Klinik mata anak itu, di sebuah rumah sakit besar yang berbeda dari tempat Fina berobat, berdinding hijau muda, penuh gambar jerapah dan monyet bergelantungan. Langga duduk di kursi tunggu dengan topi Converse oranye ditarik sampai ke alis. Kakinya tidak bergoyang. Ia menatap lurus ke gambar jerapah di dinding seberang, dan Revan baru sadar anak itu sedang menyipitkan mata.
Selama ini ia tidak pernah memperhatikan.
Antrean hari itu panjang. Seorang ibu di sebelah mereka menenangkan balita yang menangis karena takut disuruh membuka mata, dan Langga memperhatikannya dengan wajah orang dewasa yang tahu betul rasanya takut itu.
"Takut, Nak?" tanya Revan.
"Nggak." Langga menyipit ke arah jerapah lagi. "Cuma nggak mau dibilang kenapa-kenapa."
"Kenapa memangnya?"
"Soalnya kalau Langga kenapa-kenapa, nanti Papa marah. Ibu juga sakit, Papa pasti pusing."
Revan terdiam. Anak sembilan tahun itu menghitung beban orang dewasa di rumahnya, dan menaruh dirinya di urutan paling akhir.
"Papa nggak akan marah," katanya akhirnya. "Dan kamu bukan beban, Langga."
Langga hanya menggeser topinya lebih rendah.
Setelah pendaftaran, perawat meneteskan cairan ke mata Langga dan menyuruhnya menunggu sampai pupilnya melebar. Hampir satu jam. Langga mengeluh perih, lalu mengeluh pandangannya silau, lalu mengeluh perutnya lapar. Revan membelikan roti dan susu dari kantin, dan ia menyuapkan sepotong roti ke mulut anak itu tanpa ditanya, tanpa disuruh.
Sambil menunggu, Revan duduk di sebelahnya dan memperhatikan tangan kecil itu. Kuku-kukunya digigit sampai pendek, kebiasaan yang selama ini ia kira tanda anak yang gugup tanpa sebab. Di dinding seberang, jam bundar berbentuk wajah kucing berdetak lambat. Langga mencoba membaca angkanya, mengerjap, lalu menyerah tanpa mengeluh. Revan mencoba menghitung berapa kali sejak kelas satu anak ini bilang tidak kelihatan dan ia menjawab dengan perintah supaya fokus. Ia berhenti menghitung karena hasilnya terlalu banyak.
"Erlangga?" panggil perawat.
"Papa ikut," kata Revan.
"Papa tunggu di luar aja," jawab Langga cepat. Lalu, setelah melihat wajah ayahnya, ia menambahkan dengan suara lebih kecil, "Atau ikut. Terserah."
Ruang periksanya remang. Seorang dokter perempuan berkacamata bulat menyuruh Langga duduk di kursi tinggi dan menunjuk deretan huruf di dinding. Huruf paling atas sebesar kepalan tangan.
"Yang itu bisa kamu baca?"
"E," jawab Langga. Lalu, "Atau F."
"Yang di bawahnya?"
Langga diam. Menyipit. Jarinya mencengkeram tepi kursi. "Nggak tahu."
"Nggak apa-apa. Dokter cuma mau lihat sampai mana matamu bisa." Suara dokter itu datar dan hangat. "Sekarang coba pakai ini."
Ia memasang bingkai besi berat di wajah Langga dan memasukkan beberapa lensa bergantian. Klik. Klik. Revan memperhatikan dari pojok ruangan dengan tangan terlipat, menahan keinginan untuk berdiri lebih dekat.
"Sekarang?"
Langga membuka mulut, tetapi tidak ada suara. Lalu ia berkata, hampir berbisik, "Itu T. Itu... O. Itu Z."
"Baris berikutnya?"
"P. E. C. Tulisan kecilnya juga bisa." Suara Langga bergetar. "Dok, kenapa baru sekarang bisa?"
Dokter itu tersenyum dan melepas lensa. Ia berbalik pada Revan, dan kali ini nadanya lebih formal.
"Pak, anak Bapak rabun jauh yang cukup tinggi, dengan astigmatisma di kedua mata. Itu yang membuat huruf di papan tampak kabur dan tulisan kecil bergoyang. Sudah lama tidak dikoreksi, itu kelihatan dari ototnya yang bekerja berlebihan."
"Tidak ada yang lain?" Revan menelan ludah. "Ada yang menyebut dia disleksia."
"Saya tidak menemukan tanda gangguan membaca. Dia bisa mengenali huruf dan kata kalau mata melihatnya dengan jelas. Anak ini bukan sulit belajar, Pak. Dia sulit melihat." Dokter berhenti sebentar. "Dengan kacamata yang tepat, nilai-nilainya mungkin naik cukup cepat."
"Kacamatanya berapa lama jadi?"
"Dua hari."
Dokter menuliskan resep kacamata di selembar kertas kecil, lalu menyerahkannya sambil menjelaskan bahwa Langga perlu memakainya sepanjang hari, bukan hanya di sekolah, dan harus kontrol lagi enam bulan lagi. Revan melipat kertas itu dua kali, hati-hati, seperti memegang surat yang sangat penting.
Revan merasakan lututnya lemas. Empat puluh. Itu nilai yang pernah ia lempar ke meja sambil bilang bahwa anak itu tidak mau berusaha. Ia ingat kertas ulangan itu, ingat warna tintanya, ingat wajah kecil yang menunduk di seberang meja makan.
Anak yang tidak mau berusaha itu tidak pernah bisa melihat papan.
"Pa?" Langga memanggil. "Papa nggak apa-apa?"
"Papa nggak apa-apa," kata Revan, dan suaranya patah. "Ayo, kita keluar."
•||•
Di parkiran, matahari sudah condong, panas tipis memantul dari atap mobil. Revan membuka pintu penumpang, tetapi sebelum Langga naik, ia berlutut di aspal di depan anak itu.
"Langga, Papa mau bicara. Dengerin dulu."
Langga menunggu. Tangannya mengepal di sisi celana.
"Waktu kamu dapat empat puluh, Papa bilang kamu malas. Papa bilang kamu nggak mau berusaha." Revan menatap mata anaknya. Setiap kata terasa seperti menarik paku dari kayu. "Papa bandingkan kamu dengan Bima di depan semua orang. Papa bilang Papa nggak suka anak bodoh. Kamu denger itu, kan?"
"Denger."
"Itu salah. Kamu nggak bodoh. Kamu nggak malas. Kamu cuma nggak bisa lihat, dan Papa nggak pernah mau cari tahu kenapa. Papa lebih gampang marah daripada bertanya. Papa minta maaf, Nak."
Langga tidak menjawab. Beberapa mobil lewat, dan bunyi klakson jauh terdengar. Dari bawah topi oranye itu, matanya yang cokelat memandang Revan lama sekali, dengan ketelitian anak yang terlalu sering dikecewakan.
"Langga maafin," katanya akhirnya.
Bahu Revan turun. Napasnya keluar dalam satu hembusan panjang.
"Tapi Langga masih ingat."
Kalimat itu jatuh pelan, tanpa dendam, tanpa kemarahan. Hanya fakta. Justru karena itulah ia lebih sakit daripada teriakan mana pun.
Revan mengangguk. Matanya perih, dan ia tidak menutupinya. "Papa tahu. Papa nggak minta kamu lupa. Papa akan kerja sampai kamu nggak perlu mengingatnya lagi."
"Kerja apa, Pa?"
"Kerja jadi Papa yang benar. Pelan-pelan. Kamu boleh nagih."
Langga memandangnya sebentar, lalu mengangkat bahu kecil. Tapi kemudian tangannya yang kecil itu menyentuh pundak ayahnya. Cuma sebentar, satu tepukan, seperti orang dewasa yang menenangkan orang dewasa.
"Papa bangun, nanti celananya kotor."
Revan tertawa, dan tawanya basah. Ia berdiri, menepuk lutut, dan hendak membuka pintu mobil ketika ponselnya bergetar di saku. Layarnya menunjukkan nama Pak Ucup.
"Pak Revan," suara Pak Ucup terdengar tergesa dan sedikit terengah. "Maaf mengganggu. Bapak dan Ibu besar sudah di depan rumah."
"Di depan rumah?" Revan melirik jam. Hampir pukul tiga sore. "Hasna bilang mereka naik kereta pertama. Kenapa baru sampai sekarang?"
"Katanya mampir dulu ke dokter langganan Bapak, Pak, kontrol. Terus dijemput sopir dari stasiun. Ibu besar minta saya telepon, katanya Pak Revan harus pulang sekarang juga."
Revan memandang Langga. Anak itu sudah naik ke jok dan menatap kaca spion dengan mata yang masih lebar karena obat tetes, silau dan berair.
"Kita pulang, Pa?" tanya Langga.
"Kita pulang," jawab Revan, dan untuk alasan yang tidak ia pahami, ia merasa sedang mengantar anaknya ke medan yang tidak ia kuasai.