Ayunan gantung di taman belakang itu cukup lebar untuk dua orang, asal yang satu sudah sangat tua dan yang satu masih sangat kecil.
Langga duduk bersila di sebelah Kakek Wira dengan buku gambar di pangkuan. Pagi itu langit mendung tipis, dan udara berbau tanah basah. Ia tidak sekolah karena kacamatanya belum jadi. Papa bilang besok sore. Kakek bilang itu bagus, karena hari ini mereka punya waktu menggambar.
"Coba lihat gambarmu," kata Wira.
Langga menyerahkan bukunya. Wira memegang dengan dua tangan, menjauhkannya sedikit untuk melihat, dan mengangguk-angguk.
"Rumahnya bagus. Pagarnya lurus. Tapi kenapa pohonnya terlihat menempel di tanah?"
"Soalnya memang di tanah, Kakek."
"Betul. Tapi kalau matahari ada di sini," Wira menunjuk pojok kiri atas kertas, "bayangan pohonnya jatuh ke mana?"
Langga berpikir. "Ke kanan?"
"Pintar. Sekarang coba gelapkan sisi kanan batang. Pelan-pelan. Jangan ditekan."
Langga menggoreskan pensil. Ia menggelapkan satu sisi batang dan lihat, pohonnya jadi bulat. Jadi hidup. Mulutnya terbuka kecil.
"Bagus sekali," kata Wira. Suaranya hangat, jenis hangat yang jarang Langga dengar dari orang yang hampir selalu diam. "Kamu punya mata yang bagus untuk menggambar, Langga."
"Tapi mata Langga nggak bagus, Kakek. Makanya perlu kacamata."
"Mata untuk menggambar itu beda." Wira menepuk dadanya sendiri. "Yang melihatnya di sini."
Langga tersenyum, lalu mulai menggambar halaman baru. Gerimis tipis mulai jatuh di atap ayunan, tetapi tidak ada yang mengajak masuk. Pensilnya bergerak cepat. Satu bentuk bulat, kain yang menutup, dua mata teduh, dagu yang tegak. Ia menggambar Ibu, tetapi bukan Ibu yang pucat dan lemah. Ia menggambar Ibu dengan kepala licin yang berkilau kena cahaya dari pojok kiri atas, bayangan jatuh di sisi kanan, bahu lebar seperti prajurit di film.
"Siapa itu?" tanya Wira.
"Ibu. Ibu botak yang gagah, Kakek."
Wira diam. Tangannya naik menutup mulut. Matanya, yang selalu terlihat tua, mendadak terlihat sangat muda dan sangat basah.
"Kakek kenapa?" tanya Langga cemas. "Jelek, ya?"
"Bukan." Wira menarik napas. "Bagus. Bagus sekali, Sayang. Ibumu memang gagah."
Langga menunduk menatap gambarnya dengan puas, lalu teringat sesuatu yang sudah lama mengganggu.
"Kakek."
"Ya?"
"Kenapa Ibu punya bekas luka panjang di pinggang? Langga lihat waktu Ibu ganti baju."
Pensil di tangan Wira jatuh. Gerakannya pelan, seolah tangannya mendadak kehilangan tenaga. Langga memungut pensil itu dari rumput dan menyodorkannya kembali, tetapi Wira tidak mengambilnya. Ayunan berhenti berderit. Langga menatap wajah kakeknya, dan kakeknya tidak menjawab.
Lama sekali. Burung di pohon jambu berkicau dua kali.
"Operasi lama, Sayang," kata Wira akhirnya. Suaranya kering. "Sudah lama sekali."
"Operasi apa? Kok Ibu nggak pernah cerita?"
"Kakek..." Wira bangkit dengan susah payah, bertumpu pada tongkat. "Kakek harus istirahat sebentar. Kamu terusin gambarnya, ya. Jangan lupa tanda tangan di pojok."
Ia melangkah pergi, lambat dan tidak seimbang. Langga memperhatikan punggung itu sampai menghilang di balik pintu belakang, lalu menatap gambarnya lagi. Pelan-pelan ia menuliskan namanya di pojok kanan bawah, huruf demi huruf, dan dalam hati ia bertanya-tanya kenapa semua orang dewasa di rumah ini mendadak pandai menyembunyikan sesuatu.
•||•
Revan sedang menuruni tangga membawa tas kerja ketika ia melihatnya.
Ia sudah mengatur ulang rapat siang supaya bisa pulang lebih awal. Ia ingin ada di rumah ketika Langga kembali ke sekolah besok. Di bawah tangga, pintu kamar tamu terbuka sedikit, dan lewat celah itu ia melihat ayahnya.
Wira duduk di tepi ranjang dengan sajadah terhampar di lantai di depannya. Ia tidak sedang sholat. Ia duduk dengan tangan tertengadah, kepala menunduk, dan bahunya bergetar tanpa suara. Bibirnya bergerak cepat, berulang, doa yang sama dilafalkan terus-menerus. Air matanya jatuh ke telapak tangan dan ia tidak menyekanya.
Dari celah pintu ia tidak bisa menangkap kata-katanya, hanya irama bibir yang sama berulang-ulang, seperti orang yang menyebut satu nama di setiap tarikan napas.
Revan membeku di anak tangga. Ia tidak pernah melihat ayahnya seperti itu, dan ia tidak berani mendekat. Seakan yang sedang ia saksikan adalah sesuatu yang terlalu pribadi untuk dilihat anaknya sendiri.
Papa yang membawa dia ke keluarga ini. Revan teringat kalimat itu, lalu garis panjang di pinggang kiri Fina yang ia lihat sekilas di pantry, dan jawaban Fina: bekas lama. Dua potongan itu berdiri berdampingan di kepalanya. Ia belum tahu apa yang menghubungkan keduanya.
Ia memutuskan menunggu. Pelan-pelan ia mundur dan naik lagi.
•||•
Pukul empat sore, Revan sedang membaca laporan di ruang kerja ketika Mbak Marni mengetuk, wajahnya cemas.
"Pak Revan, maaf. Bu Hasna dari tadi siang kakinya bengkak. Tangannya juga, cincinnya sampai nggak bisa dilepas. Terus katanya kepalanya pusing, dari pagi."
Revan langsung berdiri. "Sekarang dia di mana?"
"Di kamar, Pak. Tapi dia melarang saya bilang ke Bapak. Katanya nanti Bapak sibuk."
Ia menyuruh Mbak Marni menyiapkan air hangat dan bubur tanpa garam, lalu menyusul lewat lorong dengan langkah lebar. Hasna terbaring di ranjang, kakinya diganjal bantal, wajahnya pucat berminyak. Tangannya memang membengkak, jari-jarinya tampak penuh dan kencang.
Jendela kamar terbuka separuh, tirainya bergerak malas. Di meja samping ranjang ada segelas air yang belum disentuh dan ponsel Hasna dengan layar menyala, menampilkan pesan dari Reffa yang belum dibalas.
"Aku nggak apa-apa," kata Hasna. Lalu, lebih pelan, "Van. Aku takut."
Revan duduk di tepi ranjang. Ia tidak menyentuhnya dulu. "Takut apa?"
"Takut aku kenapa-kenapa. Takut bayinya." Mata Hasna berkaca-kaca. "Semalam aku kepikiran terus. Fina sakit, aku hamil, kamu..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. "Aku nggak tahu mana yang lebih kupikirkan."
"Boleh aku pegang tanganmu?"
Hasna menatapnya, heran, mungkin karena belum pernah ia menanyakan hal itu. Lalu mengangguk. Revan menggenggam jari-jari yang bengkak itu dengan lembut dan membiarkannya diam di sana.
"Kita periksa besok. Apa pun hasilnya, kita hadapi."
"Aku nggak apa-apa," ulang Hasna, tetapi kali ini jari-jarinya balas menggenggam.
"Kamu pusing dan bengkak. Itu bukan capek."
Hasna memalingkan wajah ke jendela. "Kata Mama, perempuan hamil memang begitu," gumamnya. "Mama bilang dulu waktu hamil kamu, kakinya juga bengkak."
"Mama bukan dokter," jawab Revan, lembut tetapi tanpa ragu.
Ia menelepon dokter kandungan langganan Hasna sambil berdiri di sisi ranjang. Sambungan tersambung setelah dua kali nada. Penjelasannya singkat, dan jawaban dokter lebih singkat lagi.
"Bawa ke klinik besok pagi, jam delapan, di rumah sakit bersalin. Malam ini suruh berbaring miring ke kiri, jangan banyak bergerak. Kalau pusingnya bertambah atau pandangannya kabur, langsung ke IGD."
Revan menutup telepon. Hasna menatapnya dengan mata setengah terpejam.
"Besok jam delapan," ulang Revan. "Kamu berbaring sampai besok. Aku yang urus semuanya."