Hari Minggu Hasna sudah dipindah ke kamar rawat biasa di lantai tiga, dengan jendela yang menghadap taman kecil dan sebuah sofa yang terlalu pendek untuk tidur siapa pun. Tensinya stabil dua hari berturut-turut. Dokter sudah tersenyum tipis saat visite, dan itu cukup membuat Revan berani bernapas lebih lega.
Dua hari ia datang pagi dan sore, duduk di kursi yang sama, dan Hasna nyaris tidak bicara. Ia menerima suapan bubur tanpa garam, mengukur tensi tanpa mengeluh, mendengarkan Reffa mengomel soal makanan rumah sakit. Tetapi kalau Revan bicara, Hasna memandang ke jendela. Revan belajar menunggu. Ia belajar bahwa menunggu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia curangi.
Menjelang pukul empat sore Hasna menoleh.
"Ma, tolong tinggalkan kami sebentar."
Reffa, yang sedang melipat handuk di ujung ranjang, berhenti. Ia menatap putrinya, lalu Revan, dan hendak membantah. Tetapi ia melihat wajah Hasna dan tidak jadi. "Mama ke musala. Dua puluh menit."
"Tiga puluh."
Reffa keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Kamar jadi sangat sunyi. Dari taman terdengar anak-anak tertawa, dan Hasna mengikuti suara itu dengan matanya sebentar sebelum berpaling.
"Sekarang," katanya.
"Sekarang apa?"
"Hari yang kamu bilang bukan hari itu." Hasna menarik gambar Langga dari bawah bantalnya. Kertas itu sudah dilipat dua dan mulai lecek di sudut. "Aku mau tanya satu hal, dan kamu jawab jujur. Kamu sudah janji jujur."
"Tanya."
"Sejak kapan?"
Revan tidak langsung menjawab. Ia menunduk menatap tangannya sendiri, lalu mengangkat wajah. Ia sudah menyiapkan jawaban ini selama tiga malam, dan semuanya terdengar seperti pembelaan.
"Pelan-pelan, Na. Pastinya malam waktu dia bilang dia sakit. Di balkon. Sesudah itu, di Bandung, waktu tasyakuran, aku mulai tidak bisa berhenti memikirkan dia. Aku tidak mau mengakuinya karena itu berarti aku salah selama sembilan tahun." Ia berhenti, menelan. "Aku sadar bukan kasihan yang aku rasakan. Aku takut kehilangan dia."
"Malam itu kamu masuk kamar dan peluk aku."
"Iya."
"Kamu pura-pura baik-baik saja."
"Iya." Suara Revan nyaris tidak keluar. "Aku pengecut."
Bahu Hasna naik turun tanpa suara. "Pengecut. Itu kata yang tepat. Aku tidak sangka kamu tahu."
"Aku baru tahu minggu ini."
"Fina tahu kamu bilang begini ke aku?"
"Dia tidak minta aku bilang apa-apa. Dia justru bilang, urus Hasna dulu."
"Tentu saja." Hasna menatap langit-langit. "Dia selalu begitu. Selalu mengalah, selalu tahu kapan harus minggir. Aku benci betapa gampangnya orang menyukai dia." Ia memejamkan mata sejenak. "Dan aku benci karena aku tidak bisa membencinya dengan benar."
Revan tidak menjawab, karena ia sendiri belum menemukan kalimat yang tepat untuk itu.
Hasna meletakkan gambar di pangkuannya dan menatap perutnya. Tangannya bergerak melingkar pelan di sana. Bayi itu menendang, dan Revan melihat wajah Hasna berubah sekilas, lembut, lalu kembali keras.
"Aku tidak mau jawaban kamu hari ini," katanya. "Aku tahu kamu akan menjawab apa pun yang kamu kira bisa membuatku berhenti menangis. Aku capek dijawab begitu. Setelah anak ini lahir, kamu pilih."
"Pilih apa?"
"Kamu tahu apa."
Revan menarik napas panjang. Di dalam dadanya ada ribuan hal yang ingin ia ucapkan, janji, pembelaan, permintaan, dan ia memilih membuang semuanya kecuali yang benar.
"Aku tidak bisa menjanjikan hasilnya, Na. Aku tidak mau berbohong supaya kamu tenang. Tapi aku tidak akan bohong lagi, dan aku tidak akan membiarkan kalian kekurangan. Kamu, Bima, dan anak ini. Apa pun yang kamu pilih untuk dirimu, itu tidak akan berubah."
"Kamu pikir ini soal uang?"
"Bukan. Tapi itu satu-satunya yang bisa kujanjikan tanpa berbohong."
Hasna menatapnya lama. Matanya basah tetapi ia menolak menangis. Ia mengusap pipi dengan telapak tangan, cepat, seperti mengusir serangga.
"Panggil Dimas," katanya.
Revan membeku. "Dimas?"
"Aku mau orang yang nggak minta apa-apa dariku." Suara Hasna datar dan lelah. "Mama minta aku memaafkan. Mama kamu minta aku sabar. Kamu minta aku menunggu. Semua orang minta sesuatu. Dimas dari SMA cuma duduk dan dengar. Aku butuh itu sekarang."
•||•
Di taman rumah sakit, di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning, Revan berdiri dengan ponsel di tangan dan merasa jari-jarinya tidak lagi milik dirinya.
Kafe. Kursi kayu. Dimas menggebrak meja dan berkata, Lo serakah, Van. Gue mencintai Hasna. Iya. Gue. Mencintai. Hasna. Kalimat itu berputar di kepalanya seperti rekaman. Dua pekan lebih ia menyimpan rahasia itu seperti seseorang menyimpan bara di saku, dan sekarang Hasna sendiri menyebut nama itu tanpa tahu apa yang ia minta.
Ada bangku kayu di dekatnya, tetapi ia tidak duduk. Seorang ayah muda lewat menggendong bayi yang baru boleh pulang, dan Revan membuang muka.
Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah ini adil: memanggil laki-laki yang mencintai istrinya untuk menghibur istrinya, sementara ia sendiri yang membuat luka itu. Tidak. Tidak adil, bagi Dimas maupun bagi Hasna. Tetapi Hasna yang meminta, dan Revan sudah berjanji tidak akan mengatur apa pun lagi.
Ia menekan nomor Dimas. Dering ketiga, Dimas mengangkat.
"Van."
"Dim." Revan berdehem. "Lo di mana?"
"Rumah. Kenapa?"
"Hasna lagi dirawat. Preeklamsia, ringan. Dia sudah stabil. Gue..." Ia berhenti, mengulang. "Gue sudah bilang ke dia, Dim. Soal Fina."
Hening di ujung telepon. Revan mendengar napas Dimas, pendek, terukur, seperti orang yang menahan diri agar tidak meledak.
"Lo bilang apa persisnya?"
"Yang benar. Gue mencintai Fina. Gue nggak mau bohong lagi."
"Dan dia?"
"Dia minta gue pilih setelah bayinya lahir." Revan memejamkan mata. "Dim, dia minta lo datang."
Sepi lagi, lebih panjang. Revan membayangkan Dimas duduk di tepi tempat tidur, memandangi dinding, mengepalkan tangan.
"Gue?"
"Dia bilang butuh orang yang nggak minta apa-apa."
"Dasar..." Dimas berhenti sebelum kata itu keluar. Revan mendengar sesuatu bergeser, kursi atau pintu. "Besok gue ada rapat direksi sampai malam. Nggak bisa. Gue nggak mau datang dengan kepala kacau, apalagi ke ruang rawat orang hamil."
"Dim..."
"Lusa gue ke sana," kata Dimas. "Dan Van."
"Ya?"
"Jangan lo atur apa-apa. Jangan lo bilang apa-apa ke gue soal apa yang boleh dan nggak boleh. Gue datang karena dia minta, bukan karena lo."
Sambungan terputus. Revan menurunkan ponsel dan menatap layarnya yang gelap. Di atasnya daun ketapang berputar jatuh, satu-satu, tanpa suara.