Ressie memeluk Hasna lama-lama.
Fina menyaksikan dari sofa kecil di sudut ruang tamu, tempat yang sengaja ia pilih supaya tidak menghalangi siapa pun. Kedua tangannya terlipat di pangkuan. Bergo abu-abu menutup kepalanya sampai ke leher. Ia sudah menyapa tadi, mencium punggung tangan Ressie, dan Ressie menarik tangannya begitu cepat sampai terasa seperti Fina baru menyentuh sesuatu yang kotor.
"Sayang, kamu kurus." Ressie mengusap pipi Hasna dengan kedua telapak. "Perutmu sudah besar, tapi wajahmu pucat. Pasti kurang tidur. Kurang makan. Mama bawakan jamu dari Bandung, nanti Mama sendiri yang seduh."
"Makasih, Ma." Hasna membalas pelukan itu lama, seakan sedang menumpahkan beban yang tak ia bawa sendirian.
Wira berdiri di belakang istrinya, tubuhnya yang tinggi sudah agak bungkuk, tongkat kayu di tangan kiri. Ia tidak menyapa siapa pun lebih dulu. Matanya mencari sesuatu di ruangan, dan menemukannya di sofa kecil itu.
Fina menunduk hormat. "Papa."
Wira tidak menjawab. Ia menatap Fina lama, sangat lama, pada wajah yang tirus dan kantung mata yang membengkak. Rahangnya bergerak seakan hendak mengatakan sesuatu, lalu urung.
Pintu depan terbuka. Revan masuk dengan Langga di sisinya, topi oranye masih terpasang, mata anak itu berair dan merah akibat obat tetes. Revan terlihat letih, tetapi sorot matanya mencari Fina dulu sebelum siapa pun.
"Kakek!" seru Langga.
"Langga." Wira meletakkan tongkat, membuka lengan, dan memeluk cucunya erat. Terlalu erat, malah. Fina melihat tangan tua itu bergetar saat mengusap punggung kecil di pelukannya. "Cucuku. Cucu Kakek yang pintar."
"Kakek, mata Langga baru diperiksa. Langga pakai kacamata sebentar lagi."
"Kacamata?" Wira mundur untuk menatapnya. "Kenapa?"
"Soalnya Langga nggak bisa lihat papan. Tapi nggak apa-apa. Dokter bilang Langga bukan bodoh."
Hening sejenak. Ressie berdehem.
"Jangan bicara begitu, Langga," katanya. Nadanya setengah menegur, setengah canggung. "Siapa yang bilang kamu bodoh?"
Langga tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas pada ayahnya, dan Revan menahan napas.
Bima menyelinap dari belakang Hasna, bergantung di lengan Wira, dan mendongak dengan senyum lebar. "Kakek lihat, kepala Bima botak! Kayak Ibu!"
Ressie memejamkan mata sesaat. Wira justru menatap kepala kecil itu, lalu kepala kecil yang lain di sisinya, dan ujung bibirnya bergerak. Bukan senyum. Lebih mirip sesuatu yang hendak runtuh.
"Kenapa kalian botak?" tanyanya lirih.
"Biar Ibu nggak malu," jawab Bima sebelum siapa pun sempat menyela.
Tidak ada yang berkata apa-apa setelah itu. Fina merasakan tenggorokannya menyempit.
Pandangan Ressie lalu jatuh ke arah sofa kecil. Matanya turun dari bergo di kepala Fina, ke kerah gamis, ke tangan yang kurus.
"Kok pakai topi di rumah, Fina?" tanyanya pelan, dengan senyum yang tidak menyentuh matanya. "Gerah, nggak?"
"Biar hangat, Ma," jawab Fina.
"Hangat. Di Jakarta." Ressie menoleh pada Hasna, dan keduanya bertukar pandang yang tak perlu diterjemahkan.
Fina menunduk. Ia sudah terlalu terbiasa pada tatapan seperti itu. Yang tidak ia duga adalah Revan yang melangkah dan berdiri persis di samping sofa, tangannya diletakkan di sandaran, dalam jarak yang cukup dekat untuk dibaca semua orang. Ia tidak menyentuh Fina. Ia hanya berdiri di sana.
•||•
Makan malam berlangsung dalam diam. Setiap dentingan sendok terdengar keras.
Mbak Marni menyajikan sup ayam, tempe goreng, dan sambal terasi. Fina duduk di ujung meja, hanya mengambil nasi sedikit dan kuah. Ia tidak kuat makan lebih. Di seberangnya Hasna menggerak-gerakkan sendok tanpa menyuap, satu tangan di perutnya. Wira duduk di kepala meja dan hampir tidak menyentuh piring.
"Jadi kata Revan di telepon," Ressie membuka, setelah menyeruput sup, "kamu sakit, Fina."
"Iya, Ma."
"Sakit apa?"
"Mama," potong Revan. "Nanti. Sesudah makan."
"Ya, Mama cuma tanya." Ressie meletakkan sendoknya dengan pelan. "Mama cuma heran, kenapa sakitnya baru ketahuan sekarang. Pas Hasna sudah mau melahirkan. Kebetulan sekali."
"Ma." Suara Revan merendah, tetapi tajam. "Fina sudah lama berobat. Dia sudah kemo tiga kali."
"Kenapa baru bilang sekarang kalau sudah selama itu? Mama cuma bilang, Van. Orang sakit itu biasanya minta tolong. Ini malah diam."
"Karena dia nggak mau merepotkan siapa pun."
"Atau karena dia nggak mau ketahuan bohong," gumam Ressie, cukup keras supaya semua dengar.
Hasna diam. Fina melihat jari-jarinya memutar sendok sekali, dua kali, tanpa mengangkat mata. Ada sesuatu di wajah itu yang bukan lagi amarah, tetapi sesuatu yang lebih rapuh. Ia tidak membela Ressie. Ia juga tidak membela Fina. Ia hanya tidak berbicara.
Fina meletakkan sendoknya. Ia tahu apa yang akan dikatakan Ressie berikutnya, dan ia tahu lebih baik tidak melawan di hadapan semua orang. Ia memilih menunduk.
Di bawah meja, ia merasakan sesuatu. Kaki Revan bergeser, tidak menyentuhnya, hanya mendekat. Fina tidak menoleh. Tetapi napasnya sedikit lebih mudah.
Hasna melihat gerakan itu juga. Fina yakin. Mata Hasna bergerak sekejap dari kursi Revan ke kursinya, lalu kembali ke piring, dan wajahnya mengerut oleh sesuatu yang bukan benci. Lebih mirip seseorang yang baru sadar kursi di sebelahnya sudah bergeser, pelan-pelan, tanpa pernah ada yang memberi tahu.
"Sakit apa, Fina?"
Itu bukan suara Ressie. Fina mengangkat kepala.
Wira bertanya pelan, nyaris tak terdengar di antara bunyi sendok. Matanya terpaku pada piring, dan jemarinya yang keriput menggenggam tepi meja.
"Papa," kata Fina lembut.
"Sakit apa?"
Fina menatap Revan sekilas. Revan mengangguk kecil, tanda ia boleh bicara jika ia sanggup. Fina menarik napas.
"Kanker ginjal, Pa. Stadium tiga."
Sendok Wira jatuh ke piring. Dentingnya memantul di ruang makan yang sunyi. Wajahnya, yang sejak tadi kelabu, berubah menjadi pucat seperti kertas. Bibirnya bergerak tanpa suara. Ginjal. Ia menggumamkan kata itu pelan, seperti baru mendengar kata dari bahasa lain.
"Pa?" Revan setengah berdiri. "Papa nggak apa-apa?"
Wira tidak menjawab. Ia mendorong kursinya mundur, berdiri dengan bertumpu pada tongkat, dan berjalan ke arah pintu kaca tanpa sepatah kata. Pintu geser itu terbuka, lalu tertutup. Dari jendela Fina melihat siluetnya berdiri di tepi kolam, membelakangi rumah, bahunya naik turun.
Ressie bangkit setengah. Matanya menyipit pada Fina. Ia membanting serbet ke piring, pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang, lalu berjalan menyusul suaminya tanpa menoleh lagi.