Angka di layar alat tensi berhenti pada 150 per 100. Dokter kandungan itu melepas manset dari lengan Hasna, menatap angkanya sekali lagi, lalu mencatatnya di map tanpa berkomentar.
Revan duduk di kursi plastik di sudut ruang periksa dengan tangan saling menggenggam. Mereka tiba di klinik rumah sakit bersalin itu pukul delapan kurang lima. Hasna berjalan dari mobil dengan satu tangan di punggung dan satu lagi di lengan Revan, pelan sekali, seperti orang menyeberang sungai berarus. Jari-jarinya masih bengkak. Cincin kawinnya sudah dilepas Mbak Marni semalam dengan sabun dan benang, dan sekarang tergantung di rantai kecil di lehernya.
"Berapa, Dok?" tanya Hasna.
"Seratus lima puluh per seratus." Dokter menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. "Di rumah ibu pernah ukur sendiri?"
"Nggak pernah."
"Mulai hari ini pagi dan malam. Bapak yang mencatat."
"Baik, Dok," kata Revan.
Pemeriksaan berikutnya berjalan cepat. Perut diraba, pergelangan kaki ditekan dengan jempol dan cekungannya lama baru naik, air seni diperiksa. Lalu USG sebentar, dan di layar bayi itu menendang dengan semangat yang tidak cocok dengan suasana ruangan. Hasna mengusap perutnya. Wajahnya melunak, lalu mengeras lagi ketika dokter mulai bicara.
"Ini hipertensi kehamilan. Masih ringan, dan itu kabar baiknya. Kabar yang kurang baik, kalau tidak dijaga tekanannya bisa naik, dan bayi bisa lahir lebih awal dari perkiraan."
"Lebih awal berapa?" Hasna menegakkan badan.
"Belum bisa saya pastikan. Yang bisa kita lakukan sekarang: istirahat, kurangi garam, hindari tekanan pikiran, kontrol tiap pekan. Mulai hari ini ibu cuti dari kerja. Saya buatkan suratnya."
"Tapi saya ada rapat minggu depan..."
"Bu Hasna." Suara dokter itu tidak keras, tetapi tidak memberi ruang untuk menawar. "Rapat bisa dijadwal ulang. Pembuluh darah ibu tidak."
Hasna menutup mulutnya. Ia melirik Revan. Revan menangkap sesuatu yang jarang terlihat di mata istrinya: Hasna sedang menunggu, apakah Revan akan memihak dokter atau memihak dia.
"Dok," kata Revan, "kalau di rumah ada kabar berat, apa itu termasuk tekanan pikiran?"
"Termasuk." Dokter menatapnya lebih lama. "Bukan berarti kabar itu disimpan sampai bayinya lahir. Sampaikan pelan, di waktu yang tepat, dan jangan tinggalkan ibunya sendirian sesudahnya."
Revan mengangguk. Kalimat terakhir itu terasa seperti ditujukan padanya secara pribadi.
"Cuti, Na," katanya kepada Hasna. "Aku yang telepon kantormu."
Hasna menghela napas panjang, dan bahunya turun. Itu cara Hasna mengalah.
"Hindari tekanan pikiran," ulang Revan dalam hati sambil memegang resep. Ia tahu persis apa saja isi tekanan itu. Ia hafal daftarnya, dan namanya ada di urutan paling atas.
Di lorong menuju apotek Hasna berhenti. Tangannya mencari dinding.
"Pusing?"
"Sedikit. Tunggu sebentar." Ia bersandar, memejamkan mata. Lorong itu ramai oleh perempuan berperut besar dan suami yang membawa tas. "Van."
"Ya?"
"Janji jangan tinggalin aku."
Revan membuka mulut, dan ia merasakan kalimat itu berhenti di tenggorokan. Ia sudah terlalu sering menjanjikan apa pun supaya orang berhenti menangis, dan ia lelah menjadi laki-laki seperti itu.
"Aku di sini," katanya.
Itu bukan janji. Revan tahu, dan ia curiga Hasna juga tahu. Tetapi Hasna membuka mata, menatapnya sebentar, lalu menggenggam lengan bajunya dan membiarkan dirinya dituntun jalan. Mungkin ia sedang tidak punya tenaga untuk menawar.
•||•
Sore harinya Revan menjemput dua anak itu langsung dari sekolah, lalu mengantar mereka ke optik di dekat sana. Pak Ucup menunggu di mobil dengan mesin menyala dan musik pelan.
"Coba dipakai dulu, ya, Dik," kata petugas optik, merapikan gagang kacamata di telinga Langga. Bingkainya biru tua, tipis. "Lihat ke seberang jalan. Bisa baca tulisan di papan itu?"
Langga menyipit, otomatis, kebiasaan lama. Lalu matanya melebar.
"Papa."
"Ya, sayang?"
"Itu tulisannya tajam." Suaranya turun jadi bisikan. "Ada huruf kecil di bawahnya. Langga bisa baca. Tulisannya 'Diskon akhir bulan'."
Revan hanya mengangguk. Ia takut kalau membuka mulut, suaranya akan pecah.
Di dalam mobil Langga menempelkan wajah ke jendela. Sepanjang jalan ia menyebutkan satu per satu apa yang baru ia lihat: kabel listrik yang ternyata bergaris dua, plang toko yang catnya mengelupas, burung hitam di tiang. Di taman kota ia menjerit kecil karena melihat daun, daun satu per satu, bukan gumpalan hijau seperti selama ini.
"Daunnya banyak banget, Pa! Kenapa Langga baru lihat?"
Revan memandang ke luar jendela di sisi lain sampai matanya kering lagi. Bertahun-tahun anaknya hidup di dunia yang kabur, dan yang ia katakan sepanjang waktu itu adalah anak bodoh.
"Karena Papa telat memeriksakan," katanya akhirnya. "Maafin Papa, ya."
"Udah dimaafin hari Senin. Langga cuma bilang daunnya banyak."
Bima yang duduk di tengah menonton dengan mulut manyun. "Mas Langga sok keren."
"Bima mau pakai juga?"
"Mau!"
"Bima bisa lihat jelas, Nak. Kacamata ini bukan mainan."
"Kalau gitu belikan yang mainan," kata Bima. "Yang kacanya bolong. Aku mau sama kayak Mas."
Revan tertawa, pendek dan serak, tawa pertamanya sejak pagi. Pak Ucup di depan juga terdengar menahan batuk.
•||•
Rumah sudah berubah ketika mereka tiba. Ressie berdiri di dapur dengan celemek yang bukan miliknya, memegang sendok kayu, dan Mbak Marni berdiri di pojok seperti pegawai yang baru dimarahi.
"Garam jangan ada," kata Ressie tanpa menoleh. "Dokter sendiri bilang kurangi garam. Mama sudah catat semuanya. Kamar Hasna Mama yang urus malam ini."
"Terima kasih, Ma."
"Jangan terima kasih. Kamu urus istrimu yang satu lagi saja, urus yang ini Mama." Ressie menyendok kuah, mencicipi, mengernyit. Lalu, lebih pelan dan masih membelakangi, "Kamu tahu Mama dulu kehilangan satu bayi sebelum kamu lahir? Mama belum pernah cerita ke kamu."
Revan terdiam. "Belum pernah, Ma."
"Ya, begitu." Ressie mengaduk panci lebih kencang dari perlu. "Jadi Mama tidak mau main-main dengan perempuan hamil."
Itu alasannya, dan Revan tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menyentuh bahu ibunya sebentar, dan Ressie tidak menepisnya.
Wira menunggu di ruang tengah dengan tas kecil di sebelah kakinya. Pak Ucup sudah siap mengantar ke stasiun.
"Papa ada jadwal kontrol di Bandung besok pagi," katanya, bertumpu pada tongkat. "Papa balik Selasa. Papa ikut ke dokter Fina."
"Papa kontrol apa?"
"Rutin." Wira menepuk lengan Revan, terlalu cepat. "Jaga Hasna. Jaga Fina."
Setelah pintu depan menutup, Revan mendapati Fina berdiri di ambang dapur, menyilang tangan di perut, dengan bergo abu-abu dan wajah pucat tetapi mata yang jernih. Ia sudah mendengar semuanya tadi.
"Mas."
"Ya. Kamu dengar tadi?"
"Cukup untuk tahu Mbak Hasna harus istirahat dan Mama yang mengurusnya." Fina menatap panci di atas kompor. "Itu bagus. Ada yang menjaganya, jadi Mas tidak perlu terbelah dua malam ini."
"Aku tidak terbelah. Aku..."
Fina mengangkat tangan, sopan tetapi tegas. "Aku nggak minta penjelasan. Aku cuma mau mengatakan sesuatu yang dari kemarin belum sempat."
Revan menunggu. Di belakangnya Ressie menyendok kuah dengan bunyi sendok yang sengaja dikecilkan.
"Sabtu hari kopi, Mas. Jangan larang aku."