Wira tidak langsung menjawab. Ia membuka mata, dan Revan melihat sesuatu di sana yang belum pernah ia lihat pada ayahnya: ketakutan seorang laki-laki yang sudah lama menghindari satu pertanyaan, dan kini pertanyaan itu berdiri di depannya dengan wajah anaknya sendiri.
"Itu bukan cerita Papa, Van," katanya. Suaranya serak. "Itu cerita Fina."
"Papa menyebut ginjalnya hampir keluar dari mulut Papa tadi. Papa kenal ceritanya."
"Papa kenal. Papa tidak berhak menceritakannya."
"Pa..."
"Mas." Fina memotong dengan lembut. Ia berdiri di antara mereka, tidak menyentuh siapa pun. "Jangan di sini. Jangan sekarang. Aku mohon."
Revan menatapnya. Fina pucat, tetapi tidak ketakutan. Yang terlihat di wajahnya adalah keputusan: ia sudah memilih kapan akan bicara dan ia meminta Revan menghormatinya. Di ujung lorong, Iqbal muncul membawa lembar jadwal, melihat tiga orang yang berdiri tegang, lalu berhenti dan berpura-pura membaca kertasnya.
Revan mengembuskan napas. Ia ingin memaksa. Sembilan tahun yang lalu ia akan memaksa, dengan suara keras dan perintah, dan ia akan menang, dan Fina akan menyerah dengan mata kosong seperti biasa. Sekarang ia hanya mengatakan satu kalimat.
"Baik. Tapi aku akan bertanya lagi."
"Aku tahu," kata Fina. "Aku tidak melarang Mas bertanya. Aku hanya minta Mas tidak memaksa."
Perjalanan pulang berlangsung dalam sunyi. Wira duduk di kursi depan dan menatap jalan, Fina di belakang bersama Revan, dan bahu mereka tidak bersentuhan sama sekali.
•||•
Rabu pagi Wira berdiri di teras dengan tas kecilnya, mata merah, kulitnya lebih keabuan daripada kemarin. Pak Ucup sudah menyalakan mobil. Ressie mengantar sampai pintu dengan wajah masam, tetapi tangannya merapikan kerah jas suaminya dua kali.
"Papa pulang dulu," kata Wira kepada Revan. "Papa sudah terlalu lama di sini."
"Papa baru kemarin datang."
"Papa tahu." Ia menepuk lengan Revan, kali ini lebih lama. "Jaga istrimu, Van. Dua-duanya. Dan tanyakan pada Fina. Jangan tanyakan pada Papa."
Langga muncul dari belakang punggung Revan dengan seragam rapi dan kacamata yang baru dilap. "Kakek kok pulang, Pa? Kakek belum lihat gambar Langga yang baru."
"Kakek harus kontrol, sayang. Nanti Langga kirim lewat Papa."
"Kakek sedih ya?"
Revan berlutut supaya sejajar dengan matanya. Anak itu kini melihat wajah ayahnya dengan jelas, dan itu membuat berbohong jauh lebih sulit. "Kakek lagi mikirin sesuatu yang berat."
"Kayak Ibu?"
"Hampir," kata Revan, dan ia tidak bohong.
Setelah Langga dan Bima diantar Pak Ucup ke sekolah, ia kembali masuk dan mencari Fina di dapur. Ia menemukannya duduk di kursi makan, membuka kotak obat satu per satu dan menata di meja. Warna-warni, dengan jadwal tertulis di kertas.
"Fin."
"Aku minta waktu, Mas." Fina tidak mengangkat kepala. "Bukan hari ini. Aku lahir dengan dua ginjal, dan aku tidak menyesal."
Revan menunggu sambungannya. Tidak ada. Kalimat itu hanya berdiri di antara mereka seperti pintu tertutup dengan sinar di bawahnya.
"Berapa lama waktunya?"
"Aku belum tahu." Fina memasukkan satu tablet ke dalam wadah kecil. "Mas akan marah kalau kuceritakan sekarang, Mas akan kasihan kalau kuceritakan nanti. Dua-duanya aku tidak mau."
"Aku kasihan karena kamu sakit. Itu bukan kesalahan."
"Justru itu." Akhirnya Fina mengangkat wajah. Matanya jernih dan lelah. "Kalau Mas baik padaku karena kasihan, aku lebih baik sendirian."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Revan perkirakan, dan ia memaksa dirinya tidak membela diri.
"Aku tidak akan bilang itu salah," katanya pelan. "Aku tidak bisa membantah bahwa aku mulai peduli sesudah kamu sakit. Itu kenyataannya. Tapi aku juga tahu aku sudah mulai merasakan yang lain sebelum kamu mengaku. Aku belum bisa membuktikannya. Beri aku waktu membuktikan."
Fina menatapnya lama. Di luar jendela dapur terdengar tawa Langga dan Bima dari halaman belakang, ribut berebut siapa yang boleh memegang kacamata mainan.
"Waktu aku beri," katanya akhirnya. "Pembuktiannya Mas yang kerjakan."
•||•
Malam itu angin di balkon dingin dan lembap. Fina duduk di kursi rotan dengan selendang tipis di bahu, menatap lampu halaman. Besok kemo keempat. Ia selalu merasa paling kecil di malam sebelum kemo, dan paling sendirian.
Pintu kaca bergeser. Revan keluar membawa dua cangkir teh hijau, satu ia taruh di meja kecil, satu ia pegang sendiri.
"Boleh aku duduk?"
"Duduk saja, Mas."
Ia duduk di kursi seberang, jaraknya sengaja agak jauh. Beberapa menit tidak ada yang bicara. Fina mengangkat cangkirnya dan menyesap, hangat dan sedikit pahit, seperti teh buatan Revan yang kikuk sejak minggu lalu.
"Mbak Hasna bagaimana?"
"Tensinya 140 per 90 tadi malam. Mama yang menjaga, dan Mama tidak memberi aku kesempatan masuk kamar sebelum jam sembilan."
"Mas ikut kemo besok?"
"Kalau kamu mau."
"Aku mau, tapi tanya tensinya dulu pagi-pagi. Mbak Hasna tidak boleh merasa dia nomor dua karena aku sakit." Fina mengatakannya tanpa nada menyindir, dan Revan menatapnya sedikit lebih lama dari perlu. Lalu kembali ke teh.
"Kamu mau tahu kenapa aku bertahan?" tanyanya tanpa menoleh.
Revan terdiam, lalu berkata, "Iya."
"Waktu kecil Mama bilang Allah nggak akan ninggalin aku. Setelah Mama pergi, aku bawa kalimat itu ke mana-mana. Waktu Mas menikah lagi, aku mau pergi. Aku sudah mengemas tas. Tapi Ibu Arini bilang, jangan melepas Revan, Nak. Ibu pernah lihat Papa pergi dari satu rumah ke rumah lain, dan tidak ada yang menang." Fina mengusap pinggiran cangkir dengan ibu jari. "Dan ada Langga. Aku tidak mau dia tumbuh dengan ayah yang sebentar-sebentar datang."
"Jadi kamu bertahan demi orang lain."
"Awalnya. Sekarang aku nggak tahu." Ia akhirnya menoleh. "Aku lagi belajar, Mas. Mana yang kupilih, mana yang cuma kupikul."
Revan menunduk memandangi teh di tangannya. Uapnya naik tipis, lalu hilang.
"Sembilan tahun," katanya, "aku nggak adil. Kepadamu, kepada Langga, bahkan kepada Hasna, karena aku membiarkan dia mengira aku mencintainya sepenuh yang ia butuhkan. Dan aku tidak bisa terus adil ke semua orang tanpa jujur."
Fina menahan napas. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya ada sesuatu yang belum pernah ia dengar dari mulut Revan: bukan permintaan maaf, bukan pembelaan, melainkan pengakuan tentang siapa dirinya.
Dan di belakang punggung Revan, di balik kaca pintu balkon yang bergeser sedikit terbuka, ada bayangan yang tidak seharusnya ada di sana.
Bunyi gelas pecah memantul di lantai marmer. Susu hangat memercik sampai ke ujung sandal Fina.
Hasna berdiri di ambang pintu dengan daster tidur dan satu tangan memegang perutnya. Pecahan gelas bertebaran di dekat kakinya, dan ia tidak menunduk melihatnya.
"Jujur soal apa, Van?" suaranya nyaris tidak keluar. "Kamu mau jujur soal apa?"