"Jangan melangkah, Na. Ada pecahan."
Revan sudah berdiri, tetapi Hasna tidak bergerak. Ia menatap Revan, lalu Fina, lalu Revan lagi, dan Revan melihat di wajah itu sesuatu yang sama persis dengan malam ketika Hasna mengancam akan meninggalkannya di awal pernikahan mereka: bukan marah, melainkan ketakutan yang baru bisa marah setelah selesai menghitung kerugian.
"Aku tanya," kata Hasna. "Jujur soal apa?"
"Mbak." Fina bangkit dari kursi rotan dengan selendang melorot dari bahu. "Mbak Hasna sebaiknya duduk dulu. Tensinya..."
"Kamu diam dulu, Fin." Suara Hasna rendah, tapi tidak ada tenaga di dalamnya yang bisa disebut kasar. "Aku nggak bicara sama kamu."
Fina menutup mulut. Susu putih menggenang pelan di sela ubin, dan satu pecahan besar berkilau di bawah lampu halaman.
"Tidak di sini," kata Revan. Ia melangkah hati-hati melewati pecahan, mengambil lengan Hasna dengan sangat pelan. "Boleh aku bantu kamu kembali ke kamar? Kita bicara di sana. Kamu tidak boleh berdiri lama."
Hasna menatap tangan di lengannya, lalu mengangguk sekali, singkat. Mereka berjalan lewat lorong tanpa bicara. Di belakang, Revan mendengar sapu kecil berderak: Fina sudah mulai membereskan pecahan itu sendirian.
•||•
Jam dinding menunjukkan setengah satu malam. Pintu kamar menutup dengan bunyi pelan. Hasna duduk di tepi ranjang, kakinya diselonjorkan di atas bantal, dan menunjuk kursi di seberangnya dengan dagu. Revan tidak duduk.
"Dengar dari mana?"
"Dari 'sembilan tahun aku nggak adil'. Dari situ." Hasna tertawa kecil, tidak ada gembiranya. "Aku turun cuma mau ambil susu hangat. Mama bilang bagus buat tidur. Aku tidak mau menguping, Van. Kakiku yang bawa aku ke sana."
"Aku tahu."
"Jadi jujur soal apa?"
Revan menarik napas. Dokter berkata sampaikan pelan, di waktu yang tepat, dan jangan tinggalkan ibunya sendirian sesudahnya. Waktu yang tepat tidak akan pernah datang, dan itu pun ia tahu. Lebih baik sekarang, di kamar ini, daripada di lorong rumah sakit pada saat Hasna paling lemah.
"Na, tensimu belum stabil. Aku mau Mama di sini sebelum..."
"Jangan pura-pura peduli tensiku. Jawab."
Revan mengangkat wajahnya. Ia memandang Hasna langsung, tidak lari ke arah lantai atau jendela.
"Aku mencintai Fina."
Kamar itu sunyi sampai bunyi jam di dinding terdengar seperti langkah kaki.
"Aku nggak tahu sejak kapan," lanjut Revan, suaranya lebih rendah dan stabil. "Mungkin sudah lama dan aku terlalu bodoh untuk melihat. Mungkin baru di Bandung. Yang aku tahu, aku tidak bisa terus bilang hal lain padamu. Aku tidak akan pura-pura lagi, Na. Kamu berhak tahu dariku, bukan dari tebakanmu."
Hasna tertawa. Pelan, getir, dan tawa itu membuat tangan Revan dingin lebih dari tangisan mana pun.
"Bertahun-tahun," katanya. "Aku telan sindiran Mama kamu, aku telan semua rapat yang kamu lewatkan, supaya jadi yang kamu pilih. Aku kasih kamu Bima. Aku kasih kamu semua yang kamu minta. Dan sekarang kamu berdiri di sini dan bilang kamu mencintai perempuan yang kamu bilang norak?"
"Itu kataku dulu. Aku salah."
"Kamu selalu salah, Van, dan selalu aku yang mengurus akibatnya."
Revan tidak membantah, karena tidak ada yang bisa dibantah. Perempuan itu menutup mata, bahunya naik turun, lalu ia membuka mata dan menunjuk pintu dengan satu jari.
"Pergi."
"Na..."
"Pergi, Van. Sekarang."
"Kamu sendirian di sini, tensimu..."
"Aku bilang pergi!" Hasna menahan suaranya supaya tidak pecah menjadi jeritan, dan itu yang paling menyakitkan: bahkan dalam amarah ia masih mengingat bayinya. "Kalau kamu peduli, panggil Mama. Tapi keluar dari kamar ini."
Revan keluar. Di depan pintu kamar tamu atas, ia mengetuk dua kali. Ressie membuka dengan rambut terurai dan wajah bantal, melihat anaknya, dan mengerti sebelum ditanya.
"Hasna perlu ditemani, Ma. Tolong."
"Kamu apakan dia?"
"Nanti aku ceritakan." Ia menelan ludah. "Tolong, jangan biarkan dia sendirian. Ukur tensinya kalau perlu."
Ressie menatapnya sepersekian detik dengan sorot yang tidak bisa dibaca, lalu masuk ke kamar Hasna tanpa mengetuk dan menutup pintu di belakangnya. Revan menunggu sampai ia mendengar suara rendah dua perempuan bicara. Hasna tidak menangis keras. Itu lebih menakutkan.
•||•
Mereka berangkat tanpa sarapan, karena Fina tidak sanggup menelan apa-apa. Di mobil ia hanya bertanya satu hal, "Mbak Hasna makan?", dan Revan menjawab belum. Fina menatap jalan dan berkata, "Nanti aku buatkan bubur setelah ini, kalau aku kuat." Revan tidak sanggup menjawab kebaikan itu.
Pukul sembilan pagi, ruang kemo rumah sakit itu penuh kursi biru dan tiang infus. Revan duduk di sebelah Fina, di kursi plastik yang terlalu rendah. Jarum sudah terpasang di punggung tangan Fina, cairan bening menetes pelan dalam selang.
Pagi tadi Ressie menyuruhnya pergi. "Dia tidak mau lihat kamu," katanya di depan kamar dengan mata merah. "Tensinya 145 per 95. Mama yang jaga. Kamu urus istrimu yang satunya, dan jangan pulang sebelum Mama telepon."
Revan memandang tangan Fina di sandaran kursi, kurus, urat biru jelas di bawah kulit, jarum plester di punggung.
"Boleh aku pegang?"
Fina memandangnya sebentar. "Boleh."
Revan menggenggamnya, pelan, di bagian yang tidak tertusuk jarum. Hangat lebih dari ia duga. Fina tidak menariknya.
Iqbal melintas membawa papan catatan. "Kemo keempat, Bu Fina. Mual?"
"Sedikit, Dok."
"Saya tambah obat antimualnya." Iqbal mencatat, lalu tanpa mengangkat mata berkata kepada Revan, "Saya sudah menghubungi dr. Hendra. Rekan saya, spesialis bedah urologi. Nanti Bapak dan Ibu bertemu beliau setelah hasil pemindaian berikutnya."
"Terima kasih, Dok."
"Jangan berterima kasih dulu." Iqbal tersenyum tipis dan pergi.
Fina memperhatikan wajah Revan. Mata yang bengkak, kerut di antara alis, bibir yang tidak berhenti menggigit sisi dalam pipi.
"Mbak Hasna tahu?"
Revan tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk, pelan.
Fina memejamkan mata. Cairan menetes terus. "Mas bilang apa?"
"Yang benar."
"Aku tidak menyuruh Mas..."
"Aku tahu kamu tidak menyuruh. Justru karena itu." Revan memandang selang infus. "Dia berhak."
Fina diam lama. Di kursi sebelah, seorang bapak tua tertidur dengan selimut sampai dagu, dan dari pengeras suara seorang perawat memanggil nama pasien lain.
"Aku tidak mau jadi sebab Mbak Hasna sakit, Mas."
"Kamu bukan sebabnya."
"Bukan?" Fina tersenyum letih. "Kadang aku merasa seluruh rumah itu menunggu aku, entah aku pergi atau aku bertahan."
Revan tidak punya jawaban. Genggamannya mengerat tanpa ia sadari, lalu ia ingat dan melonggarkan. "Maaf. Masih boleh begini?"
"Masih boleh."
Ponselnya bergetar di saku, nama Mbak Marni di layar, dan ia tahu dari getarannya bahwa ini bukan telepon biasa. Ia menjawab dengan satu tangan, tangan yang lain masih memegang tangan Fina.
"Pak Revan..." suara Mbak Marni terputus oleh napas yang berantakan. "Bu Hasna pingsan di kamar mandi."