"Cukup, Ma."
Dua kata itu keluar dari mulut Revan lebih pelan daripada yang ia bayangkan, tetapi dapur seakan berhenti bernapas. Ressie berbalik. Fina juga. Revan melangkah keluar dari bayangan pintu dan berdiri di antara mereka berdua. Tanpa menoleh, ia mematikan keran yang masih mengucur.
Seumur hidup Revan tidak pernah membantah ibunya di hadapan orang lain. Tangannya dingin. Tetapi suaranya mantap.
"Fina istriku."
"Revan." Ressie mengerjap, wajahnya memerah oleh kaget. "Kamu dengar apa yang Mama..."
"Aku dengar semuanya. Dari awal." Revan menatap amplop di meja. "Yang Mama sebut kampungan itu mengurus anakku sejak dia lahir. Yang Mama suruh pulang itu sedang sakit, dan dia berdiri di dapur jam segini cuma karena nggak bisa tidur menahan mual. Dia nggak menyusahkan siapa pun, Ma. Justru kami yang selama ini menyusahkan dia."
"Kamu membentak Mama demi dia?"
"Aku nggak membentak. Aku minta Mama berhenti."
Ressie terhuyung mundur setengah langkah, satu tangan memegang tepi meja. Matanya berkaca-kaca, bukan oleh marah saja. "Anak Mama. Anak yang Mama lahirkan sendiri. Kamu pilih dia di atas Mama."
"Aku tidak memilih antara Mama dan dia. Aku cuma minta Mama menghormati istriku."
"Kalau begitu Mama pulang sekarang." Dagu Ressie terangkat. "Mama nggak mau tinggal di rumah yang anaknya sendiri mengusir ibunya!"
"Silakan, Ma," jawab Revan, dan dadanya sakit saat mengatakannya. "Kalau Mama tidak bisa menghormati istriku, silakan. Aku antar ke stasiun sekarang."
"Revan..."
Suara itu bukan dari Ressie. Dari tangga di balik dapur terdengar langkah lamban. Hasna turun dengan satu tangan memegang pegangan tangga dan tangan lain di perut, mengenakan daster tidur dengan rambut terurai. Ia berhenti di anak tangga ketiga dari bawah. Tidak ada yang tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana.
Revan membuka mulut. Sebelum ia sempat bicara, pintu belakang dapur terbuka dan Wira masuk membawa tongkat, membawa udara malam yang dingin ke dalam ruangan.
"Ressie."
Cuma satu kata. Tetapi Ressie langsung terdiam, seperti bocah yang namanya disebut guru. Wira berjalan pelan ke tengah dapur. Matanya masih merah. Ia melirik amplop di meja, lalu istrinya.
"Papa..."
"Kamu tinggal," kata Wira. "Kamu tidak pulang malam ini, dan tidak besok. Tapi kamu diam. Cukup."
"Papa dengar apa yang dia..."
"Papa dengar semuanya dari kebun. Jendela dapur terbuka." Ia mengambil amplop itu, mengulurkannya pada Ressie dengan tangan bergetar. "Simpan ini. Sekarang."
Ressie menerimanya seperti menerima tamparan. Bibirnya mengatup, matanya basah. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh, bunyi sandal tidurnya menjauh di lorong.
Dapur kembali hening. Wira berdiri di depan Fina, laki-laki tua yang pernah memerintah rumah ini dengan satu isyarat tangan, kini menunduk.
"Fina, Nak," katanya. "Maafkan kata-kata istri Papa."
"Papa tidak perlu minta maaf."
"Papa perlu." Wira mengangkat wajah. "Papa yang harusnya melindungi kamu di rumah ini. Papa tidak melakukannya, dan Papa malu."
Fina menggeleng pelan. Matanya basah, tetapi ia tersenyum, kecil dan lelah. "Mama cuma takut, Pa. Saya mengerti."
Wira menatapnya lama. Sangat lama. Seperti seseorang yang memandangi utang yang tidak mungkin ia bayar, dan melihat si pemberi utang tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Revan menangkap tatapan itu, dan ada yang bergerak di dasar dadanya yang belum bisa ia beri nama.
"Istirahatlah," kata Wira akhirnya. "Kamu butuh tidur."
Wira keluar lebih dulu menuju kamar tamu bawah, tongkatnya berketuk pelan di lantai. Fina mengeringkan sisa air di meja dengan kain lap, hanya untuk memberi tangannya pekerjaan.
"Terima kasih, Mas," katanya tanpa menoleh.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena itu bukan kebaikan. Itu seharusnya sudah kulakukan dari dulu." Revan menggosok tengkuk. "Aku nggak membela kamu karena kamu sakit, Fin. Aku membela istriku. Itu saja."
Fina akhirnya menoleh. Ia menatapnya lama dengan pandangan yang sulit dibaca, antara lelah dan hati-hati dan sesuatu yang masih ia pagari.
"Mas jangan terlalu cepat berharap aku menganggap itu semuanya," katanya pelan. "Satu malam belum membereskan sembilan tahun."
"Aku tahu."
"Tapi malam ini..." Fina menunduk, menaruh kain lap di gantungan. "Malam ini aku nggak sendirian di dapur ini. Itu aku akui."
Revan ingin mengatakan sesuatu yang lebih panjang, tetapi ia melihat bahu Fina turun sedikit, seperti orang yang baru meletakkan beban yang tidak ia sadari sudah dipikul sejak sore. Ia memutuskan tidak menambah apa pun.
Fina keluar dengan langkah pelan. Revan mendengar bunyi anak tangga satu per satu sampai pintu kamar menutup.
•||•
Revan berdiri sebentar di dapur yang sudah kosong, memandangi rak gelas. Kepalanya masih berdengung. Ia baru menyadari kedua tangannya gemetar, seperti baru turun dari sesuatu yang tinggi.
Jam dinding menunjukkan hampir pukul satu. Dari lantai atas terdengar pintu kamar Ressie menutup dengan keras, sekali, tidak dibanting tetapi cukup supaya seisi rumah tahu. Revan memejamkan mata. Ia menunggu rasa lega, dan yang datang malah ketakutan: ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali, di rumah yang selama ini hidup dari kebiasaan tidak saling menjawab.
"Kamu belain dia di depan Mama kamu."
Hasna masih di anak tangga. Wajahnya setengah di dalam bayangan. Revan tidak bisa membaca ekspresinya.
"Na..."
"Kamu belain dia." Hasna turun satu langkah, lalu satu lagi. "Kamu bentak Mama kamu. Kamu suruh dia pulang. Demi Fina." Suaranya rendah, tapi nyaris bergetar. "Kamu nggak pernah belain aku seperti itu, Van. Bertahun-tahun, tiap ada yang menekan aku, kamu diam. Kamu pura-pura nggak dengar."
Revan terdiam. Kalimat itu benar, dan ia tahu persis di mana kebenarannya melukai.
Ia teringat meja makan keluarga tahun-tahun lalu, sindiran Ressie yang dibungkus tawa, dan dirinya sendiri yang selalu sibuk menambah nasi di piring orang lain supaya tidak perlu menanggapi.
Hasna berbalik dan naik, tangan di pegangan, punggungnya tegak menahan kesal. Revan menyusulnya. Di depan pintu kamar mereka, ia menahan daun pintu supaya tidak menutup.
"Aku mau bicara."
"Aku capek."
"Satu menit saja."
Hasna berhenti di ambang pintu, memegang kusen. Dalam cahaya redup lorong, matanya tampak jauh lebih lelah daripada marah.
"Kamu tidak perlu dibela, Na," kata Revan, pelan, selembut yang ia sanggup. "Karena tidak ada yang menyerangmu. Mama bahkan membawakanmu jamu dan memelukmu seharian. Malam ini mereka menyerang istriku yang sedang sakit. Kalau Mama menyerangmu, aku akan membelamu dengan cara yang sama. Aku janji."
Hasna menatapnya lama. Bibirnya terbuka sedikit, tertutup, lalu terbuka lagi, seperti ada kalimat yang sudah ia siapkan tetapi tidak jadi dipakai. Akhirnya ia hanya mengangkat tangan dan mematikan saklar lampu kamar.
Gelap menelan ruangan. Pintu bergerak, perlahan, tanpa dibanting.
Revan berdiri di lorong, di depan pintu yang tertutup, dalam kegelapan yang tiba-tiba lengkap.