Bunyi pintu depan terbuka pelan membuat Fina menoleh dari kursi dapur.
Jam dinding menunjukkan hampir lima. Ia duduk di sana sejak pukul tiga, dengan gelas air putih yang tidak ia minum dan selimut tipis di pundak, karena kasur sudah jadi tempat paling buruk untuk orang yang perutnya belum selesai bergolak sejak sore kemarin. Kemo keempat meninggalkan rasa logam di lidahnya. Ia tahu rasa itu akan menetap tiga hari.
Revan masuk dengan kemeja kusut, lengan digulung, rambut tak karuan. Ia menenteng jas di satu tangan, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah dua puluh jam tidak tidur. Ia tampak membawa sesuatu yang berat dari rumah sakit dan belum tahu cara mengatakannya.
"Kok belum tidur?"
"Mual." Fina menggeser gelas. "Mbak Hasna bagaimana?"
"Stabil. Tensinya turun dikit semalam. Dokter bilang kalau tidak naik lagi, Minggu sudah boleh dipindah ke kamar biasa." Revan menaruh jas di sandaran kursi dan duduk di seberangnya. Ia tidak langsung bicara, hanya memutar-mutar cincin di jarinya. "Ada yang harus kusampaikan, Fin. Dan aku tahu kamu tidak akan suka."
"Kalau tidak suka pun tetap disampaikan, kan?"
"Hasna minta kamu tidak datang ke rumah sakit."
Fina menunggu perihnya datang, dan ia heran karena yang datang justru lega, sebuah lega kecil yang malu-malu. "Itu permintaan yang masuk akal."
"Fin..."
"Aku memang tidak akan datang, Mas." Ia menarik selimut lebih rapat. "Aku bukan alasan Mas lari dari Mbak Hasna. Urus dia dulu. Dia sedang hamil, sedang dirawat, dan baru mendengar sesuatu yang paling menyakitkan yang bisa didengar perempuan dari suaminya."
"Kamu menyuruhku pergi lagi." Suara Revan rendah, nyaris tanpa tuduhan, lebih seperti keluhan. "Seperti sembilan tahun. Aku pergi ke Hasna, dan kamu bilang tidak apa-apa."
"Bukan seperti sembilan tahun." Fina menatapnya lurus. "Dulu aku menyuruh Mas pergi karena aku tidak berani meminta Mas tinggal. Sekarang aku menyuruh Mas pergi supaya Mas kembali karena mau. Bukan karena aku sakit. Bukan karena aku menahan."
Revan menatapnya lama. Matanya basah di ujung, dan ia menggosoknya dengan punggung tangan.
"Itu membedakan?"
"Bagi aku, ya."
Sebelum Revan sempat menjawab, perut Fina menegang. Ia sudah bangkit setengah berdiri, satu tangan menutup mulut, dan lari ke kamar mandi kecil di sebelah dapur.
•||•
Fina berlutut di depan kloset sementara perutnya menolak apa pun yang tidak ada di dalamnya. Dinginnya keramik menembus lututnya. Di luar pintu terdengar langkah Revan yang ragu, dan ia berseru dengan suara serak, "Jangan masuk, Mas. Aku baik-baik saja," lalu muntah lagi.
Ketika gelombang itu reda, ia bersandar ke dinding dengan napas pendek dan keringat dingin di pelipis. Bergonya miring. Ia tidak sanggup merapikannya.
Pintu terbuka sedikit. Bukan Revan.
Ressie berdiri di ambang dengan daster panjang dan rambut disanggul seadanya. Matanya masih sembap oleh kurang tidur. Ia menatap Fina yang terduduk di lantai, bergo miring, pipi basah, dan wajahnya yang biasanya keras menjadi sesuatu yang lain.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia melangkah masuk, berlutut dengan susah payah di belakang Fina, lalu tangannya terulur. Menyentuh bahu Fina yang gemetar. Menekan tengkuknya dengan ibu jari, memijat pelan, gerakan yang tampaknya keluar dari tubuhnya sendiri tanpa izin, kebiasaan lama seorang ibu pada anak yang muntah.
Fina tidak menepis. Ia terlalu lemas, dan juga terlalu terkejut. Pijatan itu hangat dan pasti, tepat di titik yang membuat lehernya mengendur.
Lalu Ressie tersentak, seolah baru sadar siapa yang sedang ia sentuh. Tangannya ditarik cepat.
"Jangan salah paham," katanya ketus. "Mama cuma nggak tahan lihat orang muntah sendirian."
"Terima kasih, Ma."
"Jangan berterima kasih." Ressie bangkit dengan berpegangan wastafel dan membuka keran. Ia membasahi handuk kecil, memerasnya kuat-kuat, lalu menyodorkannya tanpa melihat. "Lap mukamu. Jangan ditahan kalau mau muntah lagi. Itu sama saja menyiksa diri."
Fina menerima handuk itu. Ia memandang punggung Ressie, bahu yang tegak seperti baja dan kepala yang tidak mau menoleh.
"Ma."
"Apa lagi?"
"Mbak Hasna beruntung punya Mama."
Ressie diam lama, sekali menarik napas. "Mama mau tidur," katanya akhirnya, nadanya mendadak jauh lebih lelah daripada ketus, lalu pergi dan tidak menutup pintu.
•||•
Matahari belum benar-benar naik ketika Revan berhenti di depan kamar Langga untuk berganti kemeja. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Di dalam, Langga sudah duduk bersila di lantai dengan kacamata terpasang, sibuk dengan pensil warna, dan Bima di sebelahnya masih berpiyama sambil mengucek mata.
"Papa!" Langga mengangkat kertas. "Ini buat Mama Hasna."
Revan berjongkok dan menerima kertas itu dengan dua tangan.
Gambar itu sederhana tapi anehnya hidup. Seorang perempuan berambut panjang duduk di ranjang, tersenyum, dengan perut besar yang dilingkari warna merah muda. Di dalam lingkaran itu ada bayi kecil bergelung seperti kacang, dan di atasnya Langga menulis dengan huruf besar, rapi, kini lurus karena ia bisa melihat garisnya: MAMA HASNA DAN ADIK BAYI. CEPAT SEMBUH.
Tenggorokan Revan mengencang.
"Kenapa Langga gambar ini?"
"Soalnya kemarin Langga dengar Mbak Marni nangis, katanya Mama Hasna sakit." Anak itu menatapnya serius lewat lensa tebal. "Langga nggak suka Mama Hasna sakit. Mama Hasna pernah bilang Langga disleksia. Langga nggak ngerti artinya, tapi dari mukanya Langga tahu itu jelek." Ia mendorong kacamatanya. "Tapi Mama Hasna juga yang kasih Langga kue strawberry waktu itu."
"Langga hapus tiga kali," lapor Bima dengan nada prihatin. "Soalnya perut adik bayinya kegedean."
"Biar adiknya muat," kata Langga.
Revan tidak bisa menjawab apa-apa. Ia menyentuh pucuk kepala Langga sebentar dan meminta izin dengan matanya. Langga mengangguk, dan Revan mengacak rambutnya.
"Mama kapan pulang, Pa?" tanya Bima, suaranya kecil.
"Beberapa hari lagi, Nak."
"Boleh Bima ikut jenguk?"
"Belum boleh. Tapi gambar Mas Langga boleh Papa bawa."
Pukul delapan Revan kembali ke rumah sakit dengan map berisi gambar itu terselip di bawah lengan. Reffa menjaga di pintu kamar rawat. Wajahnya mengeras melihat Revan, tetapi ia hanya berkata, "Sepuluh menit," dan menyingkir.
Hasna terbaring dengan bantal ditinggikan dan wajah menghadap jendela. Revan menyerahkan kertas itu tanpa kata. Hasna menerimanya, menatap lama, dan jari-jarinya menyusuri garis lingkaran merah muda. Bibirnya bergetar sekali, lalu berhenti.
"Langga yang gambar?"
"Iya."
"Dia bisa gambar sebagus ini..." Hasna berhenti. Revan menunggu apa pun yang akan datang, kemarahan, tuduhan, tetapi yang keluar justru tarikan napas panjang. Hasna menaruh gambar itu di dadanya.
"Duduk, Van," katanya, tanpa menoleh. "Kita harus bicara. Tapi bukan hari ini."