"Bos Revan, tamper-nya jangan ditekan kayak nyetrika baju."
Fina duduk di bangku tinggi di balik meja racik, di tempat yang disiapkan Pita sejak subuh dan tidak boleh ia tinggalkan kecuali untuk mengaduk adonan racikannya. Dari sana ia melihat punggung Revan membungkuk di atas mesin kopi, apron krem melingkar di pinggang dan ujung lengan kemeja yang digulung tidak rata.
"Begini?" tanya Revan.
"Pelan, Bos. Bubuknya itu bukan musuh." Pita menyodorkan portafilter dengan dua tangan, seperti guru silat menyerahkan keris. "Mbak Fin ngajarinnya dulu empat bulan, saya baru bener. Jenengan baru dua Sabtu wae, ya harus telaten."
Fina menahan senyum di balik bergonya. Bau biji kopi sangrai memenuhi toko, hangat dan pekat, dan perutnya yang sudah dua hari menolak apa pun bergolak sedikit. Ia menahan napas, mengatur ulang duduknya, lalu menarik napas lewat mulut. Itu trik yang diajarkan perawat.
Revan menoleh dari mesin, menatapnya sebentar. "Kamu pucat."
"Dari tadi juga pucat, Mas."
"Tambah pucat. Aku lihat lagi setengah jam lagi. Kalau belum membaik, kamu masuk ke belakang dan kali ini jangan debat."
"Iya, Pak Bos," jawab Fina, dan Pita terkikik sambil pura-pura sibuk dengan serbet. Revan tidak tersenyum, tetapi telinganya memerah.
Pagi itu toko ramai sejak pintu dibuka. Pelanggan lama mengantre untuk kopi yang hanya ada seminggu sekali, dan mereka yang melihat Revan di balik mesin berhenti sebentar, berbisik, lalu memesan lebih banyak dari rencana. Seorang ibu berkerudung hijau menyikut temannya. "Itu suaminya yang katanya jahat?" Fina pura-pura tidak mendengar.
"Ibu."
Langga berdiri di samping etalase dengan kapur warna di jari. Kacamata birunya melorot sedikit, dan ia mendorongnya dengan telunjuk dengan gaya yang sudah seperti kebiasaan lama. Di dinding di belakangnya terpasang papan hitam daftar menu, dan tulisan KOPI SABTU di atasnya sekarang tebal, rapi, dengan gambar cangkir mengepul di setiap huruf O.
"Huruf K-nya benar?"
"Lebih bagus dari buatan Ibu."
"Soalnya Langga bisa lihat garisnya, Bu." Langga menatap tulisan itu dengan bangga yang masih terlalu baru untuk disembunyikan. "Dulu kalau gambar garis, Langga nebak-nebak."
Dada Fina menghangat dan sekaligus perih, dan ia menunduk mengaduk racikannya supaya tidak ada yang melihat.
Bel di pintu berbunyi. Seorang gadis remaja masuk lebih dulu dengan rambut dikuncir tinggi, ransel kecil di punggung, dan langkah tanpa ragu seperti ia sudah sering ke tempat ini. Di belakangnya, laki-laki tinggi dengan kemeja santai dan wajah yang Fina kenal dari ruang praktik.
"Tante Fina!"
"Taya?" Fina setengah berdiri. "Dokter Iqbal. Kok..."
"Libur sekolah," kata Iqbal, tersenyum dari ambang pintu. "Dan dia memaksa. Katanya sudah lama dengar tentang kopi yang cuma ada hari Sabtu."
"Aku udah bilang ke Papa seribu kali!" Taya sudah ada di depan etalase, menatap kue-kue dengan mata berbinar. "Papa tuh ngoceh terus soal kopi Tante. Aku jadi penasaran. Boleh coba kue yang itu?" Ia menunjuk brownies. Lalu matanya jatuh ke Langga. "Kamu Langga? Kata Papa kamu jago gambar."
Langga mundur setengah langkah, kaget. "Hai. Eh... Kak Taya?"
"Iya! Aku bawa buku sketsa." Taya mengeluarkan buku bersampul hitam dari ransel. "Kita gambar yang di papan itu, yuk. Aku bagian cangkir, kamu bagian huruf. Deal?"
Dalam semenit mereka sudah duduk di meja kecil dekat jendela, kepala nyaris bersentuhan, berdebat tentang uap yang harus lurus atau melengkung.
Fina menatap dua anak itu. Ia tertawa kecil, benar-benar tertawa, dan baru sadar sudah lama tidak melakukannya di tempat umum.
•||•
Revan berdiri di balik etalase menunggu mesin kopi selesai menyeduh, dan dari sana ia mendengar semuanya.
Meja gambar itu hanya dua langkah dari kasir. Taya, dengan suara yang tidak pernah terpikir olehnya perlu dipelankan, sedang bercerita pada Langga sambil menggambar uap cangkir.
"Papaku aneh deh. Tiap kali habis ketemu Tante Fina di rumah sakit, dia senyum-senyum sendiri di mobil. Papa selalu senyum kalau habis ketemu Tante Fina."
"Kenapa?" tanya Langga polos.
"Nggak tahu. Mungkin karena Tante baik."
"Ibu memang baik," kata Langga yakin. "Tiap pagi Ibu yang bikinin Langga roti, walaupun lagi sakit."
"Sakit apa?"
"Ibu bilang rahasia orang dewasa." Langga mendorong kacamatanya. "Tapi uap cangkirnya jangan terlalu tebal, Kak. Nanti mirip awan."
Taya terkikik dan menghapus satu garis dengan jempol.
Revan tidak bergerak. Mesin di depannya mendesis dan uap putih naik, dan ia hanya menatap uap itu. Tidak ada rasa panas yang naik ke kepalanya seperti di Bandung dulu, saat ia membawa Fina pulang dengan rahang mengeras. Yang ia rasakan jauh lebih sunyi: ia tahu persis apa itu senyum seseorang yang mulai peduli pada orang yang bukan miliknya. Ia sendiri pernah begitu, dan sekarang ia tidak punya hak untuk marah pada siapa pun.
Iqbal datang ke kasir, sedikit canggung. "Pak Revan. Pagi."
"Pagi, Dokter."
"Saya pesan dua kopi hitam. Satu untuk saya, satu untuk Taya, tapi dia kebanyakan gula, jadi pakai susu saja."
"Kopi hitam dua, satu pakai susu." Revan mengetik di mesin kasir dengan jari yang kikuk, lalu menyiapkan cangkir. Fina turun dari bangku, membawa dua cangkir yang sudah ia tuang sendiri, dan menyodorkannya melewati meja.
"Kopi racikan terakhir, Dokter. Katanya cuma Sabtu."
"Terima kasih, Bu Fina."
Tangan mereka bersentuh sekejap di pinggir cangkir. Hanya sekejap, jari menyentuh jari, tidak lebih lama dari satu tarikan napas. Fina menarik tangan cepat dan tampak tidak menyadari apa pun.
Tetapi cangkir di tangan Iqbal bergetar. Kopi di dalamnya beriak, sangat pelan, dan Iqbal buru-buru menggenggam cangkir itu dengan dua tangan.
Revan melihatnya. Bukan karena ia ingin. Ia hanya kebetulan menatap ke sana, dan sekarang ia tidak bisa tidak melihat.
Ia menunggu rasa marah itu datang. Tidak datang. Yang datang justru kesadaran yang tidak enak: laki-laki ini merawat Fina selama delapan bulan ketika ia sendiri sibuk pada hal lain, dan tangan itu hanya gemetar sekali, lalu berhenti. Iqbal mengatur napas, menoleh ke Revan dengan wajah yang kembali tenang seperti dokter.
"Pak Revan." Suaranya datar, resmi, tepat seperti ia bicara di ruang praktik. "Selasa, ya. Bawa semua catatan, dan ajak Bapak."
"Papa memang akan ikut."
"Bagus. Ada yang lebih baik didengar keluarga bersama-sama."
Iqbal membawa cangkirnya ke meja Taya, menyesap sekali, memuji kopinya dengan kalimat terlalu panjang. Revan memandang punggungnya, lalu menoleh ke Fina yang sedang menata kue di rak, tidak sadar apa pun.
Ada yang lebih baik didengar keluarga bersama-sama. Revan mengulang kalimat itu pelan di kepalanya. Terdengar seperti kabar yang tidak enak, dan ia belum bisa menebak seberapa berat.