Wira sudah menunggu di lobi rumah sakit ketika mereka tiba, bertumpu pada tongkat, dengan jas abu-abu yang dikancingkan sampai leher padahal siang itu panas. Revan belum pernah melihat ayahnya berpakaian serapi itu untuk urusan selain pernikahan dan pemakaman.
"Papa naik kereta pertama," kata Wira sebelum ditanya. "Tidak apa-apa. Papa tidak capek."
"Papa kelihatan capek," kata Fina lembut.
"Kamu yang kelihatan capek." Wira menatap Fina lama, dari bergo abu-abu sampai ujung sepatunya, seolah sedang memastikan ada yang belum hilang. "Ayo masuk. Jangan buat dokternya menunggu."
Revan memegang map biru berisi catatan Fina: hasil laboratorium, lembar kemo, resep. Di saku kemejanya ada buku kecil tempat ia menulis tensi Hasna tiap pagi. Hari ini 140 per 90, turun sedikit dari kemarin, dan Ressie sudah menempelkan angka itu di pintu kulkas dengan magnet seperti pengumuman kemenangan. Hasna melarangnya, Ressie tidak peduli. Pagi tadi, di antara kedua perempuan itu, Revan merasa seperti orang yang berdiri di antara dua pagar listrik.
Di mobil tadi hanya Fina yang bicara, itu pun tentang hal-hal kecil. Ia bertanya apakah Langga membawa bekal, apakah Bima sudah berhenti merajuk soal kacamata mainan, apakah Mbak Marni menemukan resep bubur tanpa garam yang ia tulis. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang untuk menutup keheningan.
"Kamu gugup," kata Revan.
"Sedikit."
"Aku juga."
"Mas biasanya tidak gugup." Fina tersenyum tipis ke jendela. "Mas biasanya langsung marah kalau gugup."
Revan hampir membalas, tetapi tidak jadi. Itu benar.
Mereka menunggu dua puluh menit di ruang tunggu. Fina duduk tenang, kedua tangan di pangkuan. Wira duduk di sebelahnya dan tidak berkata apa-apa, hanya sesekali menyentuh gagang tongkat dengan ibu jarinya. Revan memperhatikan keduanya dari seberang dan teringat kalimat Wira di kolam. Papa yang membawa dia ke keluarga ini.
Suster Citra memanggil nama Fina.
•||•
Dokter Iqbal menyalakan layar komputernya dan memutar kursi menghadap mereka. Di meja ada tiga kursi, dan Wira memilih berdiri sebentar sebelum akhirnya duduk, pelan, dengan tongkat melintang di lutut.
"Terima kasih sudah hadir semua," kata Iqbal. Nadanya tenang dan terukur, jauh dari laki-laki yang gemetar memegang cangkir di toko Sabtu lalu. "Keputusan sebesar ini sebaiknya didengar seluruh keluarga inti, jadi saya minta Pak Revan mengajak Bapak."
"Silakan, Dokter," kata Wira.
"Pertama, kabar baik. Hasil pemindaian kemarin menunjukkan tumor di ginjal Bu Fina mengecil. Belum hilang, tetapi mengecil, dan itu respons yang kita harapkan dari tiga kemo pertama." Iqbal memutar layar sedikit supaya mereka melihat dua gambar berdampingan. "Hitung darahnya turun, tapi masih di batas aman. Kemo keempat Kamis ini, kemo kelima beberapa pekan sesudahnya. Setelah itu kita nilai ulang."
Revan menghela napas panjang yang baru ia sadari sudah ia tahan sejak lobi. Fina menunduk, bibirnya bergerak sebentar, doa yang cepat dan sunyi.
"Alhamdulillah," bisik Wira.
"Kalau tumornya cukup kecil," lanjut Iqbal, "langkah berikutnya operasi pengangkatan sebagian ginjal oleh ahli bedah urologi. Saya akan merujuk ke rekan yang saya percaya. Namanya nanti saya sebutkan setelah hasilnya pasti."
"Sebagian," ulang Revan. "Jadi tidak semuanya diangkat?"
"Itu tujuannya. Karena ginjal Bu Fina hanya tinggal satu, operasinya harus mempertahankan sebanyak mungkin jaringan sehat."
Ruangan seperti kehilangan udara.
"Satu?" Revan mendengar suaranya sendiri datang dari tempat yang jauh. "Dok, maksudnya satu bagaimana?"
Iqbal berhenti. Matanya bergerak cepat dari Revan ke Fina, dan ia mengerti satu detik terlalu terlambat. "Maaf. Saya kira Pak Revan sudah tahu. Di rekam medis Bu Fina ada riwayat operasi ginjal yang lama, dan..."
Di sisi Revan, Wira menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bukan menutup karena kaget, Revan melihat. Menutup supaya tidak ada yang keluar. Wajah ayahnya pucat dan matanya terpaku ke lantai, seperti orang yang menunggu vonis dan akhirnya mendengarnya.
Revan menoleh ke Fina. Garis panjang di pinggang kiri yang ia lihat sekilas di pantry, dan dua kata Fina: bekas lama. Dua potongan itu akhirnya bertemu di kepalanya dengan bunyi yang hampir ia dengar.
Sebuah tangan hangat menyentuh tangannya di atas lutut. Jari-jari Fina menyelip pelan di antara jari-jarinya, dingin dan sedikit gemetar tetapi mantap.
"Nanti aku ceritakan, Mas," katanya tanpa mengangkat suara.
"Fin, ginjalmu..."
"Nanti." Fina menatapnya, dan matanya begitu tenang sampai Revan tidak sanggup membantah. "Dokter Iqbal belum selesai."
Iqbal berdehem. Ia menatap layar, bukan mereka. "Intinya, karena ginjal tinggal satu, setiap keputusan harus hati-hati. Kalau terlalu banyak jaringan yang diangkat, fungsi ginjal bisa tidak cukup. Itu sebabnya kemo ditempuh dulu untuk mengecilkan tumornya. Saya jelaskan risikonya lebih rinci bersama dokter bedahnya nanti."
Penjelasan berikutnya mengalir melewati telinga Revan seperti air di bawah kaca. Jadwal. Obat pendukung. Pantangan makan. Ia mencatat sebagian, tangan menulis sendiri sementara kepalanya tertinggal di satu kata: tinggal. Tinggal satu. Siapa yang mengambil yang satunya? Kapan? Dan kenapa orang yang paling dekat dengan Fina selama sembilan tahun tidak pernah tahu?
Ia melirik ayahnya. Wira belum menurunkan tangan dari mulutnya.
"Ada pertanyaan?" tanya Iqbal di akhir.
"Berapa lama operasinya?" Suara Fina yang bertanya, praktis, seperti sedang menanyakan jadwal tukang listrik.
"Kita bahas begitu jadwalnya pasti, Bu Fina."
"Kalau nanti Dokter perlu menanyakan riwayat saya lagi, tanyakan pada saya, bukan pada keluarga."
Iqbal memandangnya sebentar, lalu menjawab pelan, "Baik."
Jawaban itu singkat, tetapi Revan melihat bahwa Iqbal mengerti lebih dari yang ia katakan, dan Fina berterima kasih lewat satu kedipan. Revan menelan sesuatu yang pahit. Ada sebuah bahasa antara dokter dan pasiennya yang tidak ia kuasai, dan ia mendapati dirinya tidak marah, hanya iri pada kemudahannya.
•||•
Di lorong rumah sakit yang panjang dan berbau antiseptik, Revan berjalan di belakang sambil membawa tas Fina dan map biru. Iqbal sudah menyuruh mereka menunggu di bangku sementara ia menyiapkan lembar jadwal. Fina dan Wira berjalan lebih dulu, lambat, dan Revan membiarkan jarak itu terbentang di antara mereka, memberi ruang yang ia sendiri tidak yakin pantas ia berikan.
Di ujung lorong Fina berhenti dan menoleh pada Wira. Mereka berbicara sangat pelan. Revan seharusnya tidak mendengar, dan ia tidak mendekat. Tetapi lorong itu sepi. Terlalu sepi, malah.
"Papa tadi hampir bilang," bisik Fina.
"Papa tidak sanggup melihat dia duduk di sana tanpa tahu apa-apa. Sembilan tahun, Fin."
"Dokter cuma menyebut ginjalnya, Pa. Bukan ceritanya. Ceritanya milikku."
"Papa tahu. Papa tahu."
"Papa sudah janji."
Wira memejamkan mata. Tongkatnya berderak pelan di lantai ketika genggamannya mengeras.
Janji.
Revan berhenti melangkah. Tas Fina terasa jauh lebih berat di tangannya.
"Janji apa, Pa?"