Makan malam bubar tanpa ada yang menghabiskan piringnya. Fina hanya menunduk dan menumpuk piring, dan Ressie tidak kembali ke meja. Malam sudah jatuh sepenuhnya ketika Revan menyusul ayahnya ke kolam renang.
Lampu taman menyala kuning di sepanjang pagar. Air kolam tenang, memantulkan bayangan Wira yang duduk di kursi kayu, tongkatnya bersandar di lutut. Revan menarik kursi di sebelahnya dan duduk tanpa bicara. Di tempat yang sama, belum lama ini, ia pernah berteriak girang menyambut kabar kehamilan istri keduanya, tanpa tahu siapa yang berdiri di balik pintu kaca.
"Papa sudah minum obat malam ini?" tanya Revan lebih dulu.
"Sudah. Jangan ganti topik."
"Aku cuma..."
"Kamu cuma takut Papa jatuh di kolam." Wira nyaris tersenyum. Hampir. "Papa masih bisa duduk, Van."
Dari dalam rumah terdengar denting piring yang dibereskan Marni, samar, seperti suara dari dunia yang masih berjalan biasa. Di sini hanya ada air dan dua laki-laki yang sama-sama tidak tahu harus mulai dari mana. Revan melihat kursi kayu itu terlalu kecil untuk tubuh ayahnya yang mendadak tampak menyusut.
Revan diam. Lalu, "Stadium tiga?" tanya Wira. Suaranya serak, tak lagi berat.
"Tiga, Pa."
"Dokternya siapa?"
"Dokter Iqbal. Spesialis kanker. Dia yang menangani Fina dari awal." Revan menunggu, tetapi ayahnya hanya menatap air. "Sudah tiga kali kemo. Kata dokter, kita lihat dulu responsnya."
"Dioperasi?"
"Belum tahu, Pa. Dokter bilang tergantung kemo."
Wira mengangguk pelan. Jemarinya meremas gagang tongkat sampai buku-bukunya memutih. Revan memperhatikannya dan merasa ada sesuatu yang aneh. Bukan hanya sedih. Ayahnya tidak tampak seperti orang yang terkejut. Ia tampak seperti orang yang sedang memandang sesuatu yang selama ini ia takutkan datang, dan akhirnya datang juga.
"Pa." Revan memberanikan diri. "Papa tahu sesuatu?"
"Papa tahu apa?"
"Papa kelihatan..." Revan mencari kata. "Papa kelihatan seperti ini bukan pertama kali."
Wira terdiam lama. Katak di tepi kolam berbunyi satu kali, lalu senyap.
"Papa yang membawa dia ke keluarga ini," kata Wira lirih. Hampir seperti bicara pada diri sendiri. "Papa yang menyuruh kamu menikahinya. Kalau sesuatu terjadi pada Fina..."
Ia tidak melanjutkan. Bahunya bergetar, dan Revan terkejut karena ia melihat air mata mengalir di pipi tua itu. Ayahnya, laki-laki yang mendidiknya dengan disiplin keras, yang jarang sekali memeluknya sesudah ia besar, sedang menangis seperti anak kecil.
"Pa, maksud Papa apa? Kenapa Papa merasa..."
"Jangan tanya." Wira mengangkat tangan. "Belum waktunya. Bukan Papa yang berhak cerita. Biarkan Papa sendirian sebentar."
Revan ingin memaksa. Ia sudah membuka mulut, kalimat desakan sudah di ujung lidah, ketika Wira menoleh. Tatapan itu merah dan tak berdaya, bukan tatapan laki-laki yang memerintah, melainkan laki-laki yang memohon agar tidak ditanya. Revan mengurungkan niat. Ia berdiri, meletakkan tangan sebentar di bahu ayahnya, dan pergi.
Di pintu kaca ia menoleh sekali. Wira masih menatap air, dan bibirnya bergerak tanpa suara, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak akan selesai dihitung.
•||•
Lewat tengah malam, rumah sunyi. Revan sudah tiga kali berbaring dan tiga kali bangun lagi. Kepalanya penuh kalimat Wira. Papa yang membawa dia. Sekarang ia turun ke dapur, bukan untuk makan, hanya untuk menghentikan pikiran yang berputar.
Ia berhenti di ambang pintu dapur.
Lampu di atas bak cuci menyala. Fina berdiri membelakanginya, mencuci gelas satu per satu. Bergonya miring sedikit. Punggungnya kurus sekali di balik gamis tidur. Ia mencuci dengan gerakan lambat, seolah pekerjaan kecil itu satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang.
Ia ingat gelas-gelas itu. Dulu, setiap kali ia pulang larut dari kantor, ada segelas air putih di meja ruang tengah yang selalu sudah tersedia, dan ia tidak pernah bertanya siapa yang menaruhnya. Sekarang ia tahu. Selalu tahu, sebenarnya, hanya tidak pernah mau mengakuinya.
Revan membuka mulut untuk menyapa. Tapi terdengar langkah lain dari arah ruang makan, dan ia refleks mundur setengah langkah ke bayangan pintu.
Ressie masuk dengan daster tidur dan selendang di bahu. Ia berhenti di belakang Fina.
"Belum tidur?"
Fina menoleh. "Belum ngantuk, Ma."
"Bagus. Mama juga." Ressie bersandar di meja dapur, melipat tangan. "Mama mau bicara baik-baik sama kamu, Fina. Jangan salah paham."
"Silakan, Ma."
Ressie memandang gelas-gelas yang tersusun rapi di rak. Sesaat wajahnya tampak lelah, jauh lebih tua dari yang Revan ingat.
"Mama cuma tidak mau kehilangan lagi," katanya, bukan kepada siapa-siapa. "Hasna sedang membawa cucu Mama. Revan anak Mama. Mama sudah terlalu sering melihat orang yang Mama sayang pergi dan Mama tidak bisa apa-apa."
Fina diam. Revan menahan napas di balik pintu. Itu bukan kalimat orang jahat. Itu kalimat orang takut yang memilih menyerang karena tidak tahu cara lain.
"Tapi," lanjut Ressie, dan wajahnya mengeras lagi, "kamu tahu Hasna sedang hamil tua. Tensinya mudah naik, pikirannya gampang kacau. Kehadiran kamu di rumah ini, dengan semua... ini." Ressie menggerakkan tangan ke arah bergo Fina. "Itu bikin dia tertekan. Mama minta kamu tahu diri."
"Maksud Mama?"
"Kamu bisa pulang ke rumah Ibu Arini dulu. Sampai urusan Hasna beres. Berobat dari sana. Toh yang mengurus kamu di rumah sakit itu dokter, bukan Revan." Nadanya lembut, hampir ramah, dan justru itu yang membuat tengkuk Revan dingin. "Jangan menyusahkan orang yang sedang hamil."
Fina tidak langsung menjawab. Tangannya yang basah berhenti di tepi bak, dan Revan melihat buku jarinya memutih. Dari tempatnya berdiri ia bisa mendengar tetesan keran, satu per satu, jatuh ke gelas terakhir yang belum sempat dibilas. Ia ingin masuk. Kakinya tidak mau bergerak.
Fina meletakkan gelas yang sedang dibilasnya. Ia mengeringkan tangan dengan kain lap, pelan, dan menghadap Ressie.
"Mama," katanya, "saya nggak menyusahkan siapa pun."
"Papa menangis untuk kamu, Fina." Ressie mendekat setengah langkah. "Papa yang selama ini nggak pernah menangis di depan siapa pun. Sekarang dia menangis untuk perempuan yang baru ketahuan sakitnya. Entah apa yang kamu bisikkan ke dia."
"Saya nggak membisikkan apa-apa."
"Terserah." Ressie memejamkan mata sebentar, menarik napas, lalu merogoh saku selendangnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Ia menyodorkannya ke depan Fina. "Ini. Cukup buat biaya berobat dan hidup sampai kamu tenang. Ambil. Kita anggap tidak pernah ada percakapan ini."
Revan menegang di balik pintu. Tangannya mencengkeram kusen.
Fina menunduk menatap amplop itu. Lama. Lalu ia mengangkat wajahnya, dan suaranya tidak naik satu desibel pun.
"Terima kasih, Ma. Tapi saya nggak butuh ini."
"Ambil saja."
"Ini rumah Langga juga, Ma," kata Fina. "Dia lahir di sini. Dia nggak punya rumah lain. Dan selama dia masih butuh saya, saya nggak akan ke mana-mana."
Amplop itu menggantung di udara beberapa detik. Wajah Ressie menegang, lalu mengeras. Ia menarik tangannya, melempar amplop ke meja dapur dengan bunyi tumpul, dan mendekatkan wajahnya pada Fina.
"Perempuan kampungan yang tak tahu untung."