Bubur itu masih hangat ketika Dimas berhenti di depan pintu kamar 312.
Ia membelinya di warung kaki lima dekat kantor, tempat yang sudah sepuluh tahun ia kenal: bubur ayam tanpa kecap, tanpa kacang, tanpa cakwe, dengan irisan daun bawang yang banyak. Menu yang dulu, waktu SMA, selalu dipesan Hasna sambil tertawa. Pesanan yang sama, kini untuk alasan yang berbeda. Dokter menyuruh Hasna mengurangi garam dan minyak, dan Dimas tidak tahu bagaimana cara lain mengatakan aku peduli tanpa mengucapkannya.
Ia mengetuk dua kali. Reffa membuka dan memandangnya dari atas ke bawah, lalu ke kantong plastik di tangannya.
"Dimas."
"Tante."
"Kamu memang selalu datang." Nada Reffa tidak bisa ditebak, sopan di permukaan dan menimbang di dalamnya. "Masuk. Tante mau cari udara."
Reffa keluar dan menutup pintu perlahan. Dimas berdiri sebentar di ambang, menarik napas yang tidak sepenuhnya mau turun ke dada.
Hasna duduk bersandar di ranjang dengan kerudung kaus abu-abu dan wajah yang kehilangan dua kilo dalam empat hari. Ia menatap Dimas lama, tidak tersenyum, tidak menangis. Hanya menatap.
"Aku bawa bubur," kata Dimas. "Tanpa kecap."
"Aku tahu."
"Aku tahu kamu tahu."
Ia menaruh kantong di meja kecil, membuka kotak plastik, menyendok bubur ke mangkuk rumah sakit. Ia melakukannya pelan dan tidak bicara lagi. Dimas tidak bertanya apa yang terjadi. Revan sudah mengatakan separuhnya di telepon, dan separuh yang lain terlihat jelas di bawah mata Hasna. Ia hanya duduk di kursi di samping ranjang dan menunggu.
Hasna memegang sendok, mengaduk, tidak menyuapkan. Lalu bahunya mulai gemetar.
"Dim..." katanya. Suaranya pecah di tengah. "Dia bilang dia mencintai Fina."
Dimas tidak bergerak.
"Bertahun-tahun aku..." Hasna menutup mulut dengan punggung tangan. "Aku nggak tahu kenapa aku nangis. Aku nggak ngerti. Aku tahu dia nggak pernah..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya condong ke depan dengan sendirinya, dahinya jatuh di bahu Dimas, dan ia menangis. Tidak keras. Tidak lama, mungkin semenit. Tetapi cukup untuk membasahi kemeja Dimas yang sudah ia setrika sendiri tadi pagi.
Dimas tidak merangkul, tidak mengelus, tidak berkata "sudah". Ia tahu persis di mana batas yang tidak boleh ia lewati, dan ia menjaga batas itu. Ia hanya diam. Tangannya meraih kotak tisu di meja dan menyodorkannya ke depan, ke arah tangan Hasna, tanpa menyentuh.
Hasna mengambil selembar. Menyeka mata, hidung. Menarik napas panjang yang bergetar. Ia kembali duduk tegak dan menunduk malu.
"Maaf. Baju kamu basah."
"Gampang kering."
Mereka diam. Di luar, sebuah troli melintas dengan bunyi roda yang berderit. Dimas memandang lantai dan memaksa jantungnya bekerja pelan.
"Makan, Na. Mumpung masih hangat."
Hasna menyuapkan sesendok. Dan ia terdiam, lalu tertawa kecil, tawa serak di antara air mata.
"Ini bubur favoritku di SMA."
"Iya."
"Kamu masih ingat."
"Aku ingat semuanya," kata Dimas, dan langsung menyesal, tetapi Hasna tidak memperhatikan. Ia sudah menunduk lagi menghabiskan buburnya, perlahan, seperti anak kecil.
Dari kaca persegi di pintu, wajah seseorang terlihat sekilas. Dimas mengenali garis rahang itu tanpa menoleh.
•||•
Revan menunggu di lorong sampai Dimas keluar. Ia menyandarkan punggung di dinding, tangan terlipat, dan berdiri di sana cukup lama sampai punggungnya pegal. Lewat kaca pintu tadi ia melihat semuanya: kepala Hasna di bahu Dimas, tisu yang disodorkan, tangan yang tidak menyentuh. Ia tidak pernah melihat Hasna menangis seperti itu di bahunya sendiri.
"Dim."
Dimas berhenti. Wajahnya datar, kancing kemejanya masih basah di satu sisi.
"Makasih."
"Buat apa?"
"Sudah datang."
"Gue nggak datang buat lo." Dimas tidak meninggikan suara, dan itu yang membuat kalimatnya sakit. "Gue di sini buat Hasna dan bayinya, bukan buat bantu lo tenang."
"Gue nggak..."
"Lo kira gue nggak lihat lo ngintip dari kaca?" Dimas mengusap tengkuknya. "Van, gue tahan sejak SMA. Lo kasih gue peran jadi bahu buat dia nangisin lo. Gue ambil, karena dia butuh. Tapi jangan lo kira gue ikhlas."
Revan menunduk. "Gue tahu."
"Lo nggak tahu." Dimas mendekat setengah langkah. "Tapi gue juga nggak mau lo siksa diri lo sendiri. Itu gunanya Hasna sekarang? Biar lo rasa bersalah? Dia manusia, Van. Perempuan hamil yang lagi dirawat. Urus dia."
Ia melangkah pergi, lalu berhenti dan menoleh sedikit tanpa menatap.
"Dan Fina juga manusia. Jangan lo cuma pindah dari satu orang ke orang lain."
Revan menatap punggung sahabatnya sampai hilang di tikungan. Kata-kata itu tertanam di dadanya, dan ia tahu itu bukan hinaan. Itu peringatan.
•||•
Malam itu rumah sunyi. Hanya ada lampu meja di kamar Langga dan suara pensil yang menggores kertas.
"Pa, ini salah ya?"
Revan duduk di kursi kecil di sebelah meja belajar, lututnya hampir menyentuh dagu. Di depan mereka terbuka buku latihan matematika, dan Langga, berkacamata, mencondongkan badan dengan telunjuk di soal pecahan yang sudah ia hapus dua kali.
"Coba baca lagi soalnya."
"Setengah ditambah seperempat." Langga mengernyit. "Langga jawab dua per empat... eh, tiga per sembilan?"
"Gambar saja. Kamu kan jago gambar."
Langga ragu sebentar, lalu menggambar lingkaran di pinggir kertas, membaginya jadi empat, dan mengarsir dua bagian dengan pensil warna. "Ini setengah." Lalu bagian lain. "Ini seperempat."
"Sekarang hitung yang diarsir."
Hening. Bibir Langga bergerak tanpa suara, menghitung potongan satu per satu. Lalu matanya melebar di balik lensa.
"Tiga! Tiga potong dari empat! Tiga per empat!"
"Betul."
"Oh!" Langga menepuk dahi sendiri. "Jadi bawahnya nggak ditambah, Pa. Soalnya potongannya sama ukurannya. Dulu Langga pikir atas bawah ditambah semua." Wajahnya cerah seperti lampu menyala. "Kenapa dulu Bu Guru nggak gambar kayak gini?"
"Mungkin Bu Guru gambarnya nggak sebagus kamu."
Langga terkikik. Ia kembali ke soal berikutnya dengan semangat yang tidak pernah Revan lihat di kamar ini, dan dari ambang pintu, bayangan bergeser. Fina berdiri di sana dengan dua gelas teh dan bergo tipis, menyandarkan bahu pada kusen. Ia tidak masuk. Ia hanya melihat.
Pandangan mereka bertemu di atas kepala Langga. Revan tersenyum kecil, tipis dan canggung. Fina membalasnya, sama tipisnya, sama canggungnya. Tidak lebih. Tetapi itu cukup untuk membuat sesuatu di dada Revan bergeser setengah senti.
"Pa."
"Ya, sayang?"
Langga mengangkat pensil dan menatap soal berikutnya. "Papa nggak marah lagi kalau Langga salah?"
Pertanyaan itu begitu polos sampai Revan tidak langsung bisa menjawab. Ia menatap anaknya, dan di balik lensa itu ia melihat seorang anak kecil yang menunggu hukuman sekian lama, yang kini bertanya hanya untuk memastikan.
"Papa marah ke angka," katanya pelan. "Bukan ke kamu."
Langga tersenyum lebar dan menunduk lagi ke bukunya.
Satu jam kemudian anak itu tertidur di atas meja. Revan memindahkannya ke ranjang dengan hati-hati dan menaikkan selimut. Ketika ia berbalik, Fina masih di pintu, dengan gelas teh yang kini sudah dingin.
"Dia senang," kata Fina.
"Iya."
Fina menatap Langga yang tidur, lalu Revan. "Besok Mbak Hasna pulang, kan?"