Mama!" Bima bangkit dan berlari menyambut. "Adiknya cowok atau cewek?"
"Cewek, Sayang."
"Yeay! Nanti Bima ajarin main bola!"
Fina tersenyum, dan Hasna melihat senyum itu tidak punya apa-apa di baliknya. Tidak ada sindiran, tidak ada kemenangan kecil. Justru itu yang membuat dadanya panas. Ia lebih mudah membenci senyum yang bisa dicurigai.
"Alhamdulillah, Mbak," kata Fina. "Sehat semua?"
"Sehat."
"Tadi Mbak Marni masak bubur ayam. Masih hangat. Mau kuambilkan?"
Hasna hampir menjawab ketus. Perutnya malah berbunyi, keras, di depan semua orang. Bima terkikik. Wajah Hasna memanas.
"Nanti," katanya. "Taruh saja di meja."
"Baik, Mbak."
Hasna masuk ke rumah. Di belakangnya Revan berhenti sebentar di dekat Langga, dan ia sempat mendengar suara anak itu: "Pa, lihat, ini Ibu pakai bergo, Langga gambar sambil senyum." Hasna mempercepat langkah.
Di kamar, ia menutup pintu setengah, sengaja tidak mengunci. Revan menyusul dan berdiri di ambang. Hasna duduk di tepi ranjang, mengambil ponselnya dari tas, menekan satu nama, dan menyalakan pengeras suara. Revan menatapnya dengan alis terangkat. Hasna tidak menjawab.
"Hasna?" Suara Ressie terdengar renyah lewat pengeras suara di kamar yang sepi. "Sayang, kamu di mana? Mama baru mau telepon."
"Ma," kata Hasna. Tenggorokannya tercekat. "Aku butuh Mama."
"Ya Tuhan, kenapa? Bayinya?"
"Bayinya sehat, Ma. Perempuan. Baru tadi USG." Ia menggigit bibir. "Tapi aku capek. Aku nggak tahu mau cerita ke siapa lagi."
"Anak Mama." Ressie terdengar lega sekaligus iba. "Papa dan Mama sudah dengar dari Revan malam itu. Papa belum mau bicara apa-apa sejak itu, diam saja di kursi teras. Mama nggak ngerti kenapa. Tapi kamu tenang. Besok pagi Mama dan Papa naik kereta pertama."
"Beneran, Ma?"
"Beneran. Eh, Hasna, perempuan itu masih di rumah kalian? Dia ada di dekatmu sekarang?"
"Di teras, Ma." Hasna memejamkan mata. Ia teringat bubur yang hangat dan senyum yang tidak bisa dicurigai. "Dia nggak ngapa-ngapain. Dia cuma duduk."
"Justru yang diam itu yang harus diwaspadai, Sayang. Mama kenal tipenya." Ressie berdehem. "Sudah, jangan dipikirkan. Pokoknya makan yang teratur, jangan banyak pikiran. Van, kamu dengar, kan?"
Revan menatap karpet di bawah kakinya. "Dengar, Ma."
"Kamu jangan bikin Hasna menangis lagi." Nada Ressie mengeras. "Dan Mama mau bertemu perempuan itu."