"Pingsan di kamar mandi?" Revan berdiri begitu cepat sampai kursi plastik di bawahnya bergeser. "Sekarang di mana dia? Siapa yang bawa? Mama?"
"Ibu besar yang menelepon taksi, Pak. Saya ikut tadi sampai mobilnya jalan, terus balik buat jaga Den Bima." Suara Mbak Marni bergetar di telepon. "Katanya ke rumah sakit bersalin. Yang biasa."
"Saya ke sana."
Ia menutup telepon dan baru sadar tangan Fina masih ada di genggamannya. Infus di sebelah mereka menetes pelan, tidak peduli apa-apa. Revan melepas jari itu dengan hati-hati, seolah bisa melukainya.
"Fin, aku..."
"Pergi, Mas."
"Kemo-mu baru separuh."
"Ada Dokter Iqbal. Ada Suster Citra." Fina menatapnya dengan mata yang terlalu jernih untuk orang yang sedang disuntik racun. "Selesai nanti aku pulang naik taksi daring. Mbak Hasna lebih membutuhkan Mas hari ini."
"Kamu menyuruhku pergi lagi."
"Aku menyuruh Mas pergi ke tempat yang benar." Ia mencoba tersenyum, dan separuhnya berhasil. "Cepat. Pak Ucup sudah menunggu di bawah, kan?"
Revan nyaris berlari di lorong. Di belakangnya, Fina memejamkan mata dan menyandarkan kepala pada kursi, dan perawat menaikkan selimutnya tanpa bertanya apa-apa.
Rumah sakit bersalin itu lebih kecil dan lebih wangi daripada rumah sakit tempat Fina dirawat. Ressie sudah duduk di bangku ruang tunggu UGD ketika Revan tiba, tas tangannya dipeluk, wajahnya tua sekali.
"Mama."
"Dia jatuh di kamar mandi, Van." Ressie mengangkat kepala. "Pintunya terkunci dari dalam. Mbak Marni dobrak pakai bahu. Mama nggak tahu dia pingsan sudah berapa lama."
"Dokternya bilang apa?"
"Belum bilang apa-apa."
Mereka menunggu dua puluh menit yang terasa seperti dua jam. Ketika dokter kandungan Hasna akhirnya keluar, ia memanggil Revan saja, dan menjelaskan sambil membuka map.
"Tensinya 160 per 110 waktu masuk. Ini sudah preeklamsia, Pak, tingkat ringan. Bayinya masih baik, denyutnya stabil. Tapi Bu Hasna harus dirawat inap. Kita pantau dan kita atur tekanannya, dan targetnya, bayi bertahan di dalam sampai cukup bulan."
"Berapa lama itu?"
"Kalau semua lancar, masih beberapa pekan. Selama itu Bu Hasna tidak boleh stres." Dokter menutup mapnya. "Siapa pun yang membuat dia stres, tolong jauhkan."
Revan hanya bisa mengiyakan. Ia berdiri di depan pintu ruang observasi, tangannya di dinding, dan baru sadar bahwa orang yang harus dijauhkan itu mungkin dirinya sendiri.
Ressie menghampirinya pelan. Ia memegang tas tangan itu dengan dua tangan, seperti pegangan.
"Semalam Hasna bilang apa ke kamu?" tanyanya. "Dia tidak mau cerita ke Mama. Dia cuma menangis, lalu diam. Mama tanya, dia bilang Mama nanti juga tahu."
Revan menatap ibunya. Ia bisa memilih kalimat yang aman. Tetapi sesudah semalam, ia tidak lagi percaya pada kalimat aman.
"Nanti aku ceritakan, Ma. Bukan di sini. Tapi ini soal aku, bukan salah Hasna."
Ressie mengerutkan kening. Matanya turun ke lantai, lalu naik lagi. "Mama tidak mau kehilangan lagi, Van. Kamu sudah tahu sebabnya."
"Aku juga tidak mau, Ma."
"Kalau begitu," kata Ressie, suaranya gemetar di ujung, "jangan jadi sebabnya."
•||•
Reffa tiba menjelang pukul sebelas, dari Bogor dengan jilbab yang dipasang sembarangan dan tas besar di bahu. Ia melewati Ressie yang berdiri menyambut, hanya mengangguk sekilas, lalu memandang Revan seperti memandang orang asing yang berbahaya.
"Ikut Mama sebentar."
Di ujung lorong, dekat pintu tangga darurat, tempat tidak ada yang lewat, Reffa berbalik. Revan belum pernah melihat wajah mertuanya seperti ini. Biasanya Reffa tersenyum tipis dan bicara dengan nada dibuat-buat sopan. Sekarang semua topeng itu lepas.
"Hasna menelepon Mama jam empat pagi," katanya. "Dia menangis sampai Mama tidak bisa mengerti. Mama dengar satu kalimat saja yang jelas: suamiku bilang dia mencintai perempuan itu."
Revan tidak menjawab.
"Kamu bunuh anakku pelan-pelan, Van." Suaranya turun, justru karena itu terdengar lebih tajam. "Mama yang menimang dia pertama kali. Mama tidak sanggup melihat dia diinfus gara-gara laki-laki. Kamu pegang tangannya waktu dia hamil Bima, kamu janji tidak akan pernah menyakitinya. Sekarang dia hamil lagi, dan kamu berdiri di sini dengan tampang orang bersalah, sementara anakku di dalam sana dengan selang."
"Ma, aku tidak berniat..."
"Kamu tidak berniat, tapi kamu melakukannya!" Reffa menahan diri, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kamu pilih. Sekarang. Anakku atau perempuan sakit itu."
Revan menatap mertuanya dalam-dalam. Bukan karena ia tidak takut. Ia takut sekali. Tetapi jika ada satu hal yang ia pelajari dalam pekan ini, itu adalah bahwa jawaban yang ia berikan sekarang akan dipakai untuk menimbang dirinya seterusnya.
"Aku tidak akan meninggalkan Fina yang sedang sakit," katanya. "Dan aku tidak akan meninggalkan anak ini, dan Hasna. Itu dua-duanya, Ma. Aku tahu itu tidak adil buat Mama dengar, dan aku tidak minta dimaafkan."
"Itu bukan pilihan!"
"Itu satu-satunya yang jujur. Aku tidak mau berbohong lagi."
Reffa tertawa pendek, lalu menunjuk wajahnya dengan jari. "Kamu pikir kejujuran itu gagah? Kejujuran yang membuat anak orang sakit itu bukan gagah, Van. Itu egois."
Kalimat itu mengenai tempat yang tepat. Revan tidak menjawab. Reffa menatapnya sekali lagi dengan mata yang tampak mau menangis namun menolak, lalu berbalik dan berjalan kembali ke ruang tunggu dengan punggung lurus.
•||•
Hasna sadar menjelang pukul satu siang. Revan dipanggil masuk oleh perawat, hanya lima menit, karena kata dokter pasien perlu tenang.
Ruang observasi itu putih dan sunyi, dengan monitor yang berbunyi tiap beberapa detik. Hasna terbaring dengan selang oksigen kecil di hidung, rambutnya acak di bantal, tangan kirinya terpasang jarum infus. Ia tampak jauh lebih muda dan jauh lebih rapuh daripada yang pernah Revan ingat.
Ia menarik kursi dan duduk tanpa suara. Hasna membuka mata pelan, memandang langit-langit, lalu menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan tidak ada yang berkata apa-apa selama beberapa detik.
"Na," bisik Revan. "Aku di sini."
"Bayinya?" Suara Hasna parau, tangan kanannya turun ke perut.
"Baik. Denyutnya kuat. Dokter bilang dia kuat." Revan mengusap tengkuknya. "Kamu yang harus istirahat."
Hasna memejamkan mata. Satu air mata menggelinding ke pelipis dan menghilang di rambut. Ia tidak menyekanya. Revan ingin mengulurkan tangan, tetapi tangan itu berhenti di udara di atas selimut, karena ia tidak tahu lagi apakah ia boleh.
Bibir Hasna bergerak. Suaranya kering dan nyaris tidak terdengar di atas bunyi monitor.
"Van... jangan bawa dia ke sini."